Wilayah Adat

Kampung Terongin

 Teregistrasi

Nama Komunitas Dayak Barai
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Kayan Hilir
Desa Engkarangan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 625 Ha
Satuan Kampung Terongin
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Natai Marau Desa Engkarangan
Batas Selatan Natai Mulan desa Engkarangan
Batas Timur Engkarangan desa Engkarangan
Batas Utara Desa Mentunai

Kependudukan

Jumlah KK 44
Jumlah Laki-laki 78
Jumlah Perempuan 81
Mata Pencaharian utama Bertani & berkebun karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kampung Terongin letaknya berada dekat sungai Terongin, Sungai Terongin sendiri merupakan anak sungai Kayan.
Adapun orang pertama yang membuka dan tinggal di Terongin adalah saloh. Saloh sendiri awalnya berasal dari (1)Tingatn Serian ( Kalimantan Tengah), Dari Tingatn Serian pindah ke (2)Tempunak Bukit ( gunung Saran), Dari Tempunak Bukit pindah ke (3) Pagar Babi Mangku Dari Pagar Babi Mangku Natai pindah ke (4) Medang Belentau ( sekitar bukit Dedai), Dari Medang Belantau pindah ke (5) Ludatn Tanjung Tambak ( Hulu Sungai Kayan—Bangau), dari Ludatn Tanjung Tambak pindah ke (6) Tanjung Barai ( Lidau), dari Tanjung Barai pindah ke (7) Barai Ladau ( daerah Natai Marau( dulu), Dari Barai Ladau baru pindah ke (8) Terongin hingga Sekarang, Dari Saloh hingga Andi ada 7 keturunan, :
1. Saloh ( Perempuan)
2. Limpas ( Perempuan
3. Jobo’ ( Perempuan)
4. Mayang ( Perempuan)
5. Jontang (Laki – laki)
6. Agan ( Laki - Laki)
7. Andi ( Laki – Laki)
Adapun pengurus adat yang pernah menjabat di Terongin dimulai dari Entayot sebagai Kepala kampung Hingga Libon sebagai kepala Dusun, adapun urutannya seperti dibawah ini :
1. Entayot ( Kepala kampung)
2. Samad ( Kepala Kampung)
3. Panji ( Kepala Kampung
4. Kintit ( Kepala Kampung)
5. Amit ( Kepala Kampung)
6. Anun ( Ketua RT)
7. Ketai ( Ketua RT)
8. Libon ( Kepala Dusun) --- RT 1 ( Sudin) dan RT 2 ( Ketai)

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

1. Bawas
Bawas merupakan bekas ladang yang diberakan (dibiarkan) selama beberapa tahun. Dibiarkannya bekas ladang menjadi hutan lagi adalah cara masyarakat adat Kampung Engkarangan untuk meningkatkan kesuburan tanah kembali. Hilangnya humus dibawa saat panen. Humus akan kembali dari vegetasi yang tumbuh di atasnya baik jenis rumput maupun kayu. Semakin banyak serasah maka tingkat kesuburan lahan semakin tinggi. Masyarakat Engkarangan akan membuka bawas setelah berumur 4 – 5 tahun.

Pengelolaan kawasan ini dikelola berdasarkan kepemilikan masing-masing. Jika anggota keluarga di kampung tersebut banyak memiliki bawas maka mereka bisa menggilir lahannya lebih panjang. Panjang pendeknya penggiliran waktu pembukaan lahan akan berpengaruh terhadap hasil, semakin lama lahan diberakan/ dibiarkan menjadi hutan maka hasilnya semakin baik.
Sekarang lahan bawas di daerah hampir semuanya di tanami karet, sehingga hampir sulit untuk berladang, untuk memenuhi kebutuhan akan beras masyarakat akan membuka lahan payak untuk di jadikan sawah semi modern.

2. Hutan Akasia dan Pinus
Tanaman akasia dan pinus di kawasan adat kampung Terongin, masing. Kawasan tanaman pinus ini merupakan bekas PT. INHUTANI III yang ditanam sejak tahun 1996/1997. INHUTANI III mulai tidak beroperasi lagi sejak tahun 2002.
Beroperasinya perusahaan ini awalnya untuk memperbaiki kualitas lahan yang tandus serta memberikan lapangan kerja bagi penduduk setempat, tetapi karena tidak dikelola dengan baik sehingga menyebabkan wilayah ini menjadi semak belukar dan padang ilalang. Keberadaan lahan yang di penuhi semak belukar dan ilalang semenjak ditinggalkan selalu terjadi kebakaran sepanjang tahun, terutama sejak musim kemarau. Dampak lain yang sangat krusial dimana lahan yang ditinggalkan di klaim oleh pemerintah daerah Sintang.
3. Kebun Karet dan Tengkawang
Kebun karet bagi masyarakat Engkarangan merupakan usaha yang penting setelah ladang. Dari usaha menoreh karet masyarakat bisa mendapatkan hasil uang langsung. Rata–rata hasil menoreh karet penduduk adalah 5 kg per hari per keluarga. Harga karet Rp 4.500 ( harga per Oktober 2014), maka penghasilan dari karet sebesar Rp22.500 per hari per keluarga. Jika dalam satu bulan efektif menoreh sebanyak 20 hari, maka penghasilan per keluarga sebesar rp 450.000.

4. Pemukiman
Kawasan pemukiman masyarakat kampung Terongin terletak memanjang sebelah kanan mudik sungai Kayan. Perpindahan kawasan pemukiman sekarang merupakan yang ke 8 (delapan belas) setelah dari Tingatn Serian ( Kalimantan Tengah).

5. Payak
Payak atau rawa merupakan kawasan yang tergenang air saat musim penghujan dan kering di saat musim kemarau.

Kawasan ini bagi masyarakat kampung Terongin digunakan untuk bercocok tanaman padi. Jenis padi yang ditanam adalah padi untuk lahan basah.

Walaupun sudah dikelola untuk budidaya tanaman padi, tetapi bentuknya sangat sederhana, tidak ada tata pengairan yang baik. Selain pengelolaannya masih sederhana, luas lahan yang sudah dikelola masih sangat minim. Masih luasnya potensi lahan rawa yang belum di kelola merupakan potensi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Terongin untuk meningkatkan produksi padi lahan basah di masa yang akan datang.

6. Rimba
Masyarakat kampung Terongin hanya memiliki satu kawasan Rimba, yakni rimba Sungai Sibau. Pohon-pohon yang masih ada di kawasan ini diameternya berkisar 60 cm ke bawah. Selain diameternya kecil, jumlah dan jenis kayunya sangat kurang.

Rusak dan menyusutnya luasan kawasan rimba sungai Sibau akibat dibukanya sawmill pada tahun 1976 dan tahun 1983 oleh pengusaha kayu dari Nanga Mau (Nanga Mau adalah ibu kota kecamatan). Kayu yang diambil untuk bahan baku sawmill adalah jenis ramin, penyaho’ banto, kelansau, meranti, dan kayu lainnya. Kayu-kayu ini merupakan kayu yang bermutu.
Kini, walaupun keadaan rimba Sungai Sibau sudah sangat memprihatinkan, tetapi keberadaan rimba ini mempunyai nilai penting bagi masyarakat Engkarangan untuk mendapatkan bahan bangunan rumah, tali-temali dan obat-obatan.

7. Tembawang
Tembawang merupakan kawasan tempat tumbuh beraneka ragam pohon buah-buahan.
Secara umum proses terjadinya tembawang biasanya dulunya adalah kawasan kampung yang ditinggalkan, bekas ladang yang ditanami bermacam-macam jenis pohon buah karena kesuburannya sudah kurang jika tanami padi, kawasan tempat kuburan, pondok tempat beristirahat dan membekukan air getah setelah mengaret, dan lain-lain. Pohon buah-buahan yang banyak dijumpai di tembawang adalah: durian, langsat, berbagai jenis asam, rambutan, rambai, mentawa, dan pohon buah-buahan lainnya.

Hasil lain yang diperoleh dari kawasan tembawang adalah binatang buruan, sayur-sayuran, tali temali, obat-obatan dan bahan-bahan untuk kelengkapan upacara adat.

Dari segi pelestarian bagi mayarakat adat Dayak, termasuk masyarakat adat Dayak Barai, tembawang merupakan tempat menjaga tersedianya bibit beraneka macam buah-buahan dari generasi ke generasi. Tembawang juga merupakan bukti sejarah kepemilikan dan keturunan dari generasi ke generasi. 
Di kalangan masyarakat adat Dayak Barai di kampung Terongin mengenal 2 sistem penguasaan dan pengelolaan yang didasarkan pada system kepemilikan yang diwariskan turun-temurun, yakni kepemilikan secara individu/pribadi dan secara kolektif/bersama.
1. Kepemilikan secara individu : Kebun karet dan ladang
2. Kepemilikan secara kolektif/bersama : Kuburan , keramat , hutan adat ( Rimba Sungai Sibau) dan tembawang
 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Barai
Struktur Tamongokng dan Tungkat Tamongokng
Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
- Memutuskan adat, jika tidak putus di tingkat kampung.

Tungkat Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
- Memutuskan adat di tingkat kampung. 
Musyawarah dan mufakat kampung, kemudian di putuskan oleh tamongokng. 

Hukum Adat

A. Adat Berladang
1. Manggul tanah ( Adat minta ijin kepada leluhur)
2. Nobas
3. Nobakng
4. Meladak
5. Nunu
6. Manok
7. Nugal
8. Mabau ( merumput
9. Memasok
10. Matah ( adat Buang penyakit padi)
11. Manyi
12. Nulak Jerami
13. Ngumpan Batu
B. Adat Buah
- Nompak bunga buah
- Mulakng buah
C. Adat di Sungai
- Ngumpan Talok ( dilaksanakan jika akan nuba adat)
- Tuba Adat
D. Adat merusak usaha orang lain
- Membakar kuburan, dikenakan adat pemali. Satu kuburan 20 real
- Membakar tembawakng pengantung temunik, kena adat pemali dan pekoas 10 real.
- Mencuri menuba, kena adat basa , adatnya 20 real
- Ngulik/ mencuri, ken adat 20 real. (1 real = Rp 5.000.) 
1. Adat mengandung/ Ngulit asapm, tujuannya agar di dalam persalinan lancar, adat ini dilakukan pada saat kehamilan anak pertama.
2. Adat Mopat Asapm. Adat dimana anak yang dilahirkan sudah boleh makan asam ( asam songkolan/ asam gerintakng) berlaku pada anak pertama.
3. 3. Adat Besilih, adat untuk anak ke 7.
4. Adat perkawinan
- Nonyak ( minang)
- Adat nikah --- Dengan adat Sengkolan
5. Adat kematian
- Kematian Normal---- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = Kena adat 16 Tail ( pati nyawa)
Keterangan 1 tail = 16 real----- 16 buah ketawak
 
Adat kematian
- Kematian Normal---- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = Kena adat 16 Tail ( pati nyawa)
Keterangan 1 tail = 16 real----- 16 buah ketawak 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Beras dan ubi kayu
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kunyit, jahe, badanoly ( obat patah tulang), Daun Keloban.
Papan dan Bahan Infrastruktur Terotong, kelansau dan durian
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, lengkuas, lea
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sintang 12 Tahun 2015 Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen