Wilayah Adat

Tondok (kampung) Kariango

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kariango
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU UTARA
Kecamatan Seko
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.384 Ha
Satuan Tondok (kampung) Kariango
Kondisi Fisik
Batas Barat Batu Api, Buntu Api, Buntu Sore, Buntu Kole, WA Beroppa dan Mamuju Sulawesi Barat
Batas Selatan Buntu Salu Masilo, salu Sasiakna, Buntu Sasiakna, Buntu Papan, Salu Batu Papan, WA Beroppa
Batas Timur Buntu Tabembeng, Salu Lengko, Buntu Malimongan, Buntu Tua WA Limbong, dan Desa Rinding Allo Kec. Rongkong
Batas Utara Buntu masura, batu masura, buntu manipa, buntu tete WA Pohoneang

Kependudukan

Jumlah KK 309
Jumlah Laki-laki 350
Jumlah Perempuan 420
Mata Pencaharian utama Bertani (ma’tampang) dan berkebun (ma’bela)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas adat Kariango berasal dari Kanandede yang bernama ne’ karoro, nek paewa, nek kujan. Mereka adalah 3 bersaudara pemburu (to moasu) dari Kanandede melintasi gunung sekitar ribuan tahun yang lalu dan bermukim serta membuat pondok di Tondok Kariango serta menetap di sana. Kemanapun mereka berburu akan tetap membawa hasil buruannya ke Kariango.
Mereka yang pertama memberi nama tumbuhan dengan sebutan Kariango yang artinya kampung berasal dari tumbuhan yang biasa digunakan komunitas adat sebagai obat tradisional. Tondok dingei totto (kampung tempat mereka tinggal) yang bernama Kariango berada sejak 600 tahun yang lalu. Kemudian membentuk satu perkampungan sehingga masayarakat melakukan musyawarah (kasirampunan) untuk menentukan pemimpin yang digelar tomakaka dan pada saat itu sepakat mengangkat Ambe Tarongko, selanjutnya:
1. Ambe Tarongko
2. Sa’bi
3. Palamba
4. Yunus boong
Komunitas adat Kariango sudah berada sejak berdirinya kampung kariango yang masuk dalam Desa Malimongan oleh Tomakaka pertama sehingga msayarakat secara turun temurun mendiami kamoung tersebut hingga saat ini dan menyebarluaskan adat istiadat sekaligus perangkat adat Kariango.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Panggala’ Ongkoan: kawasan hutan yang dilindungi masyarakar adat dan tidak boleh dialihfungsikan untuk perkebunan tetapi hanya bisa diambil kayunya khusus untuk ramuan rumah, mengambil rotannya, obat-obatan, madu, dan hasil hutan non kayu.
Panggala manggura: lahan yang pernah dilolah oleh masyarakat adat lalu ditinggalkan hanya 3 tahun kemudian diolah kembali untuk ditanami palawija seperti sayur, padi, dll.
Tampang (sawah): lahan persawahan secara turun temurun menjadi sumber pangan yang diolah dengan sistem pengairan tradisional.
Patondokan (pemukiman): merupakan areal perumahan penduduk beserta sumber mata pencaharian bertani dan berkebun yang masih terjangkau oleh masyarakat adat untuk kebutuhan pangan dan arealnya yaitu pangoa manipa (perkebunan), asi’-asi’ (persawahan), kanan (persawahan), kaju mea (persawahan), kariango (perkampungan), se’pon (perkampungan).
 
1. Wilayah individu yang merupakan area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk tondok (hunian), tampang (sawah), dan bela (kebun).
2. Warisan yang merupakan lahan yang dikelola secara turun temurun oleh satu rumpun atau satu garis keturunan (sangrapuan) saudara atau sepupu, dan tidak boleh dipindahtangankan ke pihak yang lain, dan apabila susah tidak dikelola maka lahan tersebut akan kembali ke lembaga adat dan diberikan lagi kepada orang yang akan mengelolanya.
3. Pa’mesaran atau komunal yaitu tanah yang dikelola secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat adat seperti rotan, kayu, dll.
 

Kelembagaan Adat

Nama Kariango
Struktur Tomakaka Tosiaja Pongngarong Sando Pade Besi
- Tomakaka: pimpinan tertinggi dan atau pengambil keputusan tertinggi dalam masyarakat dan kelembagaan adat Kariango’.
- Tosiaja: penegak hukum adat sesuai dengan aturan adat Kariango.
- Pongngarong:
1. Menangani seluruh usaha yang menyangkut kebutuhan hidup masyarakat adat
2. Melaksanakan upavara adat setiap turun sawah atau sebelum menghambur beni (mangambo’) yang dilaksanakan di rumah kediaman pongngarong sendiri
3. Melaksanakan upacara adat pada awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (syukuran panen)
- Sando/ penasehat (kesehatan) mempunyai tugas sebagai berikut:
1. Mendinginkan suasana atau mendinginkan kampung artinya bahwa di dalam kampung tidak boleh ada pertengkaran dan perpecahan baik di dalam rumah tangga maupun masayarakat adat secara keseluruhan.
2. Melaksanakan dan emmimpin upcaara adat ma’pacakke’ wanua adar orang yang tinggal di dalam rumah tersebut dapat hidup damai, tentram, dan bahagia.
3. Melaksanakan danmemimpin upacara adat ma’ pacakke uai (menyucikan air) yang mana air bagi masyarakat adat sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
- Pande besi: membuat peralatan pertanian dll.
 
Hampir secara keseluruhan pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin lembaga adat dengan mendengar saran dari matua tondok dan tosiaja’.
Ada juga keputusan yang harus diambil dengan para perangkat adat (kasirampunan) dengan para perangkat adat.
Yang masuk dalam keputusan melalui musyawarah adat beroppa semisal perkelahian, pencurian, kasus tanah, asusila atau persinahan. Hal tersebut harus melewati proses musyawarah untuk membuktikan informasi tersebut.
 

Hukum Adat

Mangambo’: melaksanakan upacara adat setiap turun sawah atau sebelum menghambur beni, yang dilaksanakan di rumah pangngarong sendiri.
Ma’pevong: melaksanakan upacara adat apda awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (syukuran panen).
Ma’pacakke banua (mendinginkan rumah): melaksanakan dan memimpin upacara adat dengan tujuan agar orang yang tinggal di dalam rumah dapat hidup damai, tentram, dan bahagia.
Ma’pacakke uvvai (menyucikan air): melaksanakan dan memimpin upacara adat yang mana air bagi masyarakat adat sebagai sumber kehidupan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Menggali kubur: apabila ada msayarakat adat yang menggali kuburan pada saat musim tanam padi di sawah maka padi akan dimakan tikus dan mengakibatkan gagal panen.
 
Dasar hukum untuk sanksi adalah turun temurun dan dilakukan oleh pemangku adat.
Denda 1 ekor kerbau adalah pelanggaran berat seperti asusila dan merendahkan derajat orang lain.
Denda babi untuk saling memaafkan, hal ini dilakukan jika ada orang yang melakukan perselisihan.
Denda ayam untuk pelanggaran yang ringan semacam melakukan pencurian.
Semua itu dilakukan dengan cara bermusyawarah (kasirampunan).
 
Untuk pendatang yang masuk dalam komunitas dan melakukan pelanggaran maka hokum akan tetap diberlakukan tanpa kecuali sesuai dengan aturan yang berlaku di dalamnya.
Ketika ada orang yang melakukan asusila dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong 1 kerbau dan dimakan bersama masayarakat adat Kariango dan apabila mereka mengulangi perbuatannya lagi maka akan dilakukan denda berupa pali’ (diusir dari kampung)
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi: pare bela’ dan pare tampang Umbi-umbian: ubi jalar dan singkong Jagung Sagu Kacang hijau dan kacang panjang Daun kaju (daun singkong), daun lavu (daun labu), daun lomba (daun gambas), katambi (bulu nangko), dan terong Pisang Jeruk Langsat Durian Kelapa Nangka
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kumis kucing: obat ginja Revu nippon: obat sakit perut Lampujang: campuran bedak Jahe, kencur: obat luka lebam, Daun sari kaja: obat hipertensi Kunyit: obat penurun panas Kunyit, beras, dan daun pandan: campuran bedak Kaju lange: mengobati ketombe dan menyuburkan rambut Kelapa: mengobati ketombe
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu uru: tiang rumah adat Kayu bitti: dinding rumah Kayu rondong (kayu api): batang kayu Rondong untuk membuat rangka dan dinding rumah Bambu: dinding dan atap rumah Batu: alas tiang rumah
Sumber Sandang Bambu: membuat nyiru Daun pandan: membuat baklul, tikar, dan tudung kepala
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kencur, jahe, sereh, lengkuas, daun bawang, daun kemangi, kunyit: campuran bumbu masak Mangga, belimbing, asam tuak, kedundung, dengen, patikala: penyedap masakan
Sumber Pendapatan Ekonomi Padi, kopi, cokelat, dll