Wilayah Adat

Simataniari (Bintang Maria-Pargamanan)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Simataniari (Bintang Maria-Pargamanan)
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota HUMBANG HASUNDUTAN
Kecamatan Parlilitan
Desa Desa Simataniari
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.787 Ha
Satuan Simataniari (Bintang Maria-Pargamanan)
Kondisi Fisik
Batas Barat Berbatasan dengan Aek Sihulihap
Batas Selatan Berbatasan dengan Aek Simonggo
Batas Timur Berbatasan dengan Simataniari dan Dolok Ginjang
Batas Utara Berbatasan dengan Tombak Hutagalung, Samosir

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Marga Sitanggang dan Simbolon beserta Marga Lumban Gaol (boru Sihagojongan) Terdiri dari perkampungan yaitu Pargamanan dan Bintang Maria, perkampungan, areal persawahan dan ladang serta Tombak Hamijon (Tombak Dolok Ginjang dan Tombak Pali), masuk dalam wilayah administrasi Desa Simataniari, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Nenek Moyang (leluhur) masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria asal usulnya dari Sigumbang Tapanuli Utara kurang lebih 125 tahun yang lalu dengan tujuan untuk mencari perkampungan baru memperbaiki hidup karena kehidupan yang tidak mencukupi akibat adanya penjajahan Belanda ketika itu. Marga yang pertama sekali datang adalah Sitanggang dan Simbolon beserta Marga Lumban Gaol yang merupakan boru Sihagojongan. Ketika tiba di daerah ini, mereka belum memberikan nama tempat tinggal baru tersebut. Tidak berapa lama setelah tinggal/berdomisili di daerah ini, nenek moyang/Leluhur mereka bertemu dengan keturunan Partuan Nahoda Raja (Raja Sionom Hudon) yang ketika itu sedang berburu. Pada pertemuan tersebut keturunan Partuan Nahoda Raja hampir saja menombak, nenek moyang/leluhur mereka yang sedang bekerja karena dipikir mereka adalah Belanda. Menurut cerita. hampir terjadi perkelahian tetapi setelah martarombo (bertutur) mereka pun saling paham bahwa nenek moyang/leluhur Pargamanan dan Bintang Maria masih satu puak marga dengan Partuan Nahoda Raja.
Sesuai sejarah yang diwariskan sampai ke generasi sekarang, ketika nenek moyang/leluhur mereka bertemu dengan keturunan Partuan Nahoda Raja, disampaikanlah bahwa daerah/tanah tersebut sudah ditinggali beberapa lama tapi tidak tahu bahwa daerah tersebut adalah daerah kekuasaan dari Partuan Nahoda Raja yang menaungi wilayah Sionom Hudon. Setelah tahu bahwa daerah tersebut merupakan wilayah kekuasaan dari Partuan Nahoda Raja, nenek moyang/lehuhur masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria meminta agar mereka diperbolehkan untuk membuka kampung di wilayah yang saat itu telah mereka diami. Keturunan Partuan Nahoda Raja pun memberikan ijin untuk membuka perkampungan dengan syarat tanah yang sudah diberikan tersebut tidak boleh dipindahtangankan kepada siapun dan harus tetap dijaga sampai generasi selanjutnya.
Setelah diberikan ijin membuka kampung, nenek moyang merekapun melakukan upacara adat membuka Huta (kampung), sesuai adat yang telah ditentukan oleh Partuan Nahoda Raja.Dalam upacara adat tersebut nenek moyang/lelehur masyarakat adat Pargamanan-Bintang Maria memberikan piso sebagai penghargaan atas wilayah yang diberikan. Kemudian Partuan Nahoda Raja membulang-bulangi nenek moyang masyarakat adat Pargamanan-Bintang Maria. Pada upacara adat pembukaan huta/kampung tesebut, diresmikanlah kampung yang diberikan nama Huta Godang
Pada perkembangannya, kemudian datanglah marga Simbolon dari Samosir ke Huta Godang menemui semarganya yang telah lebih dulu datang untuk membuka kampung (huta) tetapi karena tidak memungkinkan lagi untuk membangun permukiman baru akhirnya mereka membuka kampung di Dolok Ginjang tidak jauh dari Huta Godang
Seiring dengan perjalanan waktu, keturunan yang ditinggal di Dolok Ginjang semakin bertambah kemudian sebahagian dari keturunan nenek moyang mereka berpindah ke Pargamanan. Penamaan Huta (Kampung) Pargamanan menurut sejarah dikarenakan banyaknya ikan Gaman di daerah tersebut. Sedangkan Bintang Maria sebelumnya dinamai Pargamanan Toruan. Perubahan nama Pargamanan Toruan menjadi Bintang Maria pada awalnya adanya keinginan/rencana dari Marga Lumban Gaol (Op Saur Tua) dari Dolok Ginjang, tetapi rencana tersebut tidak diketahui oleh Sipungka Huta (Op Muara Sitanggang, Op Niujung Sitanggang, Op Lempang Simbolon dan Op Bilhem Simbolon). Sipungka Huta tidak merestui rencana tersebut karena daerah tersebut merupakan bagian dari Pargamanan. Penggunaan nama Bintang Maria pada akhirnya tetap digunakan kurang lebih sejak 50 tahun yang lalu walau tidak diresmikan karena nama tersebut menjadi nama yang sering disebut ketika menyebutkan tempat tinggal.
Setelah adanya perkampungan Pargamanan, seiring perjalanan waktu, marga-marga lainnya kemudian datang seperti marga Munthe, Sigalingging, Purba, Manullang dan Lumban Gaol (diluar boru Sihagojongan) yang disebut dan Silalahi sebagai Parripe.
Dalam upacara adat peresmian kampung, marga Simbolon merupakan “habolahan Amak” (tuan rumah/yang punya acara) maka marga Sitanggang menjadi “Sipantik Bungki” (mempersiapkan acara agar berjalan dengan baik).
Huta/kampung yang ada di Pargamanan dan Bintang Maria saat ini adalah:Huta Godang (didiami marga Simbolon) - (Marga Simbolon dan Lumban Gaol), Sosor (Sitanggang), Lumban Tonga-tonga (Sitanggang), Pargaulan (Simbolon), Dolok Ginjang Na Tio (Simbolon), Dolok Ginjang (Simbolon dan Lumban Gaol/saat ini sudah tidak ditempati lagi) dan Bintang Maria (Munte, Sigalingging, Manullang, Purba dan Simbolon)
Menurut sejarah yang diwariskan kepada generasi saat ini, cara membagi tanah pada awalnya Pargamanan adalah sebagai berikut: tanah diperuntukkan sebagai tempat tinggal dan hutan merupakan tempat berusaha serta mengambil hasil hutan (kemenyan). Mengambil berbagai getah dari hutan disebut dengan islitlah Haburuan. Hetah kayu yang diambil dari hutan adalah getah kemenyan dan yang lainnya. Hasil mengambil berbagai getah tersebut dijual ke Barus dengan memikul hasil getah (marlanja). Hasil getah yang dibawa ke Barus dibarter dengan garam.Nenek moyang/leluhur pada awal bermukim dan belum mengenal pertanian seperti sekarang ini, untuk memenuhi kebutuhan pangannya mengkonsumsi “aup-aup” (sejenis talas) dan berburu.
Masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria mulai mengenal Padi sebagai sumber pangan ketika Indonesia merdeka, sebelum itu mereka mengandalkan berbagai makanan yang ada dari hutan. Yaitu berupa aup-aup, tada-tada/tanggulon, rebung, buah rotan dan labu.
Batas wilayah kemenyan masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria Desa Simataniari dengan Sionom Hudon adalah Aek (Sungai) Sihulihap, masyarakat Sihotang Hasugian adalah Aek Simonggo sedangkan batas ke masyarakat adat di Pollung adalah ditentukan berdasarkan tumbuhnya jenis rotan. “hatubuan hotang lamosik ma tombak ni Pandumaan dohot Sipituhuta, hatubuan hotang pulogos ma tombak ni Sionom Hudon” (tempat tumbuhnya jenis rotan yang diberi nama hotang lamosik).
Awal terjadinya Konflik:
PT TPL hadir di daerah Parlilitan dimulai sejak hadirnya PT IIU pada awal 1990-an, khususnya di Tombak Haminjon masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria, kurang lebih sejak tahun 2003. Pihak perusahaan melakukan penebangan berbagai kayu termasuk kemenyan milik masyarakat yang ada di tombak haminjon. PT TPL dalam dalam melakukan aktivitasnya selalu di kawal oleh aparat keamanan Negara. PT TPL tidak pernah melakukan sosialisasi atau memberikan informasi bahwa akan ada aktivitas perusahaan di wilayah yang diklaim masyarakat sebagai wilayah adatnya.
Pihak perusahaan dalam melakukan aktivitas penebangan juga membuka jalan untuk jalur transportasi pengangkutan kayu yang ditebangi. Kayu-kayu yang ditebangi oleh PT TPL ketika itu menurut penjelasan yang disampaikan masyarakat sudah banyak yang berumur ratusan tahun dan diameter kayunya ada yang sudah berukuran 2-3 meter.
Sampai pada tahun 2008, masyarakat secara sendiri-sendiri terus melakukan perlawanan kepada PT IIU/TPL untuk menghentikan segala bentuk operasionalnya tapi tidak ada yang berhasil. Kondisi masyarakat yang tidak bisa berjuang bersama karena merasa trauma melihat kondisi di desa-desa sekitar mereka ketika ada upaya perlawanan bersama, biasanya pimpinan kelompok yang melawan pada akhirnya akan menjadi pekerja di TPL atau menjadi sub kontraktor. Masyarakat takut dihianati.
3 juni 2009, Masyarakat mulai berkumpul untuk melakukan pertemuan sesama warga untuk membicarakan langkah-langkah agar TPL tidak lagi menebangi pohon kemenyan milik warga. Pada pertemuan ini diputuskan perwakilan masyarakat akan menemui pihak PT TPL ke sektor Tele dan meminta mereka menghentikan segalan bentuk operasional mereka. Tetapi perwakilan masyarakat tidak menemui kata sepakat ketika itu karena pihak perusahaan bertahan bahwa mereka bekerja sesuai ijin yang dimiliki.
28 September 2009, masyarakat mulai melakukan aksi perlawanan ke lokasi kebun kemenyan dengan mengusir pekerja sub kontraktor PT TPL yang melakukan perusakan terhadap kebun kemenyan yang mereka miliki.
Beberapa kali warga juga melakukan aksi ke Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan agar menghentikan operasional PT TPL mengingat kemenyan merupakan mata pencaharian utama dari masyarakat. Akan tetapi usaha yang mereka lakukan kepada pemerintah masih belum berhasil. Tak terhitung lagi surat-surat yang mereka layangkan ke pemerintah sebagai bentuk protes atas peramapasan wilayah adatnya.
 Masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria kehilangan hak atas tanah adatnya dan sejak adanya penebangan terhadap kebun kemenyan milik masyarakat menyebabkan berkurangnya pendatapan masyarakat. Dalam 2 (dua) tahun terakhir, masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria merasa resah dan rugi karena pondok mereka yang ada di Tombak Haminjon di rusak oleh oknum-oknum yang tidak jelas. Perusakan pondok-pondok masyarakat yang ada di Tombak Haminjon terjadi ketika masyarakat kembali ke kampung dari Tombak Haminjon.
 Penghasilan masyarakat dari Padi menjadi berkurang. Sesuai penuturan masyarakat sudah ada puluhan hektar sawah yang beralih fungsi menjadi pertanian lahan kering.
Upaya masyarakat Adat Memperjuangkan Wilayah Adatnya
Dalam merebut kembali hak-hak atas tanah/wilayah adatnya masyarakat adat Pargamanan dan Bintang Maria telah melakukan berbagai upaya seperti:
1. Menyurati Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan baik eksekutif dan legislatif sebagai bentuk protes terhadap perusakan Tombak Haminjon mereka.
2. Melakukan Audiensi kepada Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan baik eksekutif dan legislatif.
3. Mengadakan pertemuan di lapangan atau tempat kejadian perkara dengan berbagai pihak seperti TPL, Pemerintah Kabupaten, kecamatan, Dinas Kehutanan, dan Pemerintah Desa untuk membicarakan penyelesaian kasus.
4. Masyarakat menuliskan ulang sejarah kampung dan penguasaan tanah adat di wilayah adatnya untuk melengkapi fakta-fakta sejarah kepemilikan tanah adat.

Pargamanan-Bintang Maria, 2017
Perkembangan Terakhir Kasus Pargamanan Bintang Maria

• Mei 2017, masyarakat menerima kunjungan PSKL untuk melakukan verifikasi dan validasi data terkait keberdaan masyarakat adat dan wilayah adat masyarakat.
• Oktober 2017, perwakilan masyarakat Bintang Maria-Pargamanan, bersama 10 kasus masyarakat adat lainya mendatangi KLHK untuk mempercepat upaya penyelesaian konflik mereka dengan TPL
• 19 Maret 2018 perwakilan masyarakat Bintang Maria-Pargamanan mengikuti pertemuan dengan direktur penanganan konflik tenurial dan Hutan adat di KSPPM Parapat
• 3 mey 2018, masyarakat perwakilan masyarakat Bintang Maria-Pargamanan mengikuti pertemuan multi pihak bersama Direktur PKTHA,Perusahaan TPL,Pemkab Humbang Hasunsutan di medan,
• Kondisi dilapangan saat ini perusahaan masih melakukan aktivitas seperti biasanya. Tapi tidak memperluas kensesi lagi. Keresahan yang dialami oleh masyarakat, bahwa pohon eucalyptus tersebut berdampingan dengan pohon kemenyan masyarakat, sehingga berpengaru pada hasil produksi kemenyan masyarakat. Sehingga masyarakat sangat berharap agar KLHK segera menyelesaiakn konflik antara masyarakat dengan PT TPL.
• Perkembangan perda PPMHA sendiri untuk Kabupaten Humbang Hasundutan masih dalam tahap pembahasan di internal Legislatif dan Eksekutif Humbang Hasundutan

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur -

Hukum Adat

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi