Wilayah Adat

Ngata Marena

 Teregistrasi

Nama Komunitas Marena
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Kulawi
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Ngata Marena
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Hutan
Batas Selatan Desa O’o (Halu Bonda)
Batas Timur Desa Lawua (Bulu Mangkuho)
Batas Utara Desa Winatu (Uwe Ripo)

Kependudukan

Jumlah KK 170
Jumlah Laki-laki 180
Jumlah Perempuan 120
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada zaman dahulu desa Marena hanyalah hutan belantara dan menjadi tempat persinggahan oleh para penggembala ternak kerbau dari Kulawi yang ingin pergi ke Gimpu (sekarang dikenal dengan nama desa Gimpu), begitupun sebaliknya. Para pengembala memilih untuk beristirahat dan menginap disitu karena alasan bahwa dulunya kerbau tidak akan mampu jalan lagi jika belum mandi. Tempat tersebut dikenal dengan nama Movuhu yaitu tempat kerbau untuk berkubang atau mandi. Movuhu dalam bahasa Kulawi Oma adalah tempat bergenangnya air. Proses terjadinya denangan air dsebabkan oleh adanya tanggul alami yang berbentuk gunung kecil di sekitar sungai yang menampung sebagian air sungai dan air hujan.
Hingga pada suatu hari terjadi bencana alam (banjir) yang merusak tanggul gunung-gunung tersebut. Hingga hanya menyisakan lumpur dan tidak ada lagi genangan air untuk permandian kerbau. Akibat dari bencana banjir dan menyebabkan mengeringnya tempat kubangan atau permandian kerbau tersebut, maka kerbau hanya bisa berkeliaran di tempat tersebut.
Awal mula penamaan desa Marena sebelum dikenal seperti sekarang adalah Morena. Nama morena diambil dari bahasa setempat (bahasa moma ) yang artinya adalah bekas genangan air untuk kubangan atau permandian kerbau dan kemudian hanya menjadi tempat berkeliarannya kerbau.

Untuk lebih memudahkan untuk diinginat dan pengucapannya, maka akhirnya nama Morena diganti dengan Nama Marena hingga sampai saat ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Wanakiki: hutan lebat yang berada sangat jauh dari pemukiman penduduk
2. Wana: hutan lebat yang berada kurang lebih 5 Km dari pemukiman penduduk. Wana diyakini adalah hutan yang memberi penghidupan bagi masyarakat dan harus dijaga kelestariannya. Wana adalah sumber penghidupan masyarakat Marena yang pemanfaatannya adalah sebagai sumber mata air, untuk mencari damar, mengambil kayu untuk pembangunan rumah, mengambil rotan dan obat-obtan.
3. Pangale: hutan lebat yang diperuntukan buat persiapan pembukaan kebun nantinya.
4. Bone: kebun atau ladang
5. Balingkea: bekas kebun yang masih baru dan belum sepenuhnya ditinggalkan oleh pemiliknya karena masih ada tanaman yang mungkin masih berbuah, seperti rica, tomat, terung dan kacang panjang.
6. Oma Ngura: bekas kebun yang sudah mulai berumur 1 – 5 tahun.
7. Oma Ntua: bekas kebun sudah mulai berumur 6 – 12 tahun
Pahawa Pongko: bekas kebun yang sudah berumur 12 – 25 tahun dan sudah kembali menjadi hutan lebat, yang disebut pangale.
 
1. Nanuta Hadua: adalah kepemilikan secara prbadi, beberapa keluarga atau satu keluarga saja. Misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga atau satu keluarga saja dan pembagian hasilnya dibagi secara rata. Akan tetapi jika dikemudian hari bekas kebun tersebut dibuka kembali menjadi kebun atau ladang, maka yang berhak mengerjakannya adalah bagian dari keluarga itu sendiri.
2. Nanuta Hingkani: kepemilikan lahan secara bersama-sama dan berlaku umum dalam hal ini biasa dikenal dengan sebutan komunal. misalnya pembukaan kebun atau ladang yang dilakukan secara bersama – sama yang terdiri dari 5-6 kelompok dan satu kelompok terdiri dari 7-9 orang. Sebelum dilakukan pembukaan kebun atau ladang, maka akan selalu diawali dengan pengumpulan semua kelompok untuk diskusi, proses diskusi yang dilakukan guna untuk mendapatkan kesepakatan secara bersama-sama yang dipimpin oleh orang yang dipercayakan, yakni orang yang umur paling tua, punya pengalaman dan dapat dipercaya. Kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan untuk menentukan letak lahan, memulai dari sisi mana, luasan lahan yang akan digarap dan pembagian hasil panen. Akan tetapi kepemilikan lahan tidak mengikat atau tidak ada larangan bagi orang lain atau kelompok lain yang akan menggarap kembali bekas kebun atau bekas ladang tersebut.
 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Ada Ngata
Struktur 1. Totua Ngata 2. Galara 3. Tadulako 4. Tinangata
1. Totua ada: Ketua adat (penengah dan penentu keputusan)
2. Galara: Pesuruh yang dipercayakan
3. Tadulako: Pengawal
4. Tinangata: pemimpin dan pendamping perempuan. Selain menjadi pemimpin dan pendamping perempuan, peran yang lain adalah sebagai penengah dan penentu keputusan jika sidang peradilan dianggap buntu atau tidak ada solusinya.
 
Mekanisme pengambilan keputusan dimulai dari beberapa tahapan yaitu Libu Ngkaromu, libu Todea, dan Kabotua. Yang artinya diawali dengan;
1. Musyawarah antar pihak (keluarga)
2. Musyawarah kecil
3. Musyawarah besar (sidang peradilan adat)
4. Kabotua (keputusan dalam sidang peradilan adat)
 

Hukum Adat

Proses yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah atau kawasan hutan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya dilakukan secara arif dan bijaksana sebagaimana yang sudah diatur dalam aturan adat dan disepakati bersama.
Aturan adat yang dimaksud dalam pengelolaan dan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alamnya adalah:
a. Tidak diperbolehkannya ada aktivitas yang dengan sengaja menebang pohon atau mengambil hasil hutannya secara berlebihan pada kawasan atau hutan yang sudah ditentukan, seperti wanangiki dan wana. Kedua kawasan atau hutan tersebut telah diperuntukkan buat sumber mata air daerah penyangga air yang disebut dengan wanangiki dan wana
b. Memperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu dan rotan jika sudah diperbolehkan mengambil hasil hutan juga memenuhi beberapa syarat, yaitu:
- Tidak untuk diperjualbelikan (hanya untuk keperluan pembangunan rumah atau kegiatan upacara adat)
- Tidak berada pada kemiringan tertentu
- Tidak menyebabkan kerusakan yang besar misalnya pohon yang ditebang tidak menimpa banyak pohon yang lainnya.
- Penebangan pohon, rotan dan bambu dilakukan pada hitungan bulan dilangit, yakni pada bulan tua.
 
Aturan adat yang mengatur pranata sosial adalah:
1. Ada mpojama: yaitu pengaturan kerja, baik itu kerja bakti desa atau kerja kebun
2. Ada Mpompinaturu: aturan untuk pengembalaan, baik secara berkelompok maupun secara perseorangan. Pengembalaan secara komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut dengan Lambara. Juga mengatur perselisihan kepemilikan hewan ternak.
3. Ada Mpopanta: aturan untuk mekanisme pembagian harta, baik harta orang tua maupun harta suami istri
4. Ada Mpobetuvuri: aturan yang mengatur tatanan sosial, seperti gotong royong dan saling tolong menolong.
5. Ada Mporongo: aturan adat yang mengatur perkawinan
6. Ada Mpampontumpu: aturan yang mengatur tentang kepemilikan lahan atau tanah
 
Givu atau denda
Penamaan Givu atau denda bias berlaku untuk semua pelanggaran yang sudah diatur oleh dewan adat. Aturan itu juga berlaku bagi semua orang yang sudah masuk dalam wilayah adat tersebut.
Contohnya:
1. Pengambilan hasil hutan berupa rotan atau madu harus berdasarkan kepercayaan setempat yakni pada
hitungan bintang dilangit, yaitu bulan tua atau diantara sebelum pergantian bulan.
2. Mosalara ( berzina ) : akan dikenakan denda 4 ekor kerbau

Mosalara:
Mosalara adalah aturan adat yang mengatur tentang perzinahan.

Contohnya:
Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahui melakukan perzinahan atau disebut biasa dengan selingkuh, maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau tersebut akan dibagi yakni 3 ekor buat istri pelaku dan 1 ekor buat suami pelaku.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu, dan ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tainyara: untuk penyakit dalam Tavo’o: penurun panas (bisa diminum semua usia) Pakumba: menyembuhkan bisul dan panas tinggi Lumut: memberhentikan darah atau pendarahan Katumbara: luka dalam Tomanora: diperuntukkan bagi ibu yang selesai melahirkan untuk percepatan penyembuhan, pengeringan dan anti racun atau bakteri. Caranya: 1. Daun Tomanara tersebut dihangatkan diatas api lalu ditempelkan pada alat kelamin wanita. 2. Daun Tomanara tersebut dimasak lalu airnya diminum
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun Rumbia dan kayu bulat
Sumber Sandang Pakaian Adat : Pakaian adat yang digunakan masih berasal dari kulit kayu yang biasa disebut dengan kayu Umayo. Kulit kayu Umayo dan Kuva, kemudian diolah menjadi baju yang disebut dengan lnodo. Pewarna: Pewarna untuk baju adat masih menggunakan pewarna alami yaitu berasal dari buah pohon Ula. Warna yang dihasilkan adalah warna coklat. Warna yang dihasilkan juga bisa coklat tua dan coklat muda.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Untuk bumbu dan rempah-rempah masih mengambil dari hutan, misalnya : 1. Daun Lemon 2. Arogo 3. Onco 4. Rampantobu 5. Bomba Rempah-rempah tersebut digunakan untuk penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Coklat, kelapa, padi dan cengkeh