Wilayah Adat

Kampung Riam Tapang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Riam Tapang
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Silat Hulu
Desa Riam Tapang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 12.053 Ha
Satuan Kampung Riam Tapang
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Selangkai
Batas Selatan Hulu Gurung
Batas Timur Boyan
Batas Utara Melawi

Kependudukan

Jumlah KK 192
Jumlah Laki-laki 394
Jumlah Perempuan 392
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Dayak Ensilat adalah penduduk asli yang hidup beribu-ribu tahun lalu dan dibuktikan secara kuat juga oleh silsilah keturunan kerana menurut cerita lisan yang juga dilakukan secara turun temurun; dayak ensilat sudah ada sejak manusia pertama diciptakan oleh; Alahtala (Tuhan) yaitu; Medang dan Gerunung. Manusia pertama diciptakan dan mempunyai keturunan sehingga membentuk sebuah kelompok mulai dari yang kecil hingga besar, hiduplah mereka di wilayah sungai gangang, sungai melaban, sungai beranahm, sungai nyala, dan ensilat putih. Orang ensilat hidup di wilayah ini tidak di ketahui berapa lama dan tahun berapa, lama kelamaan mereka mulai membuka wilayah sungai geraman terutama sungai geraman lidhis dan sekitarnya. Tidak di ketahui juga berapa lama mereka di geraman lidhis, pindah lagi ke perhuluan sungai ensilat yaitu melalui sungai berenahm pindah lagi ke daerah sungai melabon, sungai ganggang, sungai nyala, nanga sungai ensilat kibak dan sungai ensilat putih.
Disungai ensilat putih inilah mulai pertama kelompok agak besar di sebut rumah dan setelah ditinggalkan disebut Temawhang Randuk.

Riam Tapang terdiri dari kata Riam yang berarti daerah aliran sungai yang dangkal dan Tapang adalah nama pohon yang biasa di hinggapi oleh lebah madu atau disebut lalau. Riam Tapang adalah nama tempat dimana sebelum mendirikan kampung lokasi ini ditumbuhi pohon tapang di tepi-tepi sungai sampai ada yang tumbuh melintang sungai sehingga membuat aliran sungai menjadi dangkal. Kampung Riam Tapang sudah ada sebelum jaman ngayau (diperkirakan sekitar tahun 16-an) terbukti dengan adanya Tiang Sandung (tempat untuk meletakkan kepala manusia ketika mengadakan upacara adat setelah pulang ngayau dan berhasil membunuh lawan).
Adapun orang yang pernah memimpin Riam Tapang dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
1. Malik atau Aji (1854-1896) bergelar mantir mudak’ dengan wakil atau patih Luyun.
2. Lungah (1896-1924) sebagai kepala kampung dan wakil atau patih adalah Tipun.
3. Terapas (1924-1964) sebagai kepala kampung dan wakil atau kebayan adalah Ragam.
4. Turan (1964 -1971) sebagai kepala kampung dan kebayannya adalah Bandi.
5. Biai (1971-1974) sebagai kepala kampung dan kebayannya adalah Akik.
6. Juntit (1974 -1975) sebagai kepala kampung dan kebayannya adalah Akik.
7. Ain (1975-1978) sebagai kepala kampung dan kebayannya adalah Akik.
8. Markus sebagai kepala kampung dan kebayannya adalah Ali Sementil (1978-1985). Awal kampung Nanga Tiai dibentuk, penduduknya beragama Islam pindahan dari daerah Embau di kecamatan Tepui atau Batu Datuk’ dengan jumlah penduduk 12 KK (84 jiwa).
9. Abdul Maman sebagai kepala kampung dengan kebayan adalah Hasanudin (1985-1989). Pada masa Regroping Desa, kampung berubah nama menjadi dusun.
10. Nyawai sebagai kapala dusun, di bawah kepala dusun ketua RT, pada masa ini ketua RT hanya bisa 2 RT dalam satu dusun (19891991).
11. Melaban, sebagai kepala dusun (1991-2000), tahun 1999-2000 berjuang bersama F. Dahlan kepala desa Nanga Luan. Pemecahan/pemekaran dari desa Nanga Luan jadi desa Riam Tapang.
12. Yohanes Sira sebagai kepala dusun (2000-2005), permohonan pemekaran desa disahkan tahun 2002 terbentuklah Dusun Selangkai pemekaran dari dusun Riam Tapang.
13. Alexander, sebagai kepala dusun (2005 sampai dengan 2009).
14. Sukiman, sebagai kepala dusun (2009 sampai sekarang).
15. Pada masa Regroping desa tahun 1987, Riam Tapang, Selangkai satu dusun di bawah desa Nanga Luan, begitu juga dusun Bangan Baru, kepala desa ditunjuk secara langsung adalah M. Asui Usaman (1987-1997).
16. April 2002 terbentuk Desa Riam Tapang dengan pembagian dusun sebagai berikut:
- Dusun Teladan (Riam Tapang).
- Dusun Ujung Perintis (Bangan Baru).
- Dusun Embak Lestari (Nanga Selangkai).
17. Tahun 2007 Riam Tapang mekar lagi jadi 2 dusun yaitu: Dusun Riam Tapang itu sendiri dan Dusun nanga Tiai.
18. Tahun 2009 sampai dengan tahun 2010 Riam Tapang mempersiapkan diri supaya bisa dimekarkan lagi menjadi:
Desa Riam Tapang:
- Dusun Riam Tapang terbagi atas 5 RT.
- Dusun Bangan baru terbagi atas 2 RT.
Desa Selangkai:
- Dusun Nanga Selangkai terbagi 2 RT.
- Dusun Nanga Tiai terbagi 2 RT.

Adapun urutan pemangkuan Kepala Desa sebagai berikut:
1. M. Asui Usman (1987-1997) Riam Tapang masih berstatusdusun dipimpin oleh Desa Nanga Luan.
2. Fulgensius Dahlan (periode I: tahun 1997-2002) Kepala Desa Nanga Luan/Desa Induk dari dusun-dusun wilayah Riam Tapang). (periode II: tahun 1992-2007) Kepala Desa Riam Tapang hasil pemekaran, beliau meninggal tanggal, 28 April 2007.
3. Simon Petrus Melaban (2007-sekarang) dipilih pada tanggal, 18 April 2007 dan dilantik pada tanggal, 26 Juni 2007.

Sejarah Suku dan Penyebarannya
Penduduk yang mendiami wilayah Riam Tapang adalah orang Dayak Ensilat. Asal muasal orang Ensilat itu sendiri menurut cerita yang didengar turun temurun merupakan ciptaan langsung dari Alahtala
(Tuhan) yaitu orang yang bernama Medang dan Gerunung. Medang dan Gerunung manusia pertama yang diciptakan dan mempunyai keturunan sehingga membentuk sebuah kelompok kecil hingga besar. Mereka hidup di wilayah sungai Gangang, sungai Melaban, sungai Beranam, sungai Nyala, dan Ensilat Putih. Orang Dayak Ensilat yang hidup di wilayah ini tidak di ketahui berapa lama dan tahun berapa, lama kelamaan mereka mulai membuka wilayah sungai Geraman terutama sungai Geraman Lidhis dan sekitarnya. Tidak di ketahui berapa lama mereka di Geraman Lidhis, pindah lagi ke perhuluan sungai Ensilat melalui sungai Berenam pindah lagi ke daerah sungai Melaban, sungai Ganggang, sungai Nyala, nanga sungai Ensilat kibak dan sungai Ensilat Putih. Di sungai Ensilat Putih inilah mulai pertama kelompok agak besar di sebut rumah dan setelah ditinggalkan disebut Temawang Randuk. Bukti dari penyebaran penduduk diatas masih dapat dilihat sampai
sekarang berupa:
- Tengkawang satu hamparan (bidang/gempung) bisa mencapai ratusan pokok, begitu juga dengan tanaman lain seperti khawai, sibau, mawang dan lain-lain.
- Kuburan di Nanga Sungai Melaban.
- Perupuk (bahan anyaman) di Sungai Gangong.
- Tula Urat (jenis akar) di Sungai Berendam, besar batangnya mencapai diameter + 60 cm.


Sebelum kedatangan Siu orang pertama dari daerah Sintang yang menjelajah ke sungai Ensilat, orang beranggapan bahwa di aliran sungai Ensilat tidak ada kehidupan dan nama sungai ensilat awalnya adalah; Jempuyin Panyhang atau Aik’ Menyawai. Siu dan rombongan mudik menggunakan perahu galah (suar) dan tidak terlau jauh karena dari Nanga Silat sampai ujung panyang tertutup rampuk akar ensilat, akar tersebut bila di potong segera bersambung kembali begitu kiri-kanan tepi sungai banyak hantu, minta cabuh atau pegelak
(sesaji) berupa hati, mata, daging, kulit, tulang dan lain-lainnya, melihat kenyataan mereka mundur sambil mencari pirasat dan akal supaya bisa menembus sampai keperhuluan. Siu mudik lagi dengan membawa 7 ulun (kuli) dan panglima hulu galangnya. Sesampainya diujung panyang mereka menemukan sebatang kayu purang yang telah dipotong ujungnya dan pangkalnya dan kulitnyapun telah dikelupas. Penemuan ini menunjukan bahwa di hulu ada kehidupan, manusia, rumah, ladang dan lain-lainya. Rombongan Siupun mudik

dengan tidak di ketahui berapa lama dalam perjalanan mudik. Tiap hari mereka dihadapkan dengan tantangan hantu yang mirip mereka, yang bisa menghilang, berbicara minta sesaji (hati, mata, telinga, otak, kulit) sesuai dengan keinginan hantu tadi. Tetapi Siu tidak menghiraukannya, mereka mudik melewati berbagai tantangan,
gurung, riam, hingga sampailah mereka pada suatu tempat karena mereka telah letih dan akan menyudahi perjalanannya, maka bermalam lah mereka di tempat itu. Keesokan harinya sesuai dengan rencana dan permohonan hantu maka Siu membunuh ke 7 ulun tadi dipotong-potong dan diiris-iris layaknya binatang sehingga aliran sungai menjadi merah mirip dengan darah yang sekarang di sebut sungai Ensilat Merah. Siu memerintahkan hulu balangnya milir, sama halnya dengan waktu mudik dari sungai Ensilat Merah sampai ke ujung payang hantu-hantu berjejer dipantai kiri-kakanan meminta cabuh sesuai dengan keinginannya, maka anak buah Siu pun sibuk lempar kiri, lempar kanan daging atau kerat-kerat dari ulun yang di bunuh. Tidak diketahui lamanya milir, cerita lisan yang dipaparkan oleh tua-tua Ensilat, daging habis terbagi dan mereka sampai ke Nanga Silat. Mulai saat itulah Jempuyin Payang berubah nama Sungai Ensilat dan keluarga dan keturunan Siu pun aman dan tentram hidup dan tinggal di sungai Ensilat karena telah memberi cabuh atau sasih kayu purang yang ditemukan Siu.

Batang purang yang pertama di kenal atau ditemui oleh Siu (orang dari kerajaan Sintang) yang menandakan bahwa di hulu sungai Ensilat ada kehidupan diabadikan oleh orang Ensilat sebagai Empang yaitu kayu yang dililit dengan daun dan bunga untuk penyambutan tamu.

Hantu-hantu yang minta cabuh kepada Siu adalah jelmaan dari orang Dayak Ensilat asli sebelum Siu mendatangkan dan menyebarkan kelompoknya ke sungai Ensilat. Mereka sengaja berbuat demikian atau meminta cabuh karena ingat akan perjanjian pembagian harta adik-beradik Buyin Asi (baca Beuma Betahun dari buku Kumpulan Kearifan Lokal Dayak Ensilat).

Setelah penduduk membaur dan berketurunan, memenuhi aliran sungai Ensilat pada masa pengorganisasian kerajaan atau penjajah. Pada waktu itu penduduk asli Ensilat terpecah dua yaitu: (1) mereka yang mau diorganisir oleh kerajaan dan yang membaur dengan orang-orang bawaan Siu menetap dan membuat rumah,
kampung sampai sekarang, (2) mereka yang tidak mau membaur disebut Tapuk, mereka hidup berkelompok sampai sekarang di daerah hulu sungai Ensilat mereka tidak bisa kelihatan, baik rupa, rumah atau pondok maupun usahanya, kalaupun bisa kelihatan, dalam waktu sekejap mata saja. Mereka adalah satu keturunan yang sama yang tidak pernah mengganggu bahkan bisa menolong dalam situasi sulit tanpa disadari misalnya jika tersesat di hutan yang sangat jauh, tiba-tiba dengan sekejab mata kita sudah dekat pondok atau
tempat yang dikenal, perahu yang diangkat tiba-tiba menjadi ringan, dan banyak contoh lainnya.
Hasil pembauran penduduk asli dan orang-orang yang dibawa Siu tadi menyebar di beberapa kampung tua jaman ngayau yaitu:
1. Nanga Sungai Kersit.
2. Riam Tapang.
3. Tapang Landai.
4. Nanga Suang.
5. Karangan Lintang.
6. Nanga Pengga.

Bukti sejarah yang masih ada hingga sekarang berupa Tiang
Sanukng yang terdapat di Riam Tapang, Karangan Lintang dan Nanga
Pengga.

Pada jaman ngayau (diperkirakan sekitar tahun 17-an) hiduplah penduduk di daerah Sungai Geraman dengan sebutan rumah Nanga Geraman kemudian pindah lagi ke Nanga Sungai Kersit, karena pemukiman hangus dibakar musuh sehingga penduduknya sembunyi karena jumlah musuh lebih banyak, sementara yang lainnya masih dalam perjalanan ngayau. Dari ngayau mereka mufakat membuat rumah di Nanga Sungai Kersit. Dari Nanga Sungai Kersit penduduk terbagi atas tiga kampung yaitu:
- Sungai Kersit.
- Riam Tapang (sampai sekarang).
- Tapang Landai.
Dari Sungai Kersit, pindah ke Nanga Sungai Geraman Namit, pindah lagi ke Nanga Sungai Tapang lalu pindah ke Nanga Selangkai.

Di Nanga Selangkai mereka merasa tidak cocok karena banyak penduduk yang sakit hingga ada yang meninggal maka atas mufakat dengan kepala kampung Kadir dan Kebayan Tibi mereka pindah ke Sungai Selangkai yakni di Lubuk Embak. Sebelum mendirikan kampung belian (Kadir) atas nama
masyarakat datang ke Riam Tapang waktu itu kepala kampungnya Biai, untuk meminta lokasi ini dijadikan kampung pindahan dari Nanga Selangkai, atas persetujuan bersama maka Lubuk Embak diijinkan oleh orang Riam Tapang.

Terjadilah kesepakatan batas-batas waktu itu sebagai
berikut;
“ Tintin langkung turun kegurung pantar, gurung pantar ke tintin sungai gurun sampai lenghang gertak ke jalan rudi turun ke sungai besai naik ke tangkul empethir turun ke sungai bisai bhatu, netak lintang turun ke lawang kuri atau gurung gereman, ini untuk batas bagian sungai selangkai samapai sungai ensilat sebelah kiri “.

Sementara sungai Silat sebelah kanan kampung Nanga Selangkai atau Lubuk Embak sampai sungai Basan, pada waktu pemetaan partisipatif yang di fasilitasi oleh PPSDAK Pancur Kasih, penduduk sepakat merubah batas menjadi sungai Silat sebelah kiri Selangkai bertambah menjadi sungai Besai tengah batas radin kuning turun ke nanga sungai ulu, dan sungai ensilat sebelah kanan dari basan berubah ke sungai sarai (data peta terlampir), kemudian Riam Tapang di mekarkan jadi dua desa.

Ketika dari Nanga Selangkai pindah ke Lubuk Embak maka masyarakatnya pun pindah menurut keinginan masing-masing ada yang pindah ke Riam Tapang, Bangan Baru, Landau Rantau, Nanga Suang. Begitu juga dengan rumah di Tapang Landai lebih dahulu membubarkan diri untuk membaur ke Nanga Selangkai, Riam Tapang, Nanga Suang, Karangan Lintang dan lain-lain.

Perkembangan dari tahun ke tahun semakin meningkat maka penduduk kampung Riam Tapang terbagi ke kampung Bangan Baru pada akhir jaman ngayau, dengan data kepengurusannya/pemangku jabatan sebagai berikut:
1. Baru, sebagai kepala kampung Nanga Bangan tahun; 1935 – 1940 diganti karena meninggal.
2. Judi, sebagai kepala kampung Nanga Bangan tahun; 1940 – 1955 diganti karena meninggal.
3. Bagub, sebagai kepala kampung Nanga Bangan tahun 1959 – 1966 diganti dalam usia lanjut.
4. Lintuk, sebagai kepala kampung Bangan Baru atau awal terbentuk kampung sekarang, tahun 1966 – 1999 diganti dengan alasan usia lanjut/giliran dengan generasi muda.
5. Salung, sebagai kepala dusun Bangan Baru tahun 1999 – sekarang (putra dari Bapak Lintuk).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Bebas (hutan rimba yg belum pernah dijamah manusia)
- Hutan Lindung masyarakat adat
- Hutan Karet
- Hutan Semudak ( simpan utk ladang)
- Pemukiman
- Kuburan 
Individu, kolektif dan keturunan 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan
Struktur Temenggung, Ketua Adat Desa, Ketua Adat Dusun, Masyarakat Adat
Temenggung = Mengatur anggaran dasar rumah tangga ketemenggungan dan memutuskan perkara adat yg tidak mampu diputuskan oleh ketua adat dusun maupun desa.
Melakukan rapat adat sekurang-kurangnya 1x dlm setahun 
Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan kampung dan orang banyak dilakukan secara kekeluargaan melalui musyawarah dan mufakat. Mekanisme pengambilan keputusan dimulai dari tingkat yang paling bawah sampai yang paling atas.

Apabila perkara adat tidak mampu diselesaikan oleh pengurus adat yang paling bawah maka dinaikan/diselesaikan ditingkat yang lebih atas. Contoh suatu perkara yang tidak selesai di tingkat dewan adat
dusun maka dinaikan ke tingkat dewan adat desa, jika tidak putus juga maka dinaikan di tingkat yang paling tinggi yaitu temenggung.  

Hukum Adat

- Beuma Betahun/berladang
- Ngelalau/mencari madu
- Nuba
- Sumber air bersih
- Hutan Adat 
- adat perkawinan
- adat kelahiran
- adat kematian
- adat salah basa/tata krama/sopan santun
- dll 
Bergurau dengan berlebihan yang dapat membuat malu seseorang didepan umum, mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas seperti menghina, mengadu domba, membicarakan kekurangan seseorang atau sejenisnya.
Nama pelanggaran : Salah Basa
Besar adat : 20 rial permas,
Rincian adat : 20 x Rp 2.000,- = Rp 40.000,-
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung, ubi kayu, kacang panjang, mentimun, perenggi, labu, sawi ladang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun jambu biji untuk obat mencret, jahe obat mual2, cekur untuk sakit perut, akar punan untuk luka berdarah, tebu betung untuk muntaber, pasak bumi, ginseng, langir, belinggam
Papan dan Bahan Infrastruktur Keladan, tekam, meranti, gurunggan, belian, tebelian landak, resak, penggerawan
Sumber Sandang Pohon kepuak, kulit kedadai, daun nenas untuk membuat benang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun riang, daun bungkang (daun salam), daun simpur, kunyit, jahe, kandis, lengkuas.
Sumber Pendapatan Ekonomi Buah-buahan lokal (durian, jengkol, dll), madu, binatang buruan, ikan.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen