Wilayah Adat

Kampung Andulang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Andulang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Maiwa
Desa Labuku
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.313 Ha
Satuan Kampung Andulang
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Lebani
Batas Selatan Komunitas Adat Baringin
Batas Timur Desa Tallang Rilau' (Kecamatan Bungin)
Batas Utara Desa Tanete

Kependudukan

Jumlah KK 91
Jumlah Laki-laki 375
Jumlah Perempuan 345
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Masyarakat Adat Andulang, sangat berkaitan erat dengan cerita-cerita To Manurun di Sulawesi Selatan. Menurut pandangan Pemangku Adat setempat yang sangat terkenal dengan sebutan “Appa Allirinna Wanua” atau “empat pilar penopang kehidupan” yang merupakan representasi dari empat unsur kehidupan berupa tanah, air, udara dan api.

Sebelum Masyarakat Adat Andulang bermukim di Kampong Labuku (sekarang Desa Labuku), pada awalnya Masyarakat Adat Andulang merupakan komunitas-komunitas yang hidup secara berpindah-pindah di pengunungan-pegunungan Latimojong tepatnya di Bonto Tumeneng dengan pola perkampungan mengikuti lokasi-lokasi dara’ (kebun-kebun) yang dibangun komunitas-komunitas. Pola kehidupan ini berlangsung sejak turun temurun hingga hingga saat ini.
Masyarakat Adat Andulang merupakan satu-kesatuan rumpun dari komunitas adat Roa, yang terkenal dengan Sebutan :
- Indo’I La Buku
- Ana Macoa I Batarang
- Ana’ Tangnga I Baringin
- Ana’ Cappa’ I Tanete
Keberadaan Masyarakat Adat Andulang, dibuktikan dengan adanya beberapa situs yang sampai saat ini masih dijaga

Bagi Masyarakat Adat Andulang, pembatasan wilayah kelola yang dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda sudah membatasi/memperkecil wilayah kelola Masyarakat Adat Andulang. akan tetapi kebijakan yang dimasih dianggap jauh lebih baik ketimbang sekarang ini yang sama sekali tidak memberi pengakuan atas wilayah kelola Masyarakat Adat Andulang. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah di bidang kehutanan yang menetapkan sebagian wilayah Masyarakat Adat Baringin (hutan) sebagai kawasan Hutan Lindung (HL) 80-an.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

a. Kabo Tua (Hutan Belantara)
b. Dara’ (Kebun)
c. Kabo Lolo/ Pinole (Bekas Ladang)
d. Galung (Sawah)
e. Pakkampongan (Pemukiman) 
1. Tanah Adat
2. Tanah Pribadi
3. Tanah Warisan 

Kelembagaan Adat

Nama Appa Allirinna Wanua
Struktur To Matua Dulung Sara’ Sanro
- To Matua adalah pimpinan pemerintahan lembaga adat
- Dulung adalah lembaga adat yang mengatur urusan pertanian, perkebunan, dan pengelolaan Sumber Daya Alam
- Sara’ adalah Lembaga Adat yang berfungsi untuk mengatur urusan keagamaan/spiritual
- Sanro adalah Lembaga Adat yang berfungsi untuk mengatur urusan Kesehatan/pengobatan 
Sipulung Wanua 

Hukum Adat

Bagi Masyarakat Adat Andulang, hutan merupakan sumber penghidupan kolektif, yang dari sana kebutuhan hidup material sehari-hari bisa dipenuhi. Prinsip kolektivisme (kepemilikan bersama) atas penguasaan sumber daya alam (hutan) merupakan filosofi dasar yang pada kenyataannya hidup dan melekat di kalangan Masyarakat Adat Andulang. Meski sebagian besar kehidupan mereka ditopang oleh ketersediaan sumber daya hutan, atau dengan kata lain ketergantungan mereka terhadap hutan sangat tinggi, akan tetapi hal tersebut sama sekali tidak membuat Masyarakat Adat Andulang memperlakukan sumber daya hutan secara serampangan dan tidak bertanggungjawab

Masyarakat adat Andulang dalam pengelolaan Sumber Daya memiliki kearifan lokal (Pangngadaran) yang di kenal dengan Istilah “Peppasang” atau dalam pengertian Pesan-Pesan leluhur yang harus di taati dan dijalankan oleh anggota komunitas Adat Baringin maupun pihak-pihak dari luar. Dan apabila ada pelanggaran “Peppasang” maka akan dikenakan sanksi adat yang dikenal dengan istilah “Na Ceccuko Lontara”, bentuk sanksi ini memiliki pembagian derajat/level tingkatan sanksi ringan, sedang, dan berat.
Kearifan local yang lain yang dimiliki Masyarakat Adat Andulang adalah “Mappemali” yang dalam pelaksanaannya masyarakat dilarang melakukan penebangan kayu baik di wilayah hutan larangan, maupun di wilayah hutan kelola selama 4 bulan dalam setiap tahunnya, kearifan local ini masih berlangsung hingga saat ini.
Masyarakat Adat Andulang juga dalam pengelolaan hasil-hasil Hutan, sangat memperhatikan keseimbangan/keberlangsungan keberadaan hutan dan hasil-hasilnya, hal ini dapat ditandai dengan adanya kebiasaan yang berlangsung di komunitas adat Baringin berupa kebiasaan mengambil Madu Hutan tanpa merusak hutan/pohon tempat lebah madu bersarang.
Pola pengelolaan sumber daya alam dalam sector pertanian dan perkebunan, Masyarakat Adat Andulang menggunakan pola “Gilir Balik”, yang mana dalam implementasinya masyarakat dalam membuka dan mengelola lahan secara berpindah-pindah di satu kawasan yang sama dengan rentang waktu tertentu. Tapi saat ini pola tersebut sudah tidak dilaksanakan lagi, disebabkan wilayah-wilaha kelola untuk areal perladangan komunitas adat Andulang, sebagian besar telah dimasukkan ke dalam kawasan hutan Negara, sehingga berimplikasi pada terbatas akses masyarakat adat Andulang dalam pengeloaan Sumber Daya Alam.
- Peppasang-Peppasang yang dimiliki Masyarakat Adat Andulang yang berkaitan dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam antara lain adalah :
“Malilu SipakaingE, Rebba Si Patokkong, Mali’ SiParappe, Tassikojo-kojo Lembong”
Artinya: saling mengingatkan ketika terjadi pelanggaran Adat, hendaknya jangan mengambil hak yang bukan milik.” 
Berzina merupakan kategori pelanggaran berat dan akan mendapat hukuman “Nacacco Lontara”dan akan berlaku sampai 7 turunan, tidak akan diakui di masyarakat dan tidak akan mendapatkan jabatan apapun dalam adat.
Sampai keturunan ke 7 akan mendapatkan pengampunan yang dalam bahasa masyarakat adat Andulang adalah Marrumbu Langi’ 
Salah satu penerapan hukum adat di Komunitas Adat Andulang, Pada tahun 2009 terjadi sengketa lahan warisan, maka keputusan adatnya adalah loki tersebut dibagi 2 bagian. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi, jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan Berbagai tumbuhan Obat (Akar kuning, tampa lorong, dengeng-dengeng, sambiloto, Sinaja,dll)
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Ebony dan berbagai jenis kayu yang berkwalitas Rotan (Lambang, Tahiti, Batang, Pali, dll)
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu -
Sumber Pendapatan Ekonomi Pertanian

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten 1 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen