Wilayah Adat

Wanua Bariri To Behoa

 Teregistrasi

Nama Komunitas To Behoa
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota POSO
Kecamatan Lore tengah
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 148 Ha
Satuan Wanua Bariri To Behoa
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan
Batas Barat wanua lempe
Batas Selatan wanua DODA (kahimpo)
Batas Timur wanua torire (bulu raboho)
Batas Utara wanua katu

Kependudukan

Jumlah KK 117
Jumlah Laki-laki 234
Jumlah Perempuan 205
Mata Pencaharian utama bertani (sawah, kebun)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Wanua Bariri merupakan salah satu sub etnis dari wilayah Adat Behoa Kecamatan Lore Tengah, kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Pada mulanya wilayah Behoa masih berbentuk danau dan pegunungan hutan belantara. Awalnya wilayah Behoa hanya dihuni satu komunitas yang tinggal di perkampungan Rano. Wanua Rano dijadikan sebagai perkampungan lama Behoa. Wanua Rabo pertama kali dibangun oleh sepasang suami istri dan dibantu kedua pengikutnya. Sepasang suami istri tersebut bernama Kapita (suami), dan Katuno (istri) serta kedua pengikutnya bernama Pokiro dan Pelea. Sepasang suami istri tersebut berasal dari sigi biromaru dan kedua pengikutnya adalah orang-orang yang telah ada di wilayah Behoa. Awalnya Bariri dihuni oelh 4 keluarga sejak 1909 yaitu dengan kepala keluarga Umana Tongisi, Umana Tompa, Umana Palasa, Umana Karoda.
Suatu waktu keempat keluarga itu mengadakan kesepakatan untuk menjadikan wilayah ini sebagai perkampungan bagi generasi mereka secara turun temurun. Lokasi yang disepakati untuk dijadikan wilayah perkampungan yaitu padang yang luas dan subur serta banyak ditumbuhi runout jenis Bariri. Rumput Bariri memiliki 2 jenis nama yaitu Mpopenga yang artinya bercabang, dan Bariri Topowua yaitu yang artinya berbuah. Berdasarkan kedua jenis rumput tersebut disepakati nama Bariri Topowua sebagai nama perkampungan mereka. Mapo'a berarti rimbun, Marobo artinya kuat, Molalupi artinya tidak terpisahkan. Sehingga nama Bariri berarti rimbun, kuat, dan tak terpisahkan.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Kinta: lahan pemukiman warga
Wanua: perkampungan
Bonde: lahan persawahan masyarakat
Hinoe: Lahan perekebunan masyarakat
Wana: hutan rimba yang tidak pernah terjamah
Kakau: hutan
Bulu: gunung
Pada: padang rumput
Lambara: tempat perkumpulan hewan (kerbau, sapi, anoa)
Gimpu: kandang hewan
Masora: tempat persinggahan musafir jaman dahulu
Bangkeluho: perkampungan lama
 
1. Wilayah kompo: lokasi perkebunan orang tua dulu
2. Wilayah Wongao: wilayah perlindungan sumber air bagi kebutuhan pengairan sawah dan sumber air bersih bagi masyarakat Desa Bariri dan tidak dibiarkan ada aktivitas di sekitar wilayah ini
3. Wilayah Buleli: sumber air untuk pengembangan pertanian di hamparan Pada Ntanga, sehingga tidak dibenarkan adanya altivitas di sekitar wilayah ini.
Apabila ada orang yang merusak wilayan ini maka akan di sanksi sesuai aturan adat salah satunya dengan denda.
 

Kelembagaan Adat

Nama Hondo Ada (Pemangku adat wilayah/ desa) Galara (Pemediasi/ penghubung tingkat wilayah)
Struktur Ketua, sekretaris, nemdahara, anggota. Tu'una/ Katua Ada: Ketua LAD Topoanti laluta (sekretaris ada)
1. Hondo ada: berkedudukan sebagai pemangku adat yang berfungsi memutuisakan dan menetapkan sanksi pada gelar perkara berdasarkan hukum adat.
2. Galara: berfungsi sebagai penutur jalannya peradilan. Galara adalah lembaga yudikatif yang memberikan input dan saran dan pertimbangan segala keputusan agar tercapai mufakat. Galara juga bertanggung jawab terhadap jalannya perkara serta bertugas menjadi penghubung/ pemediasi apabila terjadi konflik di tingkat wilayah.
3. Topoanti Laluta/ Tomompahawedarita: pemediasi perkara di tingkat desa dimana setiap pelaku perkara akan mengkomunikasikan kronologis masalahnya melalui interogasi yang dilakukan oleh lembaga adat yang ditugaskan untuk menggali informasi perkara. Informasi yang didapatkan akan disampaikanm pada saat gelar perkara.
4. Sekretaris: mendokumentasikan aturan adat.
5. Bendahara: mengelola anggaran sesuai hasil peradilan.
6. Anggota: membantu kegiatan dan tugas-tugas kelembagaan adat.
 
Musyawarah adat 

Hukum Adat

Motona: upacar pengamatan alam
Mowunja; acar pemanenan dengan cara menggantungkan hasil panenan dan diperlombakan untuk diperebutkan.
Mapotoa: upacara untuk memulai pekerjaan
Mapokana: upacara panen yang dilakukan persatu keluarga
Mokatue'i: pesata menyelesaikan aktivitas bertani selama satu tahun yang dilakukan serentak
Mande Pare (acara pemanenan) yang pelaksanaannta dilakukan se kampung.
 
Ada pekabulao: persinahan
pasoda: menggantikan badan orang yang telah tersakiti (satu ekor kerbau)
Wawesi: pengikat tangan (satu pes kain) zaman dulu harus satu ekor kuda
Denda Waya/ Giwu: sanksi pelanggaran adat
Ada Tampo (adat tanah): apabila seseorang melakukan pelanggaran baik tindakan kriminal maupun persinahan, maka pelaku akan dikenai denda ada tampo. Denda tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan kesucian tanah.
Powewehi: mengembalikan nama baik tanah
Potinuwu'i: pengembalian kerugian bagi seorang yang dikriminalisasi.
 
Giwu: Bila seseorangh terbukti melakukan persinahan, pencurian, kriminalisasi mendapatkan sanksi denda sesuai dengan perbuatannya. Pelaku tersebut akan membayar sesuai aturan adat yang berlaku. Mekanisme pembayaran melalui giwu (denda) yang telah disesuaikan dengan pelanggaran pelaku tersebut dan akan dibayar dengan kerbau. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan pertanian: Sawa dan kebun (padi, jagung, ubi kayu, ,merica) Tumbuhan hutan: luku, owu, banga, tangkidi, tambata, tangkoro tumbuhan padang: huhu gapi baru: air nira (minuman khas)
Sumber Kesehatan & Kecantikan Bada (kunyit, lolo gambu (pucuk jambu), talipai, pudisese, rumpu karu, tangkada, hiha, wawaro, rumput tomate, bimbingkalo, silaguri, gaharu, 'eha (tali hutan)
Papan dan Bahan Infrastruktur Palili, uru (cempaka), kalise, taliti, koronia, beta'u ( bintangor), apuni (batang paku raksasa), kapa, dopi, tala ( bambu), uwe (rotan), tawiri ( kayu besi), pepolo, belante kuhe, manggalepe
Sumber Sandang jenis pakaian: ranta (pakaian dari kulit kayu) koli bea, koli kate
Sumber Rempah-rempah & Bumbu bada: kunyit kula: jahe pangka bau: daun kemangi ponda: daun pandan arogo hare: daun sere sederei: seledri pia: bawang palola: tomat marisa: rica
Sumber Pendapatan Ekonomi bertani dan berternak