Wilayah Adat

Adat Besar Pa Kinayeh

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Lundayeh, Dayak Punan, Dayak Abay
Propinsi Kalimantan Utara
Kabupaten/Kota MALINAU
Kecamatan Mentarang Hulu
Desa --
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 218.432 Ha
Satuan Adat Besar Pa Kinayeh
Kondisi Fisik
Batas Barat Wilayah Adat Krayan
Batas Selatan Wilayah Adat Sungai Tubu
Batas Timur Wilayah Adat Mentarang
Batas Utara Wilayah Adat Lumbis

Kependudukan

Jumlah KK 155
Jumlah Laki-laki 820
Jumlah Perempuan 474
Mata Pencaharian utama Bertani, berburu, nelayan, ngusa, kerajinan tangan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal usul Dayak Lundayeh berasal dari Yasai Ngabang Apa Tin Berine Mifi Tana.
Komunitas Adat yang mendiami wilayah Adat Pa Kinayeh secara turun temurun terdiri dari kelompok-kelompok masyarakat, yang menguasai setiap sungai, anak sungai yang mengalir ke sungai Mentarang.
Sungai Mentarang dalam bahasa daerahnya Pa Kinayeh. Setiap kelompok dikepalai oleh seorang Pemimpin yang pada jaman dahulu kala berperan sebagai panglima perang,
Di jaman Kolonial Belanda masyarakat tinggal dihulu-hulu sungai, anak sungai dan didaerah pegunungan dimana dirasakan aman dari serangan musuh dan Karena itu pada jaman Jepang mereka tidak bisa menguasai kelompok-kelompok masyarakat karena masing-masing kelompok berdiri sendiri-sendiri.
Dijaman Revolusi perjuangan Kemerdekaan, Masyarakat Adat Pa Kinayeh berpihak pada Sekutu, menyelamatkan penerbang pesawat tempur yang jatuh tertembak oleh Jepang, dan membunuh Jepang yang masuk kewilayah Pa Kinayeh.
Diawal Pemerintahan Indonesia Masyarakat yang tinggal didaerah hulu sungai dan dipegunungan dipindahkan kepinggir sungai Mentarang, dan kelompok-kelompok yang tersebar disetiap sungai ini dijadikan Kampung yang pemimpinnya disebut Pembakal. Dan kampung-kampung ini berada dalam daerah administrative Kecamatan Mentarang ( sebelum kecamatan dipindahkan ke Pulau Sapi) Dan daerah Lumbis masuk dalam Kecamatan Mentarang.
Pada Tahun 1974 Pemerintah memindahkan masyarakat Mentarang kebawah giram, yang kemudian Kota Kecamatan Mentarang dipindahkan dari Long Berang Ke Pulau Sapi.
Masyarakat yang dipindahkan kebawah giram hak adat terhadap wilayahnya berada dalam wilayah adat Pa Kinaye.
Ketiga kelompok masyarakat sebagai mana tersebut hidup berdampingan dan saling mendukung dalam setiap kegiatan terutama pada jaman ngayau dahulu kala. Dan karena itu ketiganya mempunyai hubungan sejarah dalam mempertahankan wilayah Adat Pa Kinaye.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Amug/jakau adalah kawasan yang dibuka dan
Dimenfaatkan sebagai lahan pertanian yang
berpindah dari satu tempat ketempat lain dalam
rangka mempertahankan kesuburan tanah..
2. Fulung Bua : Hutan buah-buahan yang
mempunyai arti : sebagai kebun buah-buahan
dan juga mengandung arti tanda kepemilikan.
3. Amug kara, jakau yang kembali menjadi hutan
dan dapat dikelola sebagai lahan pertanian.
4. Fulung nan nebalun : Hutan yang tidak boleh
dimenfaatkan untuk kawasan pertanian dan
dilindungi.
5. Bawang mon
6. Ar tana ( benteng pertahanan atau batas wilayah
bawang )
7.Tame’ ( Parit jebakan )
8. Lengutan
9. Laman
10. Lati
11. Rara tebayan, rara ubi, rara dele.
12. Fulung Kara ( Hutan rimba )  
Wilayah Adat terdiri dari :
1. Tanah Tepun : Tanah warisan leluhur yang diwariskan kepada anak cucu dan hanya boleh dimiliki dan dimenfaatkan oleh keturunannya, dimanapun mereka berada, mereka punya hak atas wilayah tersebut berdasarkan keturunan.
2. Tanah Wa, adalah tanah yang dimiliki oleh satu keluarga besar dan hanya boleh dimiliki dan digunakan oleh mereka yang berada dalam rumpun keluarga tersebut.
3. Tanah sibuleng adalah tanah yang dibuka oleh seseorang dan hanya dimiki secara pribadi dan dapat diwariskan kepada keturunannya kemudian.

Proses Pembukaan hutan yang menjadi milik melalui : ngetu tana’ – nepu tana, nuduk tana. Tana yang dingetu kemudian ditebas sampai hutan menjadi lahan pertanian. Hutan yang dibuka oleh seseorang menjadi milik dan hak dari orang yang membukanya karena secara Adat hutan/tanah yang dibuka seseorang berarti hutan/tanah tersebut dapat bersahabat dengan orang yang membukanya. Bila alam tidak menerima orang yang membuka hutan tersebut akan mengalami masalah bahkan berakibat pada kematian. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Kecamatan Mentarang Hulu
Struktur Ketua lembaga Adat/Kepala Adat, Wakil kepala Adat, Sekretaris, dan anggota terdiri dari kepala-kepala Adat Desa yang ada diwilayah Mentarang Hulu
1. Kepada Adat bertanggung jawab atas pengawasan, perlindungan wilayah Adat.
2. Kepala-kepala Adat Desa bertanggung jjawab atas wilayah Adat yang dibawah kekuasaannya dalam hal : pengelolaan/pemenfaatan, perlindungan dan pengawasan terhadap wilayah Adat. 
Segala sesuatu yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dilakukan melalui Musyawarah Lembaga Adat pada tingkat desa untuk hal-hal yang berhubungan dengan desa, dan musyawarah lembaga Adat Kecamatan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan keseluruhan masyarakat yang ada dalam kecamatan. 

Hukum Adat

1. Tana nan nuwi ulung : Tanda penguasaan satu wilayah dan juga berarti bukti keperkasaan dalam menguasai wilayah tersebut (Nui Ulung, Ulung Buaye)
2. Tana nasam, tanah yang dibebaskan dari pewarisnya dengan memberikan barang maupun demulun.
3. Fulung Kara hanya boleh dimanfaatkan oleh warga masyarakat Adat yang memiliki hak diatas wilayah tersebut, baik karena asal usul atau keturunan maupun karena perkawinan.
4. Bukti kepemilikan lahan berupa : amug ( jakau ), buah-buahan diatas lahan tersebut, tunggul pohan yang ditebang diatas lahan tersebut.
5. Larangan bagi warga masyarakat Adat untuk tidak memberi izin kepada orang yang tidak punya hak diatas wilayah adat tersebut, untuk memungut hasil hutan berupa gaharu, rotan, kayu dll.
6. Larangan untuk menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkap ikan selain : Pukat, pancing, jala.
7. Seseorang yang memiliki suatu lahan yang dijadikan lahan pertanian/perkebunan, boleh membuka hutan yang berbatas dengan lahan yang ada, dan lahan yang dibuka menjadi miliknya. Hutan yang ada disekitar lahan yang dimikinya tidak menjadi miliknya. Kecuali hutan yang sudah dibuka. 
1. Adat perkawinan. Perkawinan melalui proses : :Nuduk/Namong ( melamar/pertunangan ), Ngafak kayu. Sebagai tanda ikatan hubungan kekeluargaan kedua belah pihak, pihak laki-laki memberikan Furut, pihak perempuan memberi sanig, puncak dari acara perkawinan adat adalah FUDENG ( Peneguhan ) yang dilanjutkan dengan Luba Aweh/ Luba Arum.
- Nated = Pihak perempuan mengantar penganten perempuan kepihak laki-laki.
- Fiwan = pihak perempuan membuat pesta untuk pihak laki-laki.
- Nangan = pihak perempuan membantu pihak laki-laki dengan tenaga untuk suatu pekerjaan.
- Nguli Decur = bila dalam rumah tangga terjadi percecokkan yang mengakibatkan perempuan kembali kepada orang tua dan penyebabnya adalah dari pihak perempuan, maka orang tua berkewajiban ame nated perempuan kepihak laki-laki. Bila penyebabnya adalah pihak laki-laki, maka pihak laki-laki berkewajiban nguli decur dengan membayar denda kepada pihak perempuan
- Ukum Feset = Setiap orang yang selingkuh didenda .
2. Adat Kelahiran/melahirkan : Keluarga pihak laki-laki berkewajiban memberikan barang kepada orang tua pihak perempuan untuk kelahiran pertama =Meru’ dara’.
3. Pembuktian Tuduhan/kebenaran : Bila dalam satu permasalahan kedua belah pihak saling membenarkan diri dan saling menyalahkan, maka dilakukan acara Fetugi maupun gitolop, yang sebelumnya terlebih dahulu menetapkan denda atas kesalahan dalam soal tersebut.
4. Febulung / bersumpah dilakukan bila masalah kedua pihak tidak dapat diselesaikan maka keduanya bersumpah dan akibatnya adalah kematian bagi yang ternyata salah.
5. FELUA adalah acara perdamaian untuk kedua belah pihak yang masalahnya sudah diselesaikan, dengan menggunakan darah babi atau ayam yang intinya : darah tidak perlu ditumpahkan karena sudah diganti dengan darah.
Faga’ = bila kedua belah pihak pernah berselisih, bertengkar, dan kemudian disadari kesalahannya diakibatkan dari dirinya, maka ia berkewajiban memberi Faga’ kepada pihak lawannya.
6. Sumpah Adat : Febulung,Ngeseb Fetamat 
1. Larangan mengusa. Bagi yang mengusa didaerah yang bukan wilayah Adatnya didenda/wen ngukum yang besar ukumnya ditetapkan oleh Sidang Adat.
2.Bagi seseorang yang memasuki wilayah orang lain ia berkewajiban memberi Acam Tana’, Bila seseorang mau cari ikan disungai yang bukan wilayah adatnya, ia berkewajiban memberi Acam Apa’.
3. Bagi seseorang yang melewati bawang/kampung yang sedang berduka/meninggal ia memberikan luwa kekampung yang dilewati tersebut.
4. Bagi seseorang yang berteriak nyaring saat melewati desa/bawang orang lain (Ngecui)/Temido tanpa sebab dikenakan Ukum.(denda)
5. Membawa jenazah keluar dari kampung dan melewati kampung lain, kampung asal Dan kampung yang dilewati diberikan luwa 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur 1. Daun ilad dan daun itip : atap rumah 2. Kulit kayu Majau untuk dinding pondok dan lumbung padi 3. Kayu Ulin untuk tiang rumah, Ulung
Sumber Sandang 1. Kulit kayu talun untuk baju. 2. Kulit uber untuk pewarna 3. Ivang untuk pewarna
Sumber Rempah-rempah & Bumbu 1. Daun Afa menjadi sasa 2. Bua beludu : bawang 3. bua tenem
Sumber Pendapatan Ekonomi 1. Kakao 2. Kopi 3. Karet 4. Rotan 5. Damar 6. Gaharu 7. Kayu

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Malinau Nomor 10 Tahun 2012 Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat di Kabupaten Malinau Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen