Wilayah Adat

Desa Pasang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Pasang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Maiwa
Desa Desa Pasang Paladang, dan Palakka
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.464 Ha
Satuan Desa Pasang
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Wil. Kec. Enrekang
Batas Selatan Wil. Desa Palahta
Batas Timur Wil. Desa Paladang
Batas Utara Wil. Desa Pasai

Kependudukan

Jumlah KK 211
Jumlah Laki-laki 473
Jumlah Perempuan 429
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nenek moyang/leluhur pertama masyarakat adat pasang adalah “La Tau Pakka” yang diperkirakan ada pada sekitar tahun 900 M. Terbentuknya komunitas adat Pasang merujuk pada “Pappasan” yang dibawa oleh Puang Manurung, to manurun La Tau Pakka yang memberikan pesan-pesan moral kepada seorang perwiranya bernama Pu Paitung di atas gunung yang terkenal dengan nama Buttu Pasang. Kehadiran Puang Manurung di Buttu Pasang untuk menyampaikan “Pappasan” meletakkan dasar dan menjadi acuan penyelenggaraan kehidupan yang teratur dan bijaksana. Ini adalah sebuah bentuk peradaban manusia mulai hidup dalam keteraturan yang beradab dalam lingkaran komunitas adat Pasang. Dengan Pappasan ini pula yang dimaknai oleh generasi selanjutnya yang menjadi dasar dan alasan kampung ini diberi nama “Pasang” yang sekarang ini menjadi Desa Pasang.

Sebaran komunitas adat Pasang ini mencakup tiga wilayah desa secara administratif yakni Desa Pasang Paladang, dan Palakka. Kendati tersebar dalam tiga wilayah desa secara administratif akan tetapi identitas adat pasang masih bisa ditandai dengan kesamaan ritual yang dilkukan oleh masyarakat di tiga desa tersebut. Hal ini diperkuat dengan penuturan masyarakat dalam ketiga desa mengenai asal usul hubungan leluhur ataupun ritual-ritual yang mereka adakan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

perkampungan ; hutan adat.

 
1. pengelolaan secara komunal (tana/wilayah adat )
2. Tanah adat/wilayah yang dikelolah pejabat/pemangku adat yang sedang menjabat
3. pengelolaan secara perorangan 

Kelembagaan Adat

Nama Pangandaran yang terdiri dari empat pilar yang dikenal dengan nama A’pa Allirinna Wanua
Struktur To Matua, Sando, Dulung, Sara
To Matua: pemimpin tertinggi yang mengurusu pemerintahan adat
Sando: mengurusi masalah penyembuhan dan kesehatan
Dulung: mengurusi masalah pertanian
Sara: mengurusi masalah keagamaan

Keempat pilar ini dari saling berkordinasi dan sangat taat dalam melaksanakan tanggung jawab pada tugas masing-masing. Simpul yang memperkuat 4 pilar itu adalah Aruang atau pelindung/penasihat. Acuan mereka bekerja sesuai dengan pesan-pesan moral dari To Manurun yang diucapkan setiap pesta adat yang dikenal denga istilah Sumajo. 

Hukum Adat

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: jagung, ubi kayu, padi, Protein nabatai: kacang-kacangan Buah: Enau, tanaman Coklat, Durian, Langsat, Rambutan, Mangga Protein hewani: ayam hutan, Babi hutan, Ular, Bangau, Kera, Sapi
Sumber Kesehatan & Kecantikan kunyit hitam untuk pengobatan penyakit dalam; kunyit kuning untuk demam; rumput Amunta dijadikan sebagai Bedak; paria/pare untuk penyembuhan Demam.
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kemiri, merica
Sumber Pendapatan Ekonomi coklat kemiri, durian, langsat, rambutan, nangka, enau dan mangga

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang 1 Tahun 2016 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen