Wilayah Adat

Lewu Tehang (Dayak Ngaju)

 Teregistrasi

Nama Komunitas Komunitas masyarakat adat Tehang (Dayak Ngaju)
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Mahuning Raya
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 26.910 Ha
Satuan Lewu Tehang (Dayak Ngaju)
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat desa Kabirum Kecamatan Marikit Kabupaten Katingan Tepatnya di Opon Tantiring Es, Bukit Es, Tantiring Bukit Es Arah Barat, Opon Tantiring Bukit Iiman),
Batas Selatan Desa Luwuk Tukau Kecamatan Manuhing Raya (Bukit Tusut, Sungei Tusut, Tantiring Hulu sungei Kaja, simpang tiga Hulu Sungei Tewing, simpang dua jalan AG, Salaka Due Sungei Unau, Tantiring Bukit es, Tantiring Bukit sungei Linau, dan Sungei Parawei)
Batas Timur DesaTusang Raya Kecamatan Rungan Barat (Tantiring Bukit sungei Haei dengan Sungei Karangei, simpang due jalan/jembatan runtuh Sungei Haei, Tantiring Sungei Tean dan Palanduk, Simpang Due Jalan Sungei Tean dengan Palanduk, Tantiring Sungei Kamaji, Pondok pertemuan tani Sungei Kamaji, simpang due jalan / Karnaji atau Pondok Bapa Adi, Tantiring Hulu Sungei Bara dengan Sungei Karangei, Tantiring Hulu Sungei Karungan dengan Sungei Karangei, Tantiring Hulu Sungei Manuhing, Murik Gantau dengan Hulu Sungei Sariau.)
Batas Utara Desa Marikoi Kecamatan Damang Batu ( Hulu Sunga Tohop)

Kependudukan

Jumlah KK 592
Jumlah Laki-laki 1355
Jumlah Perempuan 1227
Mata Pencaharian utama Pertani karet, penambang emas dan Berladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Pada mulanya ongko buhang berasal dari bukit rawi sekitar abat 17, Ongko buhang menikah dengan orang katingan (.......) dan menetap di Guhung sungei manuhing, kemudian merantau ke sungei mantuhen tepatnya di kalehka Gahis/Pama, sebelum kampung Tehang yang sekarang ada, leluhur penduduk Tehang pada jaman dahulu telah dua kali berpindah tempat permukiman, yang dimana daerah keduanya berada di seberang kampung Tehang yang sekarang.

Nama Tehang rupanya bukanlah penamaan yang diberikan sejak jaman dahulu sebelum kampung Tehang sekarang bernama Tehang. Ada beberapa nama kampung sebelum nama Tehang seperti, Nyenyang (Kaleka) dan Pandu (Kaleka).

Menurut cerita yang tim dapatkan dari lapangan bahwa Nyenyang adalah kampung pertama penduduk Tehang, yang kemudian berpindah lokasi menuju daerah baru dan diberi nama kampung Pandu. Kedua kampung ini telah ditinggalkan dan menurut informasi yang tim dapatkan kedua kampung ini disebut dengan nama Kaleka Nyenyang dan Kaleka Pandu. Kaleka yang berarti Bekas Kampung / Derah yang dulunya pernah menjadi kampung. Ketika saat itu leluhur penduduk Tehang yang sekarang, bermukim di Kaleka Pandu, namun mereka merasa daerah tersebut kurang nyaman untuk ditinggali, karena tanah pada daerah tersebut berbukit dan dianggap tidak cocok untuk dijadikan kampung. Kemudian mereka berinisiatif untuk mencari lokasi baru untuk ditinggali dengan cara meminta petunjuk kepada roh leluhur untuk membantu menunjukkan lokasi yang tepat kepada mereka untuk dijadikan kampung. Meminta petunjuk kepada roh leluhur, mereka lakukan dengan cara Ritual Menajah Antang, adalah ritual yang memanggil Antang (Elang Gaib/Jelmaan Leluhur) untuk menunjukkan lokasi/daerah yang tepat bagi mereka untuk dijadikan kampung dengan tanda yang diberikan berputar-putarnya Antang (Elang Gaib) tersebut diatas lokasi/daerah yang ditentukan. Setelah mendapat petunjuk terkait lokasi/daerah baru yang akan mereka tinggali tersebut maka mereka segera berpindah menuju daerah yang baru tadi. Cerita menarik menurut masyarakat Tehang bahwa lokasi terakhir sebelum leluhur penduduk Tehang berpindah menuju lokasi Tehang sekarang, kampung Kaleka Pandu berada tepat diseberang sungai kampung Tehang sekarang berdiri, hanya di pisahkan oleh sebuah sungai yang disebut sungai Manuhing. Berdasarkan petunjuk Antang (Elang Gaib) tentang lokasi untuk mendirikan kampung baru maka penduduk berpindah dan berdirilah kampong Tehang yang sekarang ada.

Kampung Tehang sendiri diberikan penamaannya oleh Dambung Puan yang pada masa itu menjabat sebagai pemimpin kampung. Nama Tehang mempunyai arti : Terang atau Bekas Tebasan. Lokasi Tehang pada saat sebelum dijadikan kampung merupakan tempat berladang bagi penduduk dari Kaleka Pandu. Hingga sekarang kampung Tehang tetap berdiri dan semakin besar dengan jumlah penduduknya juga semakin bertumbuh pesat. Tehang yang kemudian pada masa sekarang telah berubah menjadi kelurahan Tehang dalam administrasi pemerintahan.
Demikianlah sejarah singkat nama kampong Tehang dengan beberapa kali perpindahan penduduknya pada tahap pertama, kedua dan yang sekarang.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Himba Duyun (Tempat sakral/Hutan yang tidak bisa diganggu, sepan Bilas, Bukit Riwut, Bukit Liman, Hulu Sungei Taha), Tana (Tempat Berladang), Bahu (Himba Lakau), Kabun (Kebun Karet dan kebun Campuran, Eka Cagar Malan (Tempat Cadangan untuk berladang), Lewu Tehang (Pemukiman). 
1. Milik bersama
2. Milik perorangan (Warisan, Jual Beli, dan Membuka lahan sendiri) 

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Manuhing Raya
Struktur Mantir Adat (3 orang)
Mantir adat: sebuah jabatan seseorang di komunitas masyarakat hukum adat dan sebagai hakim wilayah mantir kelurahan dan mantir kecamatan yang mengurus hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat hukum adat serta wilayah adat di daerah kemantiran.
Contoh : Penegakan mengenai hukum adat seperti sengketa tanah, perkelahian, perceraian, pernikahan, perselingkuhan.

Ketika ada perkara baru ditunjukan siapa yang menjadi ketua/wakil ketua untuk mengambil suatu keputusan dan mantir adat bisa meminta kepada aparat desa untuk menjadi anggota sidang adat.
kepada aparat desa untuk menjadi anggota sidang adat. 
Musyawarah dan Mufakat (Pumpung)
 

Hukum Adat

1. Dengan sengaja mengambil, merampas dan mengelola hak – hak sumber daya alam milik masyarakat adat, tanpa seijin dari pihak konunitas adat Tehang, maka dikenakan denda Hukum adat berupa nilai Jipen 25000 yang ditukar dengan nilai uang Rp. 2.500.000.000,- Terbilang (Dua Milyar Lima Ratus Juta Rupiah).
2. Masuk dengan sengaja/tanpa ijin, sehingga mengakibatkan rusaknya areal yang bersifat sakral, seperti : Keramat, Pukung Pahewan, Tanah rutas, Mata Air, Tajahan, Hutan Produksi, Tanah Adat, Hutan Wisata, Hutan Pertanahan Adat, Kuburan, Sandung/Sapundu, Tanggiran. Dikenakan denda hukum adat berupa Jipen senilai 34460 atau disamakan dengan nilai uang sebesar 3.446.000.000 : 16 Rumusan Adat, maka denda akhir dibayar dengan nilai uang sebesar Rp. 215,375.000,- terbilang (Dua ratus lima belas juta tiga ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. 
Apabila pasangan laki-laki dan perempuan tanpa ada ikatan perkawinan yang syah duduk santai pada malam hari sampai pukul 21:00 Wib tanpa ada orang lain akan dikenakan hukum adat Jipen 1-5, dengan nilai 1 (satu) Jipen adalah senilai Rp.100.000. 
Kasus perkelahian antar warga tahun 2000 mengakibatkan si kurban cacat seumur hidup, berdasarkan keputusan
kerapatan mantir adat kepada pelaku dikenakan mernbayar biaya pengebatan kepada kurban sampai sembuh dan
denda/sahering senilai Rp. 50.000.000,00. Kemudian masuk penjara selama 6 buIan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, ubi kayu, ubi jalar, jagung manis, keladi, kacang panjang, bajei, rebung, humbut rua, humbut nange, pakis tabantal, rimbang, kanjat, lempang, paria, tantimun, baluh puti, baluh bahenda. Buah – buahan : Durian, mangkahai, Bua Lahong, rambai, tongkoi, bua karanji, katiau, embak, mawuh, hakam.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Saluang belum, pasak bumi, tabat barito, bajakah bahenda (Akar kuning), uhat sungkai, uhat panahan(obat sakit gigi). Tumbuhan untuk membuat kasai : Kalanis, henda bangapan, akar teken parei.
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu banuas, palepek, mahadirang, tabalien, mahalilis, bangkirai, rompeng, lentang, mahambung.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, lai, sarai, langkuas, suna, dawen sungkai.
Sumber Pendapatan Ekonomi Berladang, menyadap karet, Menyedot mas, mandulang mas.