Wilayah Adat

Kalupini

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kalupini
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Enrekang
Desa Desa Kaluppini, Desa Lembang, Desa Tobalu, Desa Rossoan, dan Desa Tokkonan.
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 9 Ha
Satuan Kalupini
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Komunitas Adat Ranga
Batas Selatan Komunitas Adat Matajang
Batas Timur Desa Kadingeh
Batas Utara Desa Bambapuang

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama -

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejak zaman megalitik, transformasi adat Kaluppini mengacu pada konsep Mitologi yang kuat dan diyakini masyarakatnya yakni sejarah dan ritual adat megandung nilai-nilai luhur untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, bentuk kecintaan, keikhlasan dan kesucian. Hal ini juga diartikan sebagai cara penyampaian permohonan kepada Pencipta Alam Semesta sekaligus sebagai upaya menjaga hubungan yang harmonis terhadap sesama manusia.
Akar mitologi tersebut tergambarkan dalam salah satu ritual adat di Kaluppini yang dikenal dengan Ritual Adat Pangewaran, ritual yang dilaksanakan sekali dalam Delapan tahun. Di Limbuang, Pasang, Ranga, Tondon dan Matakali adalah daerah yang juga melaksanakan ritual adat serupa di Kabupaten Enrekang, namun pemaknaan dari perayaan ritual adat tersebut berbeda-beda.
Melacak sejarah Kaluppini bisa dengan cara memahami ritual Pangewaran, yang merupakan tradisi yang telah diturunkan dari generasi ke generasi di Komunitas Adat Kaluppini.
Ritual Pangewaran ini dilatarbelakangi oleh sebuah kisah dimana masa itu bumi Kaluppini mencapai puncak kesejahteraan. Sejauh mata memandang akan terlihat area persawahan. Padi menguning siap untuk dipanen,ladang dipenuhi tanaman-tanaman yang tumbuh subur. Ternak Sapi, Kambing dan Kerbau berkembang dengan baik. Penghidupan yang begitu menjanjikan dan membahagiakan.
Masa itu para petani dimanja dengan satu kali menanam bisa memanen tanamannya sampai tujuh kali,setiap kali dipanen akan tumbuh lagi pucuk-pucuk yang baru dan siap dipanen musim berikutnya.
Kebutuhan sandang,pangan dan papan sangatlah melimpah,canda tawakegembiraan penduduk senantiasa mewarnai kehidupan Kaluppini kala itu. Sungguh besar nikmat dan karunia yang telah Tuhanturunkan untuk masyarakat Kaluppini.
Tahun demi tahun penduduk Kaluppini terus dimanja dengan melimpahnya hasil bumi, kebutuhan hidup terpenuhi bahkan lebih. Nikmat tersebut membuat penduduk terlena, praktek hidup sederhana berubah menjadi boros,mengumpulkan harta dan membangga-banggakannya. Masyarakat Kaluppini melupakan kenikmatan itu datangnya dari Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang,hukum adat dan ritual adat mulai ditinggalkan.
Di Desa Lembang, di sebuah tempat bernama Pa’ragaan, sebuah tempat yang sering dijadikan arena untuk bermain Raga (Sepak Takraw), yang dijadikan bola untuk bermain bukan lagi bola yang terbuat dari anyaman Rotan namun dari makanan Sokko’ (Beras ketan) yang bulatkan menyerupai bola kemudian ditendang ke sana kemari sedemikian rupa.
Pergeseran drastis pola hidup penduduk Kaluppini juga terlihat saat Petani-petani yang mengusir burung pengganggu tanaman di ladang dan sawah. Mereka tidak lagi menggunakan orang-orangan sawah namun memakai Sokko’ yang dikepal-kepal kemudian dilemparkan ke arah kawanan burung untuk mengusirnya.
Karena lupa diri, akhirnya Sang Pencipta menurunkan azab, bumi Kaluppini dan kawasan yang jauh diluar Kaluppini mengalami sebuah penderitaan yang sama. Bumi yang dahulunya hijau nan subur,berubah menjadi tanah kering kerontang akibat bertahun-tahun tidak diturunkan hujan,ternak mati,tanam-tanaman mati,paceklik berkepanjangan.
Catatan sejarah yang dimuat dalam berbagai sumber baik tertulis maupun lisan menggambarkan masa itu dengan kutipan: “Matti manangngi wai’E ritangngana linoe, Mate manangngi bulu-bulunna tana’E ritangngana linoe.”(Artinya: Semua sumber air di muka bumi mengering, Semua rerumputan/tanaman di muka bumi mati).
Sepenggal kalimat ini menggambarkan kehidupan dimasa itu yang hampir punah. Rerumputan mengering dan mati seiring dengan mengeringnya semua sumber-sumber air.
Dipuncak bencana, orang yang masih bertahan hidup menyadari kekhilafan yang telah mereka lakukan selama ini,ratapan penyesalan sedalam-dalamnya tak terhindarkan setelah menyadari hilangnya nikmat Tuhan yang mereka balas dengan kesombongan. Dari sinilah ritual Pangewaran ini bermula, sekaligus menjadi babak baru bagi sejarah Kaluppini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kelembagaan Adat

Nama Tau A'pa
Struktur Tomakaka, Ada', Khali, dan Imam
1. Tau A’pa
Pemangku adat tertinggi di Kaluppini disebut Tau A’pa, terdiri dari empat orang pemangku adat, masing-masing Tomakaka, Ada’, Khali dan Imam.
Keempatnya adalah pemangku adat tertinggi yang mempunyai kapasitas yang sama “duduk sama rendah berdiri sama tinggi”. Tomakaka dan Ada’ adalah pucuk pimpinan dibagian adat sedangkan Khali dan Imam pucuk pimpin dibagian syariat/agama.
Tugas dan wewenang Tau A’pa, antara lain:
1) Tomaka dan Ada’ pengatur dan penentu kebijakan adat
2) Khali dan Imam pengatur dan penentu dalam kebijakan urusan Agama
3) Tomakaka memegang kekuasaan tertinggi mengatur PA’RODO
4) Ada’ memegang kekuasaan tertinggi mengatur PA’JAGA
5) Khali memegang kebijakan/kendali urusan ritual Agama Tahlele
6) Imam memegang kebijakan/kendali urusan ritual Agama Ma’damulu
7) Keempat Tau A’pa menindak lanjuti aspirasi masyarakat
8) Menyelesaikan/memutuskan perselisihan/ sengketa dalam komunitas yang tidak terselesaikan oleh Tomatua Pa’bicara pondi dan Pa’bicara Lando
9) Menciptakan hubungan yang demokratis dan harmonis serta obyektif,dengan Puang Endekan dan komunitas adat lainnya
10) Tomakaka sebagai pucuk pimpinan 9 rangkaian upacara ritual adat tahun Bo’bo
11) Ada’ sebagai pucuk pimpinan 4 rangkaian upacara ritual adat tahun Ba’tan
12) Imam bertugas memimpin sholat hari raya Idul Fitri
13) Khali bertugas memimpin sholat hari raya Idul Adha
14) Tomakaka berhak mengajukan kepada tomassituru untuk pemberhentian dan pengangkatan Tomatua pa’bicara Pondi, paso bo’bo, Ambe Lorong dan jajaran pitu Lorong
15) Ada’ berhak mengajukan kepada tomassituru untuk memberhentikan dan mengangkat Tomatua Pa’bicara Lando, Paso Ba’tan dan Pallapi arona ( Nene Kanila )
16) Khali berhak mengajukan kepada tomassituru untuk memberhentikandan pengangkatan Katte Pa’bica Pondi, Bilala bo’bo
17) Imam berhak mengajukan kepada tomassituru untuk memberhentikandan pengangkatan Katte pa’bicara Lando, Bilala Ba’tan

2. Pa’bicara
Pa’bicara terdiri dari empat pemangku adat, antara lain: Tomatua Pa’bicara Pondi, Tomatua Pa’bicara Lando, Katte Pa’bicara Pondi Dan Katte Pa’bicara Lando.
Tomatu Pa’bicara Pondi
Tomatu Pa’bicara Pondi bertanggungjawab penuh membantu Tomakaka dalam urusan adat. Ia merupakan Ambe’na Tomassituru (Tomakaka/Khali). kewenangannya antara lain mengadili dan memutuskan sengketa/ perselisihan.
Tomatu Pa’bicara Lando
Tomatu Pa’bicara Lando bertanggungjawab penuh membantu Ada’ dalam urusan adat. Ia merupakan Ambe’na Tomassituru (Ada’/Imam), dengan kewenangan kewenanganmemeriksa, memberi pertimbangan, memberi nasehat, dan memutuskan sengketa/perselisihan.

Katte Pa’bicara Pondi
Katte Pa’bicara Pondi bBertanggungjawab penuh membantu Khali dalam urusan keagamaan. Ia merupakan Indona Tomassituru (Tomakaka/Khali) dengan kewenangan memeriksa, memberi pertimbangan, memberi nasehat, dan memutuskan sengketa/perselisihan. Ia juga bertugas membawakan Kutbah di Hari Raya Idul Adha.
Katte Pa’bicara Lando
Katte Pa’bicara Lando bertanggungjawab penuh membantu Imam dalam urusan keagamaan. Ia merupakan Indona Tomassituru (Ada’/Imam) dengan kewenangan memberi pertimbangan, memberi nasehat, dan memutuskan sengketa/perselisihan. Ia juga bertugas membawakan Kutbah di Hari Raya Idul Fitri.

3. Paso Bo’bo
Paso Bo’bo adalah pelaksana 9 Ritual Adat Taun Bo’bo. (Sima tana, Rappan Banne/Mappatarakka, meta’da wai, Ma’tulung, Meta’da pejapppi, ma’buttu buttu, massalli’ babangan, ma’pana’ta ranganan, ma’paratu tagga’, Ma’pajaji (Hajatan dirumah adat Sapo Battoa).
Pelaksana utama ritual adat ini adalah adalah Tomakaka, namun jika berhalangan dapat diwakilkan kepada Paso Bo’bo. Ia bertugas menyampaikan pesan/pengingat setelah shalat Idul Adha dalam bahasa sastra Kaluppini.
Paso Bo’bo memiliki pantangan tidak diperbolehan berhubungan suami istri selama 6 bulan setelah dialntik, yang apabila melanggar maka akan berdampak terhadap orang banyak. Sanksi bagi pelanggaran ini adalah hukum alam.
Jabatan Paso’ Bo’bo ini direkomendasikan oleh Tomaka dan disetujui oleh Tomassituru.

4. Paso Ba’tan
Paso Ba’tan adalah pelaksana 4 ritual Taun Ba’tan (Massima Tana taun ba’tan-pusat ritual dibatu battoa, ma’tulung, messuun dibamba (dalam ritual adat sebelumnya ke Rumah adat sapo Battoa), ma’paratu tagga’, serta Ma’pajaji (Hajatan di Palli-Pusat Bumi).
Pelaksana utama ritual adat tersebut adalah Ada’, namun jika berhalangan dapat diwakilkan kepada Paso Ba’tan. Tugasnya menyampaikan pesan/pengingat setelah shalat Idul Fitri dalam bahasa sastra Kaluppini.
Pantangan Paso’ Ba’tan adalah tidak diperbolehan berhubungan suami istri selama 6 bulan setelah dilantik, yang apabila dilanggar akan berdampak terhadap orang banyak. Sanksinya adalah hukum alam.
Jabatan pemangku ini direkomendasikan oleh Ada’ dan disetujui oleh Tomassituru.

5. Bilala’ Khali
Dalam kelembagaan adat Kaluppini Bilala’ Khali bertugas sebagai muadzin, mappatarakka’ Idul Adha (menyerukan pelaksanaan shalat Idul Adha), menyembelih hewan dalam ritual keagamaan dan memulai merobek kain kafan saat ada yang meninggal dunia.

6. Bilala’ Imam
Bilala’ Imam juga bertugas sebagai muadzin. Selain itu ia juga bertugas mappatarakka’ Idul Adha (menyerukan pelaksanaan shalat Idul Fitri), menyembelih hewan dalam ritual keagamaan dan memulai merobek kain kafan saat ada yang meninggal dunia. Selain itu, ia juga sebagai penyambung pesan antar pemangku adat dengan pemangku syariat.

7. Pande Tanda
Pande tanda bertanggung jawab penuh melihat dan menentukan tanda, bintang di cakrawala, dan mengusulkan jadwal tanam atau waktu pelaksanaan ritual adat.

8. Tappuare
Pemangku Tappuare bertuas sebagai mata-mata atau Intelejen Adat. Ia juga menjadi Pattula’ Bala bagi masyarakat. Pemangku jabatan ini memiliki keistimewaan atau hak khusus dalam adat, yaitu dapat hadir dalam acara-acara meskipun tidak diundang. Selain itu, jika pemangku adat yang lain saat akan meninggalkan Kaluppini harus meletakkan jabatan, namun aturan ini tidak berlaku bagi Tappuare. Ia juga bisa menetap didalam dan diluar komunitas adat kaluppini. Pemangku adat ini memiliki ciri khas yakni rambut panjang, yang selama menjabat tidak diperbolehkan memotong rambut.

9. Tomassituru Tomakaka/Khali
Pemangku adat ini terdiri dari empat orang, yaitu Pu Nipa, Pu Andungan, Pu Mattawa dan Pu Bora. Mereka semua bergelar Suro Dikatappai. Tugasnya mengangkat, memberhentikan dan mengawasi Tomakaka dan khali dan jajarannya. Selain itu, ia bertanggungjawab sebagai stabilisator dalam lembaga 13 serta mengobati yang sakit dan mengurut yang cedera. Ia pun menjadi Betteng Bassinna Tomakaka, Khali dan jajarannya. Tugas lainnya menyiapkan Kalojon dan Sulo Bakkan.

10. Tomassituru Ada’/Imam
Pemangku adat ini terdiri dari empat orang yaitu, To Maraun, Nene Pangga, Nene Kajara dan Nene Sekka. Mereka bergelar Suro Dikatappai. Tugasnya antara lain mengangkat memberhentikan dan mengawasi Ada’ dan Imam dan jajarannya, bertanggungjawab sebagai stabilisator dalam lembaga 13, mengobati yang sakit dan mengurut yang cedera, sebagai Betteng bassinna Ada’ dan Imam dan jajarannya, serta menyiapkan Kalojon dan Sulo Bakkan.

11. Pallapi Arona Ada’/Imam
Jabatan ini bertugas untuk memastikan keselamatan Ada’ dan Imam selama kedua pemangku adat tersebut berada dijalan yang benar.

12. Pitu Lorong
Pitu Lorong terdiri dari 7 pemangku adat, antara lain Bulu Ara (Ambe’ Lorong), Lappung, Balibi, Kaliabona Samma, Ceppaga, Bulu Sirua dan Ijo.
Dalam ritual tertentu, Pitu Lorong menyediakan ayam dengan warna sesuai gelarannya. Pitu Lorong merupakan wewenang Tomakaka untuk menunjuk langsung.

13. Ambe Kombong/Indo Kombong
Terdapat 13 Ambe Kombong/Indo Kombong yang menjalankan kegiatan Adat dan Ritual di 13 wilayah adat kecil di Kaluppini. Merupakan tingkat pertama yang akan menyelesaikan sengketa/permasalahan jika pihak yang bersegketa tidak menemui titik temu maka dapat dilanjutkan ke pemangku adat selanjutnya.

14. Guru Alo’
Tugas Guru Alo’ adalah menjalankan kegiatan agama sesuai dengan jumlah mesjid/Mushalla di Kawasan Kaluppini. Merupakan tingkat pertama yang akan menyelesaikan sengketa/permasalahan jika pihak yang bersengketa tidak menemui titik temu maka dapat dilanjutkan ke pemangku adat selanjutnya. 
Musyawarah mufakat 

Hukum Adat

Dalam mengelola hasil panen, Masyarakat Adat Kaluppini punya aturan tersendiri, dimana mereka tidak pernah menjual hasil panen, seberapapun banyaknya. Hasil panen disimpan di lumbung penyimpanan. Peraturan ini berawal pada puluhan tahun silam ketika paceklik dan kekeringan melanda Kaluppini, dimana tak ada hujan sehingga tanah menjadi kering. Sejak peristiwa itu, warga Kaluppini jadi lebih menghargai hasil panen dan makanan. Maka tak heran pula, saat makan mereka tak pernah menyisakan sebutir pun nasi di piring. Mereka belajar untuk mengambil makanan sesuai yang mampu dihabiskan.
Dalam hal pengelolaan hutan, Masyarakat Adat Kaluppini sadar bahwa hutan adalah sumber kehidupan mereka. Jika ada warga yang butuh kayu untuk bahan membangun rumah, mereka hanya mengambil seperlunya. Jika berlebih, sisa kayu akan disimpan di rumah adat dan kelak bisa digunakan oleh oleh warga lain. Di samping itu, terdapat juga kawasan hutan adat, hutan yang masih perawan dan tidak boleh diganggu. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan -
Sumber Kesehatan & Kecantikan -
Papan dan Bahan Infrastruktur -
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu -
Sumber Pendapatan Ekonomi -

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang 1 Tahun 2016 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen