Wilayah Adat

Kampung Hulu Ongkag Tanoyan Bersatu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Hulu Ongkag Tanoyan Bersatu
Propinsi Sulawesi Utara
Kabupaten/Kota BOLAANG MONGONDOW UTARA
Kecamatan Lolayan
Desa Belum tahu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.531 Ha
Satuan Kampung Hulu Ongkag Tanoyan Bersatu
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Puncak G. Linggaga / Perkebunan Pusian / Desa Tapa Aog
Batas Selatan Sungai Ongkag / Desa Mopusi dan Desa Mengkang
Batas Timur Sungai Ongkag / Desa Bakan
Batas Utara Perkebunan Motoboi / Desa Tungoi

Kependudukan

Jumlah KK 1242
Jumlah Laki-laki 2363
Jumlah Perempuan 2529
Mata Pencaharian utama Petani dan Pekerja Tambang Adat

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Wilayah Tanoyan mulai dibuka (pembongkaran hutan) pada tahun 1922, oleh orang-orang Molinow. Pada tahun 1946 lokasi ini ditetapkan sebagai desa dengan nama Lolayan Mobagu atau Lolayan baru. Pada tahun 1950, nama desa Lolayan Mobagu diganti menjadi Tanoyan. Tahun 2003, kampong Tanoyan dimekarkan menjadi 2 desa yakni Tanoyan Utara dan Tanoyan Selatan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wilayah adat Tanoyan dibagi sebagai berikut:
1. Tanah wakaf diperuntukkan sebagai lahan pemukiman (rumah penduduk, mesjid, lapangan bola, pekuburandan fasilitas umum lainnya.
2. Hutan produksi cadangan (ipotolo).
3. Hutan adat yang dilindungi.
4. Persawahan, lading dan perkebunan yang telah diserahkan kepada pengelola pertama dan keturunannya.
5. Daerah aliran sungai. 
1. Tanah wakaf, selain untuk pekuburan dan fasilitas umum lainnya, dapat juga ditempati warga untuk bangun rumah tapi tanahnya tidak boleh dijual.
2. Hutan produksi cadangan (ipotolo) dapat dikelola masyarakat sebagai lahan perkebunan.
3. Hutan adat yang dilindungi.
4. Sawah, ladang dan perkebunan telah diserahkan kepada pengelola pertama dan keturunannya sebagai hak milik.
5. Sungai digunakan untuk mandi, cuci dan pengairan sawah 

Kelembagaan Adat

Nama Hulu Ongkag Tanoyan Bersatu
Struktur 1. Dewan Adat 2. Ketua 3. Sekretaris 4. Bendahara 5. Bidang-Bidang - Seni dan Budaya - Ekonomi dan Kesejahteraan - Organisasi dan Humas 6. Bogani Adat 7. Anggota Komunitas Adat
1. Dewan Adat berfungsi sebagai penasehat dan pengawas.
2. Ketua, berfungsi sebagai pengelola organisasi sekaligus penanggung jawab kegiatan yang diamanatkan.
3. Sekretaris, berfungsi untuk mengelola administrasi termasuk semua dokumen organisasi dan sekaligus mengelola organisasi atas mandate Ketua.
4. Bendahara, berfungsi sebagai pengelola keuangan termasuk upaya-upaya pengembangan usaha lembaga.
5. Bidang-bidang, berfungsi untuk mengelola kegiatan yang berkaitan dengan bidang masing-masing yang berkaitan langsung dengan kebutuhan anggota masyarakat serta melakukan tugas yang dimandatkan ketua.
6. Bogani Adat, berfungsi sebagai perpanjangan tangan lembaga dan sekaligus sebagai penegak Aturan Adat. 
1. Keputusan tertinggi ada pada Musyawarah Adat yang mengikutsertakan Dewan Adat, Pengurus dan Anggota Komunitas Adat.
2. Ketua berhak menetapkan keputusan sejauh tidak melanggar aturan Adat dan mandate yang diberikan melalui Musyawarah Adat.
3. Untuk pengambilan keputusan mengenai pelanggaran adat, Bogani Adat dapat memutuskan sesuai dengan ketentuan adat yang juga berdasarkan prinsip kekeluargaan melalui musyawarah mufakat. 

Hukum Adat

1. Ilimiu kon sigat atau melewati / menyerobot lahan orang lain akan dikenakan sanksi adat sesuai ketentuan. Hal ini berlaku juga pada pertambangan adat (batas di bawah permukaan tanah)
2. Monakow (mencuri) dikenakan sanksi berupa denda uang atau kerja bakti.
3. Molombun (merusak dengan sengaja barang atau benda milik orang lain atau fasilitas umm), dikenakan denda atau kerja bakti dan wajib mengganti barang atau benda yang telah rusak. 
1. Kumokow (berteriak keras tanda kesal atau sengaja mengundang keributan, khususnya di waktu malam) dikenakan sanksi berupa denda uang atau kerja bakti.
2. Monakow (mencuri) dikenakan sanksi berupa denda uang atau kerja bakti.
3. Molombun (merusak dengan sengaja barang atau benda milik orang lain atau fasilitas umm), dikenakan denda atau kerja bakti dan wajib mengganti barang atau benda yang telah rusak.
4. Mogalu, sepasang pemuda dan pemudi yang melanggar adat (meitolak adat) kesusilaan seperti kepergok melakukan hubungan intim, atau telah hamil sebelum nikah atau kawin lari maka akan dipaksa menikah tapi tidak diperkenankan melaksanakan pesta hiburan.
5. Monualing (seorang suami berselingkuh dengan anak gadis) keduanya dikenakan denda dan si laki-laki wajib membayar ganti rugi kepada si gadis sesuai permintaan keluarga, terutama apabila si gadis ternyata telah hamil.
6. Mokitualing (seorang istri berselingkuh dengan pemuda jejaka) keduanya dikenakan denda.
7. Monualing – Mokitualing (seorang suami berselingkuh dengan perempuan bersuami) kedua-duanya dikenakan denda dan diusir keluar dari kampung. 
Penolakan dan pengusiran PT. Arafura Mandiri Semangat (AMS), pemegang IUP explorasi tambang karena dinilai melanggar adat menyerobot tanah warga di wilayah adat. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi