Wilayah Adat

Kampung Bunyau Dayak Limbai Kelait

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Limbai Kelait
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota MELAWI
Kecamatan Menukun
Desa Landau Leban
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4.619 Ha
Satuan Kampung Bunyau Dayak Limbai Kelait
Kondisi Fisik Dataran,Perairan
Batas Barat Desa Pelaik Keruap dan Dusun Guhung Keruap Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi
Batas Selatan Dusun Landau Leban, Trapau Mawan dan Oyah Desa Landau Leban Kecaamatan Menukung Kabupaten Melawi
Batas Timur Dusun Batas Nangka, Desa Landau Leban, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi
Batas Utara Dusun Batas Nangka, Desa Landau Leban, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi

Kependudukan

Jumlah KK 97
Jumlah Laki-laki 162
Jumlah Perempuan 155
Mata Pencaharian utama Bertani, bertenank dan berburu

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kampung Bunyau sendiri berasal dari nama sebuah pohon kayu yang bernama Kayu Bunyau (buahnya seperti buah Sawo). Kayu bunyau sendiri tumbuhnya disekitar sungai. Sehingga sungai tersebut oleh masyarakat adat Kampung Bunyau sekarang disebut sungai bunyau, yang digunakan mereka untuk air bersih, mandi dan mencuci. Keberadaan Orang Limbai yang menempati Kampung Bunyau sekarang tidak terlepas dari jasa orang-orang yang bernama Rayung, Merangka dan Gumpol. Kedatangan mereka bertiga ke Kampung Bunyau terjadi sejak Jaman Ngayau (kira-kira 1930-an), dengan tujuan untuk mencari tanah yang subur sebagai tempat mereka be-Umo (berladang).

Dari 1945 – 1950 Kepala Kampung Bunyau dijabat oleh Pikul dengan Kebayannya bernama Luntut. Pada waktu ini, terjadi pemekaran Kecamatan Ella, dimana Menukung dijadikan Kecamatan Menukung. Pada 1970-an Kebayan Luntut digantikan Kebayan Tedo, sedangkan Kepala Kampung masih dijabat oleh Pikul. Pada 1973 – 1979, Tedo menjabat Kepala Kampung Bunyau dan Kebayannya Silai. Pada 1980, Tedo meninggal dunia, Kepala Kampung Bunyau dijabat Pak Kudat, sedangkan Kebanyannya Pak Silai. Keduanya memimpin dari 1980-1985. Dari 1985 – 1987 Kepala Kampung Bunyau dijabat Pak Silai, dengan Kebanyannya Pak Aswan. Pada 1987 Pak Aswan sebagai Kepala Kampung, Kebayannya Pak Rahun. Pada kepemimpian Pak Aswan ini terjadi kebakaran terhadap rumah mereka di Tratak Kenobak yang menghanguskan 30 rumah kepala keluarga, sehingga mereka dipindahkan ke Kampung Bunyau. Mereka yang tinggal di Tratak Kenobak pada waktu itu terdiri dari beberapa kampung, yakni Kampung Bunyau, Bondau, Oyah, dan Bodong. Tratak Kenobak sendiri merupakan wilayah adat Orang Bunyau yang dimanfaatkan warga dari kampung-kampung tersebut untuk bersuha, bercocok tanam, seperti be-umo, sawah, berkebun karet, berkebun sayur-sayuran dan lainnya. Kehadiran orang-orang dari kampung lain ke tratak kenobak atas kemurahan hati orang Bunyau yang memberikan tanah karena mereka menganggap dirinya masih keluarga/saudara.

Di masa kepemimpinan Pak Aswan dan Rahun ini juga, terjadi perubahan sistem pemerintahan Kampung, yakni Kampung berubah menjadi Dusun dan/atau Desa. Sehingga Kampung Bunyau berubah menjadi Dusun Bunyau dengan Kepala Dusun dijabat Pak Aswan. Pada 1990 – 1995, Pak Aswan berhenti, digantikan oleh Pak Ujang. Pada 1995 – 1997, Dusun Bunyau dipimpin Pak Jampun. Satu tahun (1997 – 1998) menjabat, Pak Jampun digantikan Udoi Andi. Tahun 1998 – 2000, Dusun Bunyau dipimpin Pak Mohtar. Dari 2000 – 2006, Dusun Bunyau dijabat Pak Anton Tumijan. Tahun 2006 – 2009, Dusun Bunyau dijabat Pak Pariyanto. Dan 2009 – sekarang, Dusun Bunyau dipimpin oleh Pak Antang.

Sedangkan berdasarkan pemerintahan adat, Kampung Bunyau berada di bawah Ketemenggungan Batas Nangka. Wilayah adat Ketemenggungan Batas Nangka sendiri berbatasan langsung dengan Ketemenggungan Pelaik Keruap dan Ketemengungan Mawang Mentatai . Temenggung Batas Nangka yang pertama bernama Temenggung Keneng, yang memerintah hingga tahun 1958, berdomisili di Kampung Kenolin. Temenggung Keneng meninggal dunia, digantikan Temenggung Akah, menjabat dari 1958 – 1974, berdomisili di Kampung Batas Nangka. Temenggung Akah digantikan Temenggung Senarong, memerintah dari 1974 – 2009, berdomisili di Kampung Kenolin. Dan 2009 – Sekarang Temenggung Batas Nangka dipimpin Temenggung Unau Tuah, berdomisili di Desa Landau Leban.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- umo atau ladang. Mereka mengenal umo rima’ (dataran tinggi) dan huma tanah payak (dataran rendah-ranah), merupakan tempat berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Di umo, selain ditanami padi, juga ditanami jagung, ubi kayu, ubi jalar, kribang, sawi, labuk, terong, jahe, timun dan juga ditanam karet asli.
- babas/bawas, merupakan kawasan bekas umo yang dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat dipergunakan lagu untuk be-umo lagi pada tahun berikutnya. Mereka juga mengenal tingkat vegetasi (kesuburan tanah) yang ada di babas, seperti tempalai yaitu babas berumur 1 – 3 tahun; balitn batang yakni babas berumur 2 – 3 tahun; babas muda yakni babas berumur 3 – 5 tahun; babas tuha yaitu babas berumur 6 – 11 tahun; agung kelongkang yaitu babas berumur 12 tahun ke atas dan kalau tidak dijadikan huma lagi akan menjadi rima’. Baik umo maupun babas merupakan hak milik perorangan atau keluarga. Hak milik ini didasarkan pada orang yang pertama kali membuka rima’ sebagai tempat umo.
- rima’/hutan primer, yaitu hutan yang masih utuh atau dikenal dengan istilah hutan primer. Rima’ merupakan hak bersama mereka dalam satu ketemenggungan atau satu kampung. Setiap warga mempunyai hak untuk berusaha di rima’, seperti berburu, mencari ikan, mencari gaharu, mencari bahan bangunan (meramu), memungut damar, mengambil madu, mencuri rotan, mencari obat-obatan, mencari kulit kayu (untuk dinding pondok ladang) dan umo. Namun demikian apabila seseorang/kelompok orang ingin membuka umo rima’, maka orang tersebut harus melakukan musyawarah dan minta ijin dengan seluruh warga masyarakat adat setempat terlebih dahulu. Mereka juga mengenal wilayah jelajah berburu yang mencakup seluruh wilayah adat.
- gupung adat atau temawang, yaitu kawasan bekas umo atau pemukiman yang telah ditanami berbagai jenis tanaman buah-buah, seperti durian, tengkawang, rambutan, langsat, pegawai, rambai, kemayau dan juga pohon karet. Selain itu juga di gupung juga terdapat kuburan, tempat keramat (tanah mali), tanaman obat-obatan, rotan, gaharu, temaduk dan bahan bangunan rumah.
- kebun karet, yakni kawasan yang berisikan tanaman karet. Kebun karet mereka ada yang dekat dengan pemukiman dengan jarak kurang lebih 5 – 10 meter saja dan ada yang jauh dengan jarak 1 – 20 kilometer.
- rasau/rawa, yaitu dataran rendah yang berair, biasanya digunakan sebagai kawasan umo rawa.
- sawah, yaitu kawasan khusus untuk mereka bersawah. Jaraknya antara sawah dan kampung kurang lebih 1 – 5 kilometer dengan jarak tempuh berjalan kaki kurang lebih 1 jam. Sawah yang ada di Kampung Bunyau adalah sawah tadah hujan dengan ditanami padi sawah local (1 kali setahun).
- tempat keramat, merupakan kawasan yang diyakini mereka sebagai tempat bersejarah dan melaksanakan ritual adat, seperti tempat keramat Batu Pantang di Gupung Jegala Pampar (ada besi yang tertanam di batunya), tempat keramat Batu Ningur sebagai tempat betapa, tempat keramat Batu Lancang Tawang (dikenal dengan tanah alam bejahit), dan tempat keramat Natai Murao, dikenal dengan 2 (dua) buah Goa, yakni Goa Bukong Bawah dan Goa Bukong Atas. Di dalam goa-goa Natai Murao terdapat berbagai jenis barang-barang antik (kono), seperti tempayan, tajau, kris pusaka, pinggan dan lainnya. Selain itu, goa-goa ini sebagai tempat menuntut ilmu kekuatan (bertapa).
- kawasan kampung, merupakan kawasan pemukiman atau tempat mendirikan bangunan rumah dan pusat seluruh aktivitas keseharian mereka
 
1. Kepemilikan secara individu diperoleh berdasarkan asas siapa yang pertama kali membuka hutan (rima’) atau lahan untuk be-umo/ladang, dan dapat juga dari warisan orang tua.
Pada kepemilikan ini, orang lain di luar keluarga yang bersangkutan, dalam arti warga sesama rumah panjang, desa/dusun, atau sesuku diperbolehkan memakai asalkan minta ijin terlebih dahulu. Sedangkan anggota keluarga yang kawin lalu memutuskan untuk hidup di luar rumah keluarga asalnya ---- yang memegang hak milik tadi, maka dia hanya memiliki hak pakai saja. Itupun kalau lahan yang bersangkutan tidak dipakai oleh anggota keluarga yang telah ditetapkan sebagai pemegang hak milik tersebut. Hak kepemilihan secara individu ini telah terjadi secara bertahap.

Walaupun dimiliki secara individu, tapi dalam hal pemungutan hasil tanaman buah-buahan, seperti durian, rambutan, sibau, langsat, kemayau dan jenis buah lainnya, masyarakat adat di Kampung Bunyau sangat longgar. Siapapun boleh memungut hasil buah-buahan milik seseorang yang tanaman buah telah masak dan jatuh ke tanah, asalkan tidak menebang atau memanjat buahnya, seperti buah durian, pekawai kalau jatuh ke tanah.

2. Kepemilikan secara kolektif oleh masyarakat adat Kampung Bunyau, yakni penguasaan dan pengelolaan wilayah adat secara bersama-sama, seperti yang tertuang dalam konsepsi tentang Gupung adat, tempat Keramat, Perkuburan, Rima’, Sungai.
Selain itu, kepemilikan kolektif bisa juga terjadi di masyarakat adat Limbai di Kampung Bunyau, jika penguasaan hak milik keluarga secara pribadi tidak dipelihara lantaran tidak ada lagi keturunan langsung keluarga bersangkutan, atau keterangan sejarah lahan yang bersangkutan tidak jelas.
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Batas Nangka
Struktur Struktur Lembaga Adatnya terdiri dari Temenggung sebagai pemimpin adat tertinggi; Ketua Adat dan Wakil Ketua Adat yang berada di tiap-tiap Kampung
Jabatan pengurus adat di atas memiliki tugas dan kewenangan masing-masing yang didasarkan pada aturan adat. Seorang Temenggung memiliki kewenganan dan tanggungjawabnya meliputi seluruh wilayah adat kekuasaannya. Wilayah adat kekuasaan Temenggung dapat lintas Desa, yakni beberapa Desa satu Ketemenggungan. Temenggung menyelesaikan perkara adat, apabila perkarai adat itu berat, seperti pembunuhan dan perkara adat yang tidak mampu diselesaikan oleh Ketua Adat tingkat kampung/dusun. Ketua Adat memiliki kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah kampung/dusunnya. Sedangkan wakil ketua adat hanya diberi kewenangan untuk mengurus adat istiadat dan hukum adat di wilayah kampung/dusun apabila ketua adat tidak berada di tempat/berhalangan.
Pola struktur kelembagaan adat dan pemerintahan kampung telah dikenal dan dipraktikan mereka sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada saat Dayak Limbai menempati wilayah Laman Temenggung. 
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Kampung Bunyau sangat kental dengan rasa kekeluargaan, seperti masih diterapkannya gotong royong dalam berbagai kegiatan be-umo, bersawah, upacara adat perkawinan dan acara-acara lainnya. Dengan masih kentalnya rasa kekeluargaan ini, maka setiap pengambilan keputusan selalu didasarkan pada pendapat orang banyak atau musyawarah untuk mufakat. Sehingga tidak mengherankan apabila ada hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan kampung, seperti dapat bantuan dari pemerintah atau ada investasi ingin masuk ke wilayah adat mereka, maka dilakukan rapat kampung yang melibatkan semua warga, baik laki-laki maupun perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tersebut. 

Hukum Adat

masyarakat adat di Kampung Bunyau telah mendokumentasikan aturan tersebut secara tertulis, dengan nama “Peraturan Adat Kampung Bunyau tentang Pengelolaan Wilayah”. Dokumen ini berisi: 1). Pengantar; 2). Bab I: Wilayah Adat; 3). Bab II: Perkampungan; 4). Bab III: Kebun; 5). Bab IV: Kawasan Perladangan; 6). Bab V: Gupung; 7). Bab VI: Sungai/Arai; 8). Bab VII: Hutan/Rimba; 9). Bab VIII: Penyelesaian Perkara; 10). Bab IX: Penutup. 
Masyarakat adat Kampung Bunyau yang masih kental dengan rasa kekeluargaan, taat pada adat istiadat dan aturan adat. Sehingga segala persoalan selalu diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan hukum adat. Mereka mengenal jenis-jenis perkara adat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka, yakni: adat pembunuhan, mengancam membunuh, pencurian, perkelahian, penganiayaan, perkawinan, balang betunang, cerai, kerongkat kawin (jinah), basa dusa kesupan dusa, fitnah (pemungkal), sumpoh, pemungkar janji, perusakan perkarangan, menubo sungai, sengketa tata batas, sengketa tanah, perusakan adan perampasan hutan adat, kebakaran tanam tumbuh, kebun orang lain, beumo di tempat keramat/mali, pelanggar kampung/wilayah adat. Sedangkan alat-alat dan benda dalam perkara adat Dayak Limbai meliputi: tajau, tempayan, gong, pinggan, tuak, mangkok, ayam, babi, parang. 
pada 2003 silam, ada sebuah perusahaan kayu secara diam-diam mengambil kayu di Bukit Bunyau yang merupakan milik sahnya masyarakat adat Kampung Bunyau. Merasa haknya atas sumber daya hutan dicuri atau dirampas, masyarakat adat Bunyau melakukan protes dan mengajukan hukuman adat atas tindakan perusahaan kayu tersebut.

Adapun hukuman adat yang dijatuhkan ke perusahaan tersbut nilai adatnya sebesar 8 Ulun, yakni: Adat Basa Tak Berguna Pengurus Kampung Bunyau, dengan nilai adatnya 1 ulun; Adat Basa Tak Berguna terhadap Warga Kampung Bunyau, dengan nilai adatnya 1 ulun; Adat Pengerusakan Hutan (Rima’), dengan nilai adatnya 3 ulun; Adat Pemomar Darah Warga Kampung Bunyau (membuat orang lain terganggu, suasan kampung menjadi tidak tentram), nilai adatnya 2 ulun; dan Adat Mengganggu Penghuni Rima’ (hutan), dengan nilai adatnya 1 tail.

Walaupun harus sabar menunggu penyelesaian sanksi adatnya karena pihak perusahaan selalu menghidar untuk memenuhi sanksi adat. Tapi di sisi lain pihak perusahaan harus segera membebaskan sebuah logging Nisan yang disita oleh Orang Bunyau. Situasi inilah yang membuat perusahaan akhirnya memenuhi tuntutan adat Masyarakat Adat Kampung Bunyau. Dengan total adat yang pada waktu itu dinilai dengan uang sebesar Rp. 60.000.000 (Enam Puluh Juta Rupiah). Uang ini kemudian digunakan masyarakat adat Bunyau untuk membuat air bersih. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi