Wilayah Adat

Kampung Sungkup

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Limbai dan Ransa
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Menukung
Desa Belaban Ella
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4.619 Ha
Satuan Kampung Sungkup
Kondisi Fisik Dataran,Perairan
Batas Barat Desa Nanga Siyai, Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi
Batas Selatan Dusun Sungai Krosit, Sungai Lalau, Desa Perembang Nyuruh Kecamatan Ella Hilir dan Desa Tumbang Keburai, Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan Hulu, Kalimantan Tengah.
Batas Timur Desa Sungai Sampak, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi
Batas Utara Dusun Laman Oras, Desa Batu Badak, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi

Kependudukan

Jumlah KK 478
Jumlah Laki-laki 750
Jumlah Perempuan 676
Mata Pencaharian utama Bertani, berburu

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Suku Dayak Limbai
Proses migrasi Dayak Limbai sehingga ke Kampung Sungkup sekarang tidak terlepas dari seseorang bernama Atok Cubok dan Temuai beserta keturunannya (sebelum Indonesia merdeka). Mereka berasal dari dalam jalur Sungai Maan. Di sini mereka berusaha, bercocok tanam, seperti berladang (umo), berkebun karet, durian, tengkawang dan lainnya. Dari sini, mereka pindah ke Tebodak Kotik, yakni jalur Sungai Keruap. Bukti peninggalan mereka di Sungai Maan berupa pohon durian, tengkawang, kayu tapang, kayu belian/ulin dan kuburan tua

Suku Dayak Ransa
Asal muasal Dayak Ransa yang sekarang bermukim di Kampung Belaban Ella, berawal dari sebuah wilayah Lengkung Nyadum di daerah Ella Hilir. Setelah itu, mereka pindah ke Lengkung Temiyang di daerah hulu Kota Menukung. Bukti peninggalan mereka di dua wilayah tersebut, berupa tanaman, seperti: durian, tengkawang, langsat. Dari Lengkung Temiyang, mereka pindah ke Laman Tanjung (sekarang Laman Oras)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- umo atau ladang, terdiri dari umo rima’ (dataran tinggi) dan umo tanah payak (dataran rendah-ranah), merupakan tempat berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Di umo, tidak hanya ditanami padi, tapi ditanami jagung, ubi kayu, ubi jalar, kribang, sawi, labuk, terong, jahe, timun dan juga ditanam karet asli.
- babas/bawas, merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan untuk be-umo lagi pada tahun berikutnya. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo.
- rima’/hutan primer, yaitu hutan yang masih utuh atau dikenal dengan istilah hutan primer. Rima’ merupakan hak bersama mereka dalam satu ketemenggungan atau satu kampung. Setiap warga mempunyai hak untuk berusaha di rima’, seperti berburu, mencari ikan, mencari gaharu, mencari bahan bangunan (meramu), memungut damar, mengambil madu, mencuri rotan, mencari obat-obatan, mencari kulit kayu (untuk dinding pondok ladang) dan umo. Namun demikian apabila seseorang/kelompok orang ingin membuka umo rima’, maka orang tersebut harus melakukan musyawarah dan minta ijin dengan seluruh warga masyarakat adat setempat terlebih dahulu. Mereka juga mengenal wilayah jelajah berburu yang mencakup seluruh wilayah adat.
- gupung adat atau temawang, yaitu kawasan bekas umo atau pemukiman yang telah ditanami berbagai jenis tanaman buah-buah, seperti durian, tengkawang, rambutan, langsat, pegawai, rambai, kemayau dan juga pohon karet. Selain itu juga di gupung juga terdapat kuburan, tempat keramat (tanah mali), tanaman obat-obatan, rotan, gaharu, temaduk dan bahan bangunan rumah.
- kebun karet, yakni kawasan yang berisikan tanaman karet. Kebun karet mereka ada yang dekat dengan pemukiman dengan jarak kurang lebih 5 – 10 meter saja dan ada yang jauh dengan jarak 1 – 20 kilometer.
- sawah, yaitu kawasan khusus untuk mereka bersawah. Jaraknya antara sawah dan kampung kurang lebih 500 meter - 1 kilometer. Sawah yang ada di Sungkup dan Belaban Ella adalah sawah tadah hujan dan irigasi.
- tempat keramat, merupakan kawasan yang diyakini mereka sebagai tempat bersejarah dan melaksanakan ritual adat, seperti tempat keramat Batu Betanam, Pontu Lajek Pongkal Sedarah.
- kawasan kampung, merupakan kawasan pemukiman atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka
 
1. Kepemilikan secara individu diperoleh berdasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan (rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga dari warisan orang tua.
Pada kepemilikan ini, orang lain di luar keluarga yang bersangkutan, dalam arti warga sesama rumah panjang, desa/dusun, atau sesuku diperbolehkan memakai asalkan minta ijin terlebih dahulu. Sedangkan anggota keluarga yang kawin lalu memutuskan untuk hidup di luar rumah keluarga asalnya ---- yang memegang hak milik tadi, maka dia hanya memiliki hak pakai saja. Itupun kalau lahan yang bersangkutan tidak dipakai oleh anggota keluarga yang telah ditetapkan sebagai pemegang hak milik tersebut. Hak kepemilihan secara individu ini telah terjadi secara bertahap.

Walaupun dimiliki secara individu, tapi dalam hal pemungutan hasil tanaman buah-buahan, seperti buah durian, rambutan, sibau, langsat, kemayau dan jenis buah lainnya, masyarakat adat di Sungkup dan Belaban Ella sangat longgar. Siapapun boleh memungut hasil buah-buahan milik seseorang apabila tanaman tersebut berbuah dan buah telah masak/matang dan jatuh ke tanah, asalkan tidak menebang atau memanjat buahnya.

2. Kepemilikan secara kolektif oleh masyarakat adat Sungkup dan Belaban Ella, yakni penguasaan dan pengelolaan wilayah adat secara bersama-sama, seperti yang tertuang dalam konsepsi tentang Gupung adat, tempat Keramat, Perkuburan, Rima’, Sungai.
Selain itu, kepemilikan kolektif bisa juga terjadi di masyarakat adat Sungkup dan Belaban Ella, jika penguasaan hak milik keluarga secara pribadi tidak dipelihara lantaran tidak ada lagi keturunan langsung keluarga bersangkutan, atau keterangan sejarah lahan yang bersangkutan tidak jelas
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Siyai
Struktur Temenggung sebagai pemimpin adat tertinggi; Ketua Adat sebagai pemimpin adat di tiap-tiap Kampung
Jabatan pengurus adat di atas memiliki tugas dan kewenangan masing-masing yang didasarkan pada aturan adat. Seorang Temenggung memiliki kewenganan dan tanggungjawabnya meliputi seluruh wilayah adat kekuasaannya. Wilayah adat kekuasaan Temenggung bisa lintas Desa, yakni beberapa Desa dalam satu Temenggung. Temenggung menyelesaikan perkara adat, apabila perkarai adat itu berat, seperti pembunuhan dan perkara adat yang tidak mampu diselesaikan oleh Ketua Adat tingkat kampung/dusun. Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah kampung/dusun 
Walaupun berbeda suku, tapi kehidupan sehari-hari masyarakat adat di Kampung Sungkup dan Belaban Ella penuh dengan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Rasa kebersamaan dan kekeluargaan tersebut merupakan warisan dari para leluhur terdahulu yang dipraktikkan mereka hingga sekarang. Sehingga tidak mengherankan setiap ada aktivitas di kampung yang menyangkut kepentingan masyarakat adat ramai (hak kampung) selalu dirapatkan atau dimusyawarahkan, seperti acara perkawinan, gotong royong mengerjakan rumah, mengerjakan jalan raya, pelanggaran adat, acara pertemuan besar dan lainnya. Rapat-rapat untuk memutuskan sesuatu tidak hanya dihadiri oleh kaum bapak/laki-laki saja, tapi kadang kala dihadiri oleh ibu-ibu. Menurut mereka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan bermusyawarah 

Hukum Adat

Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut di atas dikenakan sanksi adat, yakni: - apabila membakar umo (ladang), dan apinya menjalar pada skat api di 3 depak, maka kena ulun 3; dan apabila api menjalar pada skat api di 5 depak, maka kena ulun 2.

hukum adat atas gupung laman, gupung tanah mati mali, gupung kerobah, gupung tembuni, gupung balai keramat, kawasan tempat be-umo (berusaha), rima’ (hutan primer), sungai, dan lainnya. 
Tidak berbeda dengan masyarakat adat pada umumnya yang secara turun-temurun memiliki norma-norma yang mengatur kehidupan sehari-hari. Masyarakat adat Kampung Sungkup dan Belaban Ella juga memiliki norma-norma/aturan yang mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Sebut saja aturan adat perkawinan, adat betunang dan balang betunang adat kematian, adat kelahiran, adat pembunuhan, adat mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, adat cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat. Sedangkan alat-alat dan benda dalam perkara adat Dayak Limbai meliputi: tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang 
Kasus yang diuraikan berikut ini merupakan pelanggaran atas wilayah adat Ketemenggungan Siyai, kususnya wilayah adat Kampung Sungkup oleh sebuah perusahaan pertambangan batu bara PT. Sindo Resources. Untuk menyelesaikan kasus ini masyarakat adat Sungkup bersepakat untuk menyelesaikannya secara hukum adat dan diterima oleh pihak perusahaan. Pelanggaran adat yang dikenakan adalah Adat Salah Baso; Adat Kesupon Kampong, Adat Kesupon Temenggung Kalau dinilaikan dengan uang maka nilai adatnya sebesar Rp. 8.200.000,- (Delapan Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi