Wilayah Adat

Orang Rimba Makekal Hulu

 Teregistrasi

Nama Komunitas Orang Rimba Makekal Hulu
Propinsi Jambi
Kabupaten/Kota TEBO
Kecamatan Muara Tabir dan Muarosebo Ulu
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Orang Rimba Makekal Hulu
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat
Batas Selatan
Batas Timur
Batas Utara

Kependudukan

Jumlah KK 122
Jumlah Laki-laki 267
Jumlah Perempuan 266
Mata Pencaharian utama Kebun Karet, Berburu, Hasil hutan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal muasal orang rimba yang diyakini sampai saat sekarang oleh orang rimba Makekal Hulu berasal dari buah kelumpang. Pada zaman dulu ada seseorang yang datang kewilayah Makekal disebut namanya Bujang Perantau yang datang dari kerajaan Minang Kabau. Bujang Perantau berjalan-jalan disekitar Sako Rompon wilayah Makekal, didalam perjalanannya Bujang Perantau menemukan buah kelumpang yang sangat besar. Karena heran melihat buah tersebut sangat besar, lalu buah tersebut diketok-ketok dengan pedang yang salalu dibawa oleh Bujang Perantau. Setelah buah kelumpang diketok-ketok oleh Bujang Perantau, tiba-tiba buah tersebut pecah dan munculah seorang wanita. Perempuan tersebut dipercaya oleh Orang Rimba adalah Dewi/Dewa Kelumpang (nenek moyang Orang Rimba). Bujang Perantau pun heran melihat buah kelumpang mengeluarkan seorang perempuan, sang perempuan yang keluar dari buah kelumpang pun heran melihat dihadapannya ada sesosok pria yang menatap kearahnya. Lalu terjadilah proses saling berkenalan dan saling bertanya-tanya satu sama lain. Proses perkenalan pun berujung pada ajakan untuk menikah. Karena pada saat itu tidak ada orang yang dapat menikahkan dua orang yang hendak membangun hubungan rumah tangga, maka untuk mengesahkan suatu hubungan pernikahan dengan cara meniti batang bayur. Lalu sepasang calon suami isteri ini pun mencari batang bayur dan ditaruh di atas sebarangan sungai untuk dapat disebrangi oleh calon suami isteri tersebut. Lalu calon pasangan yang ingin menikah ini pun berdiri di masing-masing ujung kayu dan berlari sekencang mungkin dan bertemu di tengah-tengah batang kayu tersebut sampai masing-masing kepala beradu, maka pernikahan tersebut dianggap sah pada waktu itu.

Setelah pernikahan beberapa waktu kemudian mereka memiliki keturunan 4 (empat) orang anak. Anak pertama bernama Dewa Tunggal (laki-laki), anak kedua bernama Peti Gading (laki-laki), anak ketiga bernama Selaroh Pinang Masak (perempuan), anak ke empat bernama Putri Sanggoh Bayo (perempuan). Yang pada prosesnya 4 (empat) orang anak ini menikah, pernikahan yang dilakukan antara anak pertama laki-laki dengan anak ketiga perempuan, anak kedua laki-laki dengan anak ke empat perempuan.

Pada suatu saat Bujang Perantau mengajak keluarga kecilnya “Bedusun behalaman, bejemban betepian, betanam pinang betanam kelapo, bertenak kambing, ayam, itik, kerbau”, yang maksudnya adalah mengajak keluarganya keluar dari hutan atau balik kekampung Bujang Perantau di Minang Kabau. Namun menurut isterinya yang berasal dari buah kelumpang tidak setuju dengan permintaan Bujang Perantau. Karena menurut Dewi Kelumpang jika ia mengikuti suaminya maka akan tinggal hutan tempat asal muasal Dewi Kelumpang. Pertengkaran antara suami istripun terjadi, hingga berujung pada perceraian antara Bujang Perantau dan Dewi Kelumpang, anak pun di ikut dibagikan ikut suami dan isteri yang bercerai. Perpisahan terjadi di Lebung Tanoh Liat Muaro Kembang Bungo Duren Gelondang. Perpisahan diatur dengan istilah adat “Asal belut balek lah kelumpuk, asal tanah balek kejati, asal umat balek kekampung”, artinya pasangan suami isteri ini kembali ke asal masing-masing, bujang perantau berasal dari Minang Kabau balik ke Minang Kabau (dusun), asal Dewi Kelumpang balik ke hutan yang saat ini disebut dengan Makekal. Perceraian Bujang perantau dan Dewi kelumpang diikat dengan sumpah “yang ingin Bedusun behalaman, bejemban betepian, betanam pinang betanam kelapo, bertenak kambing, ayam, itik, kerbau, melancung dengan darah sapi, ayam, itik, kerbau, kambing. Kalau ke aek dag dapat minum, kalau kedarat dag bisa makan, kepucuk idak bepucuk, kebawoh idag bejangkar, dikejar keboh henyang, dikubor tubo, mati berok mati melayang kuning”. Artinya yang bedusun behalaman masuk atau ingin menganut agama diperbolehkan, tetapi tidak boleh behalaman 2 (dua), bedusun 2 (dua). kecuali yang dirimba “stunggang minum, setunggang kincing, situnggang berak, situnggang makan, melancung dengan darah biawak, telegu, musang, babi, keaek ketangkat buayo kumbang, kedarat ketangkap harimau belang, keno kutuk ayam ketuanan, keno sumpah selurah Jambi”. Proses persumpahan yang dilakukan yang dilakukan pada waktu itu, yang bedusun behalaman memegang pangku ubi, yang kembali kerimba memegang pangku gadung.

Maka Dewi kelumpang kembali kerimba, bagi orang rimba hidup didalam hutan kalau belantas gambut, kalau bedinding banel, kalau betap tikai (atap daun), minum air dibungkul kayu atau kepalak guntung (sumber mata air anak-anak sungai), melemakan buah petatal (buah apa saja yang bisa dimakan menjadi sumber makanan bagi orang rimba).

Asal muasal nama Makekal berasal dari kata pembekalan, pembekalan dimaksud pembekalan untuk tempat hidup, tempat mencari nafkah. Pada zaman dahulu orang rimba dipimpin oleh Depati, karena jumlah orang rimba terus berkembang dan semakin banyak, kepemimpinan suatu rombong dipimpin oleh temenggung

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Hutan larangan atau hutan adat berfungsi sebagai tempat upacara adat atau bebalai, pernikahan, tempat para dewa, pranoon (tempat melahirkan), tempat orang meninggal pasoron (rumah orang meninggal), identitas atau simbol adat.
2. Tanoh Prano’on berfungsi sebagai tempat para ibu-ibu yang hendak melahirkan.
3. Tanoh prasoron berfungsi sebagai tempat orang meninggal.
4. Tanoh terban berfungsi sebagai tempat para dewa, secara fisik tempat ini secara struktur tanah mudah longsor.
5. Tanoh Templanai berfungsi sebagai tempat para dewa, secara fisik tempat ini secara struktur tanah mudah longsor dan memiliki jalur air, dan tempat menaruh pakaian para dukun yang tidak terpakai.
6. Tanoh Subon sebagai tempat para dewa, secara fisik dan struktur tanah tempat ini hampir seperti danau dan berlumpur.
7. Kebun hak milik adalah kebun yang dikuasai secara perorangan yang ditananami dengan tanaman karet dan buahan, saat ini sebagian masyarakat adat orang rimba sudah ada yang membudidayakan jernang.

 
1. Hutan Larangan / Hutan Adat adalah tanah yang dikuasi secara komunal oleh orang rimba Makekal Hulu, hutan tersebut digunakan untuk tempat upacara adat, tempat para dewa, tempat orang rimba mengambil hasil hutan, tempat pohon-pohon yang dilindungi oleh orang rimba.
2. Kebun hak milik adalah tanah yang dikuasi oleh perseorangan hasil dari membuka hutan. Lahan tersebut biasanya dimanfaatkan untuk tanaman karet, tanaman pangan (Ubi), dan saat ini sudah mulai ditanamai dengan tanaman jernang.
 

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur 1. Temenggung 2. Wakil Temenggung 3. Penasehat 4. Depati 5. Mangku 6. Anak Dalam 7. Menti 8. Kepala Adat
1. Temenggung : Sebagai pemimpin tubo-tubo (rombong) atau wilayah dari kekuasaan ketemenggungan
2. Wakil Temenggung : Sebagai penerus kata-kata temenggung.
3. Penasehat : sebagai penasehat temenggung dalam mengambil keputusan.
4. Depati : Sebagai penyelesai kasus kriminal atau sengketa di wilayah kekuasaan Ketemenggungan
5. Mangku : Sebagai penyelesai permasalahan
6. Anak Dalam : Sebagai penggerak masyarakat
7. Menti : Sebagai penyampai pesan
8. Kepala Adat : Sebagai pengawas dari temenggung sampai ke Menti. Secara Sturktur tidak ada, tapi kepala adat dapat memberikan nasehat kepada pemimpin orang rimba.
 
Musywarah bersama 

Hukum Adat

Hutan Adat
Hutan Adat atau disebut hutan larangan hutan yang tidak boleh dibuka untuk kebun, karena hutan adat adalah merupakan salah satu bagian identitas masyarakat adat orang rimba.

Pohon Senggeris
Pohon senggeris adalah pohon yang digunakan dan dipercayai oleh Orang Rimba sejak nenek moyang hingga saat ini sebagai pengeras semubun (ubun-ubun) bayi yang baru lahir. Cara penggunaannya, dicungkil atau digores dengan mata pisau sampul kulit luarnya, lalu ditaburkan ke bagian yang lembut pada semubun bayi yang baru lahir. Yang melakukannya dukun tertentu, dilakukan saat memberi nama bayi. Pohon sengoriy tersebut dilindungi secara adat, tidak boleh ditebang atau dilukai agar si bayi panjang umur dan sehat selalu.

Pohon Sentubung
Pada saat bayi lahir, ari-arinya akan ditanam di bawah ruma tanoh perano’on. Lalu di atasnya ditancapkan tiga atau empat batang dahan tanaman sentubung sebagai pagarnya. Sisa batang pohon sentubung yang sudah dipotong akan tumbuh tunasnya, dan dilindungi. Baik pohon sentubung dan senggeris yang telah digunakan akan dilindungi. Satu bayi akan mendapatkan satu pohon sentubung dan satu pohon senggeris. Jadi, bisa dikatakan semakin banyak bayi lahir, akan semakin banyak pohon yang dilindungi.

Sungai
Sungai dimanfaatkan sebagai sumber air bersih, air sungai biasa digunakan lansung untuk air minum tanpa melalui proses dimasak terlebih dahulu. Sungai dilarang keras untuk tempat buag air besar dan kecil, diracun dalam proses mencari ikan.
 
Berinduk semang adalah proses pendekatan dengan pihak perempuan yang disukai untuk kemudian diajak menikah. Proses yang harus dilalui oleh bujang diawali dengan pendekatan dengan keluarga si gadis. Ia harus bisa melakukan apapun yang diinginkan oleh pihak perempuan, sesuai dengan perannya sebagai laki-laki yaitu: “huma tanom, louk ikan, kerajat belanjo”. Karena itu ia harus bisa mencari hewan buruan untuk diberikan kepada keluarga gadis, dan pekerjaan-pekerjaan lain. Kadang-kadang proses ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun, itupun belum tentu diterima oleh keluarga si gadis. Proses ini semacam ujian untuk calon menantu di keluarga gadis tersebut. Apabila ia dianggap tidak mampu memenuhi semua kebutuhan, berarti tidak lulus ujian sebagai menantu. Ia dianggap tidak layak mendapatkan anak gadisnya. Pantun atau seloka adatnya, “si bujang harus bisa menjemput yang jeuh, memikul yang rintang, mendukung yang berat”. Selain itu juga harus bisa menentuko (peduli) pada “sakit poneng, bulu lapor, gabat pingkoh, buruk beik”. Artinya harus peduli apabila ada pihak perempuan yang sakit atau tidak, lapar atau tidak, proses melahirkan, baik atau buruknya. 
Mandi di pancuran gading berzina dengan isteri orang lain.
Mandi di pancuran gading ada hukum yang dinamakan tekalok unok. Tekalok unok adalah sejenis bubuh atau anyaman keranjang yang biasanya digunakan untuk menangkap ikan, berukuran besar namun terbuat dari batang-batang pohon yang berduri tajam yang dijalin dengan akar atau rotan yang sangat kuat. Pasangan yang melakukan pelanggaran tersebut dimasukkan ke dalam tekalok unok tersebut dengan dibekali pisau kecil yang tumpul. Setelah itu mereka akan dijatuhkan ke dalam sungai yang dalam. Apabila dengan pisau itu mereka bisa membebaskan diri dari tekalok unok tersebut berarti mereka dapat bebas dari hukuman dan diijinkan tinggal di kampung halaman, dibiarkan hidup bersama-sama rombong yang ada
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan padi, pisang, tebu, umbi-umbian
Sumber Kesehatan & Kecantikan larengon jao dari akar pohon atau kulit pohon sebagai shampo bagi perempuan orang rimba; Pengendu urat untuk Sakit-sakit Tulang; Ranting menikom untuk Sesak Nafas; Sompodu tanoh untuk malaria; Akar penyegar Untuk Pria Dewasa; Keliliat untuk Rempah mandi anak bayi; Daun ketepeng untuk Obat Kurap; Tobuhungka untuk Sakit Kepala; Celak budak untuk Luka Gesekan, Infeksi; Daun Setajap untuk Sakit Pinggang; Daun Sedingen Untuk Keguguran, Dieare; Lidah Bedok untuk Sesak Nafas; Daun durian untuk Rempah mandi untuk orang sakit; Daun rambutan untuk Rempah mandi untuk orang sakit; Tutup tunggul untuk Malaria; Tengkolak pisang untuk Pusing, Demam; Binatang bubuk untuk Demam, Sakit Kuning; Cerako untuk Kurap; Sengkah mato untuk Sakit Mata; Kukui / Telegu untuk Demam, Serbaguna; Madu sebagai Serba guna, Obat ksurupan anak kecil
Papan dan Bahan Infrastruktur Kebutuhan sumber papan bagi orang rimba masih bergantung kepada hutan, seperti bangunan untuk rumah prano’on, rumah orang rimba, bagunan untuk orang meninggal dll. 1. Rumoh Prano’on terdiri dari kayu yang keras sebagai tiang rumah biasanya menggunakan kayu anak laras, sebagai pengikat kayu dengan menggunakan rotan, sedangkan atapnya bisa menggunakan daun serdang, daun benal. Untuk dinding rumah menggunakan kulit kayu, sedangkan lantainya menggunakan bambu. 2. Rumoh Godong Kalau biasanya menggunakan atap plastik terpal atau menggunakan daun yang lebar. Jenis kayu yang dipakai untuk sumber papan merantih, tampui tengkrawok, petaling, madang, pelangui, pasak, dan banyak yang lain. Lantai terbuat dari bambu.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Jenis tanaman rempah-rempah untuk makanan anak tampui tengkrawok, daun ketopek, serai, kunyit, selado
Sumber Pendapatan Ekonomi Getah karet, Jernang, Rotan, Madu, Damar, hewan Buruan (babi, kijang, rusa, trenggiling)