Wilayah Adat

Wilayah Adat Se'seng

 Teregistrasi

Nama Komunitas Se'seng
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota TANA TORAJA
Kecamatan Bittuang
Desa Lembang Se’seng , Lembang Burasia, Lembang Kandua’, Lembang Buttu Limbong
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Wilayah Adat Se'seng
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Wilayah Adat Pali
Batas Selatan Wilayah Adat Malimbong, Wilayah Adat Balepe'
Batas Timur Wilayah Adat Kurra, Wilayah Adat Ulusalu
Batas Utara Wilayah Adat Bittuang

Kependudukan

Jumlah KK 815
Jumlah Laki-laki 2
Jumlah Perempuan 2
Mata Pencaharian utama Petani,PNS,Beternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada sekitar awal tahun 1600, seorang bangsawan dari Kaero Sangalla’ mengutus hambanya untuk mencari kerbau ke bagian barat sebagai kelengkapan upacara adat rambu solo’. Hamba tersebut melaksanakan tugas selama beberapa hari tetapi tidak menemukan kerbau yang dimaksud, hingga pada suatu hari mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang berjemur karena baru selesai mandi. Gadis tersebut memiliki rambut yang sangat panjang.
Akhirnya utusan itu kembali menghadap tuannya tanpa membawa apa-apa. Tuannya sangat marah tetapi utusan itu berkata, ”Ampunkan hamba Tuan, kami belum berhasil menunaikan tugas kami, tetapi kami membawa berita yang mungkin bisa menggembirakan Tuan”. Tuannya lalu menjawab, ”Berita apakah itu?” Sambil tetap menunduk hamba itu berkata, ”Kami telah melihat yang melebihi kerbau terindah di jagad raya ini Tuan. “ Inang assa’na simbolong manik, manassana lokkon loe rara’.” Tuannya kaget mendengar penuturan hambanya itu lalu berkata, ”Jangan kau mempermainkan aku!”. ”Benar Tuan kami tidak menemukan kerbau, tapi kami yakin bahwa di tempat gadis cantik itu pasti ada kerbau yang Tuan inginkan. Sudilah kiranya Tuan ikut dengan kami untuk menyaksikan sendiri apa yang kami katakana. Akhirnya dengan rasa penasaran Tuannya mengikuti apa yang barusan dikatakan hambanya.
Mereka berangkat ke sebuah daerah di mana keberadaan gadis cantik yang dimaksud. Setelah mereka dekat dengan daerah tersebut, mereka melihat gadis itu sedang berjemur di atas sebuah batu, dekat kedalaman yang menyerupai kolam di sebuah sungai. Tuan muda langsung mendekati gadis itu dengan mengendap-endap lalu memeluknya. Gadis itu meronta ingin lepas tetapi Tuan muda itu semakin mengeratkan pelukannya sambil berkata, ”Aku takkan melepaskan pelukanku sebelum kau mau menerimaku sebagai suamimu”. ”Baiklah,tetapi kau harus menemui langsung kedua orang tuaku”, jawab gadis tersebut. Mereka kemudian menuju ke rumah orang tua si gadis cantik dan dinikahkan secara adat. Gadis cantik yang dinikahi oleh pemuda tampan bernama LIMBONG DEWATA (gadis yang kutemukan di kolam yang kecantikannya laksana Dewa yang turun dari kayangan).
Setelah mereka sah sebagai suami istri, mereka kembali ke Kaero melaksanakan upacara adat rambu solo’ orang tua si Tuan muda. Sesudah uparaca adat rambu solo’, mereka pulang ke Limbong melanjutkan kehidupan rumah tangga mereka. Beberapa saat mereka tinggal di Limbong, akhirnya Tuan muda yang bernama Tarukallo berinisiatif pindah ke daerah barat. Daerah yg dimaksud harapannya adalah daerah yang sangat subur (tondok ma’loppo masapi ma’kappipi’ bai tora).
Di daerah baru tersebut mereka tinggal membuat rumah. Tempat pertama mereka tinggal, sekarang dikenal dengan nama Palappalan kemudian pindah ke tempat yang sekarang dikenal dengan nama Buttu. Disinilah mereka mulai membuka sawah dan ladang.
Di sinilah lahir anak mereka dan diberi nama Manapa’ dengan panggilan Napa’ sehingga Puang Tarukkallo dikenal juga dengan panggilan Ambe’ Napa’ (Pong Manapa’).Kehidupan keluarga mereka semakin baik, harta benda makin banyak sehingga banyak orang menggantungkan nasib hidupnya kepada mereka (orong-orongan totopo pessimbongan totangdia’ ukkunan to talo tambuk to kurang lise’ ba’tangna). Kedermawanannya ,kebijaksanaan dan keberanian serta ketegasannya dalam bertindak dan mengambil keputusan penting membuat semua orang patuh dan sangat menghormatinya. (Balo’ ia kada rapa’ ulele misa bunganna,tomaluang lan ba’tengna masindung pa’inawanna). Semua hal-hal yang baru berasal darinya termasuk uang koin (sen). Dengan hal seperti ini cepat sekali tersebar dan dikenal bahwa ada lagi benda berharga yang baru dimiliki.
Tidak bisa dipastikan pada tahun berapa uang sen (seng) itu ada dan dimiliki, tetapi sejak ada saat itulah mulai ramai dibicarakan bahwa ada lagi harta barunya. Sae seng! Sae seng! Itulah awal mula nama Se’seng daerah kekuasaan Pong Manapa’ yang banyak dihuni kelelawar (ledo). Nama ini mulai dikenal pada saat pendudukan oleh Kerajaan Bone. TONNA DITULAK BUNTUNNA BONE ULLANGDA’ TOSENDANA BONGA, PONG MANAPA’ adalah salah satu dari TO PADA TINDO TO MISA’ PANGIMPI untuk memimpin menumpas para penjajah. Nama Se’seng lebih populer lagi pada saat perjanjian damai. “TONNA DITANAN BASSE DAO SARIRA, DILANDO LALANNIMI BAI POKKI’NA PONGMANAPA’ ILAN TONDOK DI SE’SENG IKKO’ DELLO-DELLONA PUANG TARUKALLO ILAN PADANG DI LEDO”. Hati babi Pongmanapa’ yang menjadi batu mungkin masih ada di museum Sangalla’.
Masa kejayaan Se’seng terjadi pada tahun 1700-an sehingga di TOKKONAN SE’SENG pernah dikenal umpobalabatu tanduk tedong (menyusun tanduk kerbau sebagai penahan tanah yang diratakan).

Se’seng terdiri atas 4 bua’ yaitu: Se’seng, Buttu, Kandua’, Balombong.
Saat ini BUA’ tersebut sudah menjadi Lembang.

KAPARENGNGESAN SE’SENG dipimpin oleh seorang PARENGNGE’. Masing-masing BUA’ dipimpin oleh masing-masing KAPALA BUA’. Parengnge’ berkedudukan di TOKKONAN LAYUK, sedang Kapala Bua’ di TOKKONAN BUA’. Masing-masing Bua’ adalah otonom tetapi selalu merupakan pasangan. BUTTU dan SE’SENG, KANDUA’ dan BALOMBONG.

PARENGNGE’ yang pernah memimpin adalah
PONG MANAPA’,
TANDILANGI’,
KESSU’,
TULAK,
D.B.PONGMANAPA’ (1600-1999).

Pada saat Tongkonan ada’ dilaksanakan di Tongkonan ada’ Makale, Tulak yang menjadi Parengnge’ Se’seng. Setelah itu meninggal dan diganti oleh D.B.Pongmanapa’. Tahun 1999 pada saat kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara, D.B.Pongmanapa’ tidak bisa hadir karena sudah tua sehingga mengutus P.Karua, P.Tolangi’, Y.Sule dan TH.Ponganan untuk hadir.

Sekitar tahun 60an 4 wilayah adat yaitu Bittuang, Pali, Balla, Se’seng, digabung menjadi 1 ( satu ) distrik Bittuang dengan Pimpinan/Parengnge’ adalah Pongmanapa’ (Daniel Batto’ Pongmanapa’ ).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. LOKASI PEMUKIMAN
2. AREAL PERKEBUNAN
3. AREAL PERSAWAHAN
4. AREAL PENGGEMBALAAN
5. KOMBONG TONGKONAN
6. Hutan
7. RANTE/ LOKASI UPACARA ADAT
8. LOKASI PEKUBURAN
 
1. Tanah individu:berupa warisan.Tanah warisan diperoleh dengan cara pelaksanaan upacara adat rambu solo’(dipattunui).Ditekkenni.
2. Tanah tongkonan : berupa tanah keluarga/marga.Merupakan tanah milik rumpun keluarga misalnya Kombong tongkonan (hutan),areal upacara adat,areal pelepasan ternak.
3. Tanah komunal.Dimiliki oleh komunitas adat.

Hak pakai : misalnya seorang keluarga yang diberi tanggung jawab tinggal dan memelihara tongkonan, ada sawah dan lahan kering ( kombong ) yang boleh dikelola dan dimanfaatkan sepanjang masih tinggal dan tetap memelihara tongkonan.
 

Kelembagaan Adat

Nama Tongkonan
Struktur - Tongkonan Layuk : Parengnge’ - Tongkonan penopang ada di masing-masing Bua’. - PANGGALU BAMBA - TOMENAWA
Tongkonan yang memiliki fungsi dan peran:
- Tongkonan Kaparengesan sebagai pusat pemerintahan adat pada awalnya berada di Se’seng tetapi akhirnya berpindah ke Buttu karena Se’seng dan Buttu tidak boleh dipisahkan dalam upacara adat yang besar.
Pada masing-masing Bua’ di Komunitas Adat Se’seng, masing masing memiliki Tongkonan Pekamberan yang berfungsi untuk mengatur dan mengurus pemerintahan adat berdasarkan aturan dari Tongkonan Layuk.
- Tongkonan penopang ada di masing-masing Bua’.
• Bua’ Balombong tongkonan yang berperan adalah Tongkonan Se’pon,
• Bua’ Kandua’ di Tongkonan Papa Tallang,
• Bua’ Se’seng di Se’seng (Tandilangi’),
• Bua’ Buttu di Banua Pua

1. PARENGNGE’:mengurus pemerintahan adat
2. KAPALA BUA’ : mengurus pemerintahan adat dibawah Parengnge’
3. PANGGALU BAMBA: mengurus pembagian kurban upacara adat
4. TOMENAWA: mengurus ritual keagamaan (aluk)

Sarannga Tedong (kepala kerbau sampai ke batas kaki depan) selalu masuk ke Tongkonan Layuk. Pada masa kemerdekaan, sarangga tersebut sudah mengarah kepada Tongkonan di mana oknum yang dituakan dari Tongkonan Layuk berada (Buttu). Buttu dan Se’seng adalah Tongkonan yang tidak bisa dipisahkan karena pada kedua Bua’ inilah yang menentukan arah kebijakan dan keputusan.
 
Kombongan (musyawarah) 

Hukum Adat

- Tanah adat yang produktif tidak boleh dipergunakan sebagai areal pekuburan.
- Masuk hutan mengambil kayu untuk bahan bangunan harus menjaga kelestarian.
- Tidak boleh melakukan kegiatan di pekuburan jika padi belum dipanen.
- Pengelolaan tanah untuk menanam padi mulai dari membersihkan saluran air,membuat pesemaian,menabur,memindahkan bibit/menanam,menyiangi,menjaga,panen,menjemur,mengangkut/menyimpan.Ritual aluk todolo yang dilakukan:ma’langan tanete,ma’bulung,ma’liong.
 
- Mengganggu keteriban pada upacara adat (pandari bolong)
- Bersetubuh dengan anak kandung/orang tua kandung
 
- Mengganggu keteriban pada upacara adat (pandari bolong)dihukum dengan memotong babi/kerbau.
Pandari bolong:orang yang melanggar dihukum oleh tua adat dengan memotong babi/ kerbau di tempat upacara.Daging yang dipotong dimakan oleh semua yang hadir pada saat penghukuman dilaksanakan.
- Bersetubuh dengan anak kandung/orang tua kandung dihukum dengan mangrambu langi’ dengan memotong kerbau di padang belantara dan dagingnya tidak boleh dibawa ke rumah setelah itu dikucilkan.
- Penyelesaian sengketa dengan cara pendamaian biasanya dilakukan dengan cara sirara(mengeratkan hubungan darah).
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan padi, umbi-umbian, jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Uru, yasa, betau , buangin, bakan, tariwan, bambu, angin-angin, kata, kayu merang untuk sirap , mala tappo, alang-alang, induk, pune, bulu, nangka, sandana , Bena’ / Bilalang , ranni’.
Sumber Sandang Pondan, Kotu, kapas
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jahe, Laos, kunyit, sereh, bawang daun
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani , beternak