Wilayah Adat

Sadei Rejang Kayu Manis

 Teregistrasi

Nama Komunitas Rejang Kayu Manis
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota REJANG LEBONG
Kecamatan Selupu Rejang
Desa Kayu Manis
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.141 Ha
Satuan Sadei Rejang Kayu Manis
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Air Simpang
Batas Selatan Air Musi
Batas Timur Air Musi
Batas Utara Bukit Kelam dan Bukit Kambing

Kependudukan

Jumlah KK 238
Jumlah Laki-laki 482
Jumlah Perempuan 314
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Desa Kayu Manis berawal dari perpindahan masyarakat Desa Cawang Lekat ke Desa Cawang Lama pada pertengahan abad ke 19 sewaktu sesudah penjajahan Belanda.

Zaman Kolonial

Pada tahun 1918 Pemerintah Hindia Belanda memasuki wilayah kayu manis dan sekitarnya tepatnya di hulu sungai musi, mulanya kedatangan mereka disana ingin membuat kebun kopi dan menjual rempah-rempah. Untuk menampung Hasil kopi mereka pun membuat pabrik kopi yang mana pada saat itu merupakan pabrik kopi terbesar di Provinsi Bengkulu. Untuk karyawan pabrik mereka pun mendatangkan buruh pabrik dari pulau jawa dengan system kontrak. Ternyata kedatangan Belanda membuat masyarakat Kayu Manis merasa resah karena tidak sedikit lahan masyarakat di ambil secara paksa atau di ganti dengan imbalan yang tidak setimpal. Melihat keadaan ini masyarakat pun melakukan perlawanan dengan melakukan perang gerliya. Pada tahun 1926 secara berangsur-angsur Belanda mulai meninggalkan wilayah Kayu Manis dan sekitarnya dikarenakan mendapatkan perlawanan yang sengit dari masyarakat kayu manis dan perkebunan kopi mereka yang tidak prodiktif lagi.

Selain di jajah oleh pemerintah hindia Belanda pada tahun 1942-1945 masyarakat Kayu Manis juga mengalami penjajahan pemerintah Jepang. Pada masa penjajahan pemerintahan Jepang masyarakat Kayu Manis mengalami penderitaan yang sangat serius,hampir seluru masyarakat Kayu Manis mengalami kelaparan yang dikarenakan pemerintahan Jepang melarang mereka untuk menanam padi untuk mengatasi ini sebagian masyarakat terpaksa menanam ubi-ubian.

Setelah penjajahan pemerintahan Hindia Belanda dan penjajahan pemerintahan Jepang barulah masyarakat Desa Kayu Manis meniti kehidupan dengan lebih baik. Mereka pun kemudian mengangkat seorang Gindei ( Depati ) yang bernama Gindei Jamak.
Sampai saat ini di wilayah Dusun Kayu Manis masih terdapat beberapa peninggalan penjajahan pemerintahan Belanda yang berupa jalan Belanda dan puing-puing bekas pabrik kopi.

Zaman Kemerdekaan: Sadei ( Dusun ) Kayu Manis
Pada tahun 1947 ada empat orang dari suku Selupu rejang yang berasal dari Dusun Cawang Lama yang membuka lahan eks perkebunan penjajahan Pemerintah Belanda mereka adalah : Ali, Resin, Bakek, Ukek, Basui dan Mera. Keempat warga Cawang Lama ini kemudian membuat pemukiman diwilayah tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu wilayah kayu manis kemudian mulai didatangi oleh masyarakat di sekitarnya dengan tujuan untuk berkebun atau menjadi buruh kebun dengan banyak masyarakat yang berkebun memilih menetap maka wilayah Kayu Manis pun mulai dipadati pemukiman, selain pendatang yang bermaksud ingin berkebun masih banyak orang Jawa yang merupakan bekas buruh pabrik kopi pada zaman penjajahan Belanda mereka sebagian besar memilih untuk menetap disana. Melihat sudah mulai banyaknya penduduk maka masyarakat pun melakukan sebuah musyawarah untuk membuat sebuah Talang yang kemudian diberi nama Talang Kayu Manis. Asal nama Talang Kayu Manis itu di ambil dari wilayah itu sendiri yang banyak ditemukan pohon kayu manis. Secara administratif Talang Kayu Manis masuk kewilayah Desa Cawang Lama yang merupakan Desa terdekat dari Talang Kayu Manis.

Pada tahun 1949 Belanda untuk yang kedua kalinya kembali memasuki wilayah Kayu Manis namun kedatangan mereka mendapatkan perlawanan dari masyarakat Kayu Manis. Melihat perlawanan sengit dari masyarakat Kayu Manis pasukan Belanda pun akhirnya meninggalkan wilayah tersebut.

Pada tahun 1984 Talang Kayu Manis memekarkan diri dari Dusun Cawang Lama dan merubah Talang Kayu Manis menjadi Dusun Kayu Manis dengan luasan 2.135 Heaktar dengan Gindei ( Depati ) Pairan setelah itu diteruskan dengan Gindei ke2 Gindei Pandi kemudian diteruskan dengan Gindei ke3 Gindei Joko dan Gindei ke4 Gindei Martin. Saat ini jumlah penduduk Dusun Kayu Manis mencapai 796 jiwa yang tersebar ditiga Talang yaitu : Talang Kayu Manis, Talang Sumpel, Talang Blok 40

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Kawasan Lindung
2. Kawasan Penyanggah
3. Kawasan Cagar Budaya
4. Kawasan Kelolah dan Pusat Aktivitas 
Individual dan Komunal 

Kelembagaan Adat

Nama Kutai
Struktur Struktur Kelembagan Adat a. Kepala Adat, 1 (satu) Orang b. Penggawa, 1 (satu) Orang, c. Tuei Kutei, 4 (empat) Orang dan d. Pelimo
1. Tuei Sadei: Kepala Dusun yang sekaligus merangkap menjadi Kepala Adat yang hanya berwenang melegalkan keputusan yang telah di Musyawarahkan oleh Ketua Kutai.

2. Penggawa adalah wakil dari tue sadei yang berhak memutuskan musyawarah adat apabila tue sadei tak dapat mengahadiri Musyawarah adat.

3. Tuei Kutei adalah perwakilan dari masing-masing keluarga 4 suku yang ada di Kutai/dusun, Ketua Kutai ini merupakan orang yang dituakan dimasing-masing keluarga/clan yang dipilih oleh masing-masing keluarga/clan yang bersangkutan, untuk kasus-kasus tertentu Ketua Kutai ini hanya sebagai Pembela bagi keluarga/clan yang diwakilinya
4. Pelimo adalah orang yang dipercayakan untuk mengamankan kawasan wilayah adat, mengamankan upacara adat, dll. 
Musyawarah Adat 

Hukum Adat

1. Kedurai adalah ritual pemberitahuan kepada penguasa gaib sebelum pembukaan hutan untuk lahan.

2. Meniges adalah aktivitas pembersihan awal ketika akan membuka lahm pertanian, pada proses ini masyarakat selupuh mempercayai adanya bisikan gaib apakah lahan tersebut bagus untuk areal pertanian atau tidak.

3. Ngepoa adalah proses pembakaran hutan, dilakukan sedemikan hingga tidak terjadinya kebakaran yang lebih luas.

4. Beto'ok adalah aktivitas pertanian dengan menarurm
padi darat denganpola organik.

5. Kiyeu setimbang Alam adalah penyebutan untuk pohon yang berada di sepanjang aliran sungai yang dilarang untuk ditebang.

6. Kiyeu Celako adalah sejenis kayu tertentu yang dilarang untuk ditebang 
1. Iram tiado berdarah adalah tindakan seseorang yang memukul orang lain sehingga membuat orang lain tidak senang dan membawah perkara tersebut ke pengadilan adat.

2. Cepalo adalah perbuatan seseorang yang berkaitan dengan asusila. Cepalo terbagidalam beberapa bentuk:
1. Cepalo Tangan yang berarti mencuri barang orang lain.
2. Cepalo mata yang berarti melihat sesuatu yang dilarang oleh adat. 
Pada sekitar tahun 2005 pernah terjadi penerapaan hukum adat dikarenakan ada seorang warga kayu manis ketahuan mencuri barang, dia lalu dibawah kerumah ketua adat dan di selesaikan secara hukum adat yang ada. Sang pencuri itu lalu dikenakan sanksi berupa mengembalikan barang yang telah dicuri dengan 10 kali lipat dan memasang perjanjian dengan masyarakat Dusun Kayu Manis supaya tidak mengulangi perbuatannya lagi jika dia kembali mengulangi perbuatannya lagi maka akan dikeluarkan dari dusun Kayu Manis, 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Buatan
Sumber  
Sumber Pangan Padi
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Sirih - Jahe - Pinang - Cintoali
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu kopi, Kakao, Karet, Sawit, Kelapa , Pala, Cengkeh, Teh
Sumber Pendapatan Ekonomi Sap, Kambing, Babi, Kerbau, Domba