Wilayah Adat

Keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak

 Teregistrasi

Nama Komunitas Keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TAPANULI UTARA
Kecamatan Sipahutar
Desa Sabungan Ni Huta IV
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.608 Ha
Satuan Keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak
Kondisi Fisik
Batas Barat Berbatasan dengan Aek Nalas
Batas Selatan Berbatasan dengan Dolok Parjujian/Dolok Pangasean
Batas Timur Berbatasan dengan Aek Bilah
Batas Utara Berbatasan dengan Dolok Nabota/Aek Simate-mate

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Huta Aeknapa. Pada masa penjajahan belanda Huta Aeknapa masuk dalam nagari Sabungan Ni Huta. Setelah Merdeka, Nagari Sabungan Ni Huta dibagi dalam lima desa, yakni Desa Sabungan Ni Huta, Desa Siparendean, Desa Dolok Nagodang, Desa Sigala-gala dan Desa Huta Mamungka. Wilayah adat yang saat ini diklaim pihak PT TPL berada di Desa Sigala-Gala, atau yang akrab disebut dengan Desa Sabungan Ni Huta IV, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara.

Menelusuri sejarah bagi komunitas masyarakat adat Batak, tidaklah sulit. Walau tidak mengenal tradisi tulis menulis, masyarakat Batak memiliki kebiasaan bercerita, atau dalam bahasa Batak dikenal dengan istilah marturi-turian. Bercerita bukan hal baru bagi masyarakat Batak. Tidak hanya cerita-cerita biasa, dalam tradisi masyarakkat Batak, setidaknya yang masih tinggal di desa, orang yang lebih tua selalu menyampaikan wasiat-wasiat penting kepada anak-anak atau keturunannya. Inilah yang kemudian menjadi sejarah yang dituturkan turun-temurun.
Tentunya sejarah setiap marga, yang menjadi komunitas masyarakat adat di setiap wilayah adat tidaklah sama. Marga Simanjuntak keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak yang menjadi pewaris tanah adat Huta Aek Napa juga memiliki sejarah.
Sejarah Keturunan Op. Bolus Simanjuntak
Op. Bolus Simanjuntak merupakan keturunan kelima dari Raja Simanjuntak yang berasal dari Hutabulu, Paindoan Balige. Raja Simanjuntak memiliki empat anak, yakni; Parsuratan, Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu. Op. Bolus sendiri merupakan garis keturunan dari Op. Mardaup Simanjuntak, yang memiliki tiga anak laki-laki, yakni; Namora tano, Namoro Sende dan Tuan Sibadogil. Dari ketiga anak ini, Tuan Sibadogillah yang menjadi kakek buyutnya Op. Bolus, di mana Tuan Sibadogil memiliki tiga anak, yakni, Tuan Marhohad, Op. Raja Dian dan Namora Tinungkun. Namora Tinungkun merupakan ayah dari Mulia Tandang, Bapak dari Op. Bolus. Atau dengan kata lain, Namora Tinungkup adalah kakek dari Op. Bolus.
Tuan Sibadogil, kakek Buyut dari Op.Bolus Simanjuntak merantau dari Balige ke Purba Sinomba, Siborongborong. Setelah ketiga anaknya menikah, sebagaimana biasanya dalam tradisi masyarakat Batak, anak yang sudah menikah memilih manjae (mandiri) dari orang tuanya. Ketiga anak itu pun pergi manjae dengan membuka perkampungan baru (mamungka huta). Anaknya, Namora Tinungkup, kakek dari Op. Bolus Simanjuntak yang menikah dengan boru Sihombing, anak perempuan Datu Parulas Sihombing, membuka perkampungan di Simarhumbang, Lumban Lobu (sekarang Desa Tapian Nauli 1). Di sana anak mereka Mulia Tandang lahir dan menikah dengan boru Ritonga. Dari pernikahan tersebut lahirlah Op. Bolus Simanjuntak.
Ingin mencari kehidupan yang lebih baik, setelah dewasa, Op. Bolus meninggalkan orang tuanya, meninggalkan kampungnya Simarhumbang menuju Habinsaran, dan menemukan daerah yang sangat subur, yang kemudian menamai huta (kampung) tersebut dengan Huta Aeknapa. Op. Bolus memiliki tiga istri, yakni Boru Limbong, Boru Simatupang, dan Boru Ritonga. Bersama ketiga istrinya, mereka memiliki enam anak, yakni Op. Huta Bangun, Op. Latong, Datu Manggaga, Op. Pangatur, Datu Porhas dan Gimba Laut.
Konon, pada masanya, Op. Bolus dikenal sebagai orang yang sakti. Berawal dari peristiwa tragis yang menimpa bapaknya, Mulia Tandang yang tewas diterkam harimau. Peristiwa naas itu terjadi ketika Mulia Tandang dalam perjalanan menuju kampung Op. Bolus. Bapaknya itu sangat merindukan anaknya, sehingga memutuskan untuk mengunjungi anaknya tersebut. DI tengah hutan, tepatnya di Dolok Paung, seekor harimau menerkam ayahnya. Kabar itu pun sampai ke telinga Op. Bolus. Dengan kesedihan yang sangat dalam bercampur kemarahan terhadap harimau tersebut, dia pun meminta bantuan kepada pamannya, saudara laki-laki dari ibunya, Marga Ritonga.
Dengan bantuan pamannya, mereka pun berhasil menangkap dan membunuh harimau yang memangsa bapaknya. Tulang-tulang dari harimau tersebut dijadikan pamannya menjadi ramuan yang membuat Op. Bolus memiliki kesaktian yang luar biasa. Saking saktinya, seringkali orang-orang sakti dari beberapa daerah uji kesaktian dengannya. Op. Bolus selalu menang dan menjadi tersohor. Uji kesaktian tersebut dilakukan disebuah wilayah, yang akhirnya disebut dengan nama Dolok Parjujian hingga saat ini. Selain dikenal memiliki kesaktian, dia juga memiliki kekuatan dan kecerdasan. Kelebihan inilah yang membuatnya terkenal ke penjuru mana pun. Sebagai tempat pertukaran hasil pertanian, Op. Bolus juga mendirikan onan (pasar) di wilayah tersebut yang dikenal dengan Onan Sitandiang. Selama hidupnya Op. Bolus menetap di Huta Aeknapa. Bahkan makamnya (tambak), masih ada sampai saat ini di sana.
Perpindahan ke Huta Mamungka
Seperti dijelaskan di atas, Op. Bolus memiliki enam orang anak. Dari keenam anaknya, Op. Latonglah yang menjadi anak kesayangannya. Saking sayangnya, semua kesaktian Op. Bolus diturunkan kepada Op. Latong. Namun kesaktian yang dimiliki Op. Latong membuatnya menjadi anak yang kasar. Khususnya terhadap saudara-saudaranya yang lain. Selain kasar Op. Latong juga dikenal sangat kejam ke saudara-saudaranya. Sifat buruk inu juga diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Keturunan Op. Latong selalu bertindak kejam kepada keturunan lima saudara Op.Latong lainnya.
Akibatnya keturunan saudara yang lainnya, yakni keturunan Op. Huta Bangun, Op. Datu Manggaja, Op. Pangatur, Datu Porhas dan Gimba Laut berencana meningkalkan Huta Aek Napa. Ketika hendak menyeberangi Aek Bilah, mereka melihat ada kayu besar yang melintang ke seberang sungai. Satu per satu mereka melewati kayu besar tersebut. Di awali dengan keturunan Gimba Laut, keturunan Datu Porhas dan Keturunan Datu Manggaga. Namun sayang ketika keturunan Op. Pangatur dan keturunan Op. Huta Bangun akan lewat, kayu besar tersebut bergerak, dan ternyata kayu itu adalah seekor ular besar. Keturunan Op. Huta Bangun dan keturunan Op, Pangatur pun tidak bisa melewati Aek Bilah. Mereka akhirnya memilih pulang kembali ke Aek Napa. Sedangkan tiga saudara lainnya bergerak terus menuju Selatan yang sekarang bernama Tapanuli Selatan. Di sana keturunan mereka menggunakan marga Pohan. Hubungan mereka pun sampai saat ini, khususnya keturunan Datu Manggaga yang bermukim di Simangambat Tapanuli Selatan, tetap terjalin dengan baik.
Kembali ke cerita keturunan Op. Pangatur dan keturunan Op. Huta Bangun yang kembali ke Huta Aeknapa, hubungan mereka dengan keturunan Op. Latong tetap tidak baik. Sikap keturunan Op. Latong yang kasar membuat mereka berniat untuk pindah ke wilayah lain. Mereka memilih membuka perkampungan baru yang disebut dengan Huta Bagasan. Karena merasa kesepian di Huta Aeknapa, keturunan Op. Latong pun menyusul kedua keluarga saudaranya ke Huta Bagasan. Lagi-lagi selama di sana keturunan Op. Latong mengulangi kekejamannya. Akhirnya keturunan Op. Mangatur dan keturunan Op. Huta Bangun meninggalkan keturunann Op. Latong di Huta Bagasan, dan membuka kembali perkampungan baru, yang sampai saat ini di sebut dengan Huta Mamungka.
Namun walaupun mereka tinggal di Huta Mamungka, mereka tetap mengelola tanah adat mereka di Huta AekNapa sampai saat ini. Karena makam Op. Bolus Simanjuntak dan keenam anaknya berada di sana, pada masa itu. Namun. Makam Raja Mangatur sudah dipindahkan oleh keturunannya ke Sosor Purba Tua. Makam yang masih jelas terlihat di sana adalah makan Op.Bolus Simanjuntak. Sedangkan makam-makam lainnya sudah hancur akibat alat berat dari CV Poltak Motor, yang ketika itu membuka perladangan kopi.
Perusahaan itu meratakan semua makam yang ada di sana, sehingga tulang belulang para leluhur mereka berserakan di tanah. Namun ketika hendak meratakan makam Op. Bolus, para pekerja perusahaan tersebut diserang lebah. Mereka tidak pernah berhasil menghancurkannya. Ituah sebabnya tempat itu sampai saat ini dianggap sakral.
Sejarah keturunan Op.Bolus tidak lantas berhenti saat dia meninggal. Kisah perjalanan keturunannya masih berlanjut hingga saat ini. Kisah perjalanan yang saat ini menjadi sangat penting diketuhi oleh publik.
Sejarah Keturunan Op. Ronggur Simanjuntak di Huta Aeknapa
Sekitar tahun 1887, Oppu Ronggur datang ke Aeknapa menjumpai Op. Bolus Simanjutak oleh karena Oppu Ronggur Simanjutank ingin mencari perlindungan atau bersembunyi dari kejaran musuh yang disebabkan oleh persolan pribadinya. Kedatangan Oppu Ronggur Simanjuntak disambut baik oleh Oppu Bolus Simanjuntak sehingga mereka tinggal bersama di tanah Aek Napa. Mereka bukanlah saudara kandung (abang/adek) tetapi mereka sangat kompak, Oppu Bolus adalah seorang yang kuat sedangkan Oppu Ronggur adalah seorang yang bijaksana. Oppu Bolus Simanjuntak dan Oppu Ronggur Simanjuntak meninggal dan dikubur di Aeknapa, namun kuburan Oppu Ronggur Simanjuntak telah dipindahkan oleh keturunannya ke Siparendean Kecamatan Sipahutar sedangkan kuburan Oppu Bolus Simanjuntak masih tetap di Aek Napa.
Setelah mereka meninggal kurang lebih lima gererasi keturunan Oppu Ronggur masih tinggal dan menetap di tanah Aek Napa mereka hidup dengan mengolah sawah, ladang mereka.
Oleh karena perkembangan zaman generasi berikutnya mulai meninggalkan tanah Aek Napa dengan alasan agar lebih dekat ke tempat yang lebih ramai penduduknya dan tanah yang lebih subur yaitu Desa Hutamamungka dan Desa Siparendean. Sehingga dengan demikian lama kelamaan tanah Aek Napa ditinggalkan oleh keturunan Oppu Ronggur Simanjuntak dan hanya dijadikan lahan persawahan dan tombak haminjon (hutan kemenyan).
Masuknya Keturunan Op. Guru Tahuak ke Huta Aek Napa
Sekitar tiga generasi yang lalu, empat orang keturunan Op. Guru Tahuak, yakni Muhammad Simanjuntak, Op. Nelson Simanjuntak, Op. Si Morhan, dan A. Pordin Simanjuntak datang meminta tanah ke Keturnan Op. Bolus, dalam hal ini, Op. Tiopan Simanjuntak, Op. Pautam Simanjuntak dan Op. Sampinur Simanjuntak. Karena alasan keturunan Op. Bolus saat itu “Mauas di jolma”, (mengharapkan banyak anak laki-laki), akhirnya mereka memberikan sebidang sawah dan perladangan kepada mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengambil tanah itu dari mereka kelak.
Keturunan Op. Guru Tahuak adalah merupakan marga Simanjutak yang datang dari Sigotom. Pada tahun 2002, keturuna Op. Bolus kembali menanami ladang-ladang mereka yang ada di Huta Aek Napa dengan pisang. Pada saat itu keturunan Guru Tahuak yang ada di sana menanyakan apakah penanaman lahan itu dalam rangka mengusir mereka dari sana. Dengan tegas Op. Rimpun dan kawan-kawan mengatakkan bahwa mereka boleh tetap tinggal di sana, di tanah yang sudah diberikan kakek mereka ke keturunan Guru Tahuak. “Tano na ni lehon ni ompung nami naso jadi ussat-on”, begitulah Op. Rimpun menjelaskan.
Masuknya Poltak Motor ke Huta Aek Napa
Seiring berlalunya waktu tanah Aek Napa dikuasai/diusahai oleh Poltak Motor (perusahaan milik marga Silitonga dari Sipahutar). Poltak Motor menguasai tanah Aek Napa antara tahun 1967 sampai tahun 1971, tanpa persetujuan keturunan Oppu Bolus dan Oppu Ronggur. Disebabkan oleh karena perusahan Poltak Motor bangkrut dan tanaman kopinya mengalami kerusakan sehingga Poltak Motor akhirnya meninggalkan Aek Napa.

Kehadiran PT Inti Indorayon Utama (PT Toba Pulp Lestari) Dan Dampaknya

Pada tahun 1987 PT. Indorayon (sekarang PT. TPL) masuk menguasai Aek Napa. Keberadaan keturunan Op. Bolus dan Op. Ronggur di Huta Aeknapa terancam karena klaim pihak ketiga atas wilayah adat mereka. PT Inti Indorayon Utama mengklaim, bahwa wilayah Huta Aek Napa dan sekitarnya merupakan areal konsesi mereka. Klaim itu berangkap dari izin yang diberikan oleh kementerian kehutanan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 493/Kpts-II/1992 tentang Pemberian Hak pengusahaan HTI kepada PT Inti Indorayon Utama Tbk seluas 269.090 hektar yang kemudian direvisi dengan SK 58/ Menhut-II/2011 tentang Luasan Konsesi IUPHHK-HT PT Toba Pulp Lestari, Tbk, seluas 188.055 hektar.

Masyarakat adat keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak membantah klaim siapapun atas wilayah adatnya. Karena mereka yakin sejarah yang diwariskan para leluhur mereka kepada mereka tidak mengada-ada. Identitas mereka melekat di Huta Aeknapa tersebut, dan harus dipertahankan.
Sampai dengan saat ini, keturunan Op. Bolus Simanjuntak dan Op. Ronggur Simanjuntak sudah mencapai delapan generasi. Artinya keberadaan mereka di desa tersebut sudah ada jauh sebelum republik ini ada. Sehingga sampai saat ini mereka tetap sepakat bersama-sama melawan perusahaan dengan tetap menanami dan mengusahai tanah adat mereka tersebut.

• Pada pertengahan februari 2017 KLHK bersama KSP melakukan verifikasi terhadap keberadaan masyarakat adat dan wilayah adat milik Op.Bolus Simanjuntak
• Oktober 2017, perwakilan komunitas Op.Bolus Simanjuntak, bersama 10 kasus masyarakat adat lainya mendatangi KLHK untuk mempercepat upaya penyelesaian konflik mereka dengan TPL
• 19 Maret 2018 Perwakilan Keturunan Op.Bolus Simanjuntak mengikuti pertemuan dengan direktur penanganan konflik tenurial dan Hutan adat di KSPPM Parapat
• 3 mey 2018, masyarakat Perwakilan Keturunan Op.Bolus Simanjuntak mengikuti pertemuan multi pihak bersama Direktur PKTHA,Perusahaan TPL,Pemkab Tapanuli Utara di medan,
• Paskah pertemuan 19 maret 2018 antara masyarakat dengan Direktur PKTHA di Parapat dan pertemuan multi pihak tanggal 3 Mey 2018 di Medan, PT TPL tetap melakukan operasi dilapangan. Bahkan paskah pertemuan di Medan TPL semakin agresif. Setiap perusahaan melakukan panen pohon eucalyptus besok hari nya sudah melakukan penanaman. Dan itu tidak seperti biasanya. Kesepakatan di medan 3 mey 2018 yang menyatakan “bahwa masyarakat menghargai pohon eucalyptus milik perusahaan, namun setelah di panen maka perusahaan tidak diperbolehkan melakukan penanaman”tidak di indahkan oleh perusahaan
Terkait dengan Perda PPMHA di Tapanuli Utara sudah masuk dalam program Legislasi Daerah Tapanuli Utara 2018.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur -

Hukum Adat

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi