Wilayah Adat

Kampung Nanga Tiai

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dusun Nanga Tiai
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Silat Hulu
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 517 Ha
Satuan Kampung Nanga Tiai
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Riam Tapang
Batas Selatan Selangkai
Batas Timur Selangkai
Batas Utara Bangan Baru

Kependudukan

Jumlah KK 30
Jumlah Laki-laki 63
Jumlah Perempuan 49
Mata Pencaharian utama Petani dan Penoreh Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Orang Embau Nanga Tiai ada sejarahnya begini, seorang petani/pemburu dari Riam Tapang bernama; Dayan pergi ke sungai keladi dengan maksud membuat senapan lantak dengan Sa’i karena jauhnya perjalanan Dayan bermalam ditempat Erat di kampung Landau Kumpang keesokan harinya barulah diantar oleh Erat ke tempat tukang tadi yang bernama Sa’i, setelah senapan lantak selesai Dayan bermalam lagi dirumahnya Erat dan terjadilah Angkat-mengangkat menyadik (saudara angkat). Setelah acara selesai Dayan kemudian pulang diikuti oleh saudara angkatnya untuk membalas acara tersebut (Bersurung Banjung). Hubungan menyadik berjalan dengan baik, setahun kemudian datanglah Erat minta berladang dan diterima dengan lapang dada di ulu selangkai tempatnya mharung nanga ai, lama kelamaan datanglah saudara dan kaum kerabat si Erat dengan tujuan yang sama, juga mereka diterima dengan lapang dada.

Tiap keluarga makin tahun makin bertambah berminatlah mereka mendirikan kampung/rumah. Pertama mereka minta di Nanga ai, tidak di ijinkan oleh penduduk untuk Riam Tapang.

Ke dua minta lokasi di nanga langkup juga tidak di ijinkan dengan alasan penduduk yang datang tidak boleh jadi kepala menua (paling hulu sungai dan mengarah kewilayah yang jadi tumpuan hidup masyarakat pribumi) pada saat ini terjadilah sedikit gesekan yang diketahui oleh Ali Sementil. Menghadap kecamatan Silat Hulu, hasil koordinasi Ali dan kawan-kawan bersama dengan pihak Muspika Silat Hulu maka disepakati untuk meninjau kekampung Riam Tapang pada tahun 1972 dengan kepala Kampung Riam Tapang adalah Biai, musyawarah yang dipimpin langsung oleh kepala kampung berjalan agak alot dan sengit, namun karena di hadiri oleh pihak Muspika Kecamatan Silat Hulu maka musyawarah ini akhirnya disepakati hal-hal sebagai berikut:
- Menempatkan rumah mereka (orang embau) dihilir Kampung Riam Tapang dengan nama Riam Tapang II atau nanga tiai.
- Disuruh berusaha layaknya penduduk setempat.
- Tiap mau beuma harus minta ijin dengan yang punya semudak’ (bekas ladang yang sudah ditumbuhi kayu dan semak lainnya).
- Tiap mau menanam segala jenis tanaman harus minta ijin, apa yang boleh atau tidak boleh (kebun karet dan lain-lain).
- Bila tidak diijinkan maka tanaman tersebut menjadi milik yang punya semudak.
- Tidak boleh menebang/menghanguskan temawang atau gempung buah maupun tempat-tempat yang dilarang lainnya.
- Bila pindah, rumah boleh ditempati oleh keluarga lain cuma kebun karet dan buah lain yang di tanam pada semudak penduduk setempat tidak boleh dijual tetapi menjadi milik masyarakat Riam Tapang (penduduk asli).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan lindung, hutan produksi, kebun karet, sawah 
Individu, kolektif dan keturunan 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan
Struktur Ketua adat, Kadus, RT
Temenggung = Mengatur anggaran dasar rumah tangga ketemenggungan dan memutuskan perkara adat yg tidak mampu diputuskan oleh ketua adat dusun maupun desa.
Melakukan rapat adat sekurang-kurangnya 1x dlm setahun
 
Jika ada permasalahan adat diselesaikan di tingkat dusun dulu, jika tidak selesai perkara di naikkan ke desa. Jika tidak terselesaikan juga perkara di naikkan lagi ke tingkat Temenggung 

Hukum Adat

- Beuma Betahun/berladang
- Ngelalau/mencari madu
- Nuba
- Sumber air bersih
- Hutan Adat 
- adat perkawinan
- adat kelahiran
- adat kematian
- adat salah basa/tata krama/sopan santun
- dll 
Bergurau dengan berlebihan yang dapat membuat malu seseorang didepan umum, mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas seperti menghina, mengadu domba, membicarakan kekurangan seseorang atau sejenisnya.
Nama pelanggaran : Salah Basa
Besar adat : 20 rial permas,
Rincian adat : 20 x Rp 2.000,- = Rp 40.000,- 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen