Wilayah Adat

Wewengkon Pasireurih

 Tersertifikasi

Nama Komunitas kasepuhan Pasireurih
Propinsi Banten
Kabupaten/Kota LEBAK
Kecamatan Sobang
Desa Sindanglaya
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.146 Ha
Satuan Wewengkon Pasireurih
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Sukajaya, Kec. Sobang (Sungai Cisanding Catang)
Batas Selatan Kasepuhan Cirompang, Kasepuhan Cibedug (Gn. Kendeng)
Batas Timur Kasepuhan Bongkok (Sungai Cisimeut)
Batas Utara Kasepuhan Sindangagung (Sungai Cisalak)

Kependudukan

Jumlah KK 955
Jumlah Laki-laki 1424
Jumlah Perempuan 1175
Mata Pencaharian utama Pertanian dan buruh tani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kasepuhan Pasireurih berasal dari Bogor. Masyarakat Adat Kasepuhan Pasireurih mengartikan Bogor adalah Bongol atau Canir yang artinya pusat atau asal muasal. Masyarakat kasepuhan meyakini bahwa nenek moyang (Karuhun) yang ada di Pasireurih berasal dari Cipatat yang melakukan perjalanan lewat jalur tengah. Perjalanan menuju Pasireurih melewati wilayah Cibarani (sekarang Desa Pasirmadang Bogor) kemudian LeuwijamangCisalak –Sarongge (Desa Cisarua Bogor) – Sampay - Cibanung (Desa Lebaksitu Lebak) dan berakhir di Muhara Cirompang (Desa Cirompang Lebak). Wilayah yang dilaui oleh Karuhun merupakan bekas pemukiman (patilasan) dan saat ini menjadi rendangan dari Kasepuhan Cipatat. Sebelum pada akhirnya menetap di Pasireurih. Rombongan dibagi dua di Muhara Cirompang. Rombongan pertama melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan yang merupakan cikal bakal dari Kasepuhan Cicarucub sedangkan Rombongan kedua menetap di Pasireurih. Menetap di Pasireurih mendapat mandat untuk menjaga Gunung Bongkok sebagai Titipan untuk incu putu

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Titipan dan Cawisan
 
Pengaturan Ruang Adat Kasepuhan Kehidupan masyarakat adat kasepuhan
memiliki hubungan erat dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Masyarakat
adat kasepuhan Pasireurih meyakini bahwa bumi adalah ibu dan langit adalah
bapa hal ini tercermin dalam filosofi. “Bakti ka indung anu teu ngandung, ka
bapa anu teu ngayuga” perwujudan dari nilai-nilai ini masyarakat adat
kasepuhan menerapkanya dalam pemanfaatan fungsi keruangan. Fungsi
ruang yang diyakini adalah Titipan dan Cawisan. Titipan Titipan dimanfaatkan
untuk menunjang dua hal yaitu Kahirupan jeung Kahuripan. Kahirupan
bermakna mempertahankan keberlangsungan hidup. Maka lahan
dimanfaatkan untuk bekal hidup menuju kesejahteraan. Lahan dimanfaatkan
untuk Kebun, Huma, Sawah dan Lembur. Kahuripan bermakna bahwa
kehidupan manusia tak terlepas dari ketersediaan air, cuaca yang sejuk dan
terhindar dari mala petaka. Maka memaknai titipan sebagai sumber kahuripan
adalah menjaga kelestarian alam, lingkungan dan situs yang dititipkan oleh
para karuhun. Situs yang berada di Gunung Bongkok yang merupakan titipan
yaitu Sumur Tujuh, Batu Filar, Batu Haji, Batu Karut, Batu Saheng, Batu
Sadang, Monggor Cakar, Cadas Cenang, dan Batu Patapaan. Cawisan
Cawisan adalah area atau lahan yang dicadangkan untuk kepentingan incu
putu. Cawisan masyarakat adat Kasepuhan terdapat di Blok Ranca ki Arjali.
Menurut keyakinan masyarakat adat kasepuhan yang didasarkan atas pesan
para karuhun yang disampaikan secara turun temurun lahan cawisan dapat
digunakan setelah ditemukannya Galih Capeu. Lahan cawisan dikuasai oleh
Goverment. Galih adalah inti atau cikal bakal, sedangkan Capeu adalah jenis
tanaman yang berupa sayuran yang dijadikan lalaban. Makna dari filosofi ini
adalah Lahan Cawisan dikuasai Pemerintah, lahan dapat dimanfaatkan
setelah ada pengakuan dari pemerintah. CAPEU adalah akronim atau
singkatan dari Cap Pemerintah yang mengakui serta menghormati hak
masyarakat adat kasepuhan. Selain Blok Ranca Ki Arjali terdapat pula cawisan
yang lainya yaitu Mongorkilana dan Situ Seuseupan 

Kelembagaan Adat

Nama Kaolotan atau Kasepuhan
Struktur Abah, Juru Basa/Serat, Lajer, Palu,Juru Masak, Canoli, Ronda kokolot, Palawari, Juru sasapu, panyengeut lampu Rukun : Untuk menyiapkan peralatan upacara adat (diluar struktur)
Abah (Pupuhu ) Kasepuhan sebagai kepala adat Kasepuhan berperan sebagai
penanggung jawab atas segala urusan yang dititipkan oleh karuhun dalam
melayani kepentingan incu putu menuju keselamatan dunia dan akhirat. Hal ini
dikenal dalam filosopi Nungtun Karahayuan Nyayak Kamokahaan.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala adat kasepuhan Abah dibantu
oleh Baris Kolot yang masing-masing memiliki tugas yaitu :
1. Palu bertugas untuk memberikan pertimbangan dan masukan kepada
kepala kasepuhan dalam memberikan keputusan
2. Lajer bertugas memberikan nasihat atau peringatan kepada kasepuhan
3. Juru Serat/Surat bertugas untuk menyampaikan informasi kepada incu putu
dan menjadi penyambung informasi dari kasepuhan ke incu putu
4. Juru Basa bertugas menyampaikan informasi tentang sejarah serta hal-hal
yang berkaitan dengan keberadaan kasepuhan baik didalam maupun kepihak
luar
5. Juru Masak Mengatur mempersiapkan masakan untuk kepentingan ritual
dan tamu kasepuhan
6. Canoli : Menjadi juru gowah (mengurus beras/makanan yang dibawa incu
putu saat upacara adat
7. Ronda Kokolot : Bertanggung jawab untuk hal-hal keamanan
8. Palawari : Bertugas melayani tamu, mempersiapkan tempat pada saat
upacara adat
9. Rukun : Mempersiapkan Alat Seren taun terutama yang berkaitan dengan
ritual adat
10. Pembaca sejarah acara dongeng/hikayat Pada acara adat tertentu seperti :
a. Ngaseuk/Nibakeun
b. Ngubaran Pare
c. Mapag Pare Beukah
d. Beberes
e. Serentaun
f. setiap bulan pada malem tanggal 14 tahun hijrah 
Musyawarah Baris Kolot 

Hukum Adat

Aturan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Kasepuhan Pasireurih :
Leuweung titipan dan leuweung garapan
Leuweung titipan : boleh ditanami dengan ijin kokolot tetapi hanya boleh
mengambil yang kering/yang roboh atas seijin kokolot
Leuweung tutupun : kawasan lindung yang berupa sumber mata air dan aturan
yang berlaku sama seperti di leuweung titipan
Leuweung garapan : boleh dikelola dan diwariskan ke incu putu
Leuweung garapan terdiri dari ladang, kebun dan sawah
Cawisan terdiri dari sawah/kebun yang bersifat pinjam garap
Leuweung (Hutan)
1. Kewajiban :
a. Semua pengikut (Incu putu) termasuk masyarakat secara umum yang
tinggal di wilayah adat Kasepuhan wajib menjaga dan melestarikan hutan dan
menjaga situs yang terdapat dalam kawasan hutan.
b. Semua pengikut (incu putu) wajib menanam pohon di tanah garapan
masing-masing;
c. Bagi warga yang akan memanfaatkan tanah atau lahan bukaan baru atau
narawas leuweng wajib meminta ijin terhadap kokolot/kasepuhan.
d. Semua incu putu wajib mengikuti ritual asup leuweung yang dilaksanakan
setahun sekali.
2. Hak
a. Semua incu putu berhak memanfaatkan, mengelola sumber daya alam
khususnya hutan untuk menunjang sumber kehidupan (Kahirupan);
b. Semua incu putu berhak untuk menikmati hasil alam yang telah di kelola.
c. Semua incu putu berhak untuk memanfaatkan tanah yang telah di wariskan
oleh karuhun.
3. Larangan
a. Semua incu putu tidak boleh merusak alam yang menjadi sumber mata
pencaharian
b. Semua incu putu yang menggarap tanah garapan dari warisan karuhun
tidak boleh melewati batas dari gunung titipan.
4. Sangsi
a. Bagi incu putu yang melanggar aturan adat akan di kenakan sangsi adat,
berupa teguran dari kokolot/kepala adat/kabendon. Atau jika perlu baris
kokolot bisa menyerahkannya kepada yang berwajib.
Ladang (sawah)
1. Kewajiban :
a. Semua incu putu wajib mengikuti aturan dalam menanam bibit padi dari
kasepuhan dalam hal waktu,bibit padi yang akan di tanam.
b. Dalam penanaman bibit padi semua incu putu harus serentak tidak boleh
saling mendahului.
c. Semua incu putu berkewajiban mengikuti ritual/tradisi agar hasil panen nanti
makmur
d. Semua incu putu yang telah mengetam hasil panen di sarankan
memberikan tumpeng yang di akomodir di rumah kasepuhan pada acara
Serentaun sebagai wujud tasyakur dari hasil panen
e. Semua incu putu wajib hadir pada acara serentaun dan ikut serta (ngumpul
ngariung) untuk menikmati hasil panen
2. Hak :
a. Semua incu putu berhak untuk mengelola, menanam, dan menikmati hasil
panen
3. Larangan :
a. Tidak boleh memperjualbelikan dari hasil panen
b. Bagi incu putu tidak boleh mandahului dalam hal menanam,memanen dari
huma tangtu
4. Sangsi :
a. Bagi incu putu yang melanggar aturan adat akan di kenakan sangsi berupa
teguran dari kokolot/ketua adat/kabendon 
Masyarakat adat menanyakan ke abah/kepala adat hari baik untuk melakukan
kegiatan seperti : Membangun rumah, nikahan, sunatan, berpergian, dll. 
Ada yang melanggar aturan adat sampai 3x, dan berjanji tidak akan
mengulang lagi. Tetapi ternyata masih melanggar lagi, kemudian diserahkan
kepada pihak kasepuhan dan oleh pihak kasepuhan diserahkan kepada yang
berwajib untuk dibina 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, talas, umbi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Gogodokan, saralang kawung
Papan dan Bahan Infrastruktur Bambu, kayu Kimaung
Sumber Sandang Bambu
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kuncay, salaja, jahe, asem romeh
Sumber Pendapatan Ekonomi Duren, kakao

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN Tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan 8 tahun 2015 Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat Kasepuhan Perda Kabupaten/Kota  Dokumen