Wilayah Adat

Lipu Lodang

 Teregistrasi

Nama Komunitas Lodang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Seko
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 30.373 Ha
Satuan Lipu Lodang
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Haung mantalinga, tanetena mantalinga, haung pibassiang, mungku bahulu, mungku sodangang, mungku lassatanetena purrembak. Wilayah Adat Hono, Turonq, Amballong
Batas Selatan Tanetena Pakadonga, Haung Punti Wilayah Rongkong kambuno, tanetena takanasa' Wilayah Adat Rampi dan Mangkaluku
Batas Timur Tanetena itaepa, kilometer 43, mungku
Batas Utara Haung Parubalak Wilayah Adat Singkalong

Kependudukan

Jumlah KK 333
Jumlah Laki-laki 201
Jumlah Perempuan 250
Mata Pencaharian utama Bertani. Pariu (bersawah), mukinete berkebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

- Komunitas adat lodang secara historis berasa/ dari bongkok, tammatang, /ingku baru ke lodang.

- orang pertama dari bongko yaitu pussumue menjadi ama (bapak) dan menjadi tubara tammatang. tubara tammatang pindah ke lingku dan beristri dan melahirkan anak seratus yang membuat batas yang disebut (hering sangatu).

- Menjadi rumpun tamming bara dan pindah ke lodang, dilodang diangkat lagi tubara baru

- Lodang yang dipimpin oleh seorang tubara. Dan membentuk satu perkampungan, maka masyarakat kembali melakukan musyawarah (Tosiaya') untuk menentukan pemimpin yang di gelar Katubarasan dan pada saat itu masyarakat sepakat untuk mengangkat Tubara yang pertama yaitu Tubara yang dikenal oleh Masyarakat adat Lodang: 1. -10

- komunitas adat Lodang sudah ada sejak berdirinya kampung Lodang yang masuk dalam Desa Lodang oleh Tubara pertama , sehinggga Masyarakat adat Lodang secara turun temurun mendiami kampung tersebut sampai sekarang dan menyebartuaskan adat istiadat sekaligus mengangkat perangkat adat Lodang

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Pangngala Tua (Hutan Tua/Terlarang) Hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh keturunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses sumber daya alam yang ada di dalamnya, karena apabila diakses atau diolah pasti semuanya tidak ada yang jadi

• Pangngala Mandalang (Hutan Belantara) hutan yang merupakan batas antara Pangngala Tua, hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya di dalamnya kecuali untuk kepentingan adat

• Pukineteang : Lahan yang diolah oleh masyarakat lalu ditinggalkan hanya sampai 2 Tahun dan diolah kembali untuk ditanami tanaman palawija , seperti sayur, padi, jangung, dll

• Pukineteang Toa: Lahan yang diolah kembali oleh masyarakat lalu ditnggalkan kembali untuk ditanam padi, coklat, kopi, dll

• Pulitakang (Sawah) : Lahan persawahan secara turun temurun menjadi sumber pangan yang diolah dengan system pengairan tradisional

• Pubusakang (bekas Kolam) : Lahan yang pemah dijadikan kolam atau empang untuk ikan, akan tetapi sudah jarang ada yang mengelolah atau menggunakannya

• Polipuang (Pemukiman) : Lipu adalah areal pemukiman atau perumahan penduduk beserta sumber mata pencahariannya seperti bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan dan arealnya yaitu Lodang (Pemukiman), makaneina, takabeng, tammatang, haung mate, haung hunging, sumber mata pencahariannya seperti bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan dan arealnya yaitu Lodang (Pemukiman), makaneina, takabeng, tammatang, haung mate, haung hunging, mapotaka,uhai muane,dummau,dadeko, pipassi, sintotoko, kadoting, kanaang,manipa, milolokona, bantayang, sarurang, imangang, ilemo, italempo, kalumea, isikalung, iyanohang, donno, ikadak, itanga, ikatong koang, jmea, ipukaha, ipaneteang, itampesi, isareang, ibone, ipipoloang, ibata heung, isarumina, ipukaha, ipaneteang, itampesi, isareang, ibone, ipipoloang, tahuriro, takiraki, sasanggana (sawah dan kebun) 
Di dalam wilayah adat lodang ,secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayahnya terbagi menjadi 3 bagian: individu dan komunal.

Individu: area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Lipu (hunian), litaka (Sawah), dan kinete (kebun).

Lahan yang dikelola secara turun temurun: temurun oleh satu rumpun atau satu garis keturunan (rumpun) saudara atau sepupu, dan tidak boleh dipindah tangankan kepihak yang lain dan apabila sudah tidak dikelolah lagi lahan itu, maka lahan itu akan kembali kelembaga adat dan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolahnya.seperti tanah rumpun: rumpunna tamming bara di itanga, dadeko tidak dikelolah lagi lahan itu, maka lahan itu akan kembali kelembaga adat dan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolahnya.seperti tanah rumpun: rumpunna tamming bara di itanga, dadeko. tidak dikelolah lagi lahan itu, maka lahan itu akan kembali kelembaga adat dan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolahnya.seperti tanah rumpun: rumpunna tamming bara di itanga, dadeko. R. Tulingku ilingku, iyammelang ,tamarante, mapotaka

Tanah yang dikelolah secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat seperti perumahan yang sudah dibagi kayu dll (komunal) 

Kelembagaan Adat

Nama Lodang
Struktur 1. Tubara 2. Pangulu kada (pertama bicara) 3. Pakbicara (juru bahasa) 4. Puntampa (pande besi) 5. Purrere (tukang denda) 6. Pungarong (penyebaran informasi) 7. Pumpudihata (bahagian doa) 8. Punnuntu (tabib) 9. Pulleha (kesenian) 10. Pungkalu {pengumpulan kepala} 11. Pungorong (pembag air irigasi) 12. Pussaku (penyembelih) 13. Tuharani (keamanan) 14. Puntammina (tukan!l)
Para Perangkat Adat meliputi:
1. Tubara : Yang memimpin masyarakat adat setempat dan menjalankan hukum adat

2. Pangulu kada Sebagai orang yang pertama berbicara bilah ada upacara-upacara adat atau massolo

3. Pakbicara: juru bahasa pemangku adat
4. Puntampa : Seorang yang bertugas membuat atau memelihara peralatan kerja atau senjata masyarakat adat yang berkaitan dengan peralatan besi, seperti parang, tombak, cangkul,

5. Purrere : Yang bertugas memberi atau menyampaikan sanksi atau denda dalam bentuk tindakan pada orang yang melanggar hukum adat. dan yang sudan di umumkan oleh tubara bahwa dia telah bersalah.

6. Punggarong Yaitu penyebar informasi kepada masyarakat adat

7. PUMPUDIHATA Yang bertugas memimpin doa pada setiap upacara adat atau syukuran masyarakat adat.

8. PUNNUNTU bertugas sebagai dukun untuk mengobati masyarakat yang terkena penyakit.

9. PULLEHA yang bertugas sebagai koordinator kesenian.

10. PUNGKALU adalah orang yang bertugas sebagai pengumpul kepalah orang.

11. PUNGORONG yang bertugas sebagai pembagi atau pengontrol irigasi.

12. PUSSAKU yang bertugas sebagai penyembelih hewan saat ada upacara adat.

13. TUHARANI sebagai keamanan dalam suatu kampung.

14. PUNTAMMING adalah tukang kayu yang membantu masyarakat untuk membangun rumah. 
- Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan ada di tangan TUBARA sebagai pemimpin lembaga adat.

- Ada juga keputusan yang harus diambil secara musyawarah (MUKOBU), dan hasil keputusan itu sampaikan langsung oleh TUBARA kepada masyarakatnya tidak boleh orang lain.

- Yang masuk dalam keputusan melalui musyawarah adat Lodang semisal terjadi perkelahian, Pencurian, Kasus Tanah, Asusilah atau Perzinahan, maka inilah yang akan melewati proses musyawarah untuk membuktikan informasi tersebut. 

Hukum Adat

- MUKINALAI : membuat tempat bibit dan irigasi dan melaksanakan upacara adat setiap turun kesawah atau sebelum menabur benih.

- MAMPATEDEMO PASSEPI : Melaksanakan upacara adat pada awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (Syukuran Panen).

- MENGGALI KUBUR : Apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan pada saat musim tanam padi di sawah, padi itu akan dimakan tikus dan ulat juga akan mengakibatkan gagal panen. 
- Denda 1 (satu) ekor kerbau adalah pelanggaran berat seperti asusila, mencuri, mengambil kayu di hutan adat, kuburan tua atau tempat yang dilarang.

- Denda ayam untuk pelanggaran ringan dan semua itu dilakukan dengan cara bermusyawarah (MUKOBU).

- Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukan sesuai dengan pelanggarannya. 
Peradilan adat dilaksanakan apabila terjadi pelanggaran oleh sesorang. Prosesi peradilan adat dilakukan jika korban mengajukan perkaranya ke lembaga adat melalui Tubara’. Kemudian Tubara’ mengundang pihak terkait terutama orang yang duduk pada struktur lembaga adat membahas masalah serta menetapkan waktu persidangan adat. Setelah waktu perkara yang diajukan oleh korban dan disepakati untuk disidangkan, kemudian Tubara’ mengundang kedua belah pihak dan perangkat lembaga adat, tokoh masyarakat dan pihak terkait lainnya untuk mengadakan persidangan adat. Dalam persidangan adat ini dilangsungkan juga penetapan keputusan denda jika terbukti tersangka melakukan kesalahan dan kebanyakan untuk ukuran denda ini dinilai dengan ternak kerbau. Setelah keputusan denda ini ditetapkan disetujui oleh pihak sipelaku dan pihak yang korban, kemudian dilanjutkan dengan proses perdamaian oleh kedua belah pihak dengan disaksikan oleh seluruh peserta sidang adat. Mengenai masalah keputusan dan denda adat yang diputuskan pada proses persidangan adat, jika ada salah satu pihak yang tidak puas dengan keputusan peradilan adat, maka perkara diteruskan kepemrintah untuk diproses dan diselesaikan sesuai dengan aturan pemerintah 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan - Padi : hea' litaka, hea' kada' - Umbi : annorak manangka, annorak kayu, kalese, lame. - Jagung - Kacang : kacang tanah, kacang panjang, kacang ijo dll. - Durian - Pisang - Lassa - Nangka
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Lumut (lumu-lumu), rumput nippong = obat luka terkena benda tajam. - Jahe = Obat sakit perut. - Talampung Campur, Hea' = Obat cacar. - Kunyit Hitam = Obat sakit perut. - Kumis kucing = Obat ginjal. - Jahe , Kencur = Obat luka lebam. - Daun Sara Kaja = Obat Hypertensi. -Kunyit = Obat Penurun Panas.
Papan dan Bahan Infrastruktur - Kayu Uru (kayu cemara) = Batang Kayu Uru Untuk Membuat Tiang Dinding, dan Lantai Rumah Masyarakat Adat. - Kayu Bitau = Untuk Rangka Rumah. - Bambu Untuk dinding, tiang, lantai dan dinding pondok. - Rotan untuk pengikat rangka, tiang, lantai dan dinding pondok. - Batu = Untuk Alas Tiang Rumah dll.
Sumber Sandang - Bambu = Untuk membuat Nyiru. - Daun Pandan (Nase) = Untuk membuat bakul, Tikar, Tudung kepala.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu - Cabe, Kencur, Jahe, Sereh, Lengkuas, Daun Bawang, Daun Kemangi, Kunyit = Untuk Campuran Bumbu Masak. - Mangga, Belimbing, Asam Tuak, Kedondong, Dengen, Patikala = digunakan untuk penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi Bertani dan Berkebun

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 SK Bupati Tentang Pengakuan Masyarakat Adat Seko 300 Tahun 2004 Pengakuan Masyarakat Adat Seko SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen