Wilayah Adat

Kampung Karampuang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Karampuang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota SINJAI
Kecamatan Bulupoddo
Desa Tompobulu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.538 Ha
Satuan Kampung Karampuang
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Sinjai Barat
Batas Selatan Sinjai Tengah
Batas Timur Sinjai Utara
Batas Utara Kabupaten Bone

Kependudukan

Jumlah KK 823
Jumlah Laki-laki 1660
Jumlah Perempuan 1625
Mata Pencaharian utama Bertani, Berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah memaparkan sesuai dengan Lontara bahwa cikal bakal keberadaan kawasan adat ini dimulai dengan kisah ketika bumi ini masih digenangi oleh air, namun justru Karampuang dan daerah sekitarnya tidak digenangi yang disebut Cimbo. Makna kata Cimbo ini adalah wilayahnya bagaikan tempurung yang menyembul seperti tempurung kelapa di tengah genangan air.
Di puncak inilah yang kelak ditemukan seorang yang tak dikenal yang mana akhirnya diberi gelar Manurungnge ri Karampulue (To manurung) yang artinya seseorang yang karena kehadirannya membuat seluruh warga merinding. Setelah To Manurungnge ri Karampulue lama menetap bersama warganya tiba-tiba berpesan eloko tuo tea, mate eloka madeceng, tea maja. Kata-kata ini adalah wasiat kepada warga Karampuang guna kemaslahatan warga itu sendiri. Tak lama kemudian To Manurungnge ri Karampulue setelah memberikan pesannya ia tertidur dan menghilang. Setelah menghilang muncullah tujuh orang yang masyarakat setempat memberikan gelar to manurung baru yang disebut Manurung Pitue. Kelak mereka inilah yang dikirim untuk menjadi raja-raja baru pada Cimbo-cimbo baru setelah air surut sebanyak tujuh kali. Adapun tempat yang dituju adalah Ellung Mangenre, Bong langi, Bontona Barue,Carimba, Lante, Amuru, Tassese. Adapun yang tinggal di Karampuang adalah seorang wanita yang diyakini merupakan jelmaan dari Manurungnge ri Karangpulue yang menghilang sebelumnya. Inilah awalnya sehingga rumah adat Karampuang dilambangkan dengan seorang wanita, sedangkan saudara-saudaranya yang lain adalah laki-laki sehingga dalam Lontarak selalu diungkapkan dengan Lao Cimbonna, Monro Capenna.
Pada saat keenam saudaranya tersebut hendak pergi menempati wilayah-wilayah baru sekaligus menjadi Raja, saudara wanitanya berpesan No\'no makaale lembang, numaloppo kualinnrungi, numatanre, mukkelo kuakkelori, ualai lisu.
Maksud dari pesan diatas adalah bahwa silahkan pergi menjadi Raja di tempat lain, namun kebesaran kerajaanmu kelak harus melindungi Karampuang, raihlah kehormatan namun kehormatan itu akan turut menaungi kehormatan leluhurmu. Meskipun demikian, segala kehendakmu haruslah atas kehendakku juga, apabila segala kebesaran dan segala kehormatanmu itu tidak aku ambil kembali.
Setelah keenam saudaranya itu menjadi Raja maka keenamnya membentuk masing-masing dua Gella baru sehingga terciptalah 12 Gella selain Karampuang sebagai induk yakni Bulu, Bicu, Sulewatang Salohe, Satengnga, Pangepenna Satengnga yang hingga saat ini menjadi pendukung utama budaya Karampuang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan adat, hutan keramat, tanah adat 
 

Kelembagaan Adat

Nama Karampuang
Struktur Tomatoa -Gella -Sanro -Guru
• Tomatoa:Mengawasi kemurnian tradisi leluhur yang telah di gariskan oleh Lontara,selain itu tomatoa juga bertugas memutuskan perkara yang telah di adili oleh Gella.
• Gella: Dalam menjalankan jabatan ini, selain sebagai pelaksana adat, masih ada dua jabatan penting yang merupakan bagian tugas yakni sebagai Makkuasa Ri Tana Rakko dan Lari tana. Sebagai Makkuasa ritana rakko, Gella bertugas untuk menyelesaikan persoalan rumah tangga, perselisihan, gotong royaong. Sedangkan sebagai lari tana, Gella harus mangadili perkara yang berhubungan dengan tanah seperti sengketa tanah pemukiman atau sawah milik warga
• Sanro: Tokoh diyakini sebagai figure yang dapat menghubungkan seluruh pendukung budaya karampuang dengan leluhurnya. Dengan segala kemampuannya , Sanro juga diyakini mampu mengetahui keberhasilan dan kegagalan panen berikutnya. Secara garis besar tugasnya disebut dengan makkaharu yakni sebagai pemimpin upacara adat seperti : Mabbissa Loppo, Pappole Hajja, Mappalesso Ase, Mappatinro Bine, Mappogau Hanua dan Balisumange. Sanro sebagai pemimpin ritual selalu dijabat oleh wanita
• Guru: Tokoh yang bertugas untuk menjauhkan Karampuang dari bencana melalui doanya (mattola’ bala). Selain mattola’ bala, guru juga bertugas untuk memimpin upacara keagamaan seperti maulid dan lebaran 
Musyawarah Mufakat 

Hukum Adat

Dalam tatanan hukum mereka yaitu jika ada penduduk yang hendak menebang kayu di hutan, hendaknya terlebih dahulu meminta izin kepada pemangku adat, Mereka diizinkan menebang kayu di hutan hanya jika dipergunakan sebagaimana mestinya dan bukan untuk di jual. Apabila ada ditemukan menebang kayu secara ilegal, akan dikucilkan antara lain masyarakat tidak hadir ketika ia melaksanakan hajatan, atau tidak dilayani ketika ada keperluan.
Hal ini berarti bahwa penduduk yang bermukim di kawasan adat Karampuang tidak dibolehkan untuk menebang kayu dihutan untuk kepentingan ekonomi, apalagi melakukan tindakan yang dianggap dapat merusak dan menghancurkan hutan beserta isinya, tanpa alasan yang bisa dibenarkan oleh adat, moral dan peraturan.
 
Jika masyarakat adat melakukan perselingkuhan ( appa’ngaddi) maka mereka akan di usir dari kampung dan diharapkan tidak akan kembali (Dipaoppani tana) 
Jika dalam hal perselisihan diantara masyarakat adat misalnya konflik tanah dan itu sudah di selesaikan oleh adat lantas di kemudian hari perselisihan itu muncul kembali, maka barang siapa yang pertama memulai maka akan dikenakan denda (dipassala) berupa tidak ada pelayanan oleh adat ketika misalnya ada pesta pernikahan (de natudani ade) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, Ubi, jagung, Kacang
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu, Bambu, Pinang, Aren
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, Jahe, Lengkuas, Serai, Tomat, Cabai,
Sumber Pendapatan Ekonomi