Wilayah Adat

Usal Ponto AI Padeng

 Teregistrasi

Nama Komunitas Usal Ponto Ai Padeng
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Kabupaten/Kota SUMBAWA
Kecamatan Lopok, Lape, Marongge
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.055 Ha
Satuan Usal Ponto AI Padeng
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran,Lahan Basah,Pesisir
Batas Barat Renggeng Salepuk, Dusun Leweng
Batas Selatan Lutuk Pamalat, Kuang Birak,
Batas Timur Tamelong Berata, Lenang Mulir, Desa Muir
Batas Utara Samparsela, Pemasar, Simu

Kependudukan

Jumlah KK 426
Jumlah Laki-laki 448
Jumlah Perempuan 673
Mata Pencaharian utama Meramu, Bertani, Berladang, Beternak, Nelayan, Industri dan Jasa

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada tahun 1528 di sulawesi selatan terjadi perang kerajaan antara kerajaan goa,banjar, bone, dll. Jadi pada saat itu penduduk kerajaan tersebut menyebar diseluruh pulau di Nusantara. Jadi menurut sejarah dan kronologis nenek moyang komunitas Usal Ponto adalah berasal dari kerajaan Goa. Nenek moyang dari kerajaan goa tiba di pulau sumbawa pada tahun1539 bermukim di wilayah Ponto Ai Padeng yang di pimpin oleh raja pasesek. Jadi nama kampung usal dan kampung batu beduk dinamakan oleh raja pasesek. Setelah bertahun-tahun bermukim di wilayah ponto, banyak sekali gangguan oleh faktor alam seperti goram (manusia setan). Namun ketua adat masih bisa meredam gangguan tersebut.
Pada masa pimpinan raja (Dea Moyang) datanglah gangguan seperti penjajahan kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1609. Pada saat Penjajah kolonial belanda, kerajaan-kerajaan kecil yang bermukim di atas gunung diusir dengan dipaksa untuk pindah ke tempat lain. Pada saat itu, Belanda meneliti kawasan yang mereka diami tersebut mengandung mineral, karena kalah perang maka Raja Pesek pindah ke dataran yang lebih rendah. Pada sekitar tahun 1980 karena adanya program pembuatan Waduk Mama’ Maka mereka dipaksa meninggalkan tempat tersebut meskipun dengan berat hati mereka harus lakukan dan masyarakat adat Ponto pindah kebeberapa tempat yang mereka diami sampai sekarang seperti sererok, leweng, dan separuh ke kasilang aik pasang, dan pamasar. Nenek moyang masyarakat usal ponto mendiami kawasan tersebut sampai merdeka. Kawasan Pamasar, Lape, leweng dan Tabose sepakat untuk menjadi satu komunitas adat dengan pusat pemerintahan adatnya di pusatkan di daerah Leweng dan Tabose. Karena tercecernya tempat mereka, maka dari kesepakatan pemuka adat komunitasnya di beri nama USAL PONTO AI PADENG, nama ini untuk mengingat asal keberadaan mereka yang asal usul mereka dari daerah Ponto yang memiliki Situs Mata air yang bernama Ai Padeng (Batu Besar Penanda Kampung).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tua (Hutan), Brang (Kali Besar), Kokar (Kali Kecil), Orong (Sawah), Teban (Kebun), Olat (Bukit), Lutuk (Gunung), Karang (Pemukiman), dan Uma (Ladang). 
Sengger dan di bersihkan (Dilakukan Oleh Balian terhadap makluk halus) selajutnya dimusyawarahkan di dalam forum petinggi adat akan pemanfaatannya selanjutnya kawasan itu dibagi perkeluarga dengan istilah Perau dan kawasan itu tidak boleh dialihkan sampai ada ijin dari Pemuka adat. 

Kelembagaan Adat

Nama Usal Ponto
Struktur Kepala Suku, Wakil Kepala Suku, Imam/Lebe, Balian.
Kepala Suku (Koordinin pemangku adat), Wakil Kepala Suku (membantu ketua), Imam/Lebe (pemuka agama), belian (pengobatan/dukun pada saat ritual adat).  
Musyawarah yang dipimpin oleh ketua suku untuk mencapai keputusan bersama. 

Hukum Adat

Buka tanah (ritual adat padaa saat akan memulai penanaman di ladang dan persawahan).
Buka lahan (ritual yang dilaksanakan ketika akan membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian masyarakat).
 
Bekatoan (tradisi datang ke rumah gadis yang disukai untuk mengenal si gadis lebih dekat lagi), basa putis (tradisi padaa saat akan melamar si gadis untuk dijadikan sebagai istri/lamaran), nyorong (tradisi yang harus dilakukan setelah melamar gadis, yaitu menjemput si gadis kerumahnya dengan izin orang tuanya dan dibawa pulang kerumah, bada pengantan (proses pernikahan), pengantan ngiraeng (tradisi setelah acara pernikahan, yaitu pengantin diarak keliling kampung dengan diiringi oleh kesenian tradisional). 
Setiap orang yang menebang pohon di hutan tutupan akan dikenakan sanksi adat yang berupa sanksi penanaman pohon kembali dan sanksi denda berupa uang. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Ekosistem Suksesi
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi, dan Jagung
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sirih, Pinang, Kunyit, Lengkuas, Daun Kelor, Daun Kemangi.Merica, Suir Merah, Beringin Ode,
Papan dan Bahan Infrastruktur Jati, Rimas, Suran, Kayu Besi, Rotan, dan Bambu
Sumber Sandang Kapas, Pelepah Pisang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, Laos, Kunyit, Sere, Cabe, Terong, Tomat dan Sekur.
Sumber Pendapatan Ekonomi Air Madu, Kayu Jati, Perikanan, tambak ikan air tawar