Wilayah Adat

Kampong Angge Buntu Dea Kaju

 Teregistrasi

Nama Komunitas Angge Buntu Dea Kaju
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota ENREKANG
Kecamatan Baraka
Desa Kadinge
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Kampong Angge Buntu Dea Kaju
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Salu Bulo, Buntu (gunung) Cullade, dan dusun Asaan, Desa Kadinge, Kecamatan Baraka.
Batas Selatan Salu Tabang dan Kecamatan Bungin
Batas Timur Salu (sungai) Pananja dan Masyarakat Adat Uru, Desa Eran Batu, Kec.Buntu Batu
Batas Utara Buntu (gunung) Lengkeh dan Salu (sungai) Maraone

Kependudukan

Jumlah KK 394
Jumlah Laki-laki 817
Jumlah Perempuan 789
Mata Pencaharian utama Petani/Pekebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Menurut sejarah tutur di Daerah Bambapuang (Tangga Tuhan). Awal mula sejarah tentang Tanah Duri kira-kira dimulai sekitar 1500 tahun sebelum masehi. Manusia pertama datang melalui Sungai Sadang yang mana pada saat itu Tanah Bugis masih berupa lautan. Jika demikian kejadiannya, maka Wilayah Adat Angge Buntu pada jaman itu adalah pesisir laut. Hal itu dibuktikan dengan adanya peninggalan jejak leluhur berupa: pemukiman di atas batu kapur yang dipagari oleh susunan batu yang besar (benteng), mandu yaitu penguburan di tebing dalam Peti Mati (duni), dan banyaknya makam leluhur yang tersebar dalam satu kawasan antara Asaan dan Dea Kaju. Keberadaan situs-situs itu menunjukkan bahwa pada jaman dahulu Wilayah Adat Angge Buntu sangat ramai. Wilayah ini juga dikenal sebagai gerbang pintu masuk ke Tanah Duri yang berbatasan dengan gunung-gunung.

Masyarakat Angge Buntu (Batas Gunung) dituturkan adalah mereka yang bermukim dan mencari penghidupan dengan cara berladang gilirganti padi dara’ di Baraba yang tersebar di Jongna Buntu (Kaki Gunung) yang saat ini berada di wilayah barat dusun Dea Kaju. Dituturkan bahwa seorang Tojolo (leluhur) di Angge Buntu adalah Lando Kundai yang memiliki tiga anak, anak pertama bernama Pasamban menjadi leluhur Masyarakat Adat Angge Buntu, anak kedua yaitu Pa’bocoi menjadi leluhur Masyarakat Adat Bungin, sedangkan anak ketiga yakni Pa’dinan menjadi leluhur Masyarakat Adat Uru yang saat ini mendiami Desa Eran Batu, Kecamatan Buntu Batu. Selain itu, Masyarakat Angge Buntu di Desa Kaju yang saat itu tersebar menurut Pemukiman yang berkembang menjadi Klan Keluarga seperti To Dante, To Panduk, To Kadinge, To Angge Buntu, To Pasarapa, dan To Betu. Seluruh keluarga dari pemukiman-pemukiman yang tersebar itu kemudian menyatu menjadi Masyarakat Adat Angge Buntu.

Pada masa perkembangannya, Wilayah Adat Angge Buntu berkembang menjadi beberapa wilayah adat yang memiliki kelembagaan adatnya sendiri yaitu: Asa’an, Desa Kaju (Atap Kayu), dan juga Lombon yang berbaur dengan masyarakat adat lain. Ketiga wilayah itu berkembang menjadi dusun-dusun di Desa Kadinge saat ini.

Leluhur masyarakat Adat Angge Buntu di masa lalu memeluk kepercayaan Alu To Dolo dengan seperangkat sistem nilai-nilai adat dalam Papasan dan Pangadaran yang memiliki bebarapa ritual seperti Rambu Tuka (Pernikahan dan Syukuran) dan Rambu Soloh (Kedukaan). Ajaran nilai adat itu mengalami perubahan seiring dengan masuknya ajaran Islam secara damai yang disiarkan oleh Guru Cini dari Jamburara (Desa Banti), Tana Malea, dan Syech A’ Bulo sekitar tahun 1600an. Sejak saat itu, beberapa tradisi perlahan bergeser seperti: cara penguburan jenazah dari mandu beralih ke pemakaman di tanah, ritual upacara kematian selama 40 hari yang berubah, aturan adat Aluk Na Pemali beralih ke aturan pemerintah, dan lain-lain.

Pada saat Perang To Padatindo antara Kerajaan Bone-Sidenreng dan Kerajaan Toraja yang terjadi pada abad ke-15. Masyarakat Adat Angge Buntu juga terkena dampaknya. Pada saat pasukan gabungan dari Kerajaan Bone dan Kerjaan Sidenreng (Sidrap) kembali dari pertempuran di Tanah Toraja melewati Wilayah adat Angge Buntu. Pasukan Arungpalaka itu menjarah benda pusaka milik Masyarakat Adat Angge Buntu.

Babak sejarah kelam Masyarakat Adat Angge Buntu terjadi saat pemberontakan DII/TII tahun 1951 – 1963. Sebagaimana yang terjadi di wilayah adat lainya di Wilayah Massenrempulu, gerombolan pemberontakan DI/TII memaksakan ajaran Islam dengan memusnahkan nilai adat leluhur. Pada saat itu kedamaian di Wilayah Adat Angge Buntu mengalami dilema antara keganasan gerombolan pemberontak DI/TII dan juga pihak TNI. Masyarakat hidup dalam ketakutan sehingga tidak ada yang menceritakan sejarah terutama Pepasan Tojolo maupun melakukan ritual adat Pengadaran. Selama berlangsung pemberontakan DI/TII, perkampungan Angge Buntu mengalami pembakaran sebanyak tiga kali. Pada saat itu benda pusaka seperti: tombak, pisau, dan pedang diambil oleh gerombolan DI/TII. Situs-situs makam leluhur juga dihancurkan.

Berdasarkan pengalaman yang diceritakan oleh Tokoh Adat bernama Sini atau yang dikenal dengan Ambe Mudi yang pernah bertanya pada orang tuanya mengenai pangadaran, orang tuanya berkata “jangan bertanya masalah itu, untung kita berada di kebun seandanya di kampung habislah kita dipenggal besok pagi.” Ambe Mudi juga menceritakan sepak terjang pasukan Siliwangi ketika menumpas pemberontak, mereka menjarah ternak dengan jumlah sekitar 450 ekor dari masyarakat kemudian membakarnya di dalam masjid sedangkan untuk pengapiannya, mereka merobohkan rumah keluarga Ambe Mudi. Setelah selesai berpesta, bangunan masjid dan beberapa rumah juga dibakar.

Pasca penumpasan DI/TII oleh Pasukan Siliwangi dari Pulau Jawa, Masyarakat Adat Angge Buntu kembali melakukan Pangadaran. Sebagian masyarakat memang berpandangan bahwa Pangadaran bukanlah karangan atau buatan manusia dan tidak bertentangan dengan Agama Islam. Mereka meyakini bahwa Pangadaran merupakan perintah tuhan yang diturunkan pada manusia yang kemudian disebut To Manurung Nur atau Cahaya Tuhan.

Pada sekitar tahun 1960an tepatnya di era Orde Baru di ceritakan ada beberapa orang Angge Buntu yang berpindah untuk mencari kehidupan hingga ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Awal mulanya hanya 2-3 orang yang pergi merantau ke Balikpapan, lambat laun orang-orang Angge Buntu membentuk 1 perkampungan yang penduduknya hanya orang Angge Buntu saja. Tepatnya di dusun Angge Buntu, Kel.Karang Juang, Kecamatan Balikpapan Utara tepatnya di Jalan Raya Balikpapan tepatnya di kilometer 21.

Pada era orde baru juga terjadi peristiwa saat orang-orang Angge Buntu dimintai tolong oleh pemerintah untuk memasang tapal batas kawasan hutan lindung di wilayah adat mereka. Mereka kemudian dilarang untuk memasuki wilayah adatnya sendiri dan diawasi dengan sangat intens. Sejak saat itu, orang-orang Angge Buntu harus sembunyi-sembunyi untuk menuju ladang atau sawah untuk menghindari petugas. Beberapa orang Angge Buntu yang ketahuan melintas di kawasan hutan lindung untuk menuju ladang atau sawahnya ditangkap dan tidak sedikit yang dipenjara. Hingga kini Masyarakat Adat Angge Buntu masih mengupayakan untuk memperoleh pengakuan atas Masyarakat adat, Wilayah adat, dan Hutan Adatnya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Sistem pengaturan ruang mengacu pada keadaan bentang alam (topografi). Para leluhur Masyarakat Adat Angge Buntu membagi ruang dalam wilayah adat berdasarkan kondisi alamnya seperti kawasan hutan larangan yang menjadi sumber air berada lebih tinggi dari lokasi pemukiman warga, sedangkan wilayah pemukiman berada pada lereng yang landai. Penempatan sawah dan kebun berada lebih rendah dari pemukiman dengan mengikuti aliran sungai maupun punggungan gunung.

1. Hutan Karama (hutan larangan) adalah wilayah berupa hutan primer yang menjadi daerah serapan air yang disebut alah tua tidak boleh dibabat untuk lahan perkebunan, karena alah tua merupakan penyedia layanan ekosistem berupa air bersih yang dikonsumsi warga dan air untuk pertanian serta menghasilkan oksigen murni, udara yang segar, dan juga berfungsi sebagai penahan longsor. Selain hutan ada juga kawasan yang terlarang berupa batu gamping (formasi karts di daerah Garonga) yang membatasi dusun Asaan dan dusun Dea Kaju. Di wilayah itu terdapat situs kuburan tua dan bekas perkampungan To Jolo. Kawasan itu tidak boleh dirusak karena merupakan salah satu tempat yang bersejarah . Selain itu, bebatuan gamping juga menjadi penyimpan dan penyuplai air untuk keperluan air minum dan pengairan persawahan.
2. Uma adalah lahan (sawah) yang digunakan untuk menanam padi ladang.
3. Pahkampongan adalah wilayah yang dijadikan tempat pemukiman
4. Barabah adalah wilayah yang dijadikan kebun oleh masyarakat.
5. Pinole adalah bekas perkebunan yang sudah ditinggalkan dan sudah menjadi hutan dengan pohon kayu yang berukuran kecil dan sedang. 
Secara garis besar sistem tenurial Masyarakat Adat Angge Buntu terbagi menjadi 3 bagian yakni:

1. Tanah/lahan garapan yang diberikan pengelolaannya kepada ambe kampong yang sedang menjabat atau disebut Uma Di Ongko.
2. Tanah komunal milik keluarga/klan/marga berupa ladang dan sawah yang disebut tana manah atau uma sang penntoan indo yang ditentukan giliran penggarapannya oleh keluarga/klan/marga atau pentoan indo.
3. Tanah milik pribadi adalah tanah atau kebun yand diperoleh dengan cara membuka lahan pertama kali, membeli dari pemilik sebelumnya atau menukarkan dengan sesuatu. Tanah milik pribadi diwariskan kepada keturunan melalui lisan. 

Kelembagaan Adat

Nama Pahkajuan lan Pahkampongan
Struktur a. Tomatua (Ketua Adat) b. Sorong (Pemangku adat yang mengurusi masalah pertanian) c. Tomintaung (Pemangku adat yang memiliki keahlian tentang ilmu perbintangan) d. Sando (Pemangku adat yang bertindak sebagai dokter/shaman di komunitas) e. Pantoean Indo (Pemangku adat yang berkaitan dengan penggarapan lahan)
a. Tomatua bertugas mengambil keputusan tertinggi dalam Komunitas Adat, Tomatua memiliki beberapa orang pembantu yang disebut Parewa.
b. Sorong bertugas memimpin ritual terkait pengelolaan lahan garapan sejak pembukaan lahan sampai pemanenan dan sebagai sumber informasi mengenai pemeliharaan tanaman atau yang berkaitan dengan hama/penyakit,
c. Tomintaung bertugas menentukan waktu-waktu yang baik, seperti: i. Awal menanam padi, ii. Waktu menikah, iii. Mendirikan rumah baru, dll.
d. Sando, bertugas mengobati penduduk-penduduk komunitas adat yang sakit baik melalui kekuatan spiritual maupun ramuan-ramuan tradisional, sando juga dapat membantu warga yang ingin melahirkan.
e. Pantoean Indo, bertugas menentukan penggiliran dalam pengelolaan lahan komunal bagi masyarakat adat dan sebagai sumber informasi terkait pengelola/penggarap lahan komunal secara kronologis dalam penyelesaian sengketa antar-warga yang berkaitan dengan lahan. 
Sistem pengambilan keputusan dalam Masyarakat Adat Angge Buntu dilakukan dengan cara musyawarah melibatkan seluruh pemangku adat, pihak yang terkait, pemerintah desa, dan warga. Dalam hal ini, perempuan dapat hadir dalam proses musyawarah pengambilan keputusan. 

Hukum Adat

Masyarakat adat Angge Buntu memiliki sistem nilai yang disebut dengan Pangadaran. Pangadaran dibawa oleh Tomanurung atau Nur yang menjelma menjadi manusia, dari sanalah muncul perintah Tomatua. Salah satu nilai yang terdapat dalam Pangadaran yaitu aluq na pemali yang bertujuan untuk mengatur keadaan di dunia yang terkait tiga unsur yang disebut lolo tallu yaitu manusia, banrangapa dan to manglise’:
- pangadaran mengatur manusia dengan sang pencipta, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia termasuk leluhur.
- pangadaran terkait barangapa atau harta benda, yang berisi nilai-nilai tentang cara mendapatkan harta benda seperti lahan garapan, ternak, dan lain-lain serta cara mensyukurinya.
- pangadaran terkait to manglise berupa hasil bumi, yang berisi nilai-nilai tentang cara menghasilkan dan/atau mengambil hasil bumi dan mensyukurinya.

Pangadaran juga berisi tentang praktik-praktik ritual adat seperti: a. Ritual yang berkaitan dengan pertanian seperti: pembukaan lahan, pemeliharaan tanaman, dan syukuran atas berkah tanaman, b. Ritual adat rambu tuka’ seperti pernikahan, aqiqah, dan acara naik rumah baru, dan c. Ritual adat rambu soloh yang terkait acara kematian. Adapula yang disebut sebagai pangadaran tojolo ada di kenal kada sangpulo tallu lampana.

Pangadaran terkait kondisi pahkampongan.
Pangadaran terkait Pahkampongan (Perkampungan) dilaksanakan jika terjadi Marambun rambun to padang atau fenomena saat terjadi kekacauan dan musibah yang berkepanjangan seperti kemarau berkepanjangan dan serangan hama ke tanaman. Apabila terjadi hal itu maka berkumpullah pemangku adat beserta warga menggelar ritual untuk memohon keselamatan yang disebut mempala’ pala’ yang diadakan di rumah. Pada saat terjadi kemarau panjang, diadakan ritual to’ tarung dekat jalan poros ke dusun Dea Kaju yang dihadiri oleh masyarakat dan dipimpin oleh Sorong.

Pangadaran terkait pertanian.
Sebagian besar Komunitas Adat Angge Buntu percaya bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pada dasarnya memiliki penjaga yang diberikan kuasa untuk menjaga dan memelihara material tersebut yang biasa disebut Nabinna (nabi). Untuk melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu harus merujuk pada pesan atau petunjuk Pangadaran sebagai bentuk penghormatan terhadap pencipta dan kepada yang dipercayakan (para leluhur). Sebagai salah satu contoh terapan Pangadaran dalam pertanian adalah pelaksanaan ritual-ritual berdasarkan proses pengelolaan lahan garapan sebagai berikut:
- Ritual Massima Padang yang dilakukan sebelum pembukaan pengolahan lahan, warga meminta pada Sorong untuk melakukan ritual doa di lahan yang akan dikelola.
- Mang Paliu Wai yang dilakukan sebelum masuk musim tanam yang di adakan di hulu sungai atau ulu kaloh.
- Ritual Rundun Banne dilakukan setelah tanam ada namanya mang rundun banne.
- Ritual Mang Talloh Talloh dilakukan sebelum padi berbuah ada ritual yang dilakukan oleh penggarap lahan.
- Syukuran Panen dilangsungkan di rumah dan dilakukan secara individu oleh setiap warga yang telah panen.

Adapula pemahaman bersama untuk tidak melakukan jual beli lahan di wilayah adat, tapi jika ada yang menjual lahan maka dikenakan sanksi moral/sosial yaitu di kucilkan dari komunitas adat.

Masyarakat adat juga tidak diperbolehkan untuk mengambil hasil hutan di wilayah hutan keramat. Bagi yang melanggar dikenakan sanksi moral/sosial yaitu dikucilkan.

Hasil hutan berupa kayu diperoleh melalui izin tokoh adat untuk kebutuhan membuat rumah dan tidak boleh diperjualbelikan. Bagi yang melanggar dikenakan sanksi moral/sosial yaitu dikucilkan.

Tidak boleh menebang pohon di dekat sumber air dan sepanjang sungai yang dapat menyebabkan bencana alam. Bagi yang melanggar dikenakan sanksi moral/sosial yaitu dikucilkan. 
Apabila terjadi perbuatan asusila atau pencurian dalam kampung maka yang bersangkutan akan di sumpah dengan menjalankan ritual adat yakni menyembelih 3 ekor ayam.
Jika ada penduduk yang ketahuan selingkuh maka dikenakan sanksi adat yaitu diusir dari kampung. 
Kasus terakhir yang dihadapi terkait sengketa status tanah antar warga pada tahun 2000-an. Status tanah yang disengketakan adalah antara hak milik pribadi dan hak komunal yang digilirkan penggarapannya. Sengketa tanah diselesaikan secara adat dengan keputusan membagi wilayah/lahan garapan yang disengketakan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat : padi, ubi, singkong, dan jagung. b. Buah-buahan : mangga, nangka, pisang, kelapa, durian, naga, dll. c. Protein : Ayam, Sapi, Kambing, Kerbau, dan Ikan d. Sayuran: tomat, cabe, daun kelor, umbut, bunci, kol, dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kunyit dijadikan sebagai bedak beras dan dijadikan sebagai obat demam serta sakit perut. 2. Jahe, lengkuas, dan sirih dijadikan sebagai campuran ramuan obat-obatan. 3. Kaju jawa dijadiakan sebagai obat luka dan penyakit dalam. 4. La’kaq busu untuk obat demam. 5. Kaju ra’da untuk penambah air asi, 6. Kadingeh untuk demam, 7. Pao-pao untuk sariawan, 8. Benugu yang diambil bagian kulitnya untuk demam dan malaria, 9. Balantagi untuk sakit perut, Dan tanaman obat lainnya seperti daun belante matasak, pe’pak cendana, reu danga-danga, sarambu allo, lempujang, ca’kuh, kariango, Panini, kunyit lotong, tammu-tammu, lengkong lea, kanning-kanning, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu jati, Kayu bitti, Kayu pinus, Kayu mahoni, Kaju asa, Tedokan, Palli, Belalang, Katangka, Bakan Lamba (Kayu Uru), Bakan Panasa, Nato Lea dan Nato putih, bambu dan pohon Banga sejenis tumbuhan palem. Passe’ untuk penerangan tradisonal.
Sumber Sandang Kayu Lipoh yang dulu digunakan untuk membuat baju adat.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu cengkeh , kunyit , cabe, tomat dan lada/ merica, kemiri, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Merica, Palawija (Tomat, cabe, dll), Kopi, Cengkeh, Kemiri, Gula merah, dll.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang 1 Tahun 2016 Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Enrekang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen