Wilayah Adat

Kenegerian Terusan

 Teregistrasi

Nama Komunitas Kenegerian Terusan
Propinsi Riau
Kabupaten/Kota KAMPAR
Kecamatan Kampar Kiri Hulu
Desa Terusan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 6.728 Ha
Satuan Kenegerian Terusan
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Antau Kilan Pamatang Bukik Nalai sampai ka Bukik Kojan, Sabola Kanan Mudiak Bukik Antau Kilang Lontiak Mobau, Bukik Bono, Berbatasan dengan Wilayah Wilayah Adat Kenegerian Pangkalan Serai
Batas Selatan Batang Singalo Muagho Sungai Duyan, Ulu Singalo Bukik Bawuik Batas Dengan Kuansing, Berbatasan dengan Wilayah Adat Kenegerian Aur Kuning dan Kuansing
Batas Timur Bukik Kandi, Perbatasan dengan Wilayah Adat Kenegerian Aur Kuning
Batas Utara Pamatang Ulu Sungai Bosagh, Berbatasan dengan Wilayah Adat Kenegerian Miring

Kependudukan

Jumlah KK 166
Jumlah Laki-laki 203
Jumlah Perempuan 227
Mata Pencaharian utama Petani Karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Kenegerian Miring merupakan salahsatu Nagaridari 6 Kenegerian yang ada di dalam Kekhalifahan Batu sanggan. Yang letaknya berada arah kehulu sungai subayang diatas Kenegerian Batu sanggan yang tepatnya sebelum Kenegerian Gajah Bertalut
Cerita bermuladarikisahterciptanya nabi Adam yaitu kakek segala Manusia.

Kisah terciptanya Adam yaitu kakek segala manusia, yang terdapat didalam kitab Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya. Adam adalah Nabi Allah yang pertama, menurut kata kisahnya Malaikat Jibril yang berusaha mengumpulkan tanah yang akan diciptakan menjadi Adam, yaitu berasal dari tanah yang baik & suci, yaitu tanah tempat ka’bah berdiri, tanah surge jannatun turus, tanah Baitul Makdis, tanah Hindi, tanah Arafah, tanah Madimah dan tanah Khaf. Tujuh tanah yang Mulia ditempa menjadi lembaga Adam, dan kemudian dari itu diciptakan Manusia sejenis lagi yaitu Siti Hawa nenek segala Manusia, Adam & Hawa dikawinkan oleh Tuhan dengan bersaksikan para Malaikat didalam Surga. Karena Adam & Hawa melanggar larangan yaitu memakan buah Khuldi keduanya diusir kedunia secara terpisah, beberapa ratus tahun mereka tidak dipertemukan, akhirnya dengan izin Allah mereka bertemu kembali di padang Arafah.

Bertemunya Adam & Hawa, terjadilah perkembang biakan, dengan kelahiran anak-anaknya sepasang-sepasang (1 laki-laki, 1 perempuan), menurut kisah jumlah anak Nabi Adam yang jumlahnya berlipat ganjil yaitu sebanyak 99 orang, dan untuk pengembang biakannya yaitu: anak kembar laki-laki pertama dikawinkan dengan anak kembar perempuan yang kedua dan seterusnya sampai kepada anak yang nomor 98 jadi anak bungsu nomor 99 tidak dapat jodoh yang bernama Sis, maka dari itu turunlah seorang Bidadari dari surge bersama Malaikat, untuk dikawinkan dengan Nabi Sis, dengan alasan bahwa Sis akan memakai isteri Bidadari itu kelak, di Yaumil Mahsyar (surga) dan sewaktu didunia ia beristeri orang biasa, dan Sis kawin dengan keturunan saudara-saudaranya, karena sesudah berkembang biak.

Pada suatu Kisah Nabi Sis ini diciptakan Tuhan mempunyai bertanduk Emas yang bernama Jati-jati, salah seorang dari Saudara Sis sangat takut melihat tanduk itu lalu menanggalkan dan menjelma menjadi sebuah Mahkota sanggahana.

Dari keturunan raja yang bertanduk Emas inilah yang bergelar Raja Iskandar Zulkarnain. Kemudian cerita/mitos itu melanjutkan, bahwa ada seorang putri yang cantik di negeri Ruhum putri dari seorang penguasa dinegeri Ruhum itu, sehingga Raja Iskandar Zulkarnain mengawininya dan mendapat anak 3 (tiga) orang. Yang tertua bernama Sultan Maharaja Alif dan yang tengah bernama Sultan Maharaja Depang dan yang bungsu bernama Sultan Maharaja Diraja, setelah mereka dewasa, mereka diberi wasiat untuk mencari tempat jajahan berkuasa yaitu untuk sultan Maharaja Alif Kenegeri Rusi Maharaja Depang kenegeri Cina dan Sultan Maharaja Diraja yaitu kearah kepulauan Khatulistiwa atau bagian selatan dengan membawa kebesaran masing-masing.

Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “Mahkota Singgahana” dan Maharaja Depang membawa semacam senjata yang bernama “Jurpa Tujuh” Maharaja Alif membawa sebilah keris, yang bernama “Sempana Ganja Iris” dan lelo yang tiga pucuk dan sebuah pedang yang bernama “Sabilullah”.

Setelah tiba waktu yang tepat, maka berlayarlah ketiga Maharaja tadi dengan sebuah kapal menuju arah ke Timur, menuju pulau Langgo Puri. Setelah tiba di lautan Baharullah dekat pulau Sailan timbul niat buruk dari Saudara-saudara Maharaja Diraja untuk mengambil/merebut Mahkota tersebut dari Maharaja Diraja, jika ia tidak mau memberikan kapal akan ditenggelamkan, kerena takutnya Maharaja Diraja kepada Saudaranya, maka diserahkan lah Mahkota itu.

Tetapi apa yang terjadi, mahkota jatuh masuk lautan, keatas setumpuk karang dan pada saat itu datang seekor ular naga membelit mahkota itu, ketika itu ketiga anak Raja itu jatuh pingsan, karena jatuhnya Mahkota tersebut. Sampai mereka tertidur berhari-hari. Setelah saat kejadian tersebut maka bangkitlah seorang dari pengiring Maharaja Diraja yang bernama Casi bilang pandai, supaya Raja tidak kecewa, ia harus bisa menciptakan Mahkota baru, pada saat Raja sedang tidur ketiga-tiganya, yang masih dalam keadaan pingsan. Maka dicarikanlah seorang pandai ukir didalam kapal untuk mengukir sebingkah Emas “Sejati-jati” lalu dibuatlah Mahkota tiruan dengan cara meneropong Mahkota asli yang ada dalam lautan, yang dilkukan oleh pandai ukir, setelah Mahkota sudah tukang dibunuh, sehingga tidak dapat ditiru lagi. Kemudian Raja-raja dibangunkan bahwa Mahkota sudah dapat dan saudaranya menyerahkan kepada Maharaja Diraja dan pada saat itulah ketiga anak Raja tadi berpisah, maka raja Alif kembali ke negeri Ruhum, Maharaja Depang terus ke Cina dan Maharaja Diraja terus berlayar menuju Tenggara, menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri, dan kemudian berobah nama Sumatra atau pulau Andalas. Maharaja Diraja membawa pengiring antara lain seekor Anjing Mualim, seekor Kucing Siam, seekor Kambing Hutan, seekor Harimau Compo, binatang-binatang ini bukanlah binatang tetapi adalah Manusia tetapi sifatnya sesuai dengan jenis nama Binatangnya.

Setelah beberapa lama berlayar kelihatanlah sebuah cahaya memancar sebesar telur Ayam yaitu puncak Gunung Merapi yang tampak dari kejauhan. Pada ketika itu daratan belum lagi luas. Setelah dekat kepuncak Gunung merapi, waktu akan mendarat kapal terhampar kebatu karang, sehingga mengalami rusak berat, pada waktu itu Raja berjanji pada pengikutnya siapa bisa memperbaiki Kapal, kelak akan dikawinkan dengan anaknya yang pandai-pandai antara lain, Harimau Campo, Kambing Hutan, dan Kucing Mualim. Setelah kapal baik kembali, mereka mendarat menuju Puncak Gunung Merapi.
Pada saat itu terjadilah Bumi menyentak naik dan laut menyentak turun dan maka timbul daratan rendah dan padang pasir.

Setelah beberapa lama tinggal di Puncak Gunung Merapi, mereka turun kedaratan rendah dikaki Gunung Merapi membuka lahan Pertanian dan membangun sebuah Kampung yang diberi nama Kota Pariang dan kemudian disabuik Pariangan Padang Panjang. Pariangan artinya Tempat yang masyarakatnya selalu riang dan Padang adalah suatu hamparan lahan yang subur dan indah.

Setelah beberapa lama Negeri bahuni dengan kekuasaan Tuhan terpancarlah awan putih Empat Jurai, Sejurai menunduk keluhak Agam, Sejurai ke Tanah Datar dan Sejurai keluhak Lima Puluh dan yang sejurai lagi ke Candung Lasi yaitu sebagai kiasan kesanalah nanti para tukang yang memperbaiki Kapal sebagaimana janji Raja yang telah mengawini anak-anaknya. Yang turun ke Tanah Datar yaitu yang di Pertuankan Sendiri dan turun ke Luhak Agam adalah Harimau Campo dan turun ke Luhak Lima Puluh Kambing Hutan yang turun ke Candung Lasi Kucing Mualim. Cati bilang pandai dan Dt. Suri Dirajo sebagai wakil Rajo (yaitu Sultan Maharajo Dirajo). Kemudian menyusun peraturan dalam Nagari Pariangan Padang Panjang yang akan dipakai penduduk Nagari.

Setelah peraturan dibuat maka turunlah ke Luhak masing-masing, yang telah ditentukan setelah Raja maninggal dunia (Maharajo Diraja) dengan meninggalkan 4 anak perempuan dan seorang Laki-laki yang bernamo Sutan Paduko Basa yang bergelar Datuk Katumanggungan dan kemudian Cati Bilang Pandai kawin dengan isteri Raja dan mendapatkan anak Laki-laki bernama Sakolak Dunia yang bergelar Datuk Parpatih Nan Sabatang.

Setelah itu oleh Cati Bilang Pandai dan Dt. Suri Dirajo membagi daerah sebagai peraturan yang akan dipakai oleh penduduk setempat, yaitu daerah Datuk Katumanggungan dari air Pasang-pasangan sampai ke jambi Sembilan Lurah, sampai Palembang dan pulau Langgo Puri, hingga laut yang Sadidih itu kawasan peraturan Datuk Katumanggungan.

Sedangkan kawasan Datuk Parpatih nan Sabatang yaitu dengan batasan oleh Datuk Katumanggungan hingga air pasang-pasangan sipisak-sipisau hanyut durian ditokuk Raja, Sialang Balantak Besi, seiliran batang sikijang, Teratak Air Hitam, sampai katanjuang Simaliau, itulah kawasan peraturan datuk Parpatih nan sabatang serata Alam Minang Kabau. Karena sudah lama negari di diami orang maka bertambah banyak juga jumlah orang, masing-masing pengikut Datuk Tumanggungan dan Parpatih nan sabatang mencari lahan Pertanian dan bertempat tinggal di daerah itu sesuai batas yang sudah disepakati antara Katumanggungan dengan Parpatih nan sabatang. Diluhak tanah Datar dari pengikut Parpatih nan sabatang tersebutlah yang akan turun ke sungai Kampar Kiri, Sungai Ombun, sungai Kakak Tuo, ado 6 (enam) pasang Datuk bersama keluarganya melalui hulu sungai Ombun, sungai Subayang bak kiri sabanyak 3 (tigo) Datuk yaitu:
 Datuk Basunguik Ijuak
 Datuk Panggodang Hati
 Datuk Dinding di pungguang
Datuk Basunguik Ijuk (Kumis Ijuk) singgah di Songgan, yang sampai saat ini bergelar Datuk Songgan, Datuk Panggodang Hati (Pembesar Hati) terus kehilir sampai ke Kuntu Taeroba, bergelar Datuk Raja Godang (Raja Besar), Datuk Dinding di punggung terus hilir ke Lipat Kain bergelar Raja Babanding, Datuak nan turun ka hulu Batang Bio:
 Datuk Pundak Besar singgah di Ludai, bergelar Datuak Raja Besar kedua.
 Datuk Bandando sampai Ke Ujuang Bukit
 Datuk Sutan Bungsu sampai ke gunung Ibul/Gunung Sahilan bergelar Raja Sutan.
Pada waktu itu dihulu sungai Siantan sudah ada suatu kerajaan yang bernama kerajaan Putri Lindung Bulan yang Rajanya berasal dari Hindustan yang mana Kerajaan ini pernah diserang oleh Raja kedatangan Hindustan juga, karena beliau tidak bisa memerangi Raja/Ratu Putri Lindung Bulan Aditiawarman terus lari arah ke barat setelah beberapa lama dalam perjalanan mereka sampai ke Luhak Tanah Datar, karena ia lengkap membawa senjata Aditiawarman disambut dengan baik oleh penduduk Tanah Datar karena takut dengan kelengkapan senjatanya, setelah beberapa lamanya dan akhirnya Aditiawarman menjadi penguasa dan menobatkan dirinya sebagai Raja Minang Kabau di Pagaruyuang dengan menaklukkan tiga jurai Aditiawarman berkuasa 1339 sampai 1376 dan anaknya Anggawarman 1377 sampai…..
 Sultan Bakilap Alam, adalah raja pertama yang diakui.
 Sultan persembahan.
 Sultan Alif.
 Sultan Banandangan.
 Sultan Bawang (Sultan Muning l )
 Sultan Patah (Sultan Muning ll)
 Sultan Muning lll.
 Sultan Sembahyang.
 Putri Gadih Reno Sumpur.
 Sultan Ibrahim.
 Sultan Usman.

Aditiawarman tidak tercatat sebagai Raja Minang Kabau tetapi berkuasa di Minang Kabau Pagaruyung, bersama anak keturunannya yaitu Anggawarman sampai Raja pertama yang di nobatkan. Dan selanjutnya kembali kepada pengikut Parpatih Nan sabatang, yang turun dari luhak Lima Puluh, adalah 5 (lima) datuk ke Lima Kota (Kuok, Bangkinang, Salo, Air Tiris, dan Rumbio) di sungai Kampar Kanan, dan tiga datuk ke gunung lelo malintang, dan Muaro Takui (Muara Takus). Di Kampar Kiri diantaranya Dt.Raja Godang yang di Kuntu. Dengan telah hilangnya kerajaan Putri Lindungan Bulan di sungai Siantan, yang disebut Kerajaan Minang Kabau Timur, atau kerajaan Minang Tauwan/Kuntu Kampar.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Rimbo adalah sebutanuntukhutansecaraumum. Belukaradalahsebutanuntukwilayah yang tidak di kelolalagi, ataubekaskebun yang sudah di tinggalkan 
 KawasanhutanadalahkawasandengankepemilikanKomunal
 KawasanPemukimandanperkebunanadalakawasandengankepemilikanpribadi yang diturunkanberdasarkanketurunan
 Kawasansungaiadalahkawasan yang kepemilikannyaberkelompokdankomunal, sepertilubuklarangan yang di inisiasi olehpemudadanninikmamak
 

Kelembagaan Adat

Nama Kenegerian Terusan
Struktur Datuk Pucuk Godangka Nagori/ rantau, Para Ninik Mamak, Mamak Kampung,Tunganai
 Sinaro : Penyelesai sangketa antara mamak sama mamak di dalam Nagari
 Dt. Bijayo ( Dt, Pucuk besar ke rantau): Yang dituakan sehari didahulukan selangkah dibagian rantau
 Dt. Pucuk : Yang memegang kuasa didalam suatu acara adat dalam Nagari
 Mamak Kampung : Melaksanakan perintah dari datuk pucuk
 
Duduak baundiang (musyawarah mufakat) 

Hukum Adat

Wilayah Adat adalah milik persukuan , dapat dikelolah oleh masyarakat namun tidak boleh di perjua lbelikan 
Tidak diperbolhkan kawin satu suku 
Jika melanggar hokum adat yang sudah ditetapkan maka akan dikenakan sangsi berupa orang tersebutakan di usir dari kampung 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Padi,ubi,jagung,kacang, dll
Sumber Kesehatan & Kecantikan  DaunMpikladang,daun capo, ( untukobatdemam ).  Sirih, (obatsakitperut)  dll
Papan dan Bahan Infrastruktur  Rumbia ( untukataprumahladang )  Daun Pandan (untuk bahan membuat tikar)  Rotan (Buat tikat rotan)  dll
Sumber Sandang  Kulit Torok ( untuk penyumpal sampan )  Damar (untukpenjejal sampan)  Rotan (bisa dibuat lemari dan kursi )
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Daunsalam, lingkuas,kunyit,asam kandis,dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Kampar Nomor 12 Tahun 1999 Hak Tanah Ulayat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen