Wilayah Adat

Ngata Ona

 Terverifikasi

Nama Komunitas Ona
Propinsi Sulawesi Tengah
Kabupaten/Kota SIGI
Kecamatan Marawola Barat
Desa Lewara
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 4.062 Ha
Satuan Ngata Ona
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Soi- bulu ulu uwe surumana
Batas Selatan dombu karawana
Batas Timur pantapa
Batas Utara bulu jadi kamalisi

Kependudukan

Jumlah KK 277
Jumlah Laki-laki 630
Jumlah Perempuan 595
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Ona merupakan kewilayaan adat tertua di kamalisi
Komunitas masyarakat adat Ona tersebut memiliki sejarah yang sama dan mereka hidup dari satu komunitas lainnya yang cukup besar di kamalisi secara adminitrasi berada di wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Madya Palu, bahkan wilayah adatnya kamilisi sampai kewilayah adminitrasi.
Ona terdiri dari kesatuan Ngata kecil di huni oleh komunitas Da’a di Ova kampung tua di Bulu Kamalisi, dari zaman ke zaman semakin padat penduduknya dan menyebar serta memilih tempat ada sumber kehidupan untuk di gunakan bermukim serta mencari nafkah, dimana pengaturannya ini atur dan dipimpin oleh Totua Ntina secara adat dan arif di antaranya di tanah Lumbu, Tamoli, Ngge’a dan Vavutolo.
Pada fase perang antar suku Di tanah kehidupan lumbu ini di beri nama dengan kata lain yaitu lewara penamaan ini lewara berdarakan kesepakan bersama oleh orang tua adat fungsinya

Untuk melindungi seluruh orang Da’a di Ona. Pada zaman Belanda-Jepang sampai kemerdekaan akhirnya wilayah adat ini secara adminitrasi masuk ngata Lewara.
Sejarah asal suku di komunitas adat Ona yatu suku Da’a yaitu etnis tersendiri yang mereka sebut To Ulujadi atau Ulunggatoka Pinandu-ongunja poamaya. Dengan penamaan ini orang Da’a mempercayai bahwa dari puncak gunung inilah awalnya dari kehidupan manusia, biasa sebutan lainnya di kenal dengan Ulunggatoka Pinandu – Pinandu : Tananilemo Nggari Tanah Pinandu – di ciptakan dari tanah, adalah tanah di jadikan manusia dan menurut orang da’a pinandu itu pulahlah nama orang yang diciptakan dari tanah tersebut. Kemudian barulah dari tulang rusuk pinandu di ciptakan perempuan yang disebut “usukei”- usukei adalah perempuan pertama yang diciptakan dari tulang rusuk pinandu.
Dalam perkembangan manusia ini, orang da’a memprcayai belum ada adat atau aturan yang mengatur adat dalam kehidupan manusia nanti setelah diciptakannya orang yang mereka sebut sebagai “Tomanurung – Tobarakah “ dari sinilah barulah mereka mengenal system adat. Yang kini tetap di jaga.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pangale Viata : Hutan larangan adat (tidak boleh di olah)
Ova: Lahan Bekas kampung tua dan di garap di jadikan lahan pertanian (bercocok tanam) dan di tinggalkan bertahun-tahun dan menjadi hutan kembali ditumbuhi kayu-kayu relatih kecil, suatu saat bisa di olah kembali secara adat/arif
Olo : bagian hutan yang di larang di olah karena merupakan zona penyediaan sumber air (mata air)
Pantalu : lahan hutan yang diperbolehkan dibuka sesuai aturan adat dan mejadi kebun (Bonde)
Ngata : pemukiman penduduk dijadikan ngata
 
1. Sistem penguasaan
System penguasaan ini hampir seluruh suku da’a di wilayah tanah adat ona (kamalisi) memiliki sejarah yang sama Dalam penguasaannya, sumber daya alam di kuasai dan di manfaatka oleh kelompok di mana semua orang da’a komunitas oan mempunyai hak yang yang sama dalam penguasaannya. Penguasaan komunal adalah penguasaan dan kepemilikan berdasarkan prinsip dan kepentingan bersama di bawah pengawasan bersama.
2. Sistem Kepemilikan
Kepemilika didasarkan atas dan proses kepemilikan komunal, kepemilikan individual dengan sebuah prinsip yang telah di

percayai oleh komunitas ona (suku da’a) bahwa tanah itu
adalah tanah adat yang telah di wariskan dan di berikan oleh leluhur untuk ntodea (Masyarakat) agar dijaga. Prinsip kepemilikan dan penjagaan itu dapat dilihat dari ungkapan leluhur ”Menjual tanah adat sama dengan menjual adat, menjual adat berarti menjual rakyat dan menjual rakyat dalah mendustai dan menyakiti leluhur” .
Jenis kepemilikan ini, dapat saja dimanfaatkan oleh individu yang ada didalam kelompok tersebut atau orang lain yang di luar kelompok garapan tersebut.dengan melalui:
1. Meminta izin dan mendapat persetujuan dari kelompok tersebut
2. Harus memberikan sedikit hasil pertanian dari tanah tersebut sesui dengan kerelaan untuk kelompok pemilkinya.
3. Tidak di perbolehkan menanam tanaman jangka panjang.
4. tanah tersebut tidak dalam masa istrahat.
Tanah Individu : Tanah yang dikuasai dan dikelolah oleh perorangan (individu)
Tanah keluarga: Tanah yang dikuasai dan dikelolah bersama-sama dalam satu keluarga
Tanah Komunal : Tanah yang dikelola bersama-sama oleh komunitas (semua orang dalam komunitas ikut mengelola)
 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Bantaya
Struktur Ntina To malanggai Totua ada notangara Totua ada Buluna Totua ada nompakoni
Ntina
Pimpinan paling tertinggi di komunitas wilayah adat suku da’a.
To malanggai
Pemimpin (sakti) yang ditugaskan olah Ntina untuk menyelesaikan perkara serta memantau situasi musuh apa bila ada melakukan penyerangan.
Totua ada Notangara
merupakan orang tua adat di percayakan serta bertugas menyelesaikan masalah secara umum baik tingkat criminal yang ringan maupun yang berat
Toua ada Buluna
merupakan orang tua adat di percayakan serta bertugas dan memeiliki tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah bagian pegunungan (Hutan).

Totua ada pompakoni
merupakan orang tua dipercaya serta bertugas yang memiliki ilmu spiritual untuk meminta sang pencipta baik urusan tolak balaq, menyembuhkan orang dari penyakit, yang biasa membuat ritual sebelum membuka lahan dan lain-lain.
 
Mosiromu 

Hukum Adat

- Aturan yang berlaku jika masyarakat yang membuka lahan hutan terlarang di pegunungan tanpa sepengetahuan totua ada buluna akan dilakukan sanksi
- Jika selesai panen akan dilakukan upacara adat (Vunja) syukuran adat
Nobanta merupakan upacara syukuran sebelum dan sesudah
melakukan panen
 
Givu artinya bentuk sanksi berat atau ringan
Vaya artinya aturan sanksi yang di berlakukan untuk tidak
mengulangi perbuatan
Sompo artinya sanksi perbuatan yang tidak menyenangkan atau mempermalukan perempuan atau keluarga.
Sebelunya datangnya agama di masyarakat adat da’a vugaga (Kamalisi) sudah mengenal prinsip-prinsip sepuluh Norma-norma kehidupan manusia.
Tidak boleh mencuri
Tidak boleh berdusta
Tidak boleh berzinah
Tidak boleh mempermalukan perempuan
Tidak boleh membunuh
Tidak boleh mengolok-olok orang lain-menghina
Tidak boleh berbohong
Tidak boleh menyalah gunakan wewenang
Tidak boleh mendahului orang tua
Tidak boleh ingkar janji
 
Pemuda adat melakukan kesalahan dengan tindakan criminal (pemukulan) terhadap pemuda lainnya. Maka di lakukan givu (sangsi) dengan mengeluarkan denda adat yakni ayam, piring sebagai mana di tentukan oleh orang tua adat dan tidak akan mengulangi perbuatannya (Vaya) 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Karbonhidrat:Ubi, jagung, Talas, Ubi jalar, padi ladang. Protein : kacang panjang, kacang tanah Vitamin : jeruk, jambu air, jambu, pisang
Sumber Kesehatan & Kecantikan Tumbuhan obat-obatan :kulit kayu vula – obat sakit mata (iritasi) Getah batang pohon kelor- obat sakit mata, Daun kopi = obat luka, getah kayu jawa – obat luka, daun sarikaya-obat asma, daun kadanggulalo obat luka, batuk dan suara paru. Kayumanuru : untuk memerawat kulit agar segar, bersih, indah, awet dan bercerah
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu Tavaili, ntoe dan Nantu : untuk tiang membangun rumah maupun rumah adat bembatava, Vakava : untuk atap rumah
Sumber Sandang Kuli kayu nunu : untuk pembuatan baju adat
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Balentua, Tumbavani, kuni, pia, katumbara, lemo,
Sumber Pendapatan Ekonomi Ubi Talas, ubi kayu, jagung, kopi, padi lading, pisang, coklat

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kab. Sigi Nomor 15 Tahun 2014 Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen