Wilayah Adat

Mukim Kunyet

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Mukim Kunyet
Propinsi Aceh
Kabupaten/Kota PIDIE
Kecamatan Padang Tiji
Desa 14 Gampong
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 5.123 Ha
Satuan Mukim Kunyet
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran,Lahan Basah
Batas Barat Jurong Anoe berbatasan dengan Mukim Paloh
Batas Selatan Berbatasan dengan Pegunungan Pinto Kuta
Batas Timur Kareung Hampa berbatasan dengan Mukim Meutarem
Batas Utara Meunasah Alue berbatasan dengan Mukim Peudaya

Kependudukan

Jumlah KK 1097
Jumlah Laki-laki 1809
Jumlah Perempuan 1953
Mata Pencaharian utama Petani sawah/ladang, petani kebun buah, ternak, buruh tani, buruh bangunan.

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Asal-usul nama Mukim Kunyet
Pada jaman dulu pendatang membuka kebun baru, ketika sedang membersihkan lahan mereka menemukan inoeng kunyet (induk kunyet) sebesar guci (drum 200liter) di Gampong Dayah Tanoh sehingga nama daerah itu kemudian disebut dengan Kunyet.

Masa Belanda hingga Indonesia Merdeka
Tgk. Nyak Raja menjabat sebagai Ulee Balang. Penduduk Mukim Kunyet masih sedikit yang tersebar di 15 gampong, mata pencaharian masih pada pertanian padi sawah, ternak kerbau dan sapi. Pada masa Ulee Balang Tgk. Nyak Raja di Mukim Kunyet digalakkan menanam lada dan lada dari Mukim Kunyet mempunyai kualitas tinggi.

Penyakit taeun ija bro’k (peulaweu) merupakan penyakit yang menghantui masyarakat di Mukim Kunyet selama lebih kurang 30 hari, yang menyebabkan meninggal dunia 3-5 orang per hari.

Hutan di dalam wilayah Mukim Kunyet yang masih sangat lebat merupakan kawasan yang dihuni berbagai binatang seperti harimau. Akibat pembukaan lahan untuk pemukiman dan perkebunan, harimau turun ke perkampungan dan memangsa ternak kerbau, sapi dan kambing milik masyarakat Mukim Kunyet. Pengelolaan sumber daya alam berada di bawah penguasaan dan pengawasan mukim.

Pada masa ini Belanda memusnahkan gampong Hagu Baroh tanpa ada yang tersisa bangunannya sehingga penduduk terpaksa harus meninggalkan gampongnya.

Hagu Baroh merupakan benteng pertahanan pasukan Muslim Aceh, yang melawan pasukan marsose Belanda.

Di sinilah Teungku Lam Alieng dibunuh dengan cara diseret dengan kuda oleh Belanda. Teungku Lam Alieng berasal dari Gampong Lam Alieng, Lampakuk kalau sekarang Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar. Makamnya terletak di Mukim Peudaya.

Penetapan batas-batas wilayah Mukim Kunyet berdasarkan penetapan oleh ulee balang.

Masa Sesudah Indonesia merdeka 1945-1953
Tgk. M. Daud dari Gampong Meunasah Baro Kunyet terpilih menjadi Imuem Mukim Kunyet yang pertama. Pemilihan imum mukim dilakukan secara langsung oleh masyarakat Mukim Kunyet. Jumlah gampong di Mukim Kunyet 14 gampong. Penataan sistem pengelolaan sumber daya alam sudah mulai ditata di mana perkebunan diatur oleh petua seuneubok, hutan diatur oleh pawang uteun, namun demikian masyarakat belum memanfaatkan sumber daya hutan untuk penghidupan. Karena kesuburan lahan di Mukim Kunyet, banyak masyarakat dari luar Mukim Kunyet yang datang membuka lahan dan menetap di Mukim Kunyet sehingga jumlah penduduknya semakin bertambah.

Pengairan persawahan masih mengandalkan tadah hujan sehingga musim tanam hanya bisa dilakukan setahun sekali dengan menanam padi lokal, sebelum turun ke sawah maka lebih dahulu dilakukan khanduri blang yang gunanya untuk berdoa memohon pada yang maha kuasa agar hasil produksi padi melimpah dan tidak ada kendalanya.

Pada masa ini gangguan harimau masih sering terjadi sehingga banyak ternak masyarakat yang mati dimangsa oleh harimau.

Tahun 1953-1956
Mukim Kunyet pada masa DI/TII dijadikan markas oleh pasukan DI/TII di Paya Reube sehingga sering terjadi pertempuran antara pasukan DI/TII dengan TNI bahkan sampai menggunakan pesawat tempur dan alteleri berat lainnya.

Kebiasaan melakukan khanduri blang terus dilakukan sebelum turun ke sawah. Namun saat itu masyarakat sering gagal panen karena kekurangan air pada masa penanaman padi sawah.

Peranan lembaga adat seperti pawang uteun dan keujruen blang terus ditingkatkan untuk mengatur sumber daya alam atau pemanfaatan lahan di Mukim Kunyet. Dampaknya perkebunan semakin berkembang dan pada saat ini masyarakat sudah mulai menanam durian di samping tumbuhan lada yang berkembang sangat baik. Pada saat ini kayu belum merupakan komoditi yang diperjualbelikan, masih digunakan sebagai kebutuhan pribadi dan kebutuhan untuk pembangunan fasilitas di gampong atau mukim.

Lahan petanian sawah padi sering dilanda hama dan penyakit tanaman padi seperti sering terserang hama burung tulo, hama babi, geusong dan tikoh (tikus).

Tahun 1956-1960
Pada masa ini, Mukim Kunyet dipimpin oleh Imuem Mukim Tgk. Sofyan. Imuem mukim ini terus menggalakkan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya di Mukim Kunyet yang telah dilakukan sebelumnya. Karena Aceh masih dilanda konflik DI/TII maka tidak banyak perubahan di Mukim Kunyet.

Pada saat ini, harga lada cukup tinggi sehingga masyarakat semakin menggalakkan tanaman lada.

Tahun 1960-1970
Pada masa ini, Tgk. Madan menjabat sebagai imuem mukim. Pada masa ini terjadi gejolak perang PKI, namun aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa. Sebelum pemberontakan PKI ada terjadi gempa besar.

Seiring bertambahnya penduduk dan bertambahnya kebutuhan, masyarakat mulai memanfaatkan hutan sebagai sumber mata pencaharian. Pembukaan lahan hutan tersebut digunakan sebagai lahan perkebunan. Hasil tanaman buah-buahan seperti durian, langsat dan rambutan cukup banyak. Hasil produksi pertanian ini meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

Kegiatan-kegiatan sosial dan budaya tetap terus dikembangkan seperti acara khanduri, gotong royong dan lainnya.

Tahun 1970-1980
Pada masa ini di wilayah Mukim Kunyet ditempatkan pos militer untuk meredam konflik keamanan yang sering terjadi. Namun aktivitas masyarakat tetap sebagaimana biasanya dan masih bisa melakukan kegiatan pertanian berkebun di wilayah dekat dengan hutan.

Pada masa ini harga komoditas cengkeh dimonopoli oleh Tommy Suharto melalui Badan Penyangga Penjualan Cengkeh (BPPC), sehingga harga komoditas menjadi anjlok, sehingga banyak kebun cengkeh ditinggalkan oleh masyarakat.

Banyak tanaman lada yang mati akibat banyak hal salah satunya karena penyakit.
Harga lada mulai menurun sampai akhirnya tanaman lada ditinggalkan oleh masyarakat Mukim Kunyet. Dampak menurunnya harga lada, ekonomi masyarakat semakin tidak menentu. Keadaan ini diperburuk karena masa ini hasil pertanian sawah juga tidak begitu baik akibat kekurangan air di sawah. Dua kondisi ini mengakibatkan terjadinya kekurangan pangan di Mukim Kunyet.

Pemerintahan mukim mulai kurang beperan seiring pemberlakuan undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa dan camat dari Kecamatan Padang Tiji telah menghapuskan keberadaan lembaga mukim.

Tahun 1980-1990
Tgk. Zakaria Daud dipilih dan diangkat sebagai Imuem Mukim Kunyet.

Pada masa ini Waduk Leupung Datoh dibangun oleh masyarakat Mukim Kunyet. Dengan adanya waduk, kebutuhan air untuk sawah sudah mulai mencukupi sehingga hasil padi sawah mulai membaik.

Pemerintah memberi ijin kepada perusahaan PT Aceh Nusa IndraPuri mengelola hutan di wilayah Mukim Kunyet sebagai hutan tanaman industri (HTI). Pada saat ini masyarakat menyampaikan keberatan terhadap penggunaan lahan hutan tersebut, namun karena konflik yang melanda di Pidie sampai ke Mukim Kunyet maka masyarakat tidak memiliki keberanian yang kuat untuk mempertahankan hutannya agar tidak dijadikan lahan perusahaan.

Tahun 1990-1993
Tgk. Rusli dipilih dan diangkat sebagai Imuem Mukim Kunyet.


Tahun 1993-1999
Tgk. Baharuddin terpilih menjadi imuem mukim menggantikan Tgk. Rusli yang meninggal dunia.

Pada masa ini penggundulan hutan mulai terjadi akibat dari kebutuhan kayu yang semakin meningkat sebagai bahan bangunan, akibatnya banyak masyarakat dari dalam dan luar mukim memanfaatkan kayu sebagai komoditi yang diperjualbelikan.

Pada tahun 1990 masyarakat Mukim Kunyet juga diperintahkan bergotong royong secara paksa antara lain oleh pemerintah dan dijaga oleh pihak TNI dan Polri untuk membersihkan pinggir jalan PU, mengatur dan mengecat batu dengan warna putih, membersihkan semak-semak belukar dalam perkampungan yang bukan perkebunan, disuruh mengecat atap rumah dan pagar rumah dengan warna putih.

Pada masa ini sudah mulai terasa keamanan semakin tidak kondusif sehingga penduduk sulit melakukan aktifitas perekonomian.

Tahun 1999-2005
Tgk. Anwar Abdullah dipilih menjadi imuem mukim

Tahun 2005-2010
Tgk. Helmi dipilih dan diangkat sebagai Imuem Mukim Kunyet. Pada saat ini kerusakan hutan semakin parah, banyak terjadi konflik penguasaan lahan, baik konflik lahan antar masyarakat Mukim Kunyet maupun antara masyarakat dengan perusahaan HTI Acehnusa Indrapuri.

Pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi gempa yang paling dahsyat selain yang dirasakan oleh masyarakat Mukim Kunyet juga dirasakan oleh masyarakat di seluruh Aceh sehingga ada beberapa rumah penduduk yang rusak. Gempa ini mengakibatkan tsunami. Pada masa ini kebutuhan pangan sangat sulit untuk didapatkan. Di Mukim Kunyet juga ada pengungsi yang datang untuk mengungsi sementara. Pengungsi tersebut datang dari daerah Laweung dan sekitarnya yang terkena tsunami.

Pada tanggal 15 Agustus 2005 terjadilah peristiwa yang mengharukan dan memerdekakan perasaan masyarakat yaitu perdamaian antara GAM dan RI yang ditandatangani di Helsinky, perdamaian ini dikenal dengan MoU Helsinky. Dengan adanya penandatanganan perdamaian ini turut dirasakan oleh masyarakat Mukim Kunyet sebagai bagian dari Aceh yang sangat lama merasakan keamanan yang tindak kondusif. Dengan kondusifnya keamanan penduduk dapat menggarap lahannya dengan aman.

Rawa-rawa di Mukim Kunyet dijadikan sawah sebagai upaya perluasan dan pengembangan usaha pertanian padi sawah. Sawah baru ini dilakukan dengan cara swadaya masyarakat.

Tahun 2010-sekarang
Pada tahun 2013 Tgk. Ibrahim, dipilih dan diangkat sebagai Imuem Mukim Kunyet untuk melanjutkan kepemimpinan mukim. Penataan lembaga mukim secara perlahan dilakukan, selanjutnya dengan bantuan dari berbagai pihak melakukan pendidikan melalui pelatihan-pelatihan dan juga melakukan pendokumentasian hukum adat di Mukim Kunyet. Dengan adanya pendokumentasian hukum adat diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pemerintahan mukim dalam menjalankan roda pemerintahan mukim.

Penataan kembali wilayah mukim diupayakan untuk dipetakan agar batas wilayah Mukim Kunyet semakin jelas dan tegas agar mendapatkan pengakuan dari pihak yang berwenang melakukan penetapan batas wilayah. Selanjutnya hutan di wilayah mukim merupakan harta kekayaan mukim ditata agar tidak dirusak lagi.

Sengketa lahan yang belum terselesaikan di masa sebelumnya menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu Imeum Mukim Kunyet berusaha untuk melakukan penyelesaian sengketa lahan dengan pendekatan penyelesaian sengketa secara adat untuk mendamaikan masyarakat yang bersengketa.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Uteun mukim: Hutan adat mukim yang dikelola oleh mukim untuk masyarakat mukim. Uteun mukim terbagi lagi ke dalam hutan untuk lindung, hutan untuk produksi yang boleh diambil hasil alamnya seperti awe (rotan).

Blang: Sawah yang ditanami padi setahun sekali. Sumber air dari tadah hujan dan ditampung di waduk.

Lampoh: Kebun/ladang. Masyarakat di dalam mukim bisa berkebun di dalam wilayah mukim. Sementara tidak dibolehkan untuk orang dari luar Mukim Kunyet.

Paya: Rawa-rawa.

Neuheun: Waduk yang terletak di atas persawahan.

Tanoh wakeuh: Tanah wakaf seperti blang (sawah) dan lampoh (kebun) milik perorangan yang dihibahkan ke mesjid. 
Uteun mukim: Dikuasai mukim dan dikelola oleh mukim melalui pawang uteun.

Blang: Dimiliki oleh perorangan. Tiap sawah gampong diatur oleh keujruen blang gampong.

Lampoh: Diatur oleh petua seunebok, tetapi masih mati suri.

Paya: Ada yang dimiliki oleh perorangan. Tidak boleh tuba eungkot (meracun ikan) dan mengontak/strom.

Neuheun: Dikelola oleh keujruen blang dengan SK Dinas pengairan Pidie dengan sebutan Penjaga Pintu Air (PPA). yang bertugas sebagai penjaga pintu air saat ada kebutuhan masyarakat. Tidak boleh tuba eungkot (meracun ikan) dan mengontak/strom.

Tanoh wakeuh: Milik perorangan yang dihibahkan ke mesjid kemudian selanjutnya dikelola oleh panitia mesjid.
 

Kelembagaan Adat

Nama Mukim
Struktur Imeum Chik, Tuha Peut Mukim, Imeum Mukim, Pawang Uteun, Petua Seuneubok, Keujruen Blang, Geuchik.
Imeum Chik: Pimpinan tinggi dalam bidang keagamaan dan pelaksanaan syariat islam (imam mesjid).

Tuha Peut Mukim: Perangkat adat yang memberi pertimbangan dan pengambil keputusan dalam rapat mukim. Tuha peut terdiri dari unsur tokoh masyarakat, kalangan kepemudaan, kalangan pedagang, dan kalangan petani dan unsur perempuan.

Imeum Mukim: Kepala pemerintahan mukim.

Pawang Uteun: Orang yang mengatur dan mengelola segala hal berhubungan dengan hutan, seperti luas hutan, penggunaan hasil hutan. yaitu orang yang ahli di bidangnya. Misalnya, Pawang Glé, yaitu orang yang ahli mengatur permasalahan berhubungan dengan hewan (fauna), di dalamnya ada pengkhususan lagi semisal Pawang Rimueng (ahli menangani harimau), Pawang Gajah (ahli mengenai gajah), Pawang Rusa (ahli menangani rusa), dan sebagainya.

Petua Seuneubok: Mengatur dan mengelola segala masalah berkaitan dengan lampôh (kebun) di mukim. pantangan, dan pembagian hasil lampôh.

Keujruen Blang: lembaga adat dan hukum yang mengatur dan mengelola segala masalah berhubungan dengan blang (sawah). Di dalamnya dibahas mengenai hari turun ke sawah, pantangan turun ke sawah, hasil panen, dan sebagainya.

Geuchik: Kepala pemerintahan gampong. 
Majelis Musyawarah Mukim 

Hukum Adat

Qanun Mukim Kunyet No 1 Tahun 2014 ttg Penguasaan dan Pengelolaan Hutan Adat Mukim.
Di dalamnya diatur tentang:
Penguasan wilayah hutan adat Mukim Kunyet.
Peruntukan kawasan hutan.
Pelaksanaan perlindungan hutan adat mukim.
Tata kelola dan pemanfaatan hutan adat mukim. Penebangan kayu, pemotongan rotan, berburu, mengambil madu.
Diatur juga peran serta masyarakat dalam pengelolaan hutan adat mukim.
Peran imuem mukim dalam pembinaan, pengendalian dan pengawasan.

contoh:
Penebangan Kayu
Pasal 17
(1) Warga mukim diperbolehkan menebang kayu di dalam wilayah hutan produksi dengan persetujuan pawang uteun.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan setelah pawang uteun memeriksa jenis kayu, diameter kayu dan letak tumbuhnya.
(3) Pawang uteun dalam memeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memperhatikan diameter kayu minimal 50 cm dengan radius berjarak 50 meter dari bibir sungai.
(4) Penebangan kayu sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diperuntukan untuk:
a. pembangunan rumah warga mukim;
b. kerenda jenazah; dan
c. bangunan umum.

Pantangan Uteun;
a. Pantangan adalah kegiatan yang tidak diperbolehkan pada waktu tertentu dalam pengolahan hutan.
b. Pantangan tersebut meliputi: memanggil atau berteriak dengan suara keras-keras, tidur dengan kaki terangkat keatas, memotong rotan dengan cara memanjat.
c. Jangan membawa barang hak orang lain (barang curian) kehutan tanpa seizin pemiliknya karena diyakini akan mengalami kesulitan ketika berada didalam hutan.
d. Bila diabaikan pantangan tersebut, maka resiko tanggungan sendiri para pelaku.
e. Waktu yang tidak diperbolehkan beraktivitas adalah Pada hari jumat dan Pada hari raya (hari tasrik).
f. Pada hari Jum’at, diperbolehkan beraktivitas setelah shalat jum’at.
 
Bupanji adalah pemancangan bendera putih pada sawah milik keujruen blang (peneuphon seumula).

Chahroet adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seulangke untuk memastikan status seorang gadis di suatu Gampông.

Masa meulake adalah suatu proses untuk meminang dan memberikan tanda jadi atau (jok caram).

Tueng lintoё adalah acara penyambutan pengantin laki-laki (Lintoё Baroё) ditempat pihak pengantin perempuan (Dara Baroё).

Intat lintoё adalah acara mengantar pengantin laki-laki (Lintoё Baroё) ditempat pihak pengantin perempuan (Dara Baroё).

Tueng dara Baroё adalah acara penyambutan pengantin perempuan (dara Baroё) ditempat pihak pengantin laki-laki (lintoё).

Intat dara Baroё adalah acara mengantar pengantin perempuan (dara Baroё) ditempat pihak pengantin laki-laki (lintoё).

Peucina buta adalah seorang wanita atau laki-laki yang dinikahkan terlebih dahulu kepada orang lain sebelum menikah kembali dengan bekas suami atau istri semula yang telah jatuh talak tiga.

Ba bu adalah sebuah prosesi adat yang dilakukan pada saat usia 7 bulan kehamilan istri dan penyerahan perawatan kehamilan sampai dengan melahirkan kepada mak bidan.

Peutreun aneuk adalah serangkai prosesi adat yang dilakukan pada saat bayi berusia tiga bulan atau lima bulan untuk memperkenalkan anak kepada dunia luar dengan membawa turun dari rumah kesuatu tempat yang dianggap suci.

Peucicap adalah hari syukuran bagi bayi baru lahir di hari ketujuh sejak kelahirannya.

Pageu Gampông adalah kegiatan untuk menjaga keamanan dan ketertiban ditingkat Gampông.
 
(1). Barangsiapa yang menebang kaye unoe tempat hunian lebah (unoe) dan meudang ara, bak merbau (pohon merbau), pohon tualang, kemuning, keutapang, glumpang, beringin, Ara Gusuk dan kayu-kayu besar lainnya tanpa mendapat izin dari pawang uteun akan dikenakan Sanksi Adat.

(2). Sanksi yang dapat dikenakan kepada pelaku penebangan kayu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sebagai berikut:

a. mesin dan kayu disita oleh gampông.
b. gampong yang melakukan penyitaan harus melaporkan kepada Imuem Mukim
c. harus membayar denda seharga umum perbatang kayu yang telah ditebang dan hasil kayu yang telah ditebang menjadi hak milik Gampông 70 % dan 30 % diserahkan kepada Pemerintahan Mukim.
d. kayu sitaan tersebut harus dipergunakan untuk kepentingan umum gampong dan kepentingan umum pemerintahan mukim.

Perselisihan di lampoh kemudian meupake (berkelahi), sanksinya: Kalau ro darah (keluar darah) harus membayar diyat/denda misalnya sejumlah Rp200.000 kemudian harus dipeusijeuk dengan membawa bu lekat (nasi ketan).

Khanduri blang: Tiga hari tidak boleh ke sawah.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, kangkung, kacang panjang, jagung, engkot seungko (lele kampung), bace (gabus), ileh (jenis belut), manok (ayam), keube (kerbau), leumo (lembu), kameng (kambing), rusa, gluh (kijang), napoeh (kancil)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Pala, bengkoang, kunyet (kunyit), on kaca (inai), tungkat ali, on capa, bak alin (gaharu), pineung, on ranup (sirih), ie unoe (madu)
Papan dan Bahan Infrastruktur Bak (pohon) sentang, bak durian, bak bayu, bak u (kelapa), bak pineung (pinang), bak trieng (bambu), awe (rotan)
Sumber Sandang On meria (daun rumbia), on seuke (daun pandan)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyet, jahe, serai, lengkuas, on pandan, boh me (asam jawa), boh limeng (belimbing wuluh), boh kuyun (jeruk nipis), boh u (kelapa), campli (cabai), tomat
Sumber Pendapatan Ekonomi Cokelat, pisang, u (kelapa), campli (cabai), ie unoe (madu), pineung (pinang), boh rambot (rambutan), langsat, mamplam (mangga)

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Keputusan Bupati Pidie 140/543/Kep.02/2016 Penetapan Batas Wilayah Mukim Kunyet Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie SK Bupati/Kepala Daerah  Dokumen