Wilayah Adat

Lok Lahung Malaris

 Teregistrasi

Nama Komunitas Balai Malaris
Propinsi Kalimantan Selatan
Kabupaten/Kota HULU SUNGAI SELATAN
Kecamatan Loksado
Desa Lok Lahung
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.195 Ha
Satuan Lok Lahung Malaris
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Desa Loksado Balai Aitih (Desa Tumingki)
Batas Selatan Balai Niwak (Desa Paramasan Atas, Kec. Paramasan Kab. Banjar) Balai Bumbuyanin (Desa Kamawakan) Balai Haruyan (Desa Tumingki)
Batas Timur Balai Tuhur dan Balai Mihaping (Kabupaten Kotabaru) Balai Janggar (Desa Haratai)
Batas Utara Desa Loksado dan Balai Waja (Desa Haratai)

Kependudukan

Jumlah KK 119
Jumlah Laki-laki 261
Jumlah Perempuan 231
Mata Pencaharian utama Penyadap Karet dan petani kayumanis

Sejarah Singkat Masyarakat adat

belum ada

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kawasan Produksi terdiri dari :

Balukar Anum = Kawasan ini merupakan daerah bekas peladangan masyarakat yang telah mereka tinggalkan dan masih berupa semak belukar (umurnya berkisar antara 1 – 7 tahun). Daerah ini pada umumnya masih belum bisa digunakan untuk bahuma kalaupun dipaksakan juga maka hasilnya akan kurang bagus, sebab tingkat kesuburan tanah didaerah tersebut masih rendah.

Jurungan = Adalah sebuah kawasan bekas peladangan yang mulai menjadi hutan kembali (hutan muda), dimana didalamnya telah tumbuh berbagai jenis pohon dengan diameter batang kurang lebih 20 cm. Umur hutan tersebut berkisar antara 7 – 12 tahun. Kawasan hutan inilah yang nantinya dibuka / ditebang untuk dijadikan pahumaan.

Pahumaan = suatu daerah atau kawasan yang telah mereka buka untuk dijadikan tempat peladangan, dikawasan tersebut nantinya mereka tanami banih tugal yang ditumpang sarikan dengan tanaman hortikultura. Setelah banih tugal tersebut dipanen, kemudian dilanjutkan dengan tanaman jenis kacang-kacangan. Biasanya untuk satu kawasan pahumaan, akan mereka manfaatkan paling lama untuk dua kali tanam atau selama dua tahun, kemudian tanah tersebut mereka hutankan kembali.

Kampung Buah / Kampungan = Daerah yang telah mereka humai, selain dihutankan kembali ada juga yang dimanfaatkan untuk ditanami jenis tanaman perkebunan, seperti karet, kayu manis, kemiri/keminting, sintuk, kupang dan tanaman buah buahan yang biasa mereka sebut kampung buah. Namun apabila tanah tersebut mereka tanami tanaman perkebunan maka otomatis akan mengurangi jumlah lahan keturunan yang mereka miliki, jadi semakin banyak tanah yang ditanami tanaman perkebunan maka akan semakin sedikit luas hutan yang dapat dibuka untuk dijadikan daerah pahumaan.

Kawasan Lindung terdiri dari :

Daerah Keramat = Hampir disemua perkampungan masyarakat dayak terdapat suatu daerah yang dikeramati. Daerah-daerah ini biasanya merupakan tempat pekuburan para leluhur mereka atau bisa juga tempat – tempat yang mereka percaya didiami/dihuni oleh makhluk ghaib (urang halus). Daeraah ini meruapakan wilayah yang pantang untuk di ganggu atau dirusak.

Kayuan = Hutan-hutan yang tidak pernah dihumai oleh masyarakat Malaris biasa mereka sebut dengan kayuan dan kadang mereka juga menyebut dengan istilah “hutan lindung”, istilah ini dipakai ketika mereka berkomunikasi dengan orang luar (bukan orang dayak). Kayuan ini dapat ditemui di puncak-puncak gunung diwilayah Lok Lahung.
 
 

Kelembagaan Adat

Nama Kedemangan
Struktur Damang
belum ada 
belum ada 

Hukum Adat

belum ada 
belum ada 
belum ada 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan beras talas ubi jalar ubi kayu babi hutan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu meranti kayu ulin kayu madang kayu sungkai bambu rotan
Sumber Sandang belum ada
Sumber Rempah-rempah & Bumbu kemiri kayumanis sintok jahe cabe lengkuas kunyit sereh
Sumber Pendapatan Ekonomi karet kayumanis kemiri sintok buah lokal madu