Wilayah Adat

Temenggung Sulur Hungei Parau Leu Muara Pari

 Teregistrasi

Nama Komunitas Temenggung Sulur Hungei Parau Leu Muara Pari
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota BARITO UTARA
Kecamatan Lahei
Desa Muara Pari
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.931 Ha
Satuan Temenggung Sulur Hungei Parau Leu Muara Pari
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Desa Rahaden (Teluk sulur sungei lahei sampai dengan sungai periri anak sungei parau)
Batas Selatan Desa Rahaden (Sungai lahei)
Batas Timur Desa Muara Pari (Sungai Kompoi)
Batas Utara Desa Karendan (dari Km 31 menuju tower radio Km 32, eks jalan PT.MBA, anak sungai ode)

Kependudukan

Jumlah KK 170
Jumlah Laki-laki 110
Jumlah Perempuan 120
Mata Pencaharian utama Bertani Karet, Rotan dan berladang

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat adat dusun malang leu muara Pari Sungai Parau diawali dengan kedatangan Temenggung sulur dan istri nya, membuat rumah Betang di Tepi sungai Lahei Tepatnya pada tahun 1810 di Teluk Sulur Atau Leok Siwo sekarang berada di hulu Desa Rahaden dan di sekitar wilayah tersebut ditanami buah-buahan berupa durian dan lain lain. Istri TEMENGGUNG SULUR melahirkan lima orang anak, dua laki –laki dan tiga perempuan. antara lain NTAT (perempuan), NAFF, MARAHANANG (Laki laki), LINTAI (perempuan), dan KAAK (perempuan). Dan kelima orang anak Temenggung Sulur secara bersama sama dan bergotong royong membuka lahan atau berladang di daerah Teluk Sulur/Teluk Siwo mudik Sungai Lahei masuk ke Sungai Parau anak Sungai Lahei.

Selanjut dari tahun ke tahun anak-anak dari temenggung sulur tersebut dewasa dan berkeluarga, masing-masing anak temenggung sulur beserta keuarganya berladang khusus di daerah sungai parau, mulai dari Muara sungai parau, anak sungai parau, kiri kanan sungai parau sampai ke hulu sungai tersebut. Adapun anak-anak sungai parau antara lain: sungai samba, baramuhu, diangkawang, katebung, mangkabang, kajang, sopan/yadi, patinju, amuntai, malagihing, lesung, paramuku, pasir taluyen gaya, kararondong, lawang skiping, maduut, taluyen anak, ijuh, periri, layung, sampai dengan sei orai.


Pada zaman dulu tahun 1935 keluarga temenggung sulur tinggal secara berkelompok berupa perkampungan kecil yang dalam bahasa dusun malang sering di sebut dengan TOMPONG (Pedukuhan) dengan kepala dusun Temenggung NYUMPING. Oleh sebab itu diwilayah adat dusun malang sungai parau leu Muara pari ,terdapat Beberapa komplek Perkuburan (ogang lowong), dan sandung. sandung adalah berupa rumah kecil seukuran peti mati tempat masyarakat adat dusun malang menaruh jasad leluhur yang apabila meninggal, beliau tidak mau dikuburkan ke dalam tanah, dan keberadaan komplek kubur atau sanding tersebut merupakan bekas TOMPONG keluarga TEMENGGUNG SULUR.

Sampai sekarang ini keturunan Temenggung sulur Masih mengelola dan menjaga wilayah adat tersebut dengan baik.karena di wilayah tersebut lah leluhur - leluhur kami di makamkan atau di sandung.dan selain itu kami gunakan sebagai tempat Berladang, berkebun,berburu dan lain – lain guna untuk mencukupi Kebutuhan hidup kami sehari hari.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruangnya sebagai berikut :
- Karengkang Puga (hutan perawan)
- Karengkang adat Hutan hilungan (hutan yang dilindungi masyarakat)
- Karengkang sanagar Uneng Ume (hutan cadangan tempat berladang)
- Jeung uro pulau Karaba (bekas ladang yang sudah ditanami karet)
- Sipung Munan (kebun buah buahan)
- Katuan Baling (belukar yang berusia 30 tahun ke atas)
- Leu Muara Pari Hila (Pemukiman Kampung Seberang)
 
Penguasaan yang ada di wilayah Temenggung Sulur adalah dengan Warisan yang dibagikan kepada keturunannya/ milik perorangan (dikelola masing – masing) 

Kelembagaan Adat

Nama Kedemangan Lahei
Struktur Kepala Desa sebagai koordinator yang melindungi dalam hal masalah adat. Mantir Adat ada tiga orang adalah sebagai berikut : 1. Mantir Adat 1; 2. Mantir Adat 2; 3. Mantir Adat 3;
- Mantir Adat 1 bertugas mengurus kematian, pernikahan dan ritual adat (wara dan Tiwah);
- Mantir Adat 2 bertugas mengurus sengketa tanah;
- Mantir Adat 3 bertugas mengurus administrasi di kemantiran.
Fungsi dari pemangku adat memimpin dalam persidangan perkara adat, apabila tidak bisa di selesaikan secara adat maka mantir ada melaporkan kepada kepala desa. 
Simpun dudun pakat buntar galing giloi (mencari kesepakatan bersama) 

Hukum Adat

- dilarang membuka lahan atau memanfaatkan hasil hutan atau sumber daya alam tanpa sepengetahuan dan mendapatkan ijin dari pemilik lahan wilayah hutan adat;
- dilarang membuka atau beraktifitas ditempat sakral atau lokasi yang dilindungi dalam wilayah adat leu Muara Pari seperti Karengkat Adat keramat, ogang, jaa, sopan, patugur, sandung, kariring, hongkong dan rorong.  
- Palimara (dilarang membuat keramaian kalau ada orang sakit atau meninggal dunia.
- Mutus Mandrak (dilarang mengambil atau merusak kebun orang lain akan dikenakan sanksi minimal 1 bahanoi atau Rp. 100.000,- dan maksimal 7.777 atau Rp. 777.700.000,- 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Sayur: Bayam, sawi, rengoi, kacang panjang, kacang pendek, teung asem, ujau/puka. Buah-Buahan: Ruyan, katungen, layung, popok, pampaken, lihat, lanakan, pule, lampahong, rambai, karamu, iehm bulau, ihem tongku, dan ihem binjai, serta papuan.
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bawang Dayak, Pegagan, Maniran, Saluang Belom, Pasak Bumi, Kunyit Bakai, Wakat Singmirirung, Wakat Tongkoroyon, Wakai Mangkalagit, Wakai Bantuheng, Wakai Tarobok.
Papan dan Bahan Infrastruktur Pohon Meranti, Pohon Balau, Pohon Bangkirai dan Pohon Ulin.
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Kunyit, lengkuas, serai, kemiri, jahe, kencur, kayu manis,
Sumber Pendapatan Ekonomi Menyadap Karet, memotong rotan yang ada di kebun, berburu, menangkap ikan dan mencari getah damar serta gaharu.