Wilayah Adat

Ngata Lindu

 Terverifikasi

Nama Komunitas Lindu
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Lindu
Desa lindu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 61.366 Ha
Satuan Ngata Lindu
Kondisi Fisik Pegunungan,Lahan Basah
Batas Barat Kecamatan Gumbasa- Tuwa, Saluki
Batas Selatan Kecamatan Kulawi - Ngata Toro, salua
Batas Timur Wilayah Adat Pekurehua-Desa Olu
Batas Utara Kecamatan Nokila-laki

Kependudukan

Jumlah KK 4
Jumlah Laki-laki 4000
Jumlah Perempuan 5000
Mata Pencaharian utama Petani (Persawahan, Perikanan, Peternakan, Perkebunan) dan Nelayan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas Masyarakat Adat Lindu (To Lindu), merupakan salah satu suku asli berbahasa Tado yang berada dan mendiami lembah yang di apit oleh pegunungan yaitu bulu mampuawa (Nokilalaki) di bagian timur, Bulu Gimba dibagian barat, bulu Langko di bagian utara dan bulu matantimali, to Lindu saat ini tersebar di wilayah desa Puroo, Langko, Tomado, Anca, dan olu. Adapun Populasi to Lindu diperkirakan lebih dari 4.500 orang atau 66% dari jumlah total penduduk di wilayah ini.
Pada awalnya suku Lindu tinggal di hutan pegunungan sekitar danau Lindu, mendiami daerah Sindi Malei, Tiwolu, Pongku dan Wongko Bola, yang memanjang ke arah Tuva ketika air danau masih tinggi. Pada tahun 1897, Nicholas Adriani dan Albert Kruyt (dua orang penginjil tersohor di Poso) berkunjung ke Lindu dan menemukan suku Lindu sudah berdiam di kampung Langko, Anca, Paku, Palili, Luo, Olu dan Wangkodono, di pimpin oleh Totua Ngata yang bernama Lakese sebagai kapala ngata (kepala wilayah) dengan bentuk pemerintahan adat yaitu Jogugu, Kapita, Pabisara, dan Galara.
Kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda masuk pada tahun 1908 kemudian membentuk tiga tempat pemukiman baru desa secara permanen dari 7 pemukiman (pitu ngata) tersebut dengan menggabungkan penduduknya pada 3 desa permanen yaitu Langko, Tomado (genta) dan Anca (kalendu) sebagai cara untuk melokalisir penduduk saat itu sehingga memudahkan pemerintahannya berjalan, dengan membangun rumah tinggal penduduk dan membuka areal persawahan penduduk di sekitar wilayah Langko.
Adapun Pitu Ngata yang diresetlement menjadi 3 pemukiman yaitu :

1. Penduduk yang bermukim di Langko dan Wongkodono dikumpulkan menjadi satu di Langko.
2. Penduduk yang bermukim di Olu, Luo, Palili dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Tomado.
3. Penduduk yang bermukim di Paku Anca, dikumpulkan menjadi satu tempat pemukiman di Anca.

Untuk Mengatur tempat pemukiman baru tersebut, Pada tahun 1960 sesuai dengan perkembangan penduduk di kecamatan Kulawi, sebagian penduduk desa Lonca dan Winatu kecamatan Kulawi diresetlemen ke wilayah bagian selatan desa Langko yang disebut Puroo. Atas kebijakan pemerintah kecamatan Kulawi pada waktu itu, sehingga memicu berbagai reaksi keras dari masyarakat Lindu karena merasa integritas wilayahnya terganggu. Masalah yang memicu keadaan pada waktu itu terjadi penembakan hewan kerbau dan sapi secara brutal yang dilakukan oleh Londora Kodu, mantan Tentara KNIL sebagai pejabat kepala kampung Langko, yang ditempatkan oleh pemerintah kecamatan Kulawi yang dijabat oleh Ibrahim Bandu B.A.

Akibat masalah tersebut diatas, maka masyarakat 3 desa itu semakin sulit dikendalikan oleh pemerintah kecamatan Kulawi sehingga masyarakat Lindu diembargo perekonomiannya oleh pemerintah kecamatan Kulawi selama 3 bulan. Akibat embargo tersebut, masyarakat Lindu mengeluarkan ancaman untuk bergabung dengan kecamatan Sigi Biromaru. Ancaman masyarakat Lindu ditanggapi dengan serius pemerintah kecamatan Kulawi dengan mencabut kembali sanksi ekonomi tersebut.

Setelah keadaaan masyarakat Lindu menjadi tenang, mulai saat itu pula desa Puroo sudah menjadi satu kesatuan wilayah dataran Lindu sehingga sampai saat ini, desa-desa dataran Lindu menjadi empat desa terdiri dari : Desa Puroo, Langko, Tomado dan Anca yang disingkat dengan PLTA. Dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan dan ketertiban masyarakat adat Lindu, kepala desa dibantu oleh lembaga adat desa. Dan diatas lembaga masing-masing desa dibentuk Lembaga Masyarakat Adat Dataran Lindu.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian Ruang To Lindu
1. Wanangkiki (Hutan Rimba)
2. Suaka Ntodea (Pengelolaan Bersama)
3. Suaka Wiata (Pengelolaan Komunal)
4. Parabata (Wilayah Khusus/Tertentu atau sebagai tempat penangkapan ikan milik perorangan)
5. Sompoa (Pelauhan)
6. Rangka (tempat pemeliharaan ikan)
7. Kipu (alat penangkap ikan)
8. Peka (Alat Pancing)
9. Saranga (Tomba ikan)

 
- Kepemilikan indivdual dengan sebuah prinsip yang telah dipercayai oleh To Lindu bahwa tanah itu adalah tanah Adat yang telah diwariskan dan atau diberikan oleh leluhur untuk seseorang atau keluarga tertentu agar dijaga dan di kelolah
- Kepemilikan komunal adalah kepemilikan yang dimilki secara bersama oleh kelompok dan dimanfaatkan serta diatur pengguanaan dan pengawasannya secara bersama juga termasuk aturan dan pembagian hasilnya, jika dikelolah.
 

Kelembagaan Adat

Nama Totua Nuada
Struktur Jogugu, Galara, Pabisara, Kapita, Suro
Jogugu :
Tutua Ngata (Pemutus perkara)
Galara :
Pengambil Keputusan
Pabisara :
Pengacara atau moderator
Kapita :
Penengah putusan perkara
Suro :
Utusan, Pengantar, Penghubung komunikasi/Komunikator bagi yang sedang berperkara.
 
Molibu :
Musyawarah Adat yang dihadiri oleh seluruh unsur-unsur tokoh masyarakat dalam kelembagaan adat dan pemerintah yang ada untuk memutuskan perkara atau permasahan yang ada dalam kampung Ngata (secara luas), Kinta (sekitaran keluarga), yang dillakukan di Bantaa (Lobo) atau tempat yang telah ditentukan oleh totua Nu Ada sebagai tempat pertemuan pemutusan perkara.
 

Hukum Adat

Vunca :
Upacara Adat atau syukuran atas hasil panen.
Ombo :
1. Ombo : Hasil Keputusan Lembaga adat, masyarakat dan pemerintah setempat.
2. Ombo Tomate (Paria):
Larangan penangkapan ikan di danau pada saat totua Ngata meninggal dunia. apabila terjadi pelanggaran maka pelaku pelanggar tersebut membayar sanksi adat (Waya) bayar ditempat. Pelaku pelanggar akan dikenaai sanki dengan mengembalikan Semua ongkos kematian.
Larangan beraktivitas (Menangkap Ikan) di danau berlaku selama 1 bulan.
• Popatoua atau Mopatou (syukuran tahunan bagi anak-anak yang baru berusia satu tahun)
• Mantaresi (orang yang pertama mendahului pekerjaan)
• Ulu saku (mendahului penanaman benih padi di sawah atau di ladang)
 
Palia :
Bentuk larangan yang tidak boleh dilakukan dan atau diucapkan dalam hubungan antara manusia dengan manusia serta manusia dengan Alam
Topopali :
Larangan Tidak menyebutkan nama orang dengan sembarangan
Moraa Eo :
Ritual pembersihan darah apabila tanah telah tercemari dengan pelanggaran (Persinahan)
Mangio atau salampale:
Mengambil atau mencuri milik orang lain yang bukan haknya
Waya Wiwi :
Menyebarkan isu yang tidak benar (Gosip)
 
Waya : bentuk sanksi bagi pelanggar ketetapan adat baik pada hubugan antar manusia maupun dengan alam, seperti, Mengeluarkan kata-kata kotor atau tidak pantas, menghina, meremehkan, memukul, mencuri, bersinah, dll. Dengan membayar sesui ketentuan yang ada dan diputuskan oleh lembaga adat seperti :
Tolumpulu dula (30 dulang), tolungkou mbesa (3 lembar kain adat), Tolongu Bengka (3 ekor kerbau).
Sompo : nilai ganti rugi hasil dari keputusan waya
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan Pertanian dan perkebunan Padi Kamba, Kakao, Kopi, ubi kayu, Singkong, jagung, kacang-kacangan, sayuaran, dan buah-buahan: ketimun, mangga, jambu, durian, nanas, kelapa, jeruk, rica. Perikanan : Mujei (ikan mujair), masapi (belut), sumi-sumi (Ikan mas), lele (Ikan Lele), uru (Gabus), Kosa, Pojanggo, Tawes, Gurami.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Kesehatan : Jenis Rumput Mayana : Wiyoa, tambajara, lamba ntomate, laoene (obat penyakit dalam/luka, usus buntu, paru-paru, mimisan, diabetes, dan maag) Untuk kecantikan : (Pelo)Kemiri, kayu manis, palio (kayu harum), dan Gaharu
Papan dan Bahan Infrastruktur - Tikar dari daun silar (pandila) jenis rumput hutan ini, hidup dipingiran Danau sebelah Selatan Danau Lindu. - Tikar dari daun pandan hutan (naso) jenis tumbuhan rumput ini dapat di jumpai sepanjang Hutan Wilayah keadatan Nto Lindu. - Pohon Kayu, Pohon Bambu, Rotan, Kapuk, dll. - Rumbia (untuk atap rumah) - Walo (Bambu), dinding rumah, pagar, atap, kursi. - Kayu Uru, Leda, gaharu (ramuan rumah dan jembatan) - Rotan (alat pengikat dan alat tangkap ikan) - Tea, nunu, (kulit pohon untuk bahan pakaian tradisional)
Sumber Sandang Pandila (daun silar) : jenis rumput hutan untuk bahan tikar yang kasar - Tuu (daun silar) : Jenis rumput hutan untuk bahan tikar yang halus - Naso (Daun pandan hutan) : untuk bahan tikar - Rotan (pengikat rumah dan kerajinan tangan) - Bambu (untuk dinding rumah, atap rumah, dan kerajinan tangan) - Pohon enau : (nira dan gula merah)
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Pia (bawang), kula (jahe), timpowane (daun sere), gonato (daun ganemo), marisa Jawa (lada), marisa (Rica), kanino (kayu manis).
Sumber Pendapatan Ekonomi - Ose (Beras) - Robusa (Kopi) - Tinuda Vanili (Vanili) - Tinuda Coklat (Kakao) - Mejei (Ikan Mujair Danau Lindu) - Sumi-sumi (ikan mas) - Bolago (rotan) - Walo (bambu) - Masapi atau moa (belut air tawar)