Wilayah Adat

Lewu Tumbang Bahanei

 Teregistrasi

Nama Komunitas Tumbang Bahanei
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Rungan Barat
Desa belum ada
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 8.870 Ha
Satuan Lewu Tumbang Bahanei
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Desa Tusang Raya (Sei Bahuta Hulu, Sei Balimau, Sei Mias)
Batas Selatan Batas dengan Desa Tumbang Langgah (Sungei Bahuta, Sungei Barinzei)
Batas Timur Batas dengan Desa Sei Antai, Kelurahan Tumbang Rahuyan (Sei Payang, Sei Rutan, Sei Bahanei)
Batas Utara Batas dengan Kelurahan Tehang/Ulek Luwang (Sei Bori - Nyamfiilj dan Desa Tumbang Tuwe (Sei Mias.Tampak Manatu)

Kependudukan

Jumlah KK 137
Jumlah Laki-laki 292
Jumlah Perempuan 254
Mata Pencaharian utama Petani Karet, Penambang Emas dan Berladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Cikal bakal terjadinya Desa ini diperkirakan terjadi sejak abad -15, pada masa itu ada satu keluarga beserta sejumlah Jipen (budak/ pemhantu istilah sekarang) yang berasal dari Tumbang Miri (das Kahaya) yang dipimpin oleh kepala keluarga bernama Timbangan dan istrinya bernama Salung yang belum mempunyai anak pindah ketempat ini.

Dengan membawa barang barang dan he wan temak merelea- pindah- untule mencari- lokasi- tempat- tinggal yang baru. Alkisah keluarga ini menandakan tempat tinggalnya itu apabila ayam jantan peliharaannya berkokok sampai tujuh kali,setelah beberapa hari menyusuri beberapa tempat, akhirya disuatu tempat ayam jantan itu berkokok dengan lantang sebanyak tujuh kali,maka merekapun 'oerlianti" disitu tepatnya didaerah hulu sungai yang tidak diketahui namanya.

Disinilah mereka membangun pondok (Rumah) dan beternak. TIMBANG pun mulai melakukan tebas tebang membersihkan area tersebut untuk tempat berladang dan bercocok tanam, lama bekerja Tim.bang pun merasa haus dan menyuruh Jipennya (pembantu) untuk mengambil air disungai ketika pembantunya turun ke sungai untuk mengabil air, tiba tiba dilihatnya sebuah benda berbentuk BALANGA (balanai/ guci) didalam sungai, karena merasa kaget memberitahukan kejadian tuannya.Timbang. pun- bergegas- turun kesungai dan mengambil balanga tersebut, walaupun terasa aneh dengan kejadian itu, namun Timbangan mempercayai bahwa ada hal ajaib yang akan terjadi pada mereka.

Karena merasa senang mendapat benda itu, sebagai wujud terimakasihnya Timbang melaksanakan pesta syukuran dan menamakan sungai itu dengan nama BAHANOI Atau Bahanei Yang artinya Balanga jantan. Setelah kejadian itu kehidupan keluarga Timbang semakin baik dan temaknya semakin banyak meskipun begitu tetap saja Timbang dan istrinya masih merasa belum lengkap karena masih belum mempunyai anak, karena merasa seperti itu ahirnya Tim bang meminta pertolongan seorang sakti (tabib)bernama MARIN untuk melakukan acara ritual Sangiang agar keluarga Timbang bisa mempunyai anak, lalu diadakan acara dimaksud dan dari hasil ritual tersebut didapatlah petunjuk yaitu Timbang dan Istrinya akan segera mempunyai anak titipan dari seorang gaib yang bemama JATA LUWUK PANGA,orang gaib yang berada di Sei Samba Das Katingan dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi dan beberapa bulan kemudian SALUNG (istri Timbang) pun mengadung dan melahirkan
seorang bayi perempuan yang diberi nama MANYANG.

Sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta,Timbang pun mengadakan pesta dan ritual memandikan anaknya, sesuai dengan syarat yang harus dipenuhinya kepada Jata Luwuk Panga.dan sesuatu peristiwapun terjadi ketika Timbang salah menjalankan syarat tersebut.

Syarat yang diminta Jata Luwuk Panga adalah Timbang harus memandikan Anaknya dengan air dari dalam Balanga (Guci) yang diisi terlebih dahulu dengan air dari sungai itu. Akan tetapi Timbang langsung memandikan anaknya ke sungai dan menaruh Balanga (Guci} itu dihulu sungai. Akibatnya anaknya tersebut tiba-tiba hilang dari hadapannya kembali kealam asalnya menjadi Jata (Gaib). Timbang dan istrinyapun kebingungan dan mencari kemana mana,Timbang mencari disungai clan Salung istrinya mencari di daratan ketika sedang meneari itulah tanpa mereka sadari merekapun berubah menjadi seorangJata (gaib).

Dilain cerita ,bertepetan dengan kejadian itu, ada seorang sakti lain yang bernama SAHAWUNG (ayah Tambun
riungai) mendengar kesaktian Marin dukun / sangiang yang melaksanakan ritual tersebut, maka Sahawung pun datang untuk menguji kesaktian Marin sang dukun Sahawung meminta Marin mengambil segumpal darah hewan-hewan korban ritual tersebut dan menjadikannya sebuah biji buah PAKEN (sejenis durian) dengan kesaktiannya Marin pun bisa memenuhi permintaan Sahawung, biji itupun diambil dan ditanam oleh Sahawung dengan dilengkapi berbagai sumpah serapahnya yaitu apabila kelak ada yang berani memanjat dan mengambil buahnya maka: Apabila yang memanjat laki-laki atau perempuan yang belum menikah maka akan meninggal di usia muda, dan apabila yang mernanjat sudah menikah maka akan mati berdarah. adapun bentuk buah tersebut mirip buah
lahung (bahasa dayak) berduri panjang dan rsr daging buahnya berwana merah dan berlemak.itulah sebabnya
buah ini dinamakan Paken Lahung dan tempat itu sekaligus dinamakan kaleka Paken Lahung hingga sekarang.

Peninggalan peninggalan terse but masih ada hingga sekarang berupa:
1. Kaleka (bekas tempat tinggal/pemukiman ) dibeberapa tempat.
2. Sandung dan Pantar (bekas pelaksanaan ritual tiwah) dibeberapa kaleka.
3. Karamat (tempat sakral atau tempat mediasi dalam pemanggilan roh leluhur) dibeberapa tempat.
4. Tajahan (tempat pemindahan peralatan ritual tiwah,pemindahan roh gaip,tempat pertapaan
leluhur)dibeberapa tempat.
5. Sungai (asal nama sungai) yang ada diwilayah DesaTumbang Bahanei.
6. Bukit (asal nama bukit)yang ada diwilayah Desa Tumbang Bahanei.

Dilain kisah hingga kini disaat saat tertentu Timbang dan Selung istrinya sering mendatangi kampungnya (pada saat ada acara ritual sanwan~ dikampungjdan berpesan apabila ada warga yang merninta pertolongan mereka, maka warga diminta melakukan ritual memanggil mereka dengan bahasa khusus(manawur) dan mereka akan datang memenuhi panggilan tersebut. Sejak tahun 194ยง beberapa keluarga mulai datang ketempat ini untuk membuat ladang dan bercocok tanam, dengan membuat tempat tinggal berbentuk pondok dibeberapa tempat terpisah kedatangan keluarga dimaksut berasal dari beberapa tempat yaitu:
1. Keluarga MEDAN SUMAN ( Bapak HANE) asal Desa Tumbang Kuayan (Tahun1948)
2. Kelurga LESA flAMEK ( Bapak LEO) asal Desa Sei Antai (Tahun 1948)
3. Keluarza DESAN KAJAU (Banak HETEL) asal Desa Sei Antai (Tahun 1949)
4. Keluarga SUKUI RINTUNG (Bapak DIMUN) asal Desa Sei Antai (Tahun 1951)
5. Keluarga JANAN (Bapak MASIAH) asal Desa Tumbang Kuayan (Tahun 1961)

Pada masa itu daerah ini masih banyak berbentuk hutan rimba , sehingga beberapa keluarga ini dengan mudah membagi wilayah hutan untuk tempat berladang dan bercocok tanam. Proses kehidupanpun terns berlanjut dan terus bertumbuh, sehingga pada Tahun 1989-1990 kelima kelompok keluarga ini telah bertumbuh menjadi 25 kepala keluarga(Kk) Masyarakat disini sudah mulai hidup secara berkelompok dan 'mulai tinggal menetap.tanda-tanda pemerintahanpun sudah mulai ada.

Pada tahun 1990 datang surat dari pemerintah Desa Tumbang Kuayan , tertanda HUKE TINGKES (Kepala Desa) atas perintah Camat Rungan tertanda ICUK SIMPEI (Camat) memerintahkan untuk mendata masyarakat disini clan ditunjuk DUNAL SUKUI RINTUNG (Bapak ETER) sebagai koordinator pembengunan / RT, dibawah memerintahan Desa Tumbang Kuayan dan status tempat ini ditetapkan menjadi Dukuh Tumbang Bahanei,
Kecamatan Rungan, Kapupeten Kapuas.

Pada tahun 1991 pemerintah desa Tumbang Kuayan melaksanakan rapat disini,dan menetapkan status Dukuh Tumbang Bahanei dinaikan statusnya menjadi dusun dengan Nama DUSUN TUMBANG BAHANEI,yang diambil dari Nama Sungai yang tidak jauh dari Desa Tumbang Bahanei saat ini (Muara Sungai Bahanei).dan dipilih NUMAI SLEMAN sebagai kepala dusun, untuk jabatan 1991-1996.

Karena banyak pekerjaan dn urusan keluarga yang tidak dapat ditinggalkan, pada tahun 1995 kedudukan kepala
dusun dilimpahkan kepada RONGOK LAMARI, bersama dengan itu,sarana pendidikan mulai masuk kedaerah
ini.maka didirikan sekolah SD secara swadaya masyarakat dengan kepala sekolah dipimpin oleh HERNIMUS TOEPAK. Beberapa tahun kemudian jabatan kepala dusun digantikan oleh KARLI N.S JURAN untuk jabatan 1999-
2004. Saat itu kabupeten Gunung Mas Baru dimekarkan dari kabupeten Kapuas Tahun 2002. Akan tetapi baru menjalankan tugas selama tiga(3) buIan, KARLI N.S JURAN meninggal dunia untuk mengisi kekosongan Jabatan maka ditunjuklah Suley Medan sebagai pengganti kepala Dusun sampai bulan Mei tahun 2005 masih dalam status penjabat sementara posisi kepala dusun digantikan oleh SUDAR JANAN untuk jabatan 2005-2006.

Pada tahun 2007 masyarakat Tumbang Bahanei memilih kepala Desa untuk pertama kali, maka terpilih saudafa
SUDAR JANAN sebagai kepala Desa pertama untuk jabatan 2007-2013. Pada tanggal 24 Oktober 2013 dilaksanakan lagi pemilihan kepala Desa, dan terpilih saudara GEORGE GIO I. NANYAN untuk jabatan 2014-2020/ sampai sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Duyun:
Hutan yang masih lebat, banyak pepohonan besar, jarang tersentuh manusia banyak.
2. Himba Cagaran Malan:
Hutan yang dijadikan cadangan untuk berladang
apabila lokasi tempat berladang dipakai untuk
penggunaan lain
3. Himba Gita:
Hutan yang; banyak berisi pohon karet yang tumbuhnya secara alami oleh biji-biji karet yang
tersebar di area tersebut.
4. Himba Lakau (Bahu Lakau):
Hutan yang lokasinya dekat kampung dan pernah dijadikan untuk tempat berladang, ditinggal lama sehingga pepohonan di area tersebut sudah besar
5. Himba Rutas:
Hutan yang dijadikan tempat sakral karena pernah terjadi kejadian musibah alam yang menimpa manusia
6. Bukit Kules:
Hutan termasuk dalam area himba lakau, tetapi karena terdapat banyak bunga-bunga yang bersifat aneka taman dan aliran sungai yang memungkinkan untuk dijadikan tempat wisata
7. Karamat Bukit Gan tung:
Tempat sakral yang mempunyai area yang besar dari area lain didalam wilayah adat tumbang Bahanei
8. Tajahan/Pahewan:
Lokasi sakral yang berisi kaleka (bekas tempat tinggal leluhur jaman dulu), tempat bersemayaman roh-roh halus dan pernah sebagai tempat upacara tiwah
9. Lewu:
Kampung/ Desa tempat tinggal anggota komunitas  
1. Milik bersama
2. Milik perorangan (Warisan, Jual Beli, dan Membuka
lahan sendiri)  

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Rungan Barat
Struktur Pengurus Komunitas Adat, Mantir Adat (3 rang), Tokoh Adat dan Tetua Adat
1. Pengurus Komunitas Adat :
Susunan Orang-orang yang mengurus Komunitas Adat dan Pengelolaan Tata Ruang dalam Wilayah Adat
2. Mantir Adat :
Memimpin dan memutus akhir persoalan yang menyangkut berbagai persoalan terkait adat
3. Tokoh Adat :
Tokoh yang dipercaya sebagai pemberi saran dan penengah dalam persoalan
4. Tetua Adat :
Penasehat dan nara sumber asal usul tata ruang yang ada dalam wilayah adat apabila terjadi persengketaan persoalan yang menyangkut tanah, air, hutan adat
yang ada dalam tata ruang.  
Musyawarah dan Mufakat (Pumpung Pakat)
 

Hukum Adat

Sudah ada tertuang di dalam buku Hukum Adat yang berisi pasal-pasal dan ayat yang mengatur pengelolaan tata ruang serta penerapan denda nya
 
Turun temurun dari leluhur sampai sekarang secara tertata rapi dan tertulis mengikuti proses yang sama seperti yang lainnya sesuai tempat dan wilayahnya, dipakai ketika berlangsung pada acara perkawinan secara adat, acara balian, acara tiwah, dll

Gotong royong di dalam komunitas secara langsung dalam berbagai kegiatan, contohnya : Kematian, Perkawinan, dll 
Penerapan denda terhadap anggota komunitas yang terbukti menebang kayu karet milik anggota komunitas lainnya dan di Jipen (Denda) dengan rincian 1 Batang Karet senilai 2,5 Jipen (1 .Iipen = 100.000) atau senilai 250.000 (Dua Ratus Ribu Rupiah) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi kayu, ubi jalar, jagung manis, keladi, kacang panjang, bajei, rehung, humbut rua, humbut nange, pakis tabantal, rimbang, kanjat, lempang, paria, tantimun, baluh puti, baluh bahenda. Buah - buahan : Durian, mangkahai, Bua Paken Lahong, rambai, tongkoi, bua karanji, katiau, embak, binjai, barania, manggis, tangkuhis, langsat, mawuh, hakam dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan Saluang belum, pasak bumi, tabat barito, bajakah bahenda (Akar kuning), uhat sungkai, uhat panahan (obat sakit gigi]. Tumbuhan untuk membuat kasai Kalanis, henda bangapan, akar teken parei.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu banuas, palepek, mahadirang, tabalien, mahalilis, bangkirai, romperig, lerrtang, mahambung dll
Sumber Sandang Penyesuaian dengan perkembangan jaman, tetapi ketika ada acara ritualnya tetap memakai atribut pakaian yang melarnbangkan adat.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, lai, kambasarai, langkuas, suna, dawen sungkai dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Penyadap karet, penambang emas, berdagang kebutuhan ekonomi