Wilayah Adat

kampung Turungan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Turungan
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota SINJAI
Kecamatan Sinjai Barat
Desa Turungan Baji, Terasa
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.983 Ha
Satuan kampung Turungan
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Kabupaten Gowa
Batas Selatan Sinjai Tengah
Batas Timur Bulupodo
Batas Utara Kabupaten Gowa

Kependudukan

Jumlah KK 1158
Jumlah Laki-laki 2545
Jumlah Perempuan 2338
Mata Pencaharian utama Bertani, berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah singkat masyarakat adat turungan berawal dari dua suami istri yang hidup pada masa saat terjadi kekeringan panjang didaerah tersebut sehingga beberapa orang meninggal akibat tidak ada sumber air yang dapat dijadikan air minum dan beberapa orang juga mengidap penyakit, sumur, sungai dan semua sumber air yang ada mengering. Hewan ternak dan tanaman sebagai sumber pangan semuanya juga ikut mati. Kemudian pasangan suami istri tersebut mendapat mimpi, dia diperintahkan untuk menggali sumur. Berawal dari mimpi tersebut kemudian sang istri menggali tanpa menggunakan alat penggali, yang digunakan hanyalah telur yang dipecahkan untuk membasahi tanah yang kering sehingga lebih mudah ketika digali.

Setelah menggali beberapa lama akhirnya dia melihat air yang mengalir dari tanah yang digalinya. Setelah air tersebut terus mengalir kemudian datanglah orang-orang berduyun-duyun untuk meminumnya dan dipercaya bahwa itu air dapat menyembuhkan penyakit. Setelah mereka meminumnya orang sakit langsung seketika dan sejak itulah dipercaya bahwa sumber air tersebut dapat menyembuhkan penyakit.

Kata TurunganBaji dibagi menjadi dua suku kata yaitu Turungan dan Baji. Kata “turung” berasal dari bahasa konjo yang berarti turun sedangkan kata “Baji” berarti baik. Kata “Turungan” muncul karna posisi sumur berada pada dataran yang lebih rendah sehingga ketika ingin mengambil air harus turun sedangkan kata “Baji” karna air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan penyakit sehingga dianggap baik.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Hutan adat, hutan keramat, tanah adat 
 

Kelembagaan Adat

Nama Turungan
Struktur Gella, Guru, Tomatoa, Sapotengnga, Anak karaeng, Uragi, Sanro, Panrita tanra, Karaeng giring, Sariang
• Gella = pemimpin adat tertinggi
• Puang guru = membaca do’a untuk syukuran(mattolak bala)
• Puang tomatoa = penasehat
• Pinati = mengurusi persoalan hak kelolah lahan masyarakat adat
• Sapotengnga = menjadi penengah dalam menyelesaikan persoalan antar masyarakat adat
• Puang ana’karaeng = memerintahkan dalam hal pembuatan rumah adat
• Uragi = memulai kegiatan dalam pembuatan rumah
• Panrita tandra = menhitung hari baik untuk dalam memulai kegiatan
• Karaeng giring = menjaga perbatasan wilayah adat dan hantaman dari luar
• Sariang = menyampaikan informasi serta komukasi kepada masyarakat terkait keputusan adat
 
Musyawarah mufakat 

Hukum Adat

Pengelolaan lahan dilakukan pertama-tama pada saat mendekati masa tanam Gella sebagai pemangku adat melakukan musyawarah kampung yang disebut dengan “Tudang Sipulung” dalam arti bahasa indonesia duduk bersama. Musyawarah tersebut bertujuan untuk membicarakan waktu yang baik dan menyampaikan kepada seluruh masyarakat bahwa akan dilakukan pembukaan lahan untuk bercocok tanam.

Pembukaan lahan dilakukan secara kolektif atau bersama-sama oleh masyarakat atau dalam masyarakat TurunganBaji disebut “Sibali’i” artinya bekerja bersama. Setelah proses pembukaan lahan selesai kemudia Gella membagikan wilayah kerja kepada seluruh masyarakatnya dengan menetapkan wilayah-wilayah atau batas-batasnya.

Proses penanaman dimulai setelah puang panrita tanra menentukan hari baik untuk menanam dan yang pertama kali memulai menanam adalah puang panrita tanra sendiri kemudian diikuti oleh masyarakat yang lainnya.
 
Salah-satu contoh aturan adat ketika terjadi sebuah permasalahan dalam kampung seperti Seorang laki-laki yang membawa lari perempuan yang sudah bersuami atau dalam hal ini istri orang lain atau dalam masyarakat TurunganBaji dikenal dengan sebutan “Appangaddi” maka kedua orang tersebut (Laki-laki dan permpuan) akan diusir dari kampung atau disebut dengan di Pao’pangi Tanah”. 
Dimusyawarakan terlebih dahulu dengan menghadirikan Gella, Puang To’matoa dan pemangku adat lainnya. lalu yang melanggar di panggil untuk di musyawarahkan dan jika bersalah maka akan di berikan hukuman oleh Gella atas kesepakatan pemangku adat lainnya. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi kayu, talas, jagung, ubi jalar
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu, bambu, pinang, kelapa, aren
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, merica, lengkuas, jahe, tomat, cabe, pete, kemiri, serai
Sumber Pendapatan Ekonomi padi, gula aren, cengkeh, kakao, madu