Wilayah Adat

Lipu Ondae

 Teregistrasi

Nama Komunitas Ondae
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Pamona Timur
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Lipu Ondae
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Desa Peura dan Desa Tolambo
Batas Selatan Desa Singkona
Batas Timur Desa Tamonjengi
Batas Utara Desa Uelincu

Kependudukan

Jumlah KK 436
Jumlah Laki-laki 5652
Jumlah Perempuan 5047
Mata Pencaharian utama Bertani (ladang basah dan kering) dan wiraswasta

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Bertani (ladang basah dan kering) dan wiraswasta
Pada tahun 1892 Onda'e sudah merupakan wilayah yang disebut dengan karaja Onda'e yang dipimpin oleh Laega Lateka yang berkedudukan di Tandombeaga. Karaja Onda'e dibagi menjadi 27 Boya (Pra desa), yaitu wilayah Onda'e ri wawo (di atas) dan Onda'e ri Tampe (Di bawah). Wilayah Onda'e ri wawo terdiri dari 10 boya dan Onda'e ri tampe terdiri dari 17 Boya. Pada tahun 1915 demi untuk mempermudah urusan pemerintahan, maka semua Boya (Pra desa) tersebut dipindahkan dan dikumpulkan menjadi 1 wilayah distrik (sekarang kecamatan), yang mana pada saat itu terdiri dari 9 desa. Seiring berjalannya waktu dan peraturan pemerintah, distrik (kecamatan) Onda'e mengalami penambahan desa menjadi 14 Desa hingga saat ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tana Moada: Hutan adat atau huitan yang dikeramatkan, hutan yang digunakan untuk acara ritual adat. Misalnya meminta hujan atau panas, permintaan izin untuk membuka kebun, pekuburan tua, dan sumber mata air yang khusus diminum

Pangale: hutan lebat disiapkan untuk perkebunan

Nawu: Kebun yang memiliki luasan lebih dari 1 Ha

Bonde: hutan yang memiliki luasan kurang dari 1 Ha

Wakanawu dan wakabonde: bekas kebun

Yopongura: bekas kebun yang berumur sekitar 3 tahun

Yopoya'u: bekas kebun yang berumur sekitar 20 tahun

Yopoya'yo: bekas kebun yang berumur sekitar 30 tahun
 
sistem penguasaan dan pengelolaan Kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah dipercayai oleh orang Ondae berdasarkan hukum adat bahwa kebun atau bekas kebun ditandai denganpatok kayu yang disebut dengan TIDA. Penggunaan oleh pihak lain baik dari keluarga atau orang lain terhadap bekas kebun tersebut dibicarakan di dewan adat. Jika ada pihak lain baik keluarga atau orang lain yang menggunakan bekas kebun tanpa sepengetahuan pengolah pertama maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan adat yang berlaku (Sala Mpale)
Kepemilikan komunal adalah kepemilikan secara kelompok sebagai pemilik dan pemanfaat serta menggunakan dan mengawasi sendiri oleh kelompok itu. Hak perolehannya juga melalui kelompok. Jenis kepemilikan ini berkaiyan dngan pembagian hasil.
Kepemilikan komunal jenis lainnya adalah kandang kerbau dan sapi yang diperuntukkan kepada semua masyarakat adat Onda'e yang terdiri dari beberapa desa yang dikenal dengan nama Lambara (tempat penggembalaan ternak seperti kerbau dan sapi). Semua kerbau dan sapi akan dikandangkan kembali setelah selesai membajak tanah sawah.
 

Kelembagaan Adat

Nama Pabisara Ada
Struktur Pomatu'a Ada Pomo Uki Poma Niu Voko
Pomatu'a Ada: ketua
Pomo Uki: sekretaris
Poma Niu: bendahara
Voko: anggota penasehat dan sekaligus menjadi pembantu anggota yang lain jika berhalangan 
mogombo (musyawarah dan pengambilan keputusan) 

Hukum Adat

a. Aturan adat berkaitan dengan pengelolaan wilayah dan SDA Tana Moada: Hutan adat atau huitan yang dikeramatkan, hutan yang digunakan untuk acara ritual adat. Misalnya meminta hujan atau panas, permintaan izin untuk membuka kebun, pekuburan tua, dan sumber mata air yang khusus diminum

Pangale: hutan lebat disiapkan untuk perkebunan

Nawu: Kebun yang memiliki luasan lebih dari 1 Ha

Bonde: hutan yang memiliki luasan kurang dari 1 Ha

Wakanawu dan wakabonde: bekas kebun

Yopongura: bekas kebun yang berumur sekitar 3 tahun

Yopoya'u: bekas kebun yang berumur sekitar 20 tahun

Yopoya'yo: bekas kebun yang berumur sekitar 30 tahun
 
1. Ada Mpojama: pengaturan kerja, baik kerja bakti desa ataupun kerja kebun
2. Ada Mpompinaturu: aturan penggembalaan, baik kelompok maupun peseroangan. Penggembalaan komunitas sudah diatur dalam adat yang disebut Lambara. Hal itu juga mengatur perselisihan ternak.
3. Ada Mpopanta: aturan mekanisme pembagian harta baik harta orangtua maupun suami istri.
4. Ada Mpobetuvuri: mengatur tatanan sosisl seperti gotongroyong dan saling menolong
5. Ada Mporongo: aturan mengatur perkawinan
6. Ada Mpampontumpu: mengatur kepemilikan lahan atau tanah.
 
Givu: denda
berlaku untuk semua pelanggaran yang sudah diatur oelh dfewan adat. Aturan itu juga berlaku bagi semua orang yang sudah masuk dalam wilayah adat teresbut.
Contohnya:
1. Masuk ke dalam kamar wanita yang belum kawin tanpa permisi atau persetujuan tuan rumah (orang tua wanita) dan wanita tersebut. Pelaku dikenakan denda 1 ekor kerbau/babi. Sanksi yang akan dikenakan tergantun gberat ringannya pelanggaran yang dilakukan.
2. Mosalara (berzina): dikenakan denda 4 ekor kerbau.

Mosalara: aturan adat yang mengatur perxinahan.

Contohnya: Jika seseorang yang masing-masing sudah berumah tangga diketahhui melakukan perzinahan atau biasa disebut selingkuh maka akan dikenakan sanksi atau givu berupa 4 ekor kerbau. Masing-masing dari 4 ekor kerbau akan dibagi ke 3 ekor untuk istri pelaku dan 1 ekor untuk suami pelaku.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi ladang, jagung, sagu, ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tainyara: untuk penyaki tdalam Tavo'o penuurun panas (bisa diminum semua usia) Pakumba: penyembuh bisul dan panas tinggi Katumbara: untuk luka dalam Lumut: menghentikan darah atau pendarahan Tomanara: diperuntukkan bagi ibu yang selesai melahirkan untuk percepatan penyembuhan, pengeringan, dan anti racun atau bakteri.. caranya: 1. daun tomanara dihangatkan di atas api lalu ditempelkan pada alat kelamin wanita 2. daun tomanara dimasak lalu diminum airnya
Papan dan Bahan Infrastruktur Daun rumbia
Sumber Sandang pakaian adat: dari kulit kayu umayo kulit kayu umayo dan kuva kemudian diolah menajdi baju yang disebut inodo Pewarna: menggunakan buah pohon ula yang menghasilkan warna cokelat. Bisa cokelat tua maupun muda.
Sumber Rempah-rempah & Bumbu arogo, onco, rampantobu, bombo seluruuhnya sebagau penyedap masakan.
Sumber Pendapatan Ekonomi cokelat, kelapa, cengkeh