Wilayah Adat

Wewengkon Adat Cibedug

 Teregistrasi

Nama Komunitas Wewengkon Adat Cibedug
Propinsi Banten
Kabupaten/Kota LEBAK
Kecamatan Citorek Barat
Desa ------
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.167 Ha
Satuan Wewengkon Adat Cibedug
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Tugu Lembak Cimuda yang berbatasan dengan Cikate
Batas Selatan Batu Pasir Ipis
Batas Timur Pasir Manggu dan Gunung Batu yang berbatasan dengan Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek
Batas Utara Tugu Parawilu yang berbatasan dengan Desa Kanekes

Kependudukan

Jumlah KK 204
Jumlah Laki-laki 357
Jumlah Perempuan 315
Mata Pencaharian utama Pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Wewengkon Adat Kasepuhan Cibedug mulai dibuka pada tahun 1942, Wewengkon (Wialayah) tersebut merupakan kampung yang telah dibuka terlebih dahulu oleh orang dari Kasepuhan Citorek. Orang pertama masuk ke Wewengkon Adat Cibedug tersebut diantaranya adalah Aki Winata yang akrab dipanggil Aki Awin, Aki Mursadan dan Aki Aspan.
Warga Kasepuhan Cibedug sendiri telah mengalami beberapa kali perpindahan kampung, sesuai dengan tugas dan amanat leluhur mereka juga. Yakni ‘’ Ngajaga turunan anu kidul ’’ (Menjaga Incu putu masyarakat adat kasepuhan-kasepuhan yang ada diwilayah Banten Kidul). Nama-nama tempat yang menjadi kampung mereka sebelum ke Cibedug, meliputi Sajira, Lebak Menteng, Cidikit, Sinagar, Bojong Neros, Sangiang dan akhirnya sampai ke Cibedug.
Ada juga pemaparan perpindahan itu meliputi Cidikit, Cinangga, Serdang, Sinagar, Muara Tilu, Damgong, Lebak Sangiang dan sampai ke Cibedug.
Begitu juga pemaparan berdasarkan wilayah administrasi desa (Ngaitkeun Pamarentahan) ke Desa Citorek. Dari mulai pemerintahan Desa Citorek berdiri yakni telah mengalami 9 (Sembilan) kali pergantian Jaro (Kepala Desa), sehingga Baris Kolot yang ada di Cibedug bisa menguraikan satu per satu Jaro yang pernah memimpin diwilayah tersebut, yaitu Jaro Saonah, Jaro Nahari, Jaro Jaili, Jaro Markin, Jaro Sukarta, Jaro Usman, Jaro Nurkib, Jaro Sumedi, Jaro Subandi, Jaro Dian dan sekarang PLT kades Citorek Barat Ata Atma Wijaya

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Leuweung Kolot yaitu Hutan yang dijaga kelestarianya sebagai fungsi lindung yang telah diwariskan oleh para leluhur
2. Leuweung Cawisan adalah hutan yang dapat dikelola oleh masyarakat adat kasepuhan namun tetap memperhatikan nilai-nilai perlindungan
3. Leuweung Titipan adalah kawasan yang dijaga dan dilestarikan seperti mata air, kuburan dan keramat situs Cibedug
4. Lembur (Kampung) adalah pemukiman warga tempat dibangunya rumah adat serta pemukiman warga lainya
 
Sistem pengelolaan bersifat komunal dan individual. Pengelolaan Komunal adalah : Leuweung kolot, Leuweung Titipan sedangkan yang bersifat individiual adalah Leuweung Cawisan, Sawah, Kebun dan Pemukiman  

Kelembagaan Adat

Nama Wewengkon Adat Lebak Cibedug
Struktur 1. Ketua Wewengkon/Pamukul Gede 2. Ketua Adat/Kasepuhan 3. Juru Tulis/Sekretarus 4. Ulu-Ulu/Mandor 5. Amil/Penghulu 6. Juru Basa 7. Paraji/Ma Beurang 8. Sesepuh Kampung 9. Rahayat/Incu Putu
1. Ketua Wewengkon/ Pamukul Gede berfungsi untuk mengatur urusan luar mapun dalam di masyarakat adat
2. Ketua Adat/Kasepuhan fungsinya adalah memimpin kegiatan ritual adat/seren tahun
3. Ulu-ulu/Mandor fungsinya adalah mengurus kegiatan bidang pemerintahan.
4. Amil/Penghulu fungsinya dibidang keagamaan seperti pernikahan, mengurus orang yang meninggal
5. Juru Basa fungsinya untuk menerima tamu
6. Paraji/Ma Beurang fungsinya untuk mengurus yang akan melahirkan
7. Bengkong fungsinya untuk membantu khitanan
 
Salah satu cotoh keputusan wewengkon adat Cibedug adalah Riungan Kasepuhan/Musyawarah Mufakat yang terdiri dari beberapa unsur tokoh adat yaitu Ketua Wewengkon, kasepuhan, Pemangku adat, Amil/Penghulu/Tokoh Agama dan masyarakat adat 

Hukum Adat

“Asalna aturan adat ti luluhur kami. Kami mah ngan nyukcruk galur nu kapungkur mapay tapak nu baheula, sabab gunung ulah dilebur lebak teu beunang di ruksak. Lamun rek ngalampahan pagawean mipit kudu amit ngala kudu menta. Nyaur kudu diukur nyabda kudu dianggang mangkade bekas nyalahan. Hirup kudu sauyunan, kudu akur jeung dulur, kudu hade jeung saderek, jeung deungeun karek makena. Lamun boga pangabutuh jeung sepuh mah jauh teu kahalangan ku gunung anggang teu kahalangan ku sagara incu putu mah daratang bae. Undurna katembong punduk datangna katembong tarang.”

Tuturan santun diatas mengandung pengertian bahwa dalam proses apapun mulai dari awal sampai dengan proses yang terakhir tidak akan terlepas dari pantauan adat yang berasal dari leluhur mereka yang dianggap telah menetapkan aturan tersebut untuk menjadi pedoman dalam setiap langkahnya. Perintah untuk senantiasa arif dalam memperlakukan alam adalah bagian dari hidup leluhur mereka yang akan dan harus diikuti oleh setiap anggota dari komunitas. Hal diatas juga menjelaskan bagaimana peran adat dalam mengatur setiap aktivitas yang bersentuhan dengan alam yang akan dilakukan oleh anggota komunitas atau siapapun yang akan bersentuhan dengan alam/hutan yang merupakan titipan leluhur mereka. Setiap orang yang akan bersentuhan dengan hutan harus “mipit kudu amit ngala kudu menta” yaitu harus meminta izin kepada pihak yang berwenang, yaitu orang/sekumpulan orang yang dianggap mempunyai pengetahuan dan ilmu yang cukup mengenai hutan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar orang yang akan memasuki hutan mempunyai bekal pengetahuan yang cukup sehingga ia tidak celaka di hutan dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang (perbuatan merusak hutan). Dalam konteks ini orang/sekumpulan orang tersebut biasanya disebut “baris kolot”. Dalam melapor atau meminta izinnyapun tidak sembarangan

Pada awalnya dalam menggarap lahannya, masyarakat kasepuhan tidak diperbolehkan menggunakan pestisida, traktor dan obat-obatan tanaman. Akan tetapi saat ini mereka sudah menggunakan pupuk urea walaupun masih dicampur dengan pupuk kandang. Begitu juga dalam memanen, misalnya dalam memanen padi hanya dalam menggunakan alat panen berupa etem, dengan maksud padi yang telah tua saja yang dipanen, yang muda tetap dibiarkan agar menjadi humus secara alami.
 
“Nyaur kudu diukur nyabda kudu dianggang mangkade bekas nyalahan” yaitu harus dengan tutur kata yang santun sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam hidup bermasyarakat mereka juga memegang prinsip “Hirup kudu sauyunan, kudu akur jeung dulur, kudu hade jeung saderek, jeung deungeun karek makena. Lamun boga pangabutuh jeung sepuh mah jauh teu kahalangan ku gunung anggang teu kahalangan ku sagara incu putu mah daratang bae” yaitu bahwa hidup tidak boleh saling menjatuhkan. Tidak boleh iri dengan milik orang lain. Sesama anggota kelompok harus saling membantu. Yang tua harus bisa mengayomi yang muda dan bisa dijadikan pijakan bilamana yang muda mengalami masa-masa sulit.
 
1. Apabila melakukan Mabuk-mabukan/Miras
2. Permainan seperti Judi, Sambung Ayam
3. Melakukan kekerasan mengakibatkan luka-luka
4. Makan sambil berjalan

Mekanisme penetapan hukum adat
1. Memberi teguran sesuai ketentuan adat dengan cara dinasehati oleh Kasepuhan & Pamukul Gede
2. Melakukan musyawarah sesama baris kolot untuk menentukan sangsi
3. Ditindak sesuai dengan hukum adat misalnya didenda atau mendapat sangsi sosial
4. Diserahkan kepada proses penyelesaian Hukum Negara terutama tindakan hukum yang bersentuhan dgn pihak luar
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan • Karbohidrat - Ubi-ubian - Jagung - Sagu aren • Protein Kacang-kacangan - Kacang tanah - Kacang merah - Buncis - Kajang ijo - Kacang kedelai • Vitamin - Bayam - Sawi/saosin - Gambas/labu siem - Waluh/labu - Paria/pare - Oyong - Jeruk - Jambu batu - Jambu air
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Kunyit - Jahe - Kencur - lengkuas
Papan dan Bahan Infrastruktur - Kayu puspa - Kayu maja - Kayu huru batu - Kayu jurang
Sumber Sandang tanamanberserat (serat nanas, seratpisang, serta manila dll)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu - Cengkeh - Kapol - Jahe - Kayu manis - Bawang bakung - Sereh - lengkuas
Sumber Pendapatan Ekonomi - Gula aren - Ayam-ayaman seperti pembuatan boboko, hihid, sair, nyiru, dan tampah