Wilayah Adat

To Bada Pada

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Bada
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore Selatan
Desa Pada
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 14.103 Ha
Satuan To Bada Pada
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Bewa
Batas Selatan Desa Bulili/ Hutan Tarapupu
Batas Timur Desa Bomba
Batas Utara Sungai Lairiang

Kependudukan

Jumlah KK 153
Jumlah Laki-laki 335
Jumlah Perempuan 333
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nenek moyang orang Pada adalah Tanggulu asal Leboni Rampi yang kawin dengan Bona berasal dari Korobono Pu'umboto. Mereka bersama pengikutnya mendiami Tomehipi Bomba atas izin Tu'ana Gintu dan Bulili. Seiring berkembangnya zaman mereka bergabung dengan sebagian orang Bulili yang mendiami Bonene dan pada tahun 1901 atas perintah dari orang Belanda, mereka menyatu mendirikan kampung di Pada di atas punggung bukit sebelah timur Desa Pada yang sekarang. Kepala kampung yang pertama di percayakan kepada Paresa Suaki (Tu'ana Wanna Pada). Pada tahun 1966 masyarakat kampung Pada dipimpin oleh bapak Yohanes Wengkau sebagai kepala kampung yang ke-7, dia berupaya memindahkan kampung Pada ke lokasi Desa Pada yang sekarang. Alasan pemindahan kampung yaitu karena populasi penduduk relatif berkurang, dalam segi kesehatan juga tidak memadai, serta agar diizinkan mendirikan gedung sekolah. Rencana pemindahan kampung direalisasikan pada awal Januari 1968 dan diresmikan pada tanggal 29 Maret 1969 oleh pemerintah Kecamatan Lore Selatan yaitu Bapak Gagu Tongka J dan bapak Kampu Pole (sebagai Tu'ana Mahile) serta bapak Pangaku Tokare sebagai inspeksi pendidikan dasar wilayah Lore.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wumbu wana: wilayah berupa hutan yang tidak boleh dimasuki oleh orang
Wana: hutan larangan
Pandulu: hutan produksi
Polida'a: persawahan
Powanua: permukiman
 
Sistem penguasaan dan pengelolaan wilayah berdasarkan atas kepemilikan pribadi dan pengelolaannya berdasarkan aturan-aturan lembaga adat dan melalui peraturan desa. 

Kelembagaan Adat

Nama Tu'ana Iwanua Pada
Struktur Topo Oboka Guruntolisi Topamboli Suro atau Topeola
Topo Oboka: ketua
Guruntolisi: Sekretaris
Topamboli: Bendahara
Suro atau Topeola: Anggota
 
Musyawarah lembaga adat 

Hukum Adat

Giwu merupakan hukuman atau aturan sanksi-sanksi terhadap pelanggaran adat 
Ada mowahe boso (upacara adat selamatan ternak kerbau) yaitu upacara motinuwu'inabulu (kerbau) yang mirip upacara agama primitif tentang korban sembelihan untuk cucuran darah dengan makna agar keselamatan dan kesehatan selanjutnya perkembangbiakan kerbau telah menginjak tetesan darah akan meningkat. Hal ini erat hubungannya dengan sistem perawatan ternak, karena di samping darah sembelihan dilengkapi dengan berbagai macam ramuan obat tradisional yang dipercikkan ke tubuh kerbau dan lainnya disemburkan ke arah kerbau.

Ada mohia, mbobata 'bondeatau hai mobelai tampo ( upacara adat pembukaan lahan kebun dan sawah) adalah awal dari segala kegiatan pembukaan lahan baru, percetakan sawah baru. Mohia artinya membagi-bagi lahan perkebunan untuk tiap orang/ keluarga. Mobantabondea tau mobelai tampo artinya kegiatan awal tanah lahan usaha perkebunan secara adat bagi orang tertentu, yang selanjutnya bekerja sama atau gotong royong. Pelaksanaan upacara tersebut merupakan upacara agama prmitif orang yang memandang darah percikan dari korban sembelihan berupa manusia, hewan (kerbau, babi merah, dan paling kecil ayam). Hal ini ada tampo bada menetapkan tidak diperlukan lagi dan digantikan dengan upacara keagamaan (ibadah syukur)

Ada manggala uwai (upacara adat membuka saluran air persawahan) yaitu serupa dengan upacara adat Ada Mohia, Mobata'bondeatau Hai Mobelahai Tampo, yang mana cenderung seperti upacara primitif dengan korban darah sehingga sebelum air dilepaskan untuk masuk melalui jalurnya (mata air), babi merah diletakkan di pintu air kemudian pintu air dibuka atau lepas jalur. Babi disembelih sehingga air mengalir bersama darah.
 
Ada potinuwu (adat selamatan): upacara yang mutlak dilakukan untuk mengucap syukur.

Ada pelingka'i (adat perkawinan melangkahi kakak kandung): dalam saudara se kandung kakak beradik entah sejenis atau berbeda kelamin jika mendahului kakaknya dalam perkawinan maka upacara ini wajib diadakan oleh adiknya untuk kakaknya.

Holotawine (mas kawin/mahar) bagi wanita Bada terdiri dari:
- porantuai: 1 ekor kerbau
- polaki'i: 1 ekor kerbau
- pambawa'abaru: 1 ekor kerbau
- porarei: 1-4 ekor kerbau
- peluhi (ikatan parang): jumlah ikatan terdiri dari masing-masing ikatan 10 mata menurut jumlah ekor kerbau mahar
- mata umi: 1 ekor babi
tomempauba/ kauwahea: 1 mata kapak

katampua: pembantaian kerbau menurut kebutuhan melihat kehadiran anggota masyarakat yang turut berbela sungkawa.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, umbi-umbian, jagung, sagu
Sumber Kesehatan & Kecantikan kayu manis: untuk penyakit gula kunyit: patah tulang bure-bure atau pedilapi: untuk mengeluarkan pembekuan darah
Papan dan Bahan Infrastruktur bambu: untuk atap rumah rumbia: untuk atap rumah pohon samanbali: untuk tiang rumah pohon hura'a: untuk tiang rumah
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bawang, kunyit, rica, balakama, hare, lengkuas
Sumber Pendapatan Ekonomi Pertanian