Wilayah Adat

Tondok (kampung) Kawalean

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kawalean
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Rongkong
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Tondok (kampung) Kawalean
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Buntu Parammean, WA Limbong, Salu Lengko, Buntu Malimongan, WA Kariango
Batas Selatan Jl. Raya Manganan, WA Limbong
Batas Timur Sungai Pambakuan, kaki sebelah timur Gunung tabuan, WA Komba
Batas Utara Buntu Lalikan, Salu Beang, WA Minanga

Kependudukan

Jumlah KK 31
Jumlah Laki-laki 69
Jumlah Perempuan 63
Mata Pencaharian utama Bertani (ma’ tampang), berkebun (ma’ bela’/ ma’ kopi)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas adat Kawalean merupakan keturunan dari Salong Pong Malabi’ yang bergelar Ambe Akkuluan. Ia merupakan orang pertama yang membuka lahan (di Kawalean) untuk berkebun dan persawahan. Seiring perkembangan manusia, akhirnya masyarakat membentuk perkampungan dan menetap di wilayah ini. Tondok Kawalean artinya tempat berpencarnya komunitas untuk mencari kehidupan. Tondok Kawalean dipimpin oleh seorang Matua. Masyarakat melakukan musyawarah (massiaja’) untuk menentukan pemimpin yang digelar matua, dan pada saat itu masyarakat sepakat mengangkat matua yang pertama yaitu :
1. Salong Pong Mala’bi Ambe Akkuluan
2. Baligau salong
3. Papongoran salong
Komunitas adat kawalean sudah ada sejak berdrinya kampung Kawalean yang masuk dalam Desa Rinding Allo oleh Matua pertama, sehingga masyarakat adat Kawalean secara turun temurun mendiami kampung tersebut hingga saat ini dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Kawalean.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Panggala ada’ (panggala damar): hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh keturunan (rumpun/ leluhur) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan adat yang hanya boleh diakses atau diambil sumber daya yang ada di dalamnya. Getah dammar (lite dama’).
Panggala amboan: hutan yang secara khusus hanya boleh dijerjakan rumpun matua (pinggiran kampung).
Kurra’: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan hanya sampai 3 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami tanaman palawija sepeti tanaman sayur, padi, jagung, dll. (pa’lambaran, kadinge, pakombaan, se’pon, salembok, tallang, silli, pongbura, galampang, dll).
Kurra matua: lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan sampai 15 tahun lalu diolah kembali untuk ditanami padi, cokelat ,kopi, merica, dll.
Tampang (sawah): lahan persawahan secara turun temurunmenjadi sumber pangan yang diolah dengan sistem pengairan tradisional (taallang, salembok, silli, manganan).
Tondok (pemukiman): 2 dusun kawalean, dusun buntu mala’biPolipuang (pemukiman) merupakan areal perumahan penduduk berserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan dan arealnya yaitu: lamba’ (perkampungan), hoyane (perkampungan), patahe (perkampungan), mea (perkampungan), lianang (kada’/kebun), bongang (kebun), londoang (kebun), pongngasu (kebun), pottarung (kebun), suso (kebun), takkalako’ (kebun), miratte (kebun), lemo (kebun), karabaang (kebun), peppisang (kebun), pareli (kebun), haukkanang (kebun), torotang (kebun), umbong-umbong (rano/ sawah), siborang (sawah), pangngisoang (sawah), tuyu (sawah), katuhoanna (sawah), hassi (sawah), dll.
 
Di dalam wilayah adat kawalean secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah terbagi menjadi 3 bagian yaitu individu, warisan, dan komunal:
1. Individu, merupakan areal-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk tondok (hunian), tampang (sawah), dan bela’a (kebun).
2. Warisan (sampemanak) saudara atau sepupu dan tidak boleh dipindahtangankan ke pihak yang lain, dan apabila sudah tidak dikelola lagi, lahan tersebut kembali ke lembaga adat dan diberikan lagi ke orang yang akan mengelolanya (mana’).
3. Tanah yang dikelola secara bersama (komunal) dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat seperti kayu, dll (sangrapuan).
 

Kelembagaan Adat

Nama Kawalean
Struktur Matua Tosiaja Pongngaraong Lantek padang
Matua: yang memimpin masyarakat adat setempat dan menjalankan hokum adat
Tosiaja: khusus keamanan dan ketertiban
Pongngaraong: membangun kehidupan masyarakat adat
Lantek padang: pesuruh
 
Hampir semua pengambilan keputusan di tanagan matua sebagai pemimpin lembaga adat.
Ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah adat (massiaja’) dengan para perangkat adat.
Yang masuk ke dalam keputusa melalui musyawarah adat adalah perkelahian, pencurian, kasus tanah, asusila, atau persinahan, musyawarah digunakan untuk membuktikan informasi tersebut.
 

Hukum Adat

Tampang: massiaja ma’mesa lampaleo bunga lalan (menghambur benih pertama). Melaksanakan upacara adat setiap turun sawah atau sebelum menghambur benih, yang dilaksanakan di rumah pangngarong sendiri.
Ma’kurru sumanga/ ma’bua’: melaksanakan upacara adat pada awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (syukuran).
Menggali kubur (mangkaruang kaburu): apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan pada musim tanam padi di sawah, padi itu akan dimakan ulat dan juga akan mengakibatkan gagal panen.
 
Denda 1 ekor kebau adalah pelanggaran berat: asusila, merendahkan derajat orang lain.
Denda babi untuk saling memaafkan. Denda babi untuk membawa kesalahannya apabila ada orang yang saling berselisih.
Denda ayam untuk pelanggaran ringan semacam melakukan pencurian dan semua itu dilakukan dengan cara bermusyawarah (massiaja’).
Hal ini bisa menimpa seseorangapabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat. Hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukan sesuai dengan pelanggarannya.
Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Hoyane dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah Rambu Langi’, pemalinna dipala’pokki batu samberan (hukuman berat) mau mengambil sesuatu harus bicara dulu atau mendapat ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal. Harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran.
 
Untuk pendatang yang masuk dalam komunitas dan melakukan pelanggaran maka hokum akan tetap diberlakukan tanpa kecuali sesuai dengan aturan yang berlaku di dalamnya.
Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi berat seperti Rambua Langi’ dengan memotong 4 ekor kerbau dan 1 dipotong dan dimakan bersama masyarakat dan tidak boleh dibawa ke rumah. Jika tidak dihabiskan maka dibiarkan saja di tempat tersebut.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi: pare banjara, bandarata, bulan, lotong, beang, pare bulu ujan, sumorong, dll; Umbi: ubi jalar dan singkong, kentang, wortel, dll; Kacang panjang; Daun paku, kata’pu, tallimbong, tandasi, karopo, umbu banga, sayur paku pakis, dll Pisang Nangka Alpukat
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing: obat ginjal; Revu Nippon: obat menyembuhkan luka; Lampujang: campuran bedak; Jahe, kencur: obat luka lebam; Kunyit, beras, daun pandan: campuran bedak; Telapak kuda: lemah syahwat; Bosi-bosi: luka/ muntah darah/ maag
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu uru: tiang rumah masyarakat adat; Kayu kata: batang kayu bitti untuk dinding rumah; Londong, annaja, pangkulang, pinus, dll; Kayu merantatang kayu; Kayu cempaka: rangka dinding rumah; Batu: alas tiang rumah, dll.
Sumber Sandang Bambu: untuk membuat nyiru; Daun pandan (nase): membuat baku, tikar, tudung kepala.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Cabe, kencur, jahe, sereh, lengkuas, daun bawang, daun kemangi, kunyit: campuran bumbu masak; Mangga, belimbing, asam tuak, kedundung, dengen, patikala: penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kopi, padi, cokelat, getah damar, dll