Wilayah Adat

Bure

 Teregistrasi

Nama Komunitas Bure
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota LUWU
Kecamatan Walenrang Barat
Desa belum ada
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.962 Ha
Satuan Bure
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Disebelah barat dibatasi oleh Wilayah Adat Kujan Desa Lempe dan Kab. Toraja Utara
Batas Selatan Dibagian selatan dibatasi oleh Wilayah Adat Paranta dan Wilayah Adat Uru Desa Uru ( llanbatu )
Batas Timur Dibagian Timur berbatasan dengan Sungai Wilayah Adat Sangtandung Kecamatan Walenrang Utara dan Wilayah Adat Kujan Desa Lempe Kee. Walenrang Barat
Batas Utara Disebelah utara wilayah adat Bure dibatasi oleh Wilayah adat Kujan Desa Lemoe Kee Walenrana Barat

Kependudukan

Jumlah KK 245
Jumlah Laki-laki 483
Jumlah Perempuan 627
Mata Pencaharian utama bertani, berkebun, sawah, beternak

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Keberadaan Komunitas adat Bure, asal-usulnya secara historis berasal dari Tomanurung yang bernama Puang Tambuli Buntu. Puang Tambuli Buntu dikenal memiliki kesaktian antara lain : Mampu memelihara ikan di gunung, Jikala ujung tongkatnya di tancapkan ketanah maka akan mengeluarkan air dan jika melangkah melewati lembah maka hanya dalam sekali melangkah saja lembah tersebut dapat dilewati. Puang Tambuli Buntu Inilah yang konon katanya menjadi nenek moyang semua orang yang ada di Walenrang pada umumnya. Suatu ketika Puang Tambuli Buntu kedatangan seorang tamu Agung, dan kemudian Tamu Agung tersebut disuguhi tuak/nira manis dan diminum oleh tamu Agung. Kemudian tamu Agung tersebut kagum dengan suguhan yan diberikan oleh Puang Tambuli Buntu, tamu Agung kemudian bertanya : darimana asalnya minuman manis ini diambil Kemudian Puang Tambuli Buntu menjawab: Minuman ini berasal dari pohon Induk/pohon aren, dijelaskan : dari pohon induk/aren itulah keluar tangkai yang berbuah yaitu buah mayang/buah aren “Bure Mayang”, kemudian buah Mayang dirambi/dipukul disekitarnya sebanyak enam kali sampai buah mayang mengeluarkan aroma harum yang khas, Bure Mayang tersebut kemudian dipotong setelah dipotong keluarlah Tuak/Nira. Tuak tanning (Manis) inilah yang disuguhkan kepada tamu agung, kemudian tamu agung tersebut meminta lagi sebagai bekal dalam perjalanannya, dan didalam perjalanan si tamu Agung tersebut setiap bertemu orang dijalan, orang tersebut bertanya apa yang dibawah oleh tamu agung. sang tamu agung menjawab ini adalah Tuak/Nira.
Sehingga asal mula Nama Bure itu diambil dari bahasa lokal yang berarti tempat pertama ditemukannya Tuak Induk/Minuman aren yang keluar dari Bure Mayang. Setelah berkembang dan menetap di kampung tersebut dan diberi nama Bure, maka masyarakat kembali melakukan musyawarah adat untuk menentukan pemimpin yang digelar Tomakaka dan pada saat itu masyarakat adat mengangkat seorang tomakaka pertama yang bernama :
1. Puang Tambuli Buntu
2. Puang Bongga
3. La’te Pagiling
4. La’te Palallo
5. Pong Majjala
6. Patedo’
7. Bada’
8. M. Sampe Tondok
9. Kolenel CTP Ir. Amsal Sampe Tondok, Msi .

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Titipan (Pangala Tamman)
Hutan yang dititipkan atau diwariskan oleh katurunan (rumpun) untuk dijaga. Hutan ini merupakan hutan larangan yang tidak boleh diakses atau diambil sumberdaya yang ada didalamnya. Namun hutan ini boleh dipakai jika saatnya tiba, bagi Kampong Ada’ untuk menempatinya. Misalnya: Pangngala Talojok, Pangngala Bau, Pangngala Buntu Bau, Pangngala Sandana, Pangngala Rante Lebani, Pangngala Liang Sugi.
- Hutan Tutupan (Kabo)
Hutan yang merupakan batas antara hutan titipan dan hutan garapan. Hutan ini juga dijaga dan tidak boleh dimanfaatkan sumberdaya didalamnya kecuali hanya untuk kepentingan adat/Ada’. Lokasinya ; Hutan Toddo’, Hutan Galampang, Hutan Unta’, Hutan Malussa, Hutan Lempe.
- Hutan Bukaan/Garapan (Pangngala Dijama)
- Hutan bukaan atau hutan garapan merupakan areal yang sudah dibuka maupun sebagian masih berupa hutan yang dipakai untuk pemukiman, persawahan, kebun dan juga boleh dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat ; Rante Tabaro, Pa’ Kaparan, Tondo’ Kalo,pe, Buntu Tiku’. 
- Di dalam wilayah adat Bure, secara umum penguasaan dan pengelolaan wilayah adat terbagi menjadi dua yaitu wilayah komunal dan wilayah individu. - Wilayah individu ini merupakan area-area yang sudah dikelola oleh warga adat seperti area untuk Tondok (hunian), Tampang (Sawah), dan Bela’ (kebun).
- Tanah yang dikelolah secara bersama dan diambil manfaatnya untuk kebutuhan masyarakat adat seperti rotan, kayu dll. Proses pembagiannya pun harus diputuskan atas persetujuan Tomakaka. Biasanya di masing-masing Tondok ada ‘Matua’ yang akan menyampaikan informasi ke Tomakaka apabila ada warga yang membutuhkan area kelola untuk kehidupannya. Selain itu ada juga Anginan (Tempat) yang merupakan area yang digunakan untuk Tomakaka . Bentuknya ada sawah, kampung, Kabo (Belukar), Belak (kebun) dan lain-lain. (Komunal).  

Kelembagaan Adat

Nama Bure
Struktur - Indo’ Tondo’ - Tomakaka - Baliara - Matua - Bunga Lalan - To Mantawa
- Indo’ Tondo’ ;
Orang yang dituakan didalam masyarakat adat (Penasehat)
- Tomakaka;
Memelihara kedamaian, Kesejahteraan, menjaga nama baik dan Mengambil Keputusan Apabila Ada Masalah Yang Terjadi dalam Masyarakat Adat.
- Matua;
Mengangkat Tomakaka, Memecat Tomakaka apabila melanggar adat, memelihara perdamaian, merencanakan kesejateraan dan menjaga nama baik komunitas.
- Baliara:
Menjelaskan Tatanan Adat, Merencanakan Konsep Acara, mengukuhkan Tomakaka (melantik) dan menjaga nama baik komunitas.
- Bunga’ Lalan ;
Merencanakan Awal mula bercocok tanam, Merencanakan syukuran dan Menjaga nama baik komunitas.
- To Mantawa ;
Membagi-bagikan bila ada yang perlu dibagi dan membagi sesuai tingkatan status masyarakat 
- Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka sebagai pemimpin tertinggi di wilayah adat melalui musyawarah adat (sipulung-pulung)
- Ada juga keputusan Yang harus diambil secara musyawarah adat dengan para perangkat adat.
- Yang masuk dalam keputusan melalui Musyawarah adat Bure semisal terjadi perkelahian, pencurian, kasus tanah, asusial atau persinahan, maka inilah yang akan melewati proses musyawarah untuk membuktikan kebenaran informasi tersebut 

Hukum Adat

- Melaksanakan Upacara Adat setiap rokko Tampang (Sawah) atau sebelum menghambur beni, yang dilaksanakan di rumah kediaman Bunga Lalan sendiri dan dilakukan pembentukan upacara adat (persiapan turun sawah)
- Makkuru Sumanga’: Melaksanakan Upacara Adat pada awal musim tanam padi dan pada waktu selesai panen (Syukuran Panen).
- Menggali kubur (Mangkali Kaburu’)
Apabila ada masyarakat adat yang menggali kuburan pada saat musim tanam padi di sawah, padi itu akan di makan ulat dan juga akan mengakibatkan gagal panen.
- Menanam padi tidak boleh lebih sekali dalam setahun.
- Benih padi yang ditanam harus padi titipan leluhur khusus ditanam di ladang (Bela’).
- Segala bentuk yang berhubungan dengan padi harus sesuai dengan tatanan tradisi leluhur .
- Tidak boleh Mengambil sesuatu dari hutan titipan dalam bentuk apapun. Kecuali seijin dari pemangku adat (Tomakaka).
-Tidak boleh merusak sumber mata air.
Selain itu Tomakaka Bure juga masih menjaga warisan tradisi dalam menanam padi yaitu hanya melakukan satu kali panen dalam satu tahun. Padi yang ditanam pun harus padi lokal yang diwariskan oleh leluhur yang dulunya ada 13 jenis bibit, dan sekarang masih tetap 13 jenis bibit padi.  
Hampir secara keseluruhan semua pengambilan keputusan adat di tangan Tomakaka melalui musyawarah adat sebagai pemimpin lembaga adat.
- Yang masuk dalam keputusan melalui musyawarah adat Bure semisal terjadi Yaitu:
- didosa, adalah pelanggaran yang termasuk pada semua tingkatan pelanggaran seperti tingkatan ringan (potong ayam), Sedang (potong babi khusus untuk beragama nasrani), Berat (potong kerbau).
- Dipalik/diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai tujuh turunan serta dirambuan langi , adalah pelanggaran yang masuk dalam kategori berat (Potong kerbau).
- Dipalulunni Jali’ ketika terjadi pelanggaran melakukan perbuatan seperti menghamili ibu kandungnya atau saudara kandungnya. Termasuk pelanggaran Berat.
• Persinahan (denda 1 ekor kerbau dipotong)
• Hal ini bisa menimpa seseorang apabila melakukan kelalaian atau pelanggaran adat, hukuman ini biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya sesuai dengan pelanggarannya.
• Aturan tersebut di atas diberlakukan kepada seluruh masyarakat adat Bure dengan maksud tidak mengulangi lagi pelanggaran tersebut dengan istilah di rambuan Langi, Didosa, dipali', dipalulluni jali', harus bicara dulu atau mendapatkan ijin, segala yang akan dipakai atau dimakan harus bersih dari segala hal, dan harus bisa menyampaikan apa adanya dengan kejujuran). 
- Untuk pendatang yang masuk dalam Komunitas dan melakukan pelanggaran maka Hukum akan tetap diberlakukan, tanpa terkecuali sesuai dengan aturan yang berlaku didalamnya.
- ada masyarakat yang tinggal di wilayah adat Bure melakukan kegiatan Ma’ Balik Gandang tanpa memberitahukan kepada pemangku adat kemudian orang tersebut diberikan sangsi adat dengan cara menghadap ke Tomakaka untuk mengakui kesalahannya dengan membawa seekor ayam jantan putih dan sangsuke tuak/satu ruas bambu (termasuk pelanggaran ringan).
- Ketika ada orang yang melakukan perzinahan dengan istri orang lain maka orang tersebut diberikan sanksi adat berupa sanksi berat seperti didosa dengan memotong satu ekor kerbau dan dimakan bersama masyarakat adat Bure. Jika tidak mematuhi aturan dengan memotong satu ekor kerbau maka akan diusir keluar kampung dan tidak boleh kembali sampai 7 turunan. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan - padi, umbi-umbian, jagung, sagu): Padi (Pare Bela’ dan Pare tampang). - Kacang hijau dan Kacang panjang. -Buah (Durian, Pisang , Nangka, Mangga,Aren, Langsat, kopi, dll). Sayuran (Sawi, Bayam, Kacang panjang, Terong, Daun singkong, Daun Lotong, Dauan suka, Daun Bulu Nangko, Umbu Rotan dan Umbu Banga).
Sumber Kesehatan & Kecantikan - kumis kucing = Obat Ginjal - lampujang, jahe, kencur = - Daun Sari kaja = Obat Hypertensi - Kulit Kayu Jawa = Obat Luka - Daun Maradda’, Daun Bulu Nangko,Daun Sualang = Obat Penyakit Dalam - Kunyit, Beras, Daun Pandan, kencur = Campuran Bedak - Kemiri, Kaju Lange’, Kelapa = Untuk Menghitamkan Rambut, Menghilangkan Ketombe dan Menyuburkan Rambut
Papan dan Bahan Infrastruktur - bambu = untuk Pagar Rumah, Lantai, Balok dan Dinding Rumah -kayu uru, kayu nato, kayu tariwan, kayu betao, kayu bitti, kayu sandana, kayu jabon, kayu dengen, kayu polio, kayu sipate = Untuk Bahan Ramuan Rumah.
Sumber Sandang - kapuk, kapas = Untuk Membuat Bantal, Kasur - nase (Daun Pandan) = Untuk Membuat Tikar, Bakul, Tudung Kepala - rotan = Untuk Membuat Kursi, Lemari dll.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu • Kencur, Cabe, Jahe, Sereh, Lengkuas, daun Bawang, Kunyit = untuk campuran bumbu Masak • Mangga, Belimbing, Asam Tuak, Kadundung, Dengen, patikala = digunakan untuk penyedap masakan
Sumber Pendapatan Ekonomi cengkeh, padi, cokelat, jagung, sagu, kayu, rotan, durian, mangga, langsat, rambutan, cempedak, dll