Wilayah Adat

Kampung Engkarang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Barai Engkarang
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Kayan Hilir
Desa Engkarangan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 923 Ha
Satuan Kampung Engkarang
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan kampung Terongin.
Batas Selatan Berbatasan dengan kampung Natai Bunyau
Batas Timur Berbatasan dengan kampung Bongkal, Desa Nanga Mau
Batas Utara Berbatasan dengan kampung Morat, Desa Nanga Mau

Kependudukan

Jumlah KK 60
Jumlah Laki-laki 134
Jumlah Perempuan 96
Mata Pencaharian utama petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Engkarangan menyebut dirinya sebagai orang (Dayak) Barai. Konon, Dayak Barai hanya ada di Kecamatan Kayan Hilir dan Kecamatan Dedai di Kabupaten Sintang dan di Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. Komunitas Dayak Barai terbagi ke dalam tiga ketemenggungan, yakni Ketemenggungan Barai Ulu di Kecamatan Kayan Hilir, temenggungnya berkedudukan di Laman Engkarangan. Ketemenggungan Barai Ilik di Kecamatan Dedai, dulu temenggungnya berkedudukan di Laman Natai Telangkikng, kini di Laman Natai Tebodak, dan Ketemenggungan Barai Darat di Kecamatan Nanga Pinoh, dahulu temenggungnya berkedudukan di Laman Talai, kini di Laman Sungai Empinuk.

Menurut Pak Tiam (75 tahun), orang yang mendirikan kampung Engkarangan adalah 1). Naga, 2). Tigi, 3). Egokng, 4). Luwi, 5). Incaw, 6). Rumpak, 7). Kayau, 8). Mangau, dan 9). Abu. Mereka adalah orang yang pertama kali membuka tanah untuk pemukiman orang kampung Engkarangan sekarang. Dahulu, tanah dimaksud merupakan tanah orang Kabahatn (sub suku Dayak), dengan temenggungnya Bojangga.
Orang Engkarangan pada mulanya bertempat tinggal di betang atau rumah panjang. Pemukiman penduduk disebut Laman yakni suatu tempat atau perumahan yang dihuni oleh banyak keluarga. Istilah laman selain untuk mendefinisikan pemukiman berupa betang panjang dengan jumlah lawakng (pintu) yang teratur dan banyak, juga untuk mendefinisikan pemukiman yang berupa rumah-rumah tunggal atau sekarang disebut kampung, kemudian beralih menjadi dusun. Istilah lainya adalah teratak yakni pemukiman penduduk berupa betang yang dihuni oleh 5 sampai 7 kepala keluarga, dan punok adalah istilah untuk pemukiman yang dihuni oleh kurang dari 5 kepala keluarga keluarga.

Penduduk kampung Engkarangan dulunya selalu berpindah-pindah dari Botakng satu ke Botakng yang lain oleh karena berbagai alasan seperti dikejar musuh, bencana alam atau musibah kebakaran betang.
Berikut adalah urutan Botakng penduduk kampung Engkarangan:
1. Laman Sudok Lanok
2. Laman Eno ( 6 th)
3. Laman Angus ( 6 th)
4. Laman Pulau
5. Laman Bunyau
6. Laman Pengantung Rapuh (tulang)
7. Laman Sungai Akar. Karena kemarau panjang menyebabkan terjadinya kebakaran hebat sehingga memusnahkan hutan dan betang panjang – ini cikal bakal padang ilalang yang ada sekarang.
8. Laman Natai Pemancar
9. Laman Tanyukng Entalakng
10. Laman Cekok
11. Laman Guha. Disini penuturnya pak Tiam pada saat itu baru berusia 18 tahun pada masa agresi militer Belanda yang ditandai dengan banyaknya pesawat terbang melintas di udara di atas betang mereka.
12. Laman Ngkabakng. Di sini penuturnya pak Tiam baru berusia 22 tahun pada masa perang Jepang.
13. Laman Bagandok
14. Laman Natai Kumpakng
15. Laman Lobak Osa’
16. Laman Guha. Botakng panjang yang terdiri dari 34 pintu, di sinilah terakhir kali orang Engkarangan berumah betang.
17. Laman Engkarangan. Pada tahun 1982 dengan Inpres Pembongkaran Betang Panjang, pemerintah melalui camat Kayan Hilir Simanjuntak (biasa di sebut dengan camat Juntak), dibantu oleh Tohang, Seramu dan Seragi ketiganya adalah polisi, memerintahkan penduduk untuk membongkar betang panjang dengan alasan rawan terhadap bahaya kebakaran dan kotor. Sejak saat itu penduduk kemudian membuat rumah-rumah tunggal di sekitar sungai Engkarangan, sehingga pemukiman mereka disebut Laman/ kampung Engkarangan sampai sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Bawas
Bawas merupakan bekas ladang yang diberakan (dibiarkan) selama beberapa tahun. Dibiarkannya bekas ladang menjadi hutan lagi adalah cara masyarakat adat Kampung Engkarangan untuk meningkatkan kesuburan tanah kembali. Hilangnya humus dibawa saat panen. Humus akan kembali dari vegetasi yang tumbuh di atasnya baik jenis rumput maupun kayu. Semakin banyak serasah maka tingkat kesuburan lahan semakin tinggi. Masyarakat Engkarangan akan membuka bawas setelah berumur 4 – 5 tahun.
Pengelolaan kawasan ini dikelola berdasarkan kepemilikan masing-masing. Jika anggota keluarga di kampung tersebut banyak memiliki bawas maka mereka bisa menggilir lahannya lebih panjang. Panjang pendeknya penggiliran waktu pembukaan lahan akan berpengaruh terhadap hasil, semakin lama lahan diberakan/ dibiarkan menjadi hutan maka hasilnya semakin baik.
Berdasarkan tabel di atas, kawasan bawas seluas 276,24 ha atau 30,05% dari total wilayah kampung Engkarangan. Sekarang lahan bawas di daerah hampir semuanya di tanami karet, sehingga hampir sulit untuk berladang, untuk memenuhi kebutuhan akan beras masyarakat akan membuka lahan payak untuk di jadikan sawah semi modern.

2. Hutan Akasia dan Pinus
Tanaman akasia dan pinus di kawasan adat kampung Engkarangan, masing-masing 40,58 ha (4,41%) dan 31,58 ha (3,44) dari total luas wilayah. Kawasan tanaman pinus ini merupakan bekas PT. INHUTANI III yang ditanam sejak tahun 1996/1997. INHUTANI III mulai tidak beroperasi lagi sejak tahun 2002.
Beroperasinya perusahaan ini awalnya untuk memperbaiki kualitas lahan yang tandus serta memberikan lapangan kerja bagi penduduk setempat, tetapi karena tidak dikelola dengan baik sehingga menyebabkan wilayah ini menjadi semak belukar dan padang ilalang. Keberadaan lahan yang di penuhi semak belukar dan ilalang semenjak ditinggalkan selalu terjadi kebakaran sepanjang tahun, terutama sejak musim kemarau. Dampak lain yang sangat krusial dimana lahan yang ditinggalkan di klaim oleh pemerintah daerah Sintang.


3. Kebun Karet dan Tengkawang
Kebun karet bagi masyarakat Engkarangan merupakan usaha yang penting setelah ladang. Dari usaha menoreh karet masyarakat bisa mendapatkan hasil uang langsung. Kebun karet di kampung Engkarangan seluas 319,68 (34,78% dari total luas wilayah). Rata–rata hasil menoreh karet penduduk adalah 5 kg per hari per keluarga. Harga karet rp 4.500, maka penghasilan dari karet sebesar rp22.500 per hari per keluarga. Jika dalam satu bulan efektif menoreh sebanyak 20 hari, maka penghasilan per keluarga sebesar rp 450.000.


4. Pemukiman
Kawasan pemukiman masyarakat kampung Engkarangan terletak memanjang sebelah kanan mudik sungai Kayan. Perpindahan kawasan pemukiman sekarang merupakan yang ke 18 (delapan belas) setelah dari Laman Sudok Lanok. Pemukiman terakhir yang masih menempati botakng adalah perpindahan yang ke 17 (tujuh belas) letaknya di laman Guha. Luas pemukiman masyarakat Engkarangan berdasarkan hasil pemetaan tahun 2004 seluas 4,84 ha atau 0,52% dari 919,25 ha total wilayah

5. Payak
Payak atau rawa merupakan kawasan yang tergenang air saat musim penghujan dan kering di saat musim kemarau. Kawasan rawa ini luasnya sekitar 76,89 hektar atau 12,42% dari total luas wilayah kampung Engkarangan.

Kawasan ini bagi masyarakat kampung Engkarangan digunakan untuk bercocok tanaman padi. Jenis padi yang ditanam adalah padi untuk lahan basah. Masyarakat Engkarangan setidaknya telah membudidayakan 37 jenis padi rawa/payak, masing-masing 31 jenis padi biasa dan 6 jenis padi pulut (PPSHK; hasil penelitian padi masyarakat Dayak Barai, tahun 2003).

Walaupun sudah dikelola untuk budidaya tanaman padi, tetapi bentuknya sangat sederhana, tidak ada tata pengairan yang baik. Selain pengelolaannya masih sederhana, luas lahan yang sudah dikelola masih sangat minim. Masih luasnya potensi lahan rawa yang belum di kelola merupakan potensi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Engkarangan untuk meningkatkan produksi padi lahan basah di masa yang akan datang.

6. Rimba
Rimba sebenarnya merupakan hutan lebat, tetapi bagi masyarakat Engkarangan rimba mirip seperti hutan sekunder. Rimba Sungai Sibau salah satu kawasan yang dianggap rimba, luasnya hanya 10,78 hektar (1,74% dari total luas wilayah). Pohon-pohon yang masih ada di kawasan ini diameternya berkisar 60 cm ke bawah. Selain diameternya kecil, jumlah dan jenis kayunya sangat kurang.
Rusak dan menyusutnya luasan kawasan rimba sungai Sibau akibat dibukanya sawmill pada tahun 1976 dan tahun 1983 oleh pengusaha kayu dari Nanga Mau (Nanga Mau adalah ibu kota kecamatan). Kayu yang diambil untuk bahan baku sawmill adalah jenis ramin, penyaho’ banto, kelansau, meranti, dan kayu lainnya. Kayu-kayu ini merupakan kayu yang bermutu.
Kini, walaupun keadaan rimba Sungai Sibau sudah sangat memprihatinkan, tetapi keberadaan rimba ini mempunyai nilai penting bagi masyarakat Engkarangan untuk mendapatkan bahan bangunan rumah, tali-temali dan obat-obatan.

7. Tembawang
Tembawang merupakan kawasan tempat tumbuh beraneka ragam pohon buah-buahan. Di kampung Engkarangan luas dan jumlahnya sudah sangat minim, tinggal 1,12 ha (0,18% dari total luas wilayah).

Secara umum proses terjadinya tembawang biasanya dulunya adalah kawasan kampung yang ditinggalkan, bekas ladang yang ditanami bermacam-macam jenis pohon buah karena kesuburannya sudah kurang jika tanami padi, kawasan tempat kuburan, pondok tempat beristirahat dan membekukan air getah setelah mengaret, dan lain-lain. Pohon buah-buahan yang banyak dijumpai di tembawang adalah: durian, langsat, berbagai jenis asam, rambutan, rambai, mentawa, dan pohon buah-buahan lainnya.

Hasil lain yang diperoleh dari kawasan tembawang adalah binatang buruan, sayur-sayuran, tali temali, obat-obatan dan bahan-bahan untuk kelengkapan upacara adat.

Dari segi pelestarian bagi mayarakat adat Dayak, termasuk masyarakat adat Dayak Barai, tembawang merupakan tempat menjaga tersedianya bibit beraneka macam buah-buahan dari generasi ke generasi. Tembawang juga merupakan bukti sejarah kepemilikan dan keturunan dari generasi ke generasi.
 
1. Kepemilikan secara individu : Kebun karet dan ladang
2. Kepemilikan secara kolektif/bersama : Kuburan , keramat , hutan adat ( Rimba Sungai Sibau) dan tembawang 

Kelembagaan Adat

Nama Wilayah adat Dayak Barai kampung Engkarangan
Struktur Tamongokng dan Tungkat Tamongokng
Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
- Memutuskan adat, jika tidak putus di tingkat kampung

Tungkat Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
- Memutuskan adat di tingkat kampung. 
Musyawarah dan mufakat kampung, kemudian di putuskan oleh tamongokng. 

Hukum Adat

A. Adat Berladang
1. Manggul tanah ( Adat minta ijin kepada leluhur)
2. Nobas
3. Nobakng
4. Meladak
5. Nunu
6. Manok
7. Nugal
8. Mabau ( merumput
9. Memasok
10. Matah ( adat Buang penyakit padi)
11. Manyi
12. Nulak Jerami
13. Ngumpan Batu
B. Adat Buah
- Nompak bunga buah
- Mulakng buah
C. Adat di Sungai
- Ngumpan Talok ( dilaksanakan jika akan nuba adat)
- Tuba Adat
D. Adat merusak usaha orang lain
- Membakar kuburan, dikenakan adat pemali. Satu kuburan 20 real
- Membakar tembawakng pengantung temunik, kena adat pemali dan pekoas 10 real.
- Mencuri menuba, kena adat basa , adatnya 20 real
- Ngulik/ mencuri, ken adat 20 real. (1 real = Rp 5.000.) 
1. Adat mengandung/ Ngulit asapm, tujuannya agar di dalam persalinan lancar, adat ini dilakukan pada saat kehamilan anak pertama.
2. Adat Mopat Asapm. Adat dimana anak yang dilahirkan sudah boleh makan asam ( asam songkolan/ asam gerintakng) berlaku pada anak pertama.
3. 3. Adat Besilih, adat untuk anak ke 7.
4. Adat perkawinan
- Nonyak ( minang)
- Adat nika- Dengan adat Sengkolan
5. Adat kematian
- Kematian Norm-- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa)1. Adat mengandung/ Ngulit asapm, tujuannya agar di dalam persalinan lancar, adat ini dilakukan pada saat kehamilan anak pertama.
2. Adat Mopat Asapm. Adat dimana anak yang dilahirkan sudah boleh makan asam ( asam songkolan/ asam gerintakng) berlaku pada anak pertama.
3. 3. Adat Besilih, adat untuk anak ke 7.
4. Adat perkawinan
- Nonyak ( minang)
- Adat nika- Dengan adat Sengkolan
5. Adat kematian
- Kematian Norm-- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa) 
Keputusan dari penerapan hukum adat masih sesuai kesepakatan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Beras dan ubi kayu
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Terotong, kelansau dan durian
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, lengkuas, lea
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sintang 12 Tahun 2015 Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen