Wilayah Adat

Mungkajang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Mungkajang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota PALOPO
Kecamatan belum ada
Desa belum ada
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 895 Ha
Satuan Mungkajang
Kondisi Fisik Pegunungan,Pesisir
Batas Barat Di sebelah barat wilayah adat mungkajang perbatasan dengan salu rnanqkaluku wilavah adat latuppa.
Batas Selatan Di sebelah Selatan Wialayah adat Mungkajang Perbatasan dengan salu sinala wilayah adat Peta
Batas Timur Di sebelah Timur wilayah adat mungkajang perbatasan dengan Kelurahan Bating Kota Palopo dengan tanda batas istana datu luwu
Batas Utara Disebelah Utara Wilayah Adat Mungkajang Perbatasan Dengan sungai tikala,Wilavah Adat Ba'tan'

Kependudukan

Jumlah KK 448
Jumlah Laki-laki 712
Jumlah Perempuan 807
Mata Pencaharian utama bertani, berkebun

Sejarah Singkat Masyarakat adat

• Keberadaan Komunitas adat mungkajang asal-usulnya secara historis berasal dari tana toraja, sekitar 300 Tahun yang lalu kemudian membentuk suatu kampong atau biasa disebut tondok. Setelah berkembang dan menetap di kampong tersebut dan diberi nama mungkajang
•Mungkajang itu diambil dari bahasa lokal yang berarti sebuah kampong yang bebas gangguan dari luar. Setelah disepakati nama kampong tersebut bernama mungkajang maka masvarakat kembali melakukan musyawarah adat untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka dan pada saat itu masyarakat adat mengangkat seorang tomakaka pertama yang bernama Pagilin Puang beserta perangkat adatnya, setelah pagilin puang meninggal kembali dilakukan musyawara adat untuk mengangkat Tomakaka yang kedua bernama Pasarruk. Begitupun seterusnya secara turun-temurun hingga saat ini sampai ke Tomakaka yang ke tujuh yang dijabat oleh

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Hutan Titipan
Hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh katurunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada didalamnya. Namun hutan ini boleh dipakai jika saatnya tiba, bagi Kasepuhan untuk menempatinya.
• Hutan Tutupan
Hutan yang merupakan batas antara hutan titipan dan hutan garapan. Hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya didalamnya kecuali hanya untuk kepentingan adat/Ada'.
• Hutan Bukaan/Garapan
Hutan bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, persawahan, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.  
• Di dalam wilayah adat mungkajang secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah adat terbagi menjadi dua yaitu wilayah komunal dan wilayah individu. Wilayah inidividu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (hunian), Tampang (Sawah), dan Bela' (kebun). Proses pembagiannya pun harus diputuskan
atas persetujuan Tomakaka. Biasanya di masing-masing Tondok ada 'Matua' yang akan menyampaikan informasi ke Tomakaka apabila ada warga yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Selain itu ada juga 'Anginan' yang merupakan area yang digunakan untuk Tomakaka . Bentuknya ada sawah, kampung, Kabo (Belukar), Belak (kebun) dan lain-lain.
 

Kelembagaan Adat

Nama munoknoai
Struktur Tomakaka Anak Tomakaka Baliara Matua Bunga' Lalan Sandro Masyaraka' Ada' .
• Tomakaka;
Mengatur, Memimpin Musyawarah Adat dan Mengambil Keputusan Apabila Ada Masalah Yang Terjadi dalam Masyarakat Adat.
• Anak Tomakaka;
Sebagai Kepala Kelompok dalam Suatu Acara Adat Tertentu Seperti Membagi Daging (Mantawa Juku') Dalam Pesta Adat Kematian.
• Baliara;
Mewakili Tomakaka Apabila Tomakaka Berhalangan.
• Matua;
Mengatur Pelaksanaan Adat Dalam Wilayahnya dan Melaporkan Hasilnya Kepada Tomakaka.
• Sunga' Lalan ;
Mengatur Jadwal Turun Sawah dan Menanam Padi di Ladang.
• Sandro;
Membaca Do'a Pada Acara-acara Adat Seperti Gagal Panen, Warga Sakit, Pada Acara Pesta Adat.
• Masyaraka' Ada' ;
Melaksanakan dan mematuhi peraturan Adat yang Berlaku Sesuai keputusan Lembaga Adat.  
• Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin Lembaga Adat. Tetapi ada jug a keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat dengan para perangkat adat yaitu untuk hal-hal yang berkaitan dengan upacara adat, diantaranya :
• Rokko Tampang: prosesi penanaman padi di sawah (Tampang) dan Ladang
(Bela').
• Mepare : Panen padi
- Mak Kurre Sumanga' (Pesta Panen) :
Masak dan makan nasi pertama kali yang dipanen dalam tahun tersebut.  

Hukum Adat

• Di Wilayah Adat pada umumnya masih dikelilingi oleh hutan. Kampung mungkajang sendiri berada di tengah pegunungan Buntu Beradak, Buntu Sutan dan Buntu Taranggai yang secara administratif berada dalam wilayah kelurahan mungkajang Kecamatan wara barat kota palopo dan juga termasuk kawasan hutan lindung dan juga sebagian masuk wilayah konsesi tambang. Sebagai masyarakat adat, menjaga lingkungan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar, karena kelestarian hutan dan lingkungan sekitamya merupakan indikator keberlangsungan adat dan tradisi itu sendiri serta sebagai penyangga air/sungai makawa.
• Tomakaka juga memiliki kebijakan-kebijakan lokal dalam mengelola dan mengakses hutan, dengan melakukan pembagian yang sudah dilakukan sejak awal keberadaannya dan turun-temurun yaitu: Hutan Titipan, Hutan Tutupan, Hutan Bukaan/Garapan. Beberapa hal yang merupakan larangan adat
yaitu;
1. Tidak boleh Mengambil sesuatu dari hutan tutupan dan hutan titipan dalam bentuk apapun. Kecuali seijin dari oernanoku adat (Tomakaka).
2. Tidak boleh merusak sumber mata air. Selain itu Tomakaka mungkajang juga masih menjaga warisan tradisi dalam menanam padi yaitu hanya melakukan satu kali panen dalam satu tahun. Padi yang ditanam pun harus padi lokal yang diwariskan oleh leluhur yang dulunya ada 2 jenis bibit, dan sekarang masih tetap 2 jenis bibit padi.  
Hukum yang diterapkan di masyarakat Adat mungkajang secara umum ada tiga macam, yaitu;
• Hukum agama yaitu hukum yang mengacu pada kepercayaan masing-masing agama.
• Hukum Negara diterapkan apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran sebagaimana yang ditentukan dalam tatanan hukum Negara.
• Hukum adat adalah hukum atau sanksi yang tidak diputuskan oleh seseorang atau para petinggi adat, tetapi hukum ini berupa sanksi yang diberikan oleh para leluhur, dengan istilah " didosa, dipalik, dipaoppangngi litak" .
Hukum seperti;
- didosa, adalah pelanggaran yang termasuk pada semua tingkatan pelanggaran seperti tingkatan ringan (potong ayam), Sedang (potong babi khusus untuk beragama nasrani), Berat (potong kerbau).
- Dipalik dan dipaoppangngi litak, adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat (Potong kerbau). Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya. Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat siteba dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah didosa, dipalik,dipaoppangngi litak. (mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapatkan ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal, dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran. 
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong satu ekor sapi dan dimakan bersama masyarakat adat siteba.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan • Sumber karbohidrat (padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela' dan Pare Tampang). • sumber protein (berbagai jenis kacang-kacangan): Kacang hijau dan Kacang panjang. • Sumber vitamin (sayuran dan buah): Buah (Durian, Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, Duku, kopi, dll). Sayuran (Sawi, Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lombak, Daun Lotong, Dauan suka, Daun Pinak, Daun Bulu Nangko, Umbu Rotan dan Umbu Banga).
Sumber Kesehatan & Kecantikan • Tumbuhan obat: kumis kucing, lampujang, jahe, kencur, Daun Sualang, Daun Sari kaja, Kulit Kayu Jawa, Daun Maradda', Daun Bulu Nangko, dll. • Tumbuhan kosmetik: Kunyit, Lidah Buaya, Beras, Daun Pandan, kencur, Kemiri, Kaju Lange, Kelapa, dll.
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu, kayu Kalapi, kayu uru, kayu kondo nio, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu sengon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate, dll.
Sumber Sandang kapuk, kapas, nase dan rotan
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cengkeh, cabe, jahe, sereh, daun bawang, daun cemangi, dengen, patikala, mangga, jarru/belimbing, jeruk asam, kunyit, merica, asam tuak, lengkuas, daun kedundung, dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Cengkeh, Padi, Cokelat, Jagung, Sagu, Kayu, Rotan, Durian, Mangga, langsat, Rambutan, Cempedak, dll.