Wilayah Adat

Sampeong

 Teregistrasi

Nama Komunitas Sampeong
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU
Kecamatan Walenrang Barat
Desa belum ada
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.816 Ha
Satuan Sampeong
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Disebelah barat dibatasi oleh Wilayah Adat Buntu Tallang Kab.Luwu
Batas Selatan Dibagian selatan dibatasi oleh Wilayah Adat Kujan Desa Lempe dan Wilayah Adat Lewandi Desa Lewandi
Batas Timur Dibagian Timur berbatasan dengan Wilayah Adat Sampeong ( Desa Lamasi Hulu )
Batas Utara Disebelah utara wilayah adat Sampeong dibatasi oleh Wilayah adat Rogkong Kee. Limbong dan Wilayah adat Seko Lerno Desa Tiro Bali Kee. Seko Kab. Luwu Utara

Kependudukan

Jumlah KK 230
Jumlah Laki-laki 639
Jumlah Perempuan 741
Mata Pencaharian utama bertani, sawah, berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Keberadaan Komunitas adat Sampeong asal-usulnya secara historis berasal dari komunitas adat Kadinginan sekitar 1800 tahun yang lalu, kemudian menetap dan membentuk suatu kampung atau biasa disebut tondok. Nama Sampeong itu diambil dari bahasa lokal, yang awal mulanya terdapat makhluk Ghaib/halus yang sering menampakkan dirinya dan menakut-nakuti masyarakat pada saat itu, dan masyarakat memberi nama makhluk tersebut Alemandi sehingga dasar pemberian nama Sampeong berawal dari munculnya makhluk ghaib tersebut. Setelah disepakati nama tondok tersebut bernama Sampeong, maka masyarakat kembali melakukan musyawarah adat untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka, dan pada saat itu masyarakat adat mengangkat seorang tomakaka pertama yang bernama Pagau beserta perangkat adatnya, Pagau itu sendiri Tomakaka Paranta ke 7 yang hijrah ke Lewandi. Pada saat Pagau wafat maka Tomakaka selanjutnya adalah :
2. Ne' Manapi'
3. Manapi' (Ne' Sibomba)
4. Mangngi (Ne' Kaba)
Hingga saat ini Tomakaka Ke 5 (lima) Komunitas Adat Sampeong dijabat oleh Aceng Danda, S.Sos., MH cucu dari Tomakaka keempat yang bernama Mananai/Ne' Kaba.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Bukaan/Garapan (Pangala Dijama) Hutan bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, persawahan, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat misalnya , Hutan Lemba', Hutan Bongli, Hutan Bangkele, Hutan Batu Bulan, Hutan Buntu Laiana, Hutan Pokkarodo'.  
Di dalam wilayah adat Sampeong, secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah adat terbagi menjadi dua yaitu wilayah komunal dan wilayah individu. Wilayah inidividu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (hunian), Tampang (Sawah), dan Bela' (kebun). Proses pembagiannya pun harus diputuskan atas persetujuan Tomakaka. Biasanya di masing-masing Tondok ada 'Matua' yang akan menyampaikan informasi ke Tomakaka apabila ada warga yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Selain itu ada juga Anginan (Tempat) yang merupakan area yang digunakan untuk Tomakaka . Bentuknya ada sawah, kampung, Belak (kebun) dan lain-lain. 

Kelembagaan Adat

Nama sampeong
Struktur - Tomakaka - Matua - Baliara - Dandanan Sangka - Pande Bassi - Sunga Lalaln - lndo' Dao - Masvaraka' Ada'
- Tomakaka;
Memelihara kedamaian, Kesejahteraan, menjaga nama baik dan Mengambil Keputusan Apabila Ada Masalah Yang Terjadi dalam Masyarakat Adat.
- Matua;
Mengangkat Tomakaka, Memecat Tomakaka apabila melanggar adat, memelihara perdamaian, merencanakan kesejateraan dan menjaga nama baik komunitas.
- Baliara:
Menjelaskan Tatanan Adat, Merencanakan Konsep Acara dan menjaga nama baik komunitas.
- Dandanan Sangka :
Orang yang mengetahui aturan dalam pelaksanaan adat.
- Pande Bassi :
Orang yang membuat peralatan masyarakat untuk dipergunakan di ladang dan sawah
- Bunga' Lalan ;
Merencanakan Awai mula bercocok tanam khusus sawah Merencanakan syukuran dan Menjaga nama baik komunitas.
- lndo' Dao;
Melaksanakan Upacara adat khusus untuk Pare Bela'/Padi Ladang pada masa perawatan
- Masyaraka' Ada' ;
Melaksanakan dan mematuhi peraturan Adat yang Berlaku Sesuai keputusan Lembaaa Adat.  
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin Lembaga Adat. Tetapi ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat dengan para perangkat adat yaitu untuk hal-hal yang berkaitan dengan upacara adat, diantaranya :
- Terjadi sengketa lahan antara masyarakat adat
- Bersinah I selingkuh dengan istri orang lain. 

Hukum Adat

Di wilayah adat Sampeong pada umumnya masih dikelilingi oleh hutan. Tondo' Ada' Sampeong sendiri berada di tengah pegunungan Buntu Kua, Buntu Lai' Passe, Buntu Lepong, Buntu Lajang, Buntu Bongli, Buntu Pongkalu, Buntu Karongean yang secara administratif berada dalam wilayah Desa Lamasi Hulu, KeeWalenrang Barat, Kabupaten Luwu dan juga termasuk kawasan hutan lindung. Sebagai masyarakat adat menjaga lingkungan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, karena kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya merupakan indikator keberlangsungan adat dan tradisi itu sendiri serta sebagai penyangga air/salu Lamasi, Makbalombong, Lajang, Melenten, Bato'tok, Lewandi, Dodia, Bangkele, Bong Ii. Tomakaka juga memiliki kebijakan-kebijakan lokal dalam mengelola dan mengakses hutan, dengan melakukan pembagian yang sudah dilakukan sejak awal keberadaannya dan turun-temurun yaitu: Hutan Garapan. beberapa hal yang merupakan larangan adat yaitu;
1. Menanam padi tidak boleh lebih sekali dalam setahun.
2. Benih padi yang ditanam harus padi titipan leluhur khusus ditanam di ladang (Bela').
3. Segala bentuk yang berhubungan dengan padi harus sesuai dengan tatanan tradisi leluhur
4. Tidak boleh merusak sumber mata air.
Selain itu Tomakaka Sampeong juga masih menjaga warisan tradisi dalam menanam padi yaitu hanya melakukan satu kali panen dalam satu tahun. Padi yang ditanam pun harus padi lokal yang diwariskan oleh leluhur yang dulunya ada 6 jenis bibit, dan sekarang masih tetap 6 jenis bibit padi.  
Hukum yang diterapkan di masyarakat Adat Sampeong, secara umum ada tiga macam, yaitu;
• Hukum agama yaitu hukum yang mengacu pada kepercayaan masing-masing agama.
• Hukum Negara diterapkan apabila terjadi pelanaaaran-pelanaaaran sebagaimana yang ditentukan dalam tatanan hukum Negara.
• Hukum adat adalah hukum atau sanksi yang tidak diputuskan oleh seseorang atau para petinggi adat, tetapi hukum ini berupa sanksi yang diberikan oleh para leluhur, dengan istilah " didosa, ma'rambu Jangi dan dipalik".
Hukum seperti;
- didosa, adalah pe/anggaran yang terrnasuk pada semua tingkatan pelanggaran seperti tingkatan ringan (potong ayam), Sedang (potong babi khusus untuk beragama nasrani), Berat (potong kerbau).
- Dipalikldiusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai tujuh turunan serta Ma'rambu langi , adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat (Potong kerbau). Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya. Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Sampeong dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah didosa, dipalik,ma'rambu langi. (mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal, dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran) 
Contoh I Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong satu ekor kerbau dan dimakan bersama masyarakat adat Sampeong. Jika tidak mematuhi aturan dengan memotong satu ekor kerbau maka akan diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai 7 turunan.
Contoh II :Ketika ada seseorang yang mengambil gambar/situs seperti kuburan Tua pada saat Jiong sara (proses pertanian sementara tumbuh) maka akan dikena sangsi seperti didosa dengan memotong seekor kerbau termasuk kategori berat.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan -Sumber karbohidrat (padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela' dan Pare tampang). -sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Kacang hijau dan Kacang panjang. -Sumber vitamin (sayuran dan buah): Buah (Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, kopi, dll). Sayuran (Sawi, Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lotong, Dauan suka, Daun Bulu Nangko, Umbu Rotan dan Umbu Banga).
Sumber Kesehatan & Kecantikan -Tumbuhan obat: kumis kucing, lampujang, jahe, kencur, Daun Sualang, Daun Sari kaja, Kulit Kayu Jawa, Daun Maradda', Daun Bulu Nangko, dll. -Tumbuhan kosmetik: Kunyit, Beras, Daun Pandan, kencur, Kemiri, Kaju Lange', Kelapa, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kayu uru, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate, dll.
Sumber Sandang kapuk,kapas, nase dan rotan
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, sereh, daun bawang, daun cemangi, dengen, tikala, mangga, jarru, kunyit, merica, asam tuak, lengkuas, daun kedundung, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Cengkeh, Padi, Cokelat, Jagung, Sagu, Kayu, Rotan, Mangga, langsat, Rambutan, Cemoedak, dll.