Wilayah Adat

Wilayah Adat Pali

 Teregistrasi

Nama Komunitas Pali
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota TANA TORAJA
Kecamatan Bittuang, Masanda
Desa Lembang Sasak, Lembang Rembo – Rembo, Lembang Bau, Lembang Sandana,Lembang Patongloan , Lembang Pali, Lembang Ratte, Lembang Paliorang, Lembang Kadundung, Lembang
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Wilayah Adat Pali
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Kabupaten Mamasa (Propinsi Sulbar)
Batas Selatan Wilayah Adat Balepe'
Batas Timur Wilayah Adata Balla ,Wilayah Adata Bittuang dan Wilayah Adat Se’seng
Batas Utara Kabupaten Mamasa (Propinsi Sulbar)

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Wilayah Adat Pali, oleh Bobong langi’ yang berasal dari Napo berdiam di suatu tempat yang kemudian diberi nama Patongloan karena tempat tersebut berada di ketinggian dengan arah pemandangan ke 3 sisi, yaitu selatan , timur, barat. Suatu hari, Bobonglangi’ pergi berburu kearah barat, dalam perburuannya, Bobonglangi’ yang menunggu anjingnya kembali membawa hasil buruannya tidak kunjung muncul sementara hari semakin siang menjelang sore, Bobonglangi’ yang belum makan siang semaput karena kelaparan dan dalam bahasa Toraja disebut nala pali. Karena kejadian tersebut, maka tempat tersebut kemudian di beri Nama pali.
Ada 3 adat yang digunakan/dianut dalam wa Pali yaitu :
1. Adat Riwang yang berlaku di kampung : Bau , sandana, selain di tempat tersebut juga juga digunakan disebagian WA Simbuang.
2. Adat Garogo’ yang berlaku di kampung : Rembo’-rembo’ selain di tempat tsb juga di gunakan di Pana’ dan Manipi’ WA Mamasa.
3. Adat Pali yang berlaku di kampung: sasak , KAWANGIN ,TAKKO’, SAPPUKO, PASSIALA, RATTE, PALI ORONG, KADUNDUNG, PONDING AO’

Pemerintah adatnya /Toparengnge’ yang pernah memerintah Pali, a.l :

1. Kombonglangi’
2. Sa’pangallo
3. Mendila
4. Kambu
5. Abeng
Pada mulanya WA Pali terdiri dari 12 Kampung : Sasak, Bau, sandana, rembo’-rembo’, Kawangin, Takko’ Passiala, Sappuko , Paliorong, Ratte, kadundung , Ponding Ao’

Sekitar tahun 60an 4 wilayah adat yaitu Bittuang, Pali, Balla, Se’seng, digabung menjadi 1 ( satu ) distrik Bittuang dengan Pimpinan/Parengnge’ adalah Pongmanapa’ (Daniel Batto’ Pongmanapa’ ).
Pada jaman Pemerintahan Lembang kemudian menjadi 2 Lembang dan kemudian Desa yaitu :
1. Patongloan : Sasak, Bau, sandana, rembo’-rembo’, Kawangin, Takko’ Passiala, Sappuko
2. Lembang Masanda : Paliorong, Ratte, kadundung , Ponding Ao’
Saat ini WA Pali berada di 2 kecamatan dan 10 lembang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Lokasi pemukiman
2. AREAL PERKEBUNAN
3. AREAL PERSAWAHAN
4. AREAL PENGGEMBALAAN
5. KOMBONG TONGKONAN
6. Hutan
7. RANTE/ LOKASI UPACARA ADAT
8. LOKASI PEKUBURAN
 
Tanah Tongkonan
a. Pengelolaan karena Bentuk kepemilikan tanah, ada yang hak milik misalnya sawah warisan,
b. sawah atau tanah kering yang dibeli dari keluarga lain.
c. Hak tongkonan : Tempat melaksanakan upacara adat, areal pemakaman,
d. Hak pakai : misalnya seorang keluarga yang diberi tanggung jawab tinggal dan memelihara tongkonan, ada sawah dan lahan kering ( kombong ) yang boleh dikelola dan dimanfaatkan sepanjang masih tinggal dan tetap memelihara tongkonan.


Sistim pewarisan
1. Yang tidak memiliki keturunan :
Dimana’ jika meninggal maka harta bendanya
Klo yang mendapat warisan tidak mampu mengupacarakan maka
Keluarganya/ saudaranya terlibat : Dipattunui
Dimana’
Pewarisan kepada keturunan langsung
2. ditekkenni : mewriskan kepada bukan keturunan langsung tapi karena memiliki hubungan / dianggap anak/berjasa/anak tidak sah yang disahkan :
3. anak dibuang tama tambuk sama status dengan anak kandung demikian juga dalam pewarisannya mendapat hak sama
4. to ma’kampa padang/ to dipopa’ kampa : boleh mengelola tapi bukan menjadi hak milik
5. ditekkenni :
mewariskan kepada budak yang menjadi pengelola selama ini
 

Kelembagaan Adat

Nama Tongkonan
Struktur - Tongkonan Layuk : Tongkonan Tondokan turunan parengnge’ /pemangku adat dari kampung Kawangin : Kaya - Balialara’/Partner : Tongkonan Sappuko : Pemberani - Hakim adat - To minawa Perangkatnya : 1. Jabatan Pengelolaan SDA : indo’ padang-Tongkonan Tondok Tangnga – 2. Tongkonan Leppangan - di kampung Passiala 3. Pemerintah : tempat bertanya warga - Tongkonan Passiala - Kampung Passiala : - Tongkonan Takko’ - Tongkonan Tammuan ; 4. Tominawa /Pendeta agama leluhur : Tongkonan Ke’pe’
- Tongkonan Layuk : pusat pemerintahan adat
Tongkonan Tondokan : turunan parengnge’ /pemangku adat dari kampung Kawangin : Kaya
pusat pemerintahan adat
- Baliara’/Partner
Tongkonan Sappuko : Pemberani
- Hakim adat
- To minawa

Perangkatnya :
1. Jabatan Pengelolaan SDA /: indo’ padang
Tongkonan Tondok Tangnga – di kampung kawangin fungsinya : pada saat indo’ padang memulai ritual ma’karerangngi dan dilaksanakan di Gunung maka itu adalah pertanda saat memulai pengelolaan lahan pertanian
2. melihat tanda alam /konsultasi untuk kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan ritual adat
Tongkonan Leppangan - di kampung Passiala
3. Pemerintah : tempat bertanya warga
- Tongkonan Passiala – Kampung Passiala :
- Tongkonan Takko’ :
- Tongkonan Tammuan ;
4. Tominawa /Pendeta agama leluhur : Tongkonan Ke’pe’

Tongkonan Layuk adalah pengambil keputusan tetapi dengan baliara’/Partnernya saling berkonsultasi dan saling mengisi
 
Kombongan ( musyawarah ) 

Hukum Adat

1. Areal Penggembalaan /Pasang : bertanya kepada Pemangku adat jika Ada kebutuhan
Ada petugas khusus : Pembawa tali/to mbawa ulang . Penarik kerbau/to mangrenden dll
2. Pengambilan kayu dalam hutan
- Jika membeli kayuharus bertanya dulu kepada pemangku adat di hutan tsb melakukan ritual dengan memotong ayam yang dilaksanakan oleh Tominawa
- Pemalinna /Pantangan
• Kayu yang tumbang ke barat dan selatan, tersangkut ke kayu lainnya, tidak dipakai karena searah dengan jalan arwah sesuai falsafah toraja
• Kayu yang tersangkut tidak diambil identik dengan usungan mayat
• Massusu : penuh berkat . kayu jika di tebang dan kembali sandar ke pohon indukannya
3. Kalau padi bunting tidak boleh karena semua hama akan menyerang tanaman
4. Kalau ada pelaksanaan upacara rambu solo’ karena akan saling menghalangi pekerjaan sosial lainnya
5. Tidak boleh menutup akses ke sumur
 
- Panda dibolong, : melalukan kekacauan di areal upacara pemakaman
- panda di pasa’ : melalukan kekacauan di areal
- alukan : pemerkosaan terhadap kel sendiri ( inses ) di ikat dengan bulu , diletakkan ke rakit dan di asingkan keluar dari kampung
 
Urrambu langi’ :
Jika terjadi musibah dalam kampung : longsor, gagal panen dll maka maka akan dilakukan ritual untuk mencari siapa pelakunya . Pelaku di kenakan sanksi Urrambu langi’ dengan memotong kerbau atau babi sesuai kesalahannya atau strata sosialnya.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan padi, umbi-umbian, jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Uru, yasa, betau , buangin, bakan, tariwan, bambu, angin-angin, kata, kayu merang untuk sirap , mala tappo, alang-alang, induk, pune, bulu, nangka, sandana , Bena’ / Bilalang , ranni’
Sumber Sandang Pondan, Kotu, kapas
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jahe, Laos, kunyit, sereh, bawang daun
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan beternak