Wilayah Adat

Kampung Nanga Selangkai

 Teregistrasi

Nama Komunitas Nanga Selangkai
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KAPUAS HULU
Kecamatan Silat Hulu
Desa Nanga Selangkai
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.851 Ha
Satuan Kampung Nanga Selangkai
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Landau Rantau
Batas Selatan Menyabai
Batas Timur Riam Tapang
Batas Utara Melawi

Kependudukan

Jumlah KK 53
Jumlah Laki-laki 108
Jumlah Perempuan 109
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Orang Dayak Ensilat adalah penduduk yang mula-mula menghuni wilayah Selangkai yang diciptakan oleh Alahtala (Tuhan) yaitu orang yang bernama Medang dan Gerunung. Manusia pertama diciptakan dan mempunyai keturunan sehingga membentuk sebuah kelompok kecil hingga besar. Mereka hidup di wilayah sungai Gangang, sungai Melaban, sungai Beranam, sungai Nyala, dan Ensilat Putih. Orang Dayak Ensilat yang hidup di wilayah ini tidak di ketahui berapa lama dan tahun berapa, lama kelamaan mereka mulai membuka wilayah sungai Geraman terutama sungai Geraman Lidhis dan sekitarnya. Tidak di ketahui berapa lama mereka di Geraman Lidhis, pindah lagi ke perhuluan sungai Ensilat melalui sungai Berenam pindah lagi ke daerah sungai Melaban, sungai Ganggang, sungai Nyala, nanga sungai Ensilat kibak dan sungai Ensilat Putih. Di sungai Ensilat Putih inilah mulai pertama kelompok agak besar di sebut rumah dan setelah ditinggalkan disebut Temawang Randuk. Bukti dari penyebaran penduduk diatas masih dapat dilihat sampai sekarang berupa:
- Tengkawang satu hamparan (bidang/gempung) bisa mencapai ratusan pokok, begitu juga dengan tanaman lain seperti khawai, sibau, mawang dan lain-lain.
- Kuburan di Nanga Sungai Melaban.
- Perupuk (bahan anyaman) di Sungai Gangong. - Tula Urat (jenis akar) di Sungai Berendam, besar batangnya
mencapai diameter + 60 cm. Sebelum kedatangan Siu orang pertama dari daerah Sintang yang menjelajah ke sungai Ensilat, orang beranggapan bahwa di aliran sungai Ensilat tidak ada kehidupan dan nama sungai ensilat awalnya adalah; Jempuyin Panyhang atau Aik’ Menyawai. Siu dan rombongan mudik menggunakan perahu galah (suar) dan tidak terlau jauh karena dari Nanga Silat sampai ujung panyang tertutup rampuk akar ensilat, akar tersebut bila di potong segera bersambung kembali begitu kiri-kanan tepi sungai banyak hantu, minta cabuh atau pegelak (sesaji) berupa hati, mata, daging, kulit, tulang dan lain-lainnya, melihat kenyataan mereka mundur sambil mencari pirasat dan akal supaya bisa menembus sampai keperhuluan. Siu mudik lagi dengan membawa 7 ulun (kuli) dan panglima hulu galangnya. Sesampainya diujung panyang mereka menemukan sebatang kayu purang yang telah dipotong ujungnya dan pangkalnya dan kulitnyapun telah dikelupas. Penemuan ini menunjukan bahwa di hulu ada kehidupan, manusia, rumah, ladang dan lain-lainya. Rombongan Siupun mudik dengan tidak di ketahui berapa lama dalam perjalanan mudik. Tiap hari mereka dihadapkan dengan tantangan hantu yang mirip mereka, yang bisa menghilang, berbicara minta sesaji (hati, mata, telinga, otak, kulit) sesuai dengan keinginan hantu tadi. Tetapi Siu tidak menghiraukannya, mereka mudik melewati berbagai tantangan, gurung, riam, hingga sampailah mereka pada suatu tempat karena mereka telah letih dan akan menyudahi perjalanannya, maka bermalam lah mereka di tempat itu. Keesokan harinya sesuai dengan rencana dan permohonan hantu maka Siu membunuh ke 7 ulun tadi dipotong-potong dan diiris-iris layaknya binatang sehingga aliran sungai menjadi merah mirip dengan darah yang sekarang di sebut sungai Ensilat Merah. Siu memerintahkan hulu balangnya milir, sama halnya dengan waktu mudik dari sungai Ensilat Merah sampai ke ujung payang hantu- hantu berjejer dipantai kiri-kakanan meminta cabuh sesuai dengan keinginannya, maka anak buah Siu pun sibuk lempar kiri, lempar kanan daging atau kerat-kerat dari ulun yang di bunuh. Tidak diketahui lamanya milir, cerita lisan yang dipaparkan oleh tua-tua Ensilat, daging habis terbagi dan mereka sampai ke Nanga Silat. Mulai saat itulah Jempuyin Payang berubah nama Sungai Ensilat dan keluarga dan keturunan Siu pun aman dan tentram hidup dan tinggal di sungai Ensilat karena telah memberi cabuh atau sasih kayu purang yang ditemukan Siu. Batang purang yang pertama di kenal atau ditemui oleh Siu (orang dari kerajaan Sintang) yang menandakan bahwa di hulu sungai Ensilat ada kehidupan diabadikan oleh orang Ensilat sebagai Empang yaitu kayu yang dililit dengan daun dan bunga untuk penyambutan tamu. Hantu-hantu yang minta cabuh kepada Siu adalah jelmaan dari orang Dayak Ensilat asli sebelum Siu mendatangkan dan menyebarkan kelompoknya ke sungai Ensilat. Mereka sengaja
berbuat demikian atau meminta cabuh karena ingat akan perjanjian pembagian harta adik-beradik Buyin Asi (baca Beuma Betahun dari buku Kumpulan Kearifan Lokal Dayak Ensilat). Setelah penduduk membaur dan berketurunan, memenuhi aliran sungai Ensilat pada masa pengorganisasian kerajaan atau penjajah. Pada waktu itu penduduk asli Ensilat terpecah dua yaitu: (1) mereka yang mau diorganisir oleh kerajaan dan yang membaur dengan orang-orang bawaan Siu menetap dan membuat rumah, kampung sampai sekarang, (2) mereka yang tidak mau membaur disebut Tapuk, mereka hidup berkelompok sampai sekarang di daerah hulu sungai Ensilat mereka tidak bisa kelihatan, baik rupa, rumah atau pondok maupun usahanya, kalaupun bisa kelihatan, dalam waktu sekejap mata saja. Mereka adalah satu keturunan yang sama yang tidak pernah mengganggu bahkan bisa menolong dalam situasi sulit tanpa disadari misalnya jika tersesat di hutan yang sangat jauh, tiba-tiba dengan sekejab mata kita sudah dekat pondok atau tempat yang dikenal, perahu yang diangkat tiba-tiba menjadi ringan, dan banyak contoh lainnya. Hasil pembauran penduduk asli dan orang-orang yang dibawa Siu tadi menyebar di beberapa kampung tua jaman ngayau yaitu:
1. Nanga Sungai Kersit. 2. Riam Tapang. 3. Tapang Landai. 4. Nanga Suang. 5. Karangan Lintang. 6. Nanga Pengga.
Bukti sejarah yang masih ada hingga sekarang berupa Tiang Sanukng yang terdapat di Riam Tapang, Karangan Lintang dan Nanga Pengga. Pada jaman ngayau (diperkirakan sekitar tahun 17-an) hiduplah penduduk di daerah Sungai Geraman dengan sebutan rumah Nanga Geraman kemudian pindah lagi ke Nanga Sungai Kersit, karena pemukiman hangus dibakar musuh sehingga penduduknya sembunyi karena jumlah musuh lebih banyak, sementara yang lainnya masih dalam perjalanan ngayau. Dari ngayau mereka mufakat membuat rumah di Nanga Sungai Kersit. Dari Nanga Sungai Kersit penduduk terbagi atas tiga kampung yaitu:
- Sungai Kersit. - Riam Tapang (sampai sekarang). - Tapang Landai.
Dari Sungai Kersit, pindah ke Nanga Sungai Geraman Namit, pindah lagi ke Nanga Sungai Tapang lalu pindah ke Nanga Selangkai. Di Nanga Selangkai mereka merasa tidak cocok karena banyak penduduk yang sakit hingga ada yang meninggal maka atas mufakat dengan kepala kampung Kadir dan Kebayan Tibi mereka pindah ke Sungai Selangkai yakni di Lubuk Embak. Sebelum mendirikan kampung belian (Kadir) atas nama masyarakat datang ke Riam Tapang waktu itu kepala kampungnya Biai, untuk meminta lokasi ini dijadikan kampung pindahan dari Nanga Selangkai, atas persetujuan bersama maka Lubuk Embak di ijinkan oleh orang Riam Tapang. Terjadilah kesepakatan batas-batas waktu itu sebagai berikut; “ Tintin langkung turun kegurung pantar, gurung pantar ke tintin sungai gurun sampai lenghang gertak ke jalan rudi turun ke sungai besai naik ke tangkul empethir turun ke sungai bisai bhatu, netak lintang turun ke lawang kuri atau gurung gereman, ini untuk batas bagian sungai selangkai samapai sungai ensilat sebelah kiri “. Sementara sungai Silat sebelah kanan kampung Nanga Selangkai atau Lubuk Embak sampai sungai Basan, pada waktu pemetaan partisipatif yang di fasilitasi oleh PPSDAK Pancur Kasih, penduduk sepakat merubah batas menjadi sungai Silat sebelah kiri Selangkai bertambah menjadi sungai Besai tengah batas radin kuning turun ke nanga sungai ulu, dan sungai ensilat sebelah kanan dari basan berubah ke sungai sarai (data peta terlampir), kemudian Riam Tapang di mekarkan jadi dua desa. Ketika dari Nanga Selangkai pindah ke Lubuk Embak maka masyarakatnya pun pindah menurut keinginan masing- masing ada yang pindah ke Riam Tapang, Bangan Baru, Landau Rantau, Nanga Suang. Begitu juga dengan rumah di Tapang Landai lebih dahulu membubarkan diri untuk membaur ke Nanga Selangkai, Riam Tapang, Nanga Suang, Karangan Lintang dan lain- lain.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Nanga Selangkai, atas persetujuan bersama maka Lubuk Embak di ijinkan oleh orang Riam Tapang. Terjadilah kesepakatan batas-batas waktu itu sebagai berikut; “ Tintin langkung turun kegurung pantar, gurung pantar ke tintin sungai gurun sampai lenghang gertak ke jalan rudi turun ke sungai besai naik ke tangkul empethir turun ke sungai bisai bhatu, netak lintang turun ke lawang kuri atau gurung gereman, ini untuk batas bagian sungai selangkai samapai sungai ensilat sebelah kiri “. Sementara sungai Silat sebelah kanan kampung Nanga Selangkai atau Lubuk Embak sampai sungai Basan, pada waktu pemetaan partisipatif yang di fasilitasi oleh PPSDAK Pancur Kasih, penduduk sepakat merubah batas menjadi sungai Silat sebelah kiri Selangkai bertambah menjadi sungai Besai tengah batas radin kuning turun ke nanga sungai ulu, dan sungai ensilat sebelah kanan dari basan berubah ke sungai sarai (data peta terlampir), kemudian Riam Tapang di mekarkan jadi dua desa. Ketika dari Nanga Selangkai pindah ke Lubuk Embak maka masyarakatnya pun pindah menurut keinginan masing- masing ada yang pindah ke Riam Tapang, Bangan Baru, Landau Rantau, Nanga Suang. Begitu juga dengan rumah di Tapang Landai lebih dahulu membubarkan diri untuk membaur ke Nanga Selangkai, Riam Tapang, Nanga Suang, Karangan Lintang dan lain- lain.  
- keturun (warisan): tanah yang dimiliki secara turun-temurun dalam satu garis keturunan misalnya tembawang.
- Pribadi: tanah yang dimiliki secara individu karena diwariskan dan dengan cara membeli misalnya lokasi kebun karet, ladang.
- Bersama: tanah yang dimiliki secara bersama seperti tanah pekuburan dan tanah adat yang dicadangkan untuk kepentingan bersama.  

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan
Struktur 1. Temenggung 2. Dewan adat desa 3. Dewan adat dusun
Tiap tingkatan pengurus adat akan mengurus adat berdasarkan besaran adat. Seorang Temenggung memiliki kewenanganan dan tanggungjawabnya meliputi seluruh wilayah adat kekuasaannya.
Dewan Adat desa mengurus urusan adat di desanya. Dewan adat Dusun mengurus adat di dusunnya.
Melakukan rapat adat sekurang-kurangnya 1x dlm setahun
 
Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan kampung dan orang banyak dilakukan secara kekeluargaan melalui musyawarah dan mufakat. Mekanisme pengambilan keputusan dimulai dari tingkat yang paling bawah sampai yang paling atas. Apabila perkara adat tidak mampu diselesaikan oleh pengurus adat yang paling bawah maka dinaikan/diselesaikan ditingkat yang lebih atas. Contoh suatu perkara yang tidak selesai di tingkat dewan adat dusun maka dinaikan ke tingkat dewan adat desa, jika tidak putus juga maka dinaikan di tingkat yang paling tinggi yaitu temenggung.  

Hukum Adat

Nuba Adat; Tujuan diadakannya tuba adat adalah:
a. Meminta kepada penguasa alam semesta agar diturunkan hujan.
b. Untuk menghayutkan wabah penyakit yang bisa
menyerang warga masyarakat seperti batuk, sakit
perut dan sebagainya.
c. Dengan turunya hujan padi tumbuh dengan baik.
Nuba adat dilakukan apa bila semua warga masyarakat yang ada di kampung-kampung sekitarnya sudah membakar ladang (tidak ada satupun yang belum

membakar ladang). Sebelum tuba adat dilakukan terlebihdahulu masyarakat mengadakan musyawarah diantarakampung-kampung di sekitarnya, hari dan tanggal berapa tuba adat dilakukan dan tuba apa yang akan dipakai.

Nuba Mutus Bulin; tuba yang dilakukan apa bila ada salah satu dari warga masyarakat yang mati di sungai baik itu karena jatuh maupun karam di sungai. Menurut kepercayaan suku Ensilat, orang yang mati demikian itu disebabkan oleh mahluk penghuni sungai maka dilakukanlah tuba mutus bulin. Adapun jenis tuba mutus bulin yang digunakan adalah: tuba jerangau, tuba cekur, tuba urat, tuba rabut, tuba benang, tuba keban, tuba empadik, tuba buah ketuba, tuba buah kemandah, tuba duata.

Nuba Biasa; adalah tuba yang dilakukan oleh beberapa orang, akan tetapi tidak boleh dilakukan di hulu sungai atau ladang orang lain. 
Perkawinan
Untuk merencanakan suatu perkawinan, ditempuh
langkah-langkah sebagai berikut: pertama menjalankan kata rahasia dari pihak lelaki kepada pihak perempuan yang akan dijadikan sebagai istri. Kata rahasia diikutkan dengan uang sebanyak rp 5.000. Bila dalam kata rahasia seorang gadis bersedia untuk dipinang, maka langkah kedua dijalankan kata pinta. Syarat meminta adalah pihak lelaki menyiapkan: 1 helai baju, 1 helai tungkau dan
sebentuk cincin. Barang ini diserahkan kepada pihak
perempuan setelah kata pinta diucapkan. Pihak
perempuan menerima kata pinta bersama alat-alat pinta tersebut. Kemudian bermusyawarah dengan kaum keluarga terdekat untuk membicarakan buah pinta tadi.

Pinta tidak diterima bila perempuan belum siap berumah tangga, tidak cocok dengan prilaku peminta, tingkau mali berat, dan perempuan sudah ada yang disukainya merencanakan mau meminta, pihak perempuan harus menjawab kata pinta kepada pihak lelaki, apakah pinta diterima atau ditolak. Bila ditolak kain selampai dikembalikan pada pihak lelaki dan bila diterima pembicaraan dilanjutkan dengan rencana pertunangan.

Syarat tunangan

Usia cukup (lelaki 19 tahun ke atas dan perempuan 16
tahun ke atas). Masa tunangan minimal 3 bulan dan
menjalankan nasihat pertunangan dengan sebaik-baiknya.

Nasihat pertunangan
Nasihat pertunangan yang biasa diucapkan oleh orangtua adalah:
 Tidak boleh tidur bersama
 Tidak boleh berpergian jauh berdua
 Memberi dan menolong harus diketahui oleh orang
tua, dan hal yang menunjukkan ketidakserasian antara
kedua belah pihak, maka pertunangan dapat dibatalkan.

Bila pembatalan pertunangan disebabkan perbuatan
sengaja dari salah satu pihak, seperti salah dengan orang lain, ada pihak ketiga yang mengganggu, maka pihak yang ingkar dapat dikenakan adat pemuang tunang. Tapi bila pembatalan terjadi karena kesepakatan kedua belah pihak, maka tidak ada yang menuntut pemuang tunang. Tetapi bila terjadi pembatalan karena kesepakatan kedua belah pihak pemuang tunang tidak dituntut. 
Tuba terminum orang sehingga menyebabkan meninggal dunia maka orang yang menuba tersebut dikenakan sampai adat pati dengan rincian adat sebesar 996 rial kati tembaga x 3 real peramas x Rp 2000 = Rp 5.976.000.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung, ubi kayu, kacang panjang, mentimun, perenggi, labu, sawi ladang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Daun jambu biji untuk obat mencret, jahe obat mual2, cekur untuk sakit perut, akar punan untuk luka berdarah, tebu betung untuk muntaber, pasak bumi, ginseng, langir, belinggam
Papan dan Bahan Infrastruktur Keladan, tekam, meranti, gurunggan, belian, tebelian landak, resak, penggerawan
Sumber Sandang pohon kepuak, kulit kedadai, daun nenas untuk membuat benang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daun riang, daun bungkang (daun salam), daun simpur, kunyit, jahe, kandis, lengkuas.
Sumber Pendapatan Ekonomi Buah-buahan lokal (durian, jengkol, dll), madu, binatang buruan, ikan.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Kapuas Hulu No 13 Tahun 2018 Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen