Wilayah Adat

Negeri Haruku

 Teregistrasi

Nama Komunitas Haruku (Haru-Ukui Pelasona Nanuroko)
Propinsi Maluku
Kabupaten/Kota MALUKU TENGAH
Kecamatan Pulau Haruku
Desa Haruku
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.444 Ha
Satuan Negeri Haruku
Kondisi Fisik Pegunungan,Pesisir,Bahari (Laut)
Batas Barat Laut Haruku Sebelah Barat berbatasan dengan Petuanan Laut Negeri Tengah-tengah dan Petuanan Laut Negeri Tulehu.
Batas Selatan Laut Haruku Sebelah Selatan berbatasan dengan Petuanan Laut Negeri Tengah-tengah dan Petuanan Laut Negeri Sameth. Petuanan Negeri Sameth dengan batasan alam berupa kebun masyarakat dan Batu Pal buatan Belanda.
Batas Timur Petuanan Negeri Oma, Petuanan Negeri Sameth, dan Petuanan Negeri Kabau dengan batasan alam berupa kebun masyarakat dan Batu Pal buatan Belanda.
Batas Utara Laut Haruku Sebelah Utara berbatasan dengan Petuanan Laut Negeri Kabau dan Petuanan Laut Negeri Rohomoni. Petuanan Negeri Rohomoni dan Petuanan Negeri Kabau dengan batasan alam berupa Pohon Kenari, Gunung Amantoumoi, kebun masyarakat dengan pohon Gadihu (Puring), Tebing, Batu Karang, dan Walsanai (Sungai Musiman).

Kependudukan

Jumlah KK 712
Jumlah Laki-laki 1609
Jumlah Perempuan 1800
Mata Pencaharian utama Petani/Pekebun, Nelayan, dan Pemburu

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Persebaran penduduk di Maluku berasal dari Pulau Seram. Oleh karena itu Pulau Seram dinamakan Nusa Ina atau Pulau Ibu. Konon hiduplah Raja di Nunu Saku yang terletak di Pulau Seram. Raja itu mempunyai 2 orang anak laki-laki yang saling berselisih berebut mahkota kerajaan. Untuk mencegah terjadinya perang antar saudara, kedua anak raja ini pergi ke Pulau Haruku bersama pengikutnya. Mereka mendiami tempat secara terpisah satu sama lain. Dituturkan bahwa pengikut anak raja yang pertama berjumlah Sembilan orang yang kemudian disebut Patasiwa. Adapun pengikut anak raja yang kedua berjumlah lima orang yang kemudian disebut sebagai Patalima. Perbedaan keduanya dapat dilihat dengan mudah dari bentuk simbol balileo. Sebelum agama masuk, kelompok Patasiwa dicirikan dengan Rumah Adat berupa rumah panggung yang disebut Balileo, sedangkan kelompok Patalima membuat Rumah Adat yang menapak tanah.

Awal mula masyarakat adat Haruku pada zaman dahulu tinggal dan mencari makan dengan cara berburu dan berladang di pegunungan pulau.Salah satu kelompok Patalima mendiami wilayah gunung yang pada waktu itu disebut dengan Negeri Lama. Kelompok itu membentuk enam (6) Aman (Kampung) yaitu:
• Aman Huing di sebelah selatan wilayah,
• Aman Hendatu yang merupakan kampung orang pertama
• Aman Heratu sebagai tempat kedudukan Raja
• Aman Nuwei yang bermakna “kampung di bawah”
• Aman Kupau yang menjadi tempat pertemuan dan situs-situs peninggalan leluhur
• Aman Hatu atau kampung di atas batu
Pada masa itu terjadilah Perang yang menyebabkan Aman Hendatu berpindah dan menjadi Aman Toumoi untuk mengawasi wilayah perbatasan.

Berkumpul bersama selalu dilakukan untuk membicarakan baik itu menyangkut wilayah maupun peperangan yang terjadi antar suku di Maluku pada saat itu. Dikisahkan bahwa dari berbagai peperangan yang terjadi pada saat itu, terdapat sebuah perjanjian antara Marga Latuharhary dari Negeri Haruku dan Marga Tahya dari Negeri Sameth. Perjanjian ini biasa disebut dengan Sou Pata Totu dengan lagu yang sering dinyanyikan saat upacara pemasangan Hongkotu dan Bumbungan Baileo di Negeri Sameth maupun Negeri Haruku yang berjudul Sopa Mia O. Perjanjian itu menggambarkan hubungan kuat antara kedua marga karena saling membantu ketika perang. Isi perjanjian itu menyataan bahwa apabila Hongkotu dan Bumbungan Baileo Haruku dipasang merupakan kewajiban Marga Tahya dari Negeri Sameth yang mengerjakan begitu pula sebaliknya. Inilah yang mengawali hubungan kedua negeri bertetangga yang adalah satu jemaat sehingga ada kapata tua yang selalu dituturkan apabila terjadi pertikaian antara kedua kampung yang berbunyi “Haruku ke Laut Sameth ke Laut, Haruku ke Darat Sameth ke Darat.”

Pada abad 16,bangsa Portugis datang ke sebuah pulau untuk menjajah dan mencari rempah-rempah. Mereka menyusuri pesisir pantai selatan pulau dan berhenti di Negeri Ama atau yang juga dikenal sebagai Negeri Oma. Penamaan itu berasal dari sebuah kisah Bangsa Portugis yang saat datang melihat orang tua berjalan sehingga mereka menamakan pulau ini dengan Nusa Ama. Bangsa Portugis yang mendarat di pesisir Pulau Ama kemudian membaptis semua penduduk. Negeri Ama ini berhadapan langsung dengan Laut Banda dengan karakteristik laut yang dalam dan ombak yang kuat. Konon ketika gelombang ombak besar menerjang dengan kuat, sauh (jangkar) dari kapal Portugis putus dan terlepas hanyut dibawa arus. Oleh karena peristiwa itu pulau Haruku saat itu mendapat sebutan “Pulau Buang Besi”. Portugis kemudian memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman dengan menyusuri pantai. Akhirnya tibalah mereka di sebuah pesisir berkontur landai dan cukup aman.

Pada saat itu, Kapten Viktor dari Portugis melihat banyak pohon yang sedang berbunga dan terlihat indah di pantai. Ia kemudian bertanya tentang nama pohon itu kepada penduduk setempat. Penduduk menjawab dengan sebutan lokal yaitu Haru-Ukui yang berarti Pohon Baru atau Pohon Waru dan sejak itulah “Pulau Haruku” disebut. Portugis kemudian mendirikan Benteng Selandia di Pulau Haruku dengan memanfaatkan tenaga masyarakat setempat. Portugis lalu memindahkan masyarakat yang tersebar di gunung untuk pindah ke pesisir dekat lokasi dibangunnya benteng Selandia. Wilayah itu kemudian diberi nama Aman Haru-Ukui yang memilki Teong Negeri Pelasona Nanuroko yang kemudian dikenal sebagai “Negeri Haruku”.

Pada tahun 1553 Masyarakat Negeri Haruku mengangkat Raja bernama Hatubesi Rijaukota yang memerintah hingga tahun 1580. Aman-aman yang dahulu ada kemudian berubah menjadi Soa-soa yang hingga saat ini berjumlah lima (5) yaitu: Soa Raja, Soa Moni, Soa Lesirohi, Soa Suneth, dan Soa Rumalesi. Mahkota Raja selanjutnya diturunkan kepada Raja Tunisaha Rijaukota. Tongkat kepemimpinan kemudian diestafetkan kepada Raja Ferdinandus dan keturunannya hingga kini
Pada abad ke-17, babak sejarah di pulau Haruku berubah seiring masuknya Belanda ke Tanah Maluku yang dikenal dengan Space Island atau Mollucas. Ketika Belanda memasuki wilayah Pulau Haruku, terjadilah perang antara mereka dan Portugis. Peperangan dimenangkan oleh Belanda dan benteng Selandia dihancurkan. Belanda kemudian membangun ulang benteng itu dan menamakannya dengan “New Zelandiaa”. Masyarakat Negeri Haruku bersikap netral baik kepada Portugis maupun Belanda.

Pada sekitar tahun 1800an Gubernur Belanda mengundang Raja-raja dari Pulau Lease yang terdiri dari Pulau Saparua, Pulau Haruku, dan Pulau Nusalaut. Raja Noloth dari Pulau Saparua saat itu berlayar hingga Tanjung Totu di Haruku dan membuang sauh di sana karena ada gelombang besar. Sauhnya kemudian putus dan Rajapun meminta pertolongan ke Haruku. Saat Raja Markus Rijaluang (Rizaluang) dari Noloth bermaksud meminta sauh, Raja Haruku sudah terlanjur pergi. Ia kemudian diterima oleh Nona Raja Haruku bernama Aihua Pareta (Helena). Raja Noloth kemudian jatuh hati pada Aihua Pareta saat itu dan kemudian melanjutkan pergi ke Ambon. Di Ambon kedua Raja bertemu dan sekembalinya dari sana, Raja Noloth singgah ke Haruku untuk mengembalikan sauh yang dipinjam. Raja Noloth kemudian meminta Aihua Pareta untuk menjadi istri kepada Raja Haruku dan disetujui. Masyarakat dan Pemangku Adat di Noloth dan Haruku setuju dengan pernikahan itu, Raja Noloth kemudian menuju Haruku untuk menikah. Malam hari sebelum pernikahan, Aihua Pareta meninggal mendadak saat Raja Noloth sudah berlayar ke Haruku. Raja Haruku meminta Marinyo ke Wai Maru untuk menunggu Raja Noloth di sana untuk memanggil turun sang raja dan mengabarkan bahwa Aihua Pareta sudah meninggal. Raja Noloth tetap bersikukuh untuk melangsungkan pernikahan walaupun dengan mayat Aihua Pareta dan tetap menuju kediaman Raja Haruku. Kedua Raja itu setuju untuk pernikahan dengan bertukar cincin antara Raja Noloth dan Mayat Aihua Pareta melalui pendeta Belanda pada jam 10 malam. Pada malam itu diangkat ikatan “Pela Kawin” antara Masyarakat Negeri Haruku dan Masyarakat Negeri Noloth.

Pasca kemerdekaan, sekitar tahun 1950an terjadi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) sampai di wilayah Negeri Haruku. Masyarakat Haruku saat itu banyak yang lari bersembunyi ke hutan-hutan di dalam pulau. Pada tahun 1952 terjadi musibah “gelombang air turun-naik” (tsunami) yang menghantam Negeri Haruku. Namun, saat itu tidak banyak menelan korban jiwa karena banyak dari mereka yang sedang berada di hutan-hutan. Dinamika pemerintahan khas adat di Negeri Haruku mengalami perubahan menjadi “Desa” pada tahun 1970an sejak keluarnya Undang-undang Desa No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Hal itu mengakibatkan tergerusnya nilai-nilai kearifan lokal dalam sistem pemerintahan secara adat. Kondisi itu bertahan hingga munculnya kebijakan otonomi daerah yang mengembalikan sistem kepemerintahan lokal di tingkat desa ke asal mulanya, dari “Desa Haruku” kembali menjadi “Negeri Haruku” pada awal tahun 2000an dan bertahan hingga kini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Daratan:
Ewang: Hutan alami yang dilindungi oleh seluruh Masyarakat Adat, menjadi tempat berburu, dan mencari hasil hutan.
Kabong: Wilayah kebun aktif masyarakat yang ditanami tumbuhan umur pendek seperti kasbi, keladi, pisang, dll.
Dusung: Wilayah hutan masyarakat yang ditanami tumbuhan umur panjang seperti cengkeh, pala, sagu, durian, kelapa, dll.
Aong: Wilayah bekas kebun yang ditinggalkan selama 3-5 tahun untuk kembali ditanami.
Kampong: Wilayah yang dijadikan pemukiman.

Pesisir dan Lautan:
Meti: Wilayah pesisir yang mengering saat air laut surut, tempat untuk mencari bia (kerang), ikan kecil, dll.
Tohor: Wilayah perairan dangkal.
Saaru: Wilayah perairan laut dangkal dan dalam yang dijadikan tempat mencari ikan.

Pembagian Ruang menurut Aturan Adat di atas terikat ke sistem adat Sasi yang mengatur tata pemanfaatan sumber daya bumi di dalamnya. Ada pula beberapa wilayah perairan yang Bebas Sasi sehingga dapat diambil hasilnya kecuali Ikan Lompa. 
Tanah Dati adalah tanah komunal yang dimiliki oleh keluarga yang pewarisannya diturunkan kepada anak laki-laki. Tanah Dati dapat diwariskan kepada keturunan perempuan jika pemilik tidak memiliki keturunan laki-laki.
Jika pemilik tanah tidak memiliki keturunan, maka tanah dapat diambilalih oleh masyarakat atas persetujuan pemerintah adat negeri atau yang disebut sebagai Tanah Dati Linyap.

Tanah Pusaka adalah tanah komunal yang dimiliki oleh keluarga yang pewarisannya diturunkan baik kepada anak laki-laki dan anak perempuan.

Tanah Perusah adalah tanah yang dimiliki Negeri dan sudah pernah diolah yang dapat dikelola (Hak Guna) oleh masyarakat seizin pemerintah negeri.

Tanah Negeri adalah tanah yang dimiliki Negeri dan belum pernah diolah yang dapat dikelola (Hak Guna) oleh masyarakat pendatang atau masyarakat dengan lahan terbatas seizin pemerintah negeri. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Negeri Haruku
Struktur Di tingkat Negeri: Saniri Besar (Dewan Adat yang dapat sewaktu-waktu bertemu dan beranggotakan: Raja, Saniri, Kewang, Kepala Soa, Kapitan, Tuan Negeri/Sekel) Saniri Negeri (Pengawas Pemerintahan/BPD) Raja (Pemimpin Pemeritahan dan Lembaga Adat) Kepala Soa (Pemimpin5 Soa/Kumpulan Marga) Kewang (Penegak Aturan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Pranata Sosial/Sasi) Tuan Negeri dan Sekel (Pengelola Harta Adat dan Petugas Ritual Pelantikan Raja) Kapitan (Pengawal Raja dan Panglima Perang) Marinyo (Narahubung Raja ke Masyarakat) Mungare danJujaro (Pemimpin Pemuda/i) Di tingkat Marga: Kepala Dati (Pengatur Tata Kelola Tanah Marga) Di tingkat Keluarga (Gandong): Bapa Rumah (Pembicara Ritual Siklus Kehidupan) Kepala Soa dipilih melaluimusyawarah antar-marga dengan periode jabatan yang tidak ditentukan untuk Kepala Soa. Raja, Kepala Kewang, Kapitan,Tuan Tanah/Tuan Negeri, danMarinyo dipilih melalui garis ahli waris Mata Rumah. Anggota dalamSaniri dan Kewang dipilih dari masing-masing Soa melalui mekanisme musyawarah antar-marga. Kewang tidak ada batasan periode jabatan sedangkan Saniri memiliki periode 6 tahun. Mungare dan Jujaro dipilih berdasarkan musyawarah antar-pemuda/i dengan periode sesuai batasan usia tertentu.
Di tingkat Negeri:
Saniri Besar
- Menyelesaikan peradilan adat yang tidak dapat diselesaikan di lembaga adat di tingkat Negeri,
- Mengadakan rapat antar-anggota apabila diperlukan.

Saniri Negeri
- Mengawasi jalannya roda pemerintahan di Negeri,
- Mengawasi kinerja Raja Negeri,
- Melaksanakan sidang-sidang dengan Raja apabila dibutuhkan.

Raja
- Menjalankan roda pemerintahan di Negeri
- Bertanggungjawab terhadap seluruh pelaksanaan upacara adat yang dijalankan di Negeri,
- Melakukan rapat Saniri Besar apabila diperlukan,
- Melakukan rapat dengan pemangku atau pejabat adat yang ada di Negeri,
- Menerima harta negeri,
- Bersama Kepala Soa dan Saniri memusyawarahkan pengelolaan tanah Negeri dan Perusah.

Kepala Soa
- Bertanggungjawab dalam pelaksanaan upacara kawin adat di Negeri (Pamoi),
- Bertanggungjawab untuk membawa dan menerima Arta (Harta) keluarga anak-anak Soa,
- Bertanggungjawab untuk membawa dan menerima Arta Negeri,
- Melakukan rapat-rapat Soa di Rumah Soa,
- Bersama anak Soa melayani Kedukaan di dalam Soa,
- Mengawasi anak-anak Soa dalam kerja-kerja Soa,
- Melaksanakan rapat untuk mengusulkan perwakilan Soa yang akan duduk sebagai Kewang dan Saniri,
- Secara bergilir melaksanakan tugas jaga dikantor Negeri.

Kewang
- Melakukan sidang-sidang adat setiap malam Jumat yang berhubungan dengan Sasi,
- Melakukan pengawasan terhadap peraturan dalam Sasi,
- Mengadili dan memberi sanksi kepada pelanggar Sasi,
- Memotong dan menanam Kayu Buah Sasi dari Batang Kayu tertentu untuk penanda itu masuk aturan sasi,
- Memberi tanda Sasi di setiap tempat yang telah ditunjuk seperti Daun Ketupat/Janur,
- Melakukan pengawasan pada labuhan Sasi dan wilayah adat Negeri,
- Melakukan Upacara Panas Sasi (membaca ulang peraturan Sasi) dan Buka Sasi Lompa,
- Membakar Lobe (Daun Nyiur Kering) ketika sudah ada penanda kemunculan Ikan Lompa di sungai dan tepi pantai,
- Mengusulkan kepada raja untuk proses pergantian anggota Kewang,
- Meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga.

Tuan Negeri dan Sekel
- Memimpin Pasawari untuk menerima Raja di Baileo saat acara Pelantikan Raja secara adat,
- Membawa Raja di Baileo untuk acara Pelantikan raja secara adat,
- Mengikuti sidang-sidang Saniri Besar,
- Menunggu Arta Negeri di Baileo,
- Menerima Arta Negeri di Baileo.

Kapitan
- Mengawal dan mengantarkan Raja untuk pelantikan adat di Baileo,
- Pengatur strategi dan memimpin perang Negeri,
- Mengikuti sidang-sidang Saniri Besar,
- Memimpin Pasawari penjemputan tamu undangan yang datang ke Negeri.

Marinyo
- Membacakan titah Raja di setiap sudut Negeri,
- Menjalankan mangkok syukuran panen cengkih,
- Mengantarkan surat-surat dan informasi dari Raja keseluruh masyarakat.
Mungare
- Mengepalai Pemuda Negeri,
- Bertanggungjawab kepada Raja atas masalah yang terjadi di Negeri yang dilakukan oleh pemuda,
- Menerima uang pemuda dari mereka yang membawa Arta Negeri.
Jujaro
- Mengepalai Pemudi Negeri,
- Bertanggungjawab kepada Raja atas masalah yang terjadi di Negeri yang dilakukan oleh pemudi.

Di tingkat Marga:
Kepala Dati: Mengatur atau memimpin musyawarah dalam Marga yang berkaitan dengan tata kelola/penguasaan Tanah Dati dan Tanah Pusaka.

Di tingkat Keluarga (Gandong):
Bapa Rumah adalah orang yang ditunjuk untuk menjadi Juru bicara dalam Acara Nikah, Bawa Arta, dan Orang Meninggal. 
Rapat Marga adalah musyawarah antar-anggota marga untuk menyaring dan menentukan orang yang akan mewakili marga untuk diusulkan ke Mata Rumah sebagai perwakilan.

Rapat Mata Rumah adalah musyawarah antar-anggota Mata Rumah untuk menyaring dan menentukan orang-orang dari tiap marga yang telah diusulkan dari rapat marga untuk mewakili Mata Rumah sebagai calon terbaik Mata Rumah untuk menjadi perwakilan.

Rapat Soa adalah musyawarah yang harus dihadiri oleh seluruh anak Soa untuk menyaring dan menentukan orang-orang dari tiap Mata Rumah yang telah diusulkan dari Mata Rumah untuk mewakili Soa di Kewang, Saniri, dan Pemerintahan Negeri.

Rapat Kewang adalah musyawarah peradilan untuk menghukum pelanggar sasi. Apabila pada tingkatan ini tidak dapat diselesaikan maka akan dibawa ke sidang Saniri Besar

Rapat Saniri Besar bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam dan antar-lembaga adat yang tidak dapat diselesaikan di tingkat lembaga adat. 

Hukum Adat

Sistem aturan Sasiyang dinaungi oleh Kewang terdiri dari dua bagian besar yaitu:
A. Sasi Pengelolaan Sumberdaya Alam
1. Sasi Laut: Mengatur tentang pemanfaatan sumberdaya yang ada di laut.
Labuang (Wilayah Laut)Sasi,
Labuang Bebas Sasi.
2. Sasi Kali: Mengatur pemanfaatan sungai dan cara mengambil sumberdaya yang ada di dalam sungai, seperti ikan, pasir, batu, prilaku mandi, mencuci,kaus, dll.
3. Sasi Hutan: Sasi yang mengatur sumberdaya hasil hutan dan cara mengambilnya.

B. Sasi Dalam Negeri
Sasi dalam negeri bertujuan mengatur tentang kehidupan sosial dan pola hubungan antar-masyarakat di dalam Negeri(kampong).

Peraturan Sasi Laut
1. Batas-batas Sasi Laut adalah mulai dari Balai Pertemuan Negeri Bagian Utara, 200m kearah barat danke selatan sampai ke Tanjung Wairusi,
2. Untuk Ikan Lompa berlaku Sasi di manapun berada selama di dalam wilayah Negeri Haruku,
3. Dilarang menangkap ikan yang berada dalam daerah Sasi dengan menggunakan jenis alat tangkap apapun kecuali dengan jaladan harus dengan berjalan kaki dilarang menggunakan perahu. Penangkapan dengan jala hanya boleh ditebar pada batas kedalaman air setinggi pinggang orang dewasa,
4. Daerah labuang bebas Sasi adalah mulai dari sudut Balai Pertemuan Negeri Bagian Utara sampai ke Tanjung Waimaru’u. Pada daerah labuang bebasSasi ini, diperbolehkan menangkap ikan dengan jaring, tetapi tidak boleh bersengketa. Apabila ada yang bersengketa, maka labuang bebas akan disasi kembali,
5. Pada labuang sasi maupun daerah labuang bebas, dilarang menangkap ikan dengan mempergunakan jaring Karoro (Cantrang),
6. Dilarang merusak terumbu karang dan penagkapan ikan menggunakan bahan peledak.

Peraturan Sasi Kali (Sungai)
1. Batas-batas Sasi di kali dimulai dari muara Wai Learissa Kayeli keRihuwai (Wei Ira), dan dari muara Wai Learissa Kayeli sampai Air Kecil (Wai Memi).
2. Apabila ikan Lompa sudah masuk ke kali, dilarang mengganggu ataupun menangkap. Walaupun terdapat jenis ikan lain yang masuk bersama ikan Lompa tadi ke dalam kali.
3. Pada waktu pembukaan Sasi ikan Lompa, dilarang membersihkan atau membuang potongan ikan Lompa ke dalam kali.
4. Dilarang mencuci bahan dan alat dapur berupa piring-piring kotor dan sebagainya di dalam kali.
5. Dilarang orang laki-laki mandi bercampur dengan orang perempuan. Mandi harus pada tempatnya masing-masing yang diatur sbb;
Untuk orang perempuan – di “Air Besar”,“Air Pohon” Lemong”, “Air Kecil”, “Air Pohon Lenggua”, pada “Sebelah Air” bagian atassampai di “Gali Air” dan yang ditentukan dengan tanda-tanda Sasilain yang ditetapkan Kewang,
Untuk orang laki-laki – di “Air Piting”, “Air Cabang Dua”, pada “Sebelah Air” bagian bawahsampai “Gali Air” dan yang ditentukan dengan tanda-tanda Sasi lain yang ditetapkan oleh Kewang,
6. Dilarang masuk kali dengan perahu bermotor maupun jenis speedboat dengan menghidupkan mesin,
7. Pada tempat mengambil air minum, dilarang mencuci pakaian atau bahan cucian apapun yang melewati tempat tersebut,
8. Dilarang menebang pohon kayu di tepi kali sekitar lokasi Sasikecuali pohon sagu,
9. Dilarang menangkap ikan dengan Bore (bius),
10. Dilarang membuang sampah apapun ke kali.

Peraturan Sasi Hutan
1. Terlarang orang mengambil buah-buahan yang masih muda seperti Nanas, Kenari, Cempedak, Durian, Pinang, dll.
2. Terlarang orang menebang pohon Pinang yang sedang berbuah atau menebang pohon buah-buahan lainnya untuk membuat pagar,
3. Terlarang orang memotong atap (pelepah sagu) yang masih muda(Hahesi) sebelum mendapat ijin dari pemiliknya dan juga dari Kewang,

Jual-Beli lahan hanya ada antar-masyarakat dalam areal pemukiman untuk keperluan membangun rumah. Adapun lahan kebun marga dilarang untuk diperjualbelikan.

Masyarakat luar tidak boleh memiliki lahan di wilayah adat Haruku. Mereka harus mendiami dan menjadi warga di wilayah adat Haruku jika ingin mengelola lahan di negeri haruku.

Masyarakat Haruku yang sudah keluar dan menjadi penduduk wilayah lain, maka secara adat masih menjadi orang Haruku dan masih boleh mengelola lahan di sini jika laki-laki, kecuali ia adalah pewaris tunggal.

Sanksi dari seluruh Sasi misalnya adalah Cambuk 5 kali (tiap Soa 1 x) dan/atau Denda uang dengan besaran Rp. 25.000—Rp. 100.000 (terumbu karang). 
PeraturanSasi Dalam Negeri
1. Terlarang orang membuat gaduh dan ribut-ribut di malam Minggu,
2. Acara di malam hari berupa pesta dan lainnya harus mendapat izin dari Raja Negeri,
3. Terlarang orang ke laut memancing atautabah ikan pada hari Minggu, mulai Pukul 17.00 s/d 19.00 WIT,
4. Terlarang orang ke hutan pada hari Minggu, kecuali ada keperluan yang sangat penting atau pada musim panen cengkih tetapi harus mendapat izin dari Kewang,
5. Terlarang orang menjemur atap, membakar tempurung, rumpu(sampah), dan lainnya di jalan raya,
6. Terlarang orang menjemur pakaian di atas pagar,
7. Terlarang orang membuang rumpu dan air besar kedalam kali,
8. Rumpu-rumpu harus dibuang sekurang-kurangnya 4 meter dari tepi kali dan pada tempat yang telah ditentukan oleh Kewang,
9. Orang perempuandilarang hanya memakai kain sebatas dadasewaktu pulang dari kali.
10. Orang laki-laki dilarang berkain sarung di siang hari, kecuali yang sakit, serta tidak boleh memakai deker (celana dalam) atau salele (melilitkan) handuk dan berkeliaran di jalan raya.
11. Orang perempuan dilarang memanjat pohon di dalam Negeri(Kampong) kecuali dengan pakaian yang sopan.
12. Daerah “Kolam Jawa” dinyatakan tertutup dan dilindungi serta dijaga agar tidak dimasuki oleh siapapun,
13. Masyarakat Negeri Haruku dilarang berjudi dalam bentuk apapun.
Sanksi dari seluruh Sasi misalnya adalah Cambuk 5 kali (tiap Soa 1 x) dan/atau Denda uang dengan besaran Rp. 25.000—Rp. 100.000 (terumbu karang). 
Bulan Juni 2018 terjadi pelanggaran membius ikan di sungai (Bore). Pelaku pelanggar Sasi itu dikenakan hukuman berupa cambuk 5 kali. Tiap-tiap Kepala Soa mencambuk sebanyak 1 kali.
Minggu 22 Juli 2018 terjadi praktik judi di antara warga. Pelanggar dikenakan sanksi yaitu dicambuk dan membuat pernyataan tertulis tidak akan mengulangi. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Karbohidrat: Sagu, Kasbi (Singkong), Ubi Jalar, Talas, Sukun, Pisang, dan Jagung. Protein Nabati: Kacang tanah, Kacang merah, dan Kacang hijau. Protein Hewani: Ikan, Bia (kerang), Lobster, Udang, Teripang, Kepiting, Gurita, Cumi-cumi. Babi, Rusa, Kuskus, Anjing, Ayam, Biawak, Burung, Kodok, Bebek, Telur, dll. Vitamin Sayuran: Pete, Daun Singkong, Belinjo, Sayur Pepaya, MatelMeraya, Daun Kelor, PucukPetatas, Terong, Rebung Bambu, Pakis, dll. Buah-buahan: Cempedak, Durian, Nangka, Rambutan, Manggis, Langsat, Mangga Hutan (Becang, Kwini), Kecapi, Gandaria, Pisang, Pepaya, Kedondong, Duku, Kelapa, Kenari, dll.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Sereh, Jahe, Daun Gatal, Daun Sirih, Pinang, Jeruk Nipis, Kunyit, Santan Kelapa buat Masker Rambut, Ikan Mentah (Sesu).
Papan dan Bahan Infrastruktur Rumbia Daun Sagu untuk Atap Rumah, Kayu Gupasa untuk kusen, tiang, dan rangka perahu. Kayu Titi, Kayu Pule, Kayu Sureng untuk perahu.
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkih, Pala, Merica, Daun Bawang, Kemangi, Seledri, Lengkuas, Jahe, Sereh, Kunyit, Jeruk Nipis, Belimbing (Wuluh), Jeruk Purut, Jeruk Limau, Kenari, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Hasil Kebun: Singkong, Sagu dan olahannya, Cengkih, Pala, Kelapa dan olahannya, buah-buahan, umbi-umbian. Hasil Laut: Ikan Julung, Ikan Tuna, Ikan Cakalang, Ikan Momar, Ikan Komu, Ikan Puri, Ikan Make, Ikan Saku, Ikan Tuing-tuing (Ikan Indosiar), dll. Hasil Ternak: Babi, Ayam, Bebek, dan Anjing.