Wilayah Adat

Lowu Tumbang Masukih

 Teregistrasi

Nama Komunitas Lowu Tumbang Masukih
Propinsi Kalimantan Tengah
Kabupaten/Kota GUNUNG MAS
Kecamatan Miri Manasa
Desa Tumbang Masukih
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 2.269 Ha
Satuan Lowu Tumbang Masukih
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran
Batas Barat Lowu Tumbang Hatung Jalan Kelompok Tani Tumbang Masukih
Batas Selatan Lowo Tumbang Manyoi Sungai Miri (Riam Batu Koram)
Batas Timur Lowu Tumbang Bukoi Sei Tondan Kabupaten Kapuas
Batas Utara Lowu Rangan Hiran Lawang Pait

Kependudukan

Jumlah KK 130
Jumlah Laki-laki 280
Jumlah Perempuan 290
Mata Pencaharian utama Menyedot Emas, Mendulang Emas, Pertanian dan Perkebunan

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Secara historis data otentik atau tertulis, tentang asal-usul atau legenda desa Tumbang Masukih tidak ditemukan/tanda. Jadi asal-usulnya hanya bersumber dari cerita atau penuturan tokoh adat,tokoh masyarakat dan orang-orang tua desa Tumbang Masukih secara turun temurun melalui tutur atau lisan. Karena letaknya tepat dimuara Sungai Masukih, maka dinamakan Tumbang Masukih, kata Tumbang artinya muara atau kuala dalam terjemahan bahasa dayak Ngaju berarti Tumbang. Desa Tumbang Masukih
merupakan desa tertua dari beberapa disekitarnya seperti desa Rangan Hiran dan Harowu.
Desa Tumbnag Masukih sekarang ini,asalnya hanya sebuah dukuh atau dusun kecil yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga,yang membuka lahan hanya untuk bertani dan
berkebun. Beberapa keluarga ini asal muasalnya dari kelompok yang pada masa tersebut mencari lokasi yang aman dan mengungsi ke hulu sungai Miri atau daerah Puruk ruap dan sekitarnya dengan tujuan bersembunyi agar terhindar dari kejaran dan incaran/target kayau (Zaman Asang) yang berniat jahat terhadap kelangsungan hidup mereka.
Setelah beberapa lama berlalu dan mereka merasa sudah aman, mereka akhirnya keluar dari tempat persembunyian dan mereka menyebar terbagi beberapa arah dan daerah. Dari kelompok tersebut,beberapa kepala keluarga menuju ke muara sungai masukih dan mereka mulai menetap dan tinggal didaerah untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik. Sekian lama berlalu, jumlah mereka semakin bertambah dan berkembang, sehingga daerah pada awalnya hanya sebuah dukuh atau dusun akhirnya menjadi sebuah wilayah desa yang ramai. Menurut legenda masyarakat bahwa salah seorang pendiri desa tumbang masukih bernama LINTIH, beraal dari sukub dayak ngaju kahayan hulu pada tahun 1812. Kepercayaan masyarakat bahwa LINTIH merupakan kakek dari tambun dan bungai. Adapun perkembangan kepemerintahan desa ditandai dengan adanya beberapa kepala desa
.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Himba Lahkao ± berusia 20 tahun ke atas;
- Taja Bio ( ± berusia 15 tahun keatas) Semak Belukar;
- Kabun Campuran;
- Kabun kihta (Karet);
- Ummo (Ladang);
- Lowu (Kampung);
- Pukung Pahewan (tempat roh roh gaib);
- Kolohkak Dukuh (Bekas Dukuh);  
Status kepemilikan lahan yang dimiliki masyarakat desa Tumbang Masukih adalah tanah pemberian atau warisan, masyarakat suku Ot Danum di hulu sungai, pola kepemilikan mereka atur dalamkehidupan sehari-hari dengan saling mempercayai dan mengetahui diantara komunitas tersebut. Dalam pola kepemilikan lahan ditandai dengan adanya jenis tanaman seperti durian, tengkawang, karet,rotan dll.
Wilayah peninggalan nenek moyang atau orang terdahulu mereka yang merupakan kebun buah buahan, khususnya durian wilayah ini juga dikeramatkan oleh masyarakat desa Tumbang Masukih, Harowu, Rangan Hiran dan Tumbang Hatung, berdasarkan peraturan adat setempat daerah ini tidak diperbolehkan untuk dimiliki oleh secara individu, seperti Puruk Ruap, Puruk Sendukui, dan Datah Garantung.  

Kelembagaan Adat

Nama Kedamangan Miri Manasa
Struktur Ketua Dewan Adat (Kepala Desa) 1. Ketua Mantir Adat 2. Sekretaris adat; dan 3. Bendahara Adat
Berdasarkan Perda 16 Kelembagaan Adat
Ketua Dewan Adat : sebagai koordinasi (masukan) saja bukan yang memutuskan masalah kalau mantir tingkat desa belum bisa memutuskan.
Ketua Mantir Adat : Memimpin dalam rapatforum kerapatan mantir adat ;
Sekretaris Adat mencatat segala keputusandalam perkara hukum adat;
Bendahara Adat : membantu dalam penentuansinger atau jipen yang akan diputuskan dalam sanksi adat;
Dalam memimpin rapat misalkan ketua Mantir Adat tidak ada ditempat bisa dipimpin oleh Sekretaris adat dan kalau tidak ada juga secara tidak langsung bendahara adat bisa memimpin perkara dalam pemenuhan hukum adat
tergantung masalah yang ditangani perlu cepat atau tidak keputusannya, kalau tidak menunggu kedatangan Ketua Mantir Adat.
 
Kerapatan Perdamaian Mantir Adat 

Hukum Adat

1. Nyari Unuk Ummo (mencari lokasi berladang);
2. Manati (Tebas Tebang) dengan ritual adat membunuh Babi (Urak) dan Ayam (Manuk);
3. Nyaha Ummo (Membakar kayu tebas tebang);
4. Nukan (Menugal) dengan dilakukan ritual adat dengan membunuh babi (Urak) dan ayam (Manuk);
5. Ngamawau (Pembersihan ladang dari rumput sekitar padi yang ditugal);
6. Ngotom Paroi (Panen Padi);
7. Pakuman Watu (Pesta Syukuran Panen) dengan ritual adat membunuh babi (Urak), ayam (Babi) dan Anding (Minuman);  
Tumbang Masukih meliputi: Beberapa upacarayang masih dilaksanakan di desa Masukih adalahsebagai berikut :
1. Tiwah (Dalo) : adalah sebuah acara kematian tiwah dilaksanakan terakhir di desa Masukih pada tahun 2003, diperkirakan sekitar 10 kaliTiwah dari mulai terbentuknya desa Masukih, adapun prosesnya antara lain :
- Membuat balai
- Pengantung tiwah
- Pamuhun gandang garantung
- Urunan/patungan membeli babi & ayam
- Mendirikan sandung
- Tiwah dilaksanakan
2. Adat Bayar Hajat
3. Adat Kelahiran : bergotong royong danmemalas Bidan/manahunan.
4. Adat kesembuhan : dengan cara sangiangkepada arwah leluhur untuk minta
kesembuhan pada pemyakit yang di derita
5. Adat Harobuh : hanya bersipat gotong royongmasyarakat setempat.
6. Adat perkawinan : kejujuran / Palaku 1 Jipen =Rp 100.000,- palaku buat penganten kena 52 Jipen atau 500 Kg emas  
1. Perkelahian dengan keputusan perdamaian di antara ke dua belah pihak yang berkelahi dan apabila melakukan lagi dikenakan sanksi jipen 15( sekitar Rp.2.250.000,
2. Perceraian antara suami istri dikenakan singer 13 sekitar Rp. 1.300.000,- atau
berdasarkan perjanjian kawin adat dan tingkat kesalahan yang dilakukan.  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi, umbi-umbian, Jagung, kacang panjang,kacang tanah, Lombok, sayuran (Ucau, Pakuundang, Paku Banu),Singkah Diwung, SingkahJanan,Singkah Rua, Singkah Nango, SingkahUmbut, Paku Poit, Bantal Kajang), Daun Sopang,Daun Papan, Daun Beken, Bua Aai, Singkah Upon, buah buahan, Kulat Bitak, Kulat Kulang, KulatPuti, Kulat Torok, Kulat Diwung,Kulat Bango,Kulat Lowu, Kulat Korup, Kulat Maharu, KulatSipa, Kulat Nyamuk, Kulat Katoluh, Kulat Karamu,Kulat Buhok, dan Kulat Jalawi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tekang Siou, Kayu Besi, Paniti Hara, Kumis Kucing, Gingseng, Saluang Bolum, Borut Maung, Iru Puti dan iru bahandang, Panawar Gantung, akar kuning, uhat sungkai, uhat tabalien, kaju otak/tabat barito, pamalit utt, uhat rahwana, penawar pari, Uhat Tawar seribu, Kulat Pali Obat kecantikan : Panarak Baputi dan Bahandang(Kayu Tara), Dawei shiren,
Papan dan Bahan Infrastruktur Tobulion, banuas, paropok, lotang/meranti, lopeng, balawang, mahadirang, dan bacan/keruing
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Henda, liyo, Sadorai, Lakuah, Suna, Bawang Lomba sahang Masih, Siikun, Sokai,
Sumber Pendapatan Ekonomi Menyedot Emas, Gaharu, Perkebunan, kayu dan pertanian