Wilayah Adat

Huta Ranggitgit

 Teregistrasi

Nama Komunitas Ranggitgit
Propinsi Sumatera Utara
Kabupaten/Kota TAPANULI UTARA
Kecamatan Parmonangan
Desa Desa Horison Ranggitgit
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.122 Ha
Satuan Huta Ranggitgit
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Tano Perak
Batas Selatan Pangadangan
Batas Timur Aek Raja
Batas Utara Simarigung

Kependudukan

Jumlah KK 120
Jumlah Laki-laki 150
Jumlah Perempuan 120
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Ranggit merupakan sebuah dusun yang terletak di Tapanuli Utara, tepatnya di Desa Horison Ranggitgit Kecamatan Parmonangan. Huta atau perkampungan Ranggitgit berada di wilayah dataran tinggi Tapanuli. Marga yang menjadi pemilik hak ulayat adalah marga Manalu Ruma Ijuk dan ada juga marga lain yang merupakan marga pendatang yaitu marga Boru (dongan sahuta/parripena) seperti marga Siahaan, Simatupang, Siregar, Naenggolan, Simamora, Hutauruk, Pasaribu, Silo, Pandiangan, Ruma Butar, Silitonga, Panjaitan, Tampubolon, Nadeak, Silaban, Sihombing, dan Sinambela.
Dirunut dari silsislah dan sejarah leluhur masyarakat adat Ranggitgit, Manalu merupakan anak kedua dari Toga Simamora yang tinggal di Simamora Nabolak. Seiring berjalanya waktu Manalu bersama dua saudaranya Purba dan Debata Raja menyebar ke Bakara, Tipang dan sampai ke Parmonangan serta ada yang ke Sihaporas perbatasan Sibolga. Setelah bermukim di Parmonangan tepatnya di Parbangkuluan Naga Timbul, Manalu memiliki 5 orang anak yaitu Ompu Sorimunggu, Ompu Ruma Gorga, Ompu Sigukguhi, Ompu Ruma Ijuk dan Ompu Ruma Hole.
Ompu Ruma Ijuk menetap lama di Parbangkuluan dan sampai akhir hayatnya. Ompu Ruma Ijuk sendiri memiliki gelar “ naning mandoit” yang berarti lebah yang menyegat. Gelar tersebut diberikan karena setelah Ompu Ruma Ijuk meninggal banyak orang dan keluarga yang menangisi kepergian Ruma Ijuk tersebut, biasanya orang yang menangis akan mengeluarkan ingus (lendir yang keluar dari hidung), karena banyak orang yang menangis dan mengeluarkan ingus dan orang-orang tersebut juga menempelkanya di batang Ompu Ruma Ijuk yang meninggal, lantas roh dari Ompu Ruma Ijuk memohon kepada Ompung Mulajadi Na Bolon (penyebutan Tuhan dalam masyarakat Batak Toba) untuk mendatangkan lebah yang menyengat mengelilini batang atau peti mati dari Ruma Ijuk dan orang-orang yang menangisi tersebut lari dan meninggalkan Ruma Ijuk.
Ompu Ruma Ijuk dalam perjalanan hidupnya menikah dengan boru Nainggolan dari Samosir anak dari Ompu Raja Mual Nainggolan Batuara. Setelah sekian lama menikah Ompu Ruma Ijuk dikarunai dua orang anak laki-laki dan dua orang putri. Anak pertama bernama Ompu Raja Sahalana dan anak kedua bernama Ompu Raja Lobu Tolong sedangkan putrinya bernama Siboru Oloan dan siboru Ulubalang. Siboru Oloan menikah dengan anak dari Tuan Sibadogil Simanjuntak yang tinggal di Sipahutar yaitu Ompu Raja Dian Simanjuntak dan Siboru Ulubalang menikah dengan Marga Simaremare.
Ompu Raja Sahalana menikah dengan boru Sihotang dan menetap di Parbangkuluan. Di Parbangkuluan Ompu Raja Sahalana mempunyai dua orang anak yang bernama Namora Pujion dan Tandang Na Begu. Setelah sekian lama di Parbangkuluan, Ompu Raja Sahalana berserta istrinya dan kedua orang putranya pindah ke Tambok Lobu yang menjadi batas dengan wilayah adat Tor Nauli. Di Tambok Lobu masih terdapat situs peninggalan sejarah dari Ompu Raja Sahalan yaitu Mual/Parhombanan yang dapat diartikan dengan mata air. Meskipun Ompu Raja Sahalana telah meninggalkan Parbangkuluan namun Parbangkuluan tetap menjadi milik dari keturunan Manalu Ruma Ijuk.
Setelah beberapa lama di Tambok Lobu, Ompu Raja Sahalana bersama istri yang tengah mengandung dan kedua putra berangkat lagi menuju Sipahutar tepatnya di Onan Runggu untuk bertemu dengan Saudarinya yang menikah dengan Ompu Raja Dian Simanjuntak. Di Sipahutar lahirlah anak ketiga dari Ompu Raja Sahalana yang diberi nama Naga Padoha. Setelah sekian lama di Sipahutar maka Ompu Raja Sahalana kembali lagi ke tempat asal mula Ruma Ijuk yaitu di Simamora Nabolak. Di Simamora Nabolak lahirlah anaknya yang keempat dan kelima yaitu Angin Barita dan Jonggi Ni Aek. Angin Barita setelah dewasa menikah dengan boru Aritonang dan setelah menikah Angin Barita berangkat ke Tor Nasoada Bada atas perintah Ompu Raja Sahalan untuk mencari keberadaan adik Raja Sahalana yaitu Ompu Raja Lobu Tolong yang lama tidak diketahui kabarnya. Tor Nasoada Bada masih berada di kawasan Ranggitgit saat ini dan Angin Barita pindah ke Tor Nasoada Pada diperkirakan sekitar tahun 1800-an atau lebih dari 200 tahun yang lalu.
Angin Barita mempunyai dua orang anak yaitu Ompu Raja Ujuan dan Ompu Raja Gumara yang keduanya lahir setelah Angin Barita tinggal di Tor Nasoada Bada. Ompu Raja Ujuan setelah menikah mempunyai dua orang anak yang bernama Ompi ni Batahi dan Ompu Huta Dongan. Ompu Huta Dongan sendiri memiliki satu orang anak yang bernama Ompu Tuan Jongkar. Oppung Raja Huta Dongan tinggal di Huta Adian Sanggar yang berbatasan dengan Simarigung, anak Oppung Huta Dongan yang bernama Oppung Tuan Jongkar tinggal di Tambok Lobu dan disitu ada mata air, kemudian anak Oppung Tuan Jokkar yang bernama Oppung Sabungan Bosi tinggal di kampung Simarpalakka, kemudian pindah ke Huta Godang.Kemudian Putrinya yang bernama Nai Sanggul Mas menikah dengan anaknya Tuan Api marga Ruma Butar, tujuannya supaya mangangini atau mencari adiknya yang tinggal di Lobu Tolong huta Parbangkuluan, agar tinggal bersama mereka di Huta Godang. Sekitar tahun 1901 ketika penjajah Belanda datang dan membuat peraturan bahwa semua masyarakat supaya tinggal di pinggir jalan raya yang dibuat Belanda hal ini dilakukan Belanda untuk mudah mengontrol masyarakat kala itu . kemudian Oppung Sabungan Ni Bosi beserta istri dan semua teman satu kampong (sahuta/parripena) pindah ke jalan raya dan kemudian dibuatlah nama kampung itu Ranggitgit Parbuktian. Nama Ranggitgit sendiri diambil dari kisah sejarah leluhur mereka yaitu Ruma Ijuk, yang dimana Ruma Ijuk makan dari Daun Ragisgis sehingga nama itulah yang digunakan menjadi nama kampung tersebut sampai saat ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Persawahan
- Pemukiman
- Perladangan
- Penggembalaan ternak
- Tombak Raja  

Kelembagaan Adat

Nama Dalihan Na Tolu
Struktur -Raja huta -Hula-hula -Dongan tubu -Boru
-Raja huta : Marga pemilik wilayah adat yang mengatur pengelolaan SDA dan pengambil keputusan yang menyangkut dengan kehidupan di kampung.
-Hula-hula : Memberikan kepuutsan pada setiap keputusan
-Dongan tubu : mengatur pelaksanaan kegiatan adat
-Boru : Mempersiapkan segala sesuatu keperluan adat
 
Musyawarah 

Hukum Adat

Setiap orang dilarang menjual lahan tanpa sepengetahuan penetua kampung.
Setiap orang dilarang untuk mengambil kayu yang berlebihan.
 
Setiap orang yang melakukan sesuatu hal yang melanggar adat seperti halnya perselingkuhan akan di usir dari kampung dan wajib memberi makan satu kampung, istilah dalam bahasa Batak adalah mangan saribu raja
Setiap orang yang tertangkap tangan mencuri akan di denda dengan cara mangan saribu raja.
 
Setiap orang yang tertangkap tangan mencuri akan di denda dengan cara mangan saribu raja. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi,sayur, buah, jagung,kacang-kacanngan.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat, tumbuhan kosmetik
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Pinus,Meranti, Ingul.
Sumber Sandang kapas
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Attarasa,andaliman,cabe,kunyit dll.
Sumber Pendapatan Ekonomi Kemenyan,kopi.,padi,jagung.