Wilayah Adat

Krama Adat Sembalun Bumbung

 Teregistrasi

Nama Komunitas Krama Adat Sembalun Bumbung
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten/Kota LOMBOK TIMUR
Kecamatan Sembalun
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.057 Ha
Satuan Krama Adat Sembalun Bumbung
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat Montong Duri, Pegunungan Pusuk, G. Lopak, G. Kanji, G. Batu Nunggang, G. Telaga
Batas Selatan B. Ceret, G. Montong, G. Sebau, Lokok Sebau, Montong Duri (Desa Sapit)
Batas Timur Anak Dara, G. Cempaka, Montong serae, Belukus Putek, Montong Paku, Lembah Goar, M. Senotok, M. Semaring, B. Upuk-upukan, B. Aek Papan
Batas Utara G. Telaga, Olor Omba, Sapit, G. Anak Dara (Kemangkuan Tanak Sembalun)

Kependudukan

Jumlah KK 986
Jumlah Laki-laki 1375
Jumlah Perempuan 1846
Mata Pencaharian utama Pertanian dan Perkebunan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada abad ke 13 masehi ada perkampungan adat yang terdiri dari 7 buah rumah yang diberi nama “desa beleq” artinya perkampungan tertua. Tujuh buah rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi (melambangkan ashabul kahfi / cerita al qur’an), jika masyarakat bertambah karena ada kelahiran dan pertambaha penduduk dari luar, maka harus membuat perkampungan baru.
Pada abad ke 14 masyarakat asli sudah berkembang dan pendatang dari luar sudah banyak bermukim di perkampungan baru. Sehingga lambat laun masyarakat menyebar dan membuat komunitas masing-masing dengan aturan/awik awik sendiri yang disesuaikan dengan perkampungan induk ataupun yang dibuat sendiri sesuai dengan daerah tempat yang baru.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pada mulanya sistem pembagian tanah di wilayah adat sembalun bumbung dilakukan dengan mengadakan musyawarah para pemuka adat. Sehingga para petinggi adat menunjuk secara langsung siapakah yang mengelola atas tanah yang ada, namun belum dijadikan sebagai hak milik. Kemudian di dalam perkembangannya tanah-tanah tersebut dikelola sebagai tanah komunal. Tanah komunal lama kelamaan di ubah oleh penggarap yang biasanya dijadikan atau dipertukar belikan dengan penggarap lainnya sehingga berpindah tangan 
Menggunakan sistem aguman (bagi-bagi wilayah yang diperuntukkan bagi wilayah tanah kelola). 

Kelembagaan Adat

Nama Krama Adat Sembalun Bumbung
Struktur Pembekel, kiayi, prabekel, pemangku, dan pande.
Pembekel : orang yang menjadi pimpinan pemerintahan adat yang bertugas membentuk kiayi, prabekel, pemangku, dan pande.
Kiayi : Kiayi Adat (bertugas membuka dan menutup acara adat) & Kiayi Agama bertugas membuka dan menutup acara keagamaan).
Prabekel : berfungsi untuk mengurus dan memerintah organisasi peradatan.
Pemangku : bertugas memimpin setiap prosesi upacara adat.
Pande : bertugas untuk mempersiapkan dan mengurus tentang alat-alat yang akan dipakai dalam upacara adat, terutama yang berkaitan dengan alat-alat yang dipakai untuk bertani
 
Menggunakan gundem adat yang dipimpin oleh pemangku adat sesuai permasalahan masing-masing. 

Hukum Adat

Mangku Gumi, mengatur/mengelola tata ruang dan tata letak dimana lokasi yang harus dijadikan pemukiman, persawahan, perkebunan, hutan rakyat, perkuburan, dan lain-lain.
Mangku gawar, mengatur/mengelola khusus hutan (bagaimana harus masuk hutan, aturan memotong kayu, berburu, melakukan ritual di gunung rinjani, mengukur kekuatan benda pusaka di telaga air panas danau segara anak, kewajiban menanam bagi setiap orang yang menebang kayu, dan lain-lain.
Mangku makem, bertugas mengelola, memelihara konservasi mata air dan sumber-sumber air.
Mangku gunung, bertugas mengawasi pegunungan yang ada di daerah sembalun, khususnya di daerah seperti gunung pergansingan, tanak papat, batua, aik semperonan, dan tempat tempat yang memiliki legenda di sekitar wilayah sembalun.
Mangku rantemas, bertugas menjaga dan memelihara serta mengawasi cagar alam dan hutan adat.
Mangku majapahit, bertugas untuk memelihara dan merawat serta melestarikan cagar budaya yang ada.
 
Siruan dan Langaran 
Nyungken : hukuman adat yang berupa diarak keliling kampung atau dinikahkan sebagai akibat dari adanya hubungan yang dilakukan diluar nikah sehingga menyebabkan wanita hamil/mengandung anak diluar pernikahan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Perairan
Ekosistem Suksesi
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi, kacang-kacangan, dan Jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bawang putih, Daun sirih, Kunyit, Laos, dan Pujak
Papan dan Bahan Infrastruktur Jati, Surenjabon, sengon, Gaharu, dan Bambu
Sumber Sandang Kulit Kayu
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Laos, kunyit, sere, cabe, terong, tomat dan sekur.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, Kakao, Cengkeh, dan sayur-mayur