Wilayah Adat

Ammatoa Kajang

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Ammatoa Kajang
Propinsi Sulawesi Selatan
Kabupaten/Kota BULUKUMBA
Kecamatan Kajang, Herlang, Ujung Loe, Bulukumpa, Tellulimpoe
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 22.593 Ha
Satuan Ammatoa Kajang
Kondisi Fisik Perbukitan
Batas Barat -
Batas Selatan Desa Jojjolo, Desa Bonto Mangiring Kecamatan Bulukumpa
Batas Timur Teluk Bone
Batas Utara Kabupaten Sinjai

Kependudukan

Jumlah KK 16567
Jumlah Laki-laki 39275
Jumlah Perempuan 43483
Mata Pencaharian utama petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat Adat Ammatoa Kajang merupakan salah satu Komunitas Adat yang tinggal di wilayah adatnya secara turun temurun, tepatnya di Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba. Daerah itu dianggap sebagai tanah warisan leluhur yang harus dijaga dan mereka menyebutnya ‘Tana Toa’ atau Kampung Tua.

Masyarakatnya lebih dikenal dengan nama masyarakat adat Ammatoa Kajang. Ammatoa adalah sebutan bagi peimimpin adat mereka yang diperoleh secara turun temurun. ‘Amma’ artinya Bapak, sedangkan ‘Toa’ berarti yang di Tuakan.

Masyarakat adat Ammatoa Kajang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ‘Rilalang Embayya’ (Tanah Kamase-masea) lebih dikenal dengan nama Kajang Dalam yang dikenal sebagai Kawasan Adat Ammatoa dan ‘Ipantarang Embayya’ (Tanah Kausayya) atau lebih dikenal dengan nama Kajang Luar. Meskipun terbagi menjadi dua wilayah, tidak ada perbedaan mendasar diantara keduanya. Sejak dulu hingga sekarang, mereka selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur. Berdasarkan ajaran leluhur, masyarakat adat Ammatoa Kajang harus selalu menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur.

Sejarah asal-usul masyarakat adat Ammatoa Kajang dan wilayahnya tergambar dalam mitologi asal mula kemunculan To Manurung ri Kajang sebagai Tau Mariolo, manusia pertama di Kajang yang menjadi Ammatoa pertama, pemimpin (adat) pertama masyarakat adat Kajang. Terdapat banyak versi dari mitologi tersebut baik yang dikisahkan oleh Ammatoa dan pengurus adat, tokoh-tokoh masyarakat.

Wilayah masyarakat adat Ammatoa Kajang berawal dari gundukan tanah yang menyembul diantara air, dikenal sebagai tombolo. Tanah tersebut kemudian melebar seiring perkembangan waktu dan perkembangan manusia yang menghuninya. Masyarakat Adat Ammatoa Kajang mempercayai bahwa Ammatoa pertama menunggangi Koajang atau Akkoajang (burung Rajawali) di possi tanayya, tempat pertama menetap.

Dari istrinya yang disebut dengan Ando atau Anrongta, Ammatoa pertama memiliki lima anak, empat perempuan dan satu laki-laki, yaitu Dalanjo ri Balagana, Dangempa ri Tuli, Damangung Salam ri Balambina, Dakodo ri Sobbu dan Tamutung ri Sobbu. Diceritakan pula bahwa lima anak tersebut dikenal sebagai lima Gallarang, yaitu Galla’Pantama, Galla’ Anjuru, Galla’ Kajang, Galla’ Puto dan Galla Lombok. Masing-masing anak memerintah di satu wilayah di Kajang. Setelah memiliki lima keturunan, To Manurung dipercaya sesungguhnya masih hidup, tetapi menghilang (assajang) yang secara kasat mata tidak dapat dilihat lagi, allinrung, hanya dapat dilihat dengan “mata bathin”. (Adhan 2015)

Nama kajang memiliki kaitan erat dengan burung koajang, akkoajang, dan assajang itu. Dikisahkan pula bahwa asal-usul Ammatoa berkaitan dengan kisah Datu Manila, putri kerajaan Luwu yang menikah denganGalla’ Puto. Maskawin (sunrang) pernikahannya berupa tanah di daerah Gallarang Puto’, bagian pesisir timur possi’ tana (pusat bumi) Kajang. Mereka mempunyai anakyang disebut Tau Kentarang, orang yang bercahaya ibarat bulan purnama. Dari Tau Kentarang inilah lahir Ammatoa, diantaranya ialah Bohe Ta’bo, Puto’ Sampo ri Pangi, Puto’ Palli ri Tambolo, Soba ri Tambolo, Puto’ Sembang, Puto’ Cacong, danPuto’ Nyonya. (Adhan 2005)

Kisah kemunculan Ammatoa juga diungkapkan dalam kisah putri Batara Daeng ri Langi yang muncul dari seruas bambu (pettung). Putri tersebut kemudian menikah dengan Tamparang Daeng Maloang atau Tau Ala Lembang Lohe yang telah beristriPu’binanga yang mandul. Dari isteri kedua lahirlah Tau Kale Bojo,Tau Sapa Lilana, Tau Tentaya Matanna, dan Tau Kadatili Simbolenna. Anak kedua, Tau Sapa Lilana,merupakan pemula dalam silsilah karaeng Kajang atau Karaeng Ilau di Possi Tana yang mewarisi kemampuan menyampaikan pesan-pesan dari leluhur mereka yang disebut Pasang ri Kajang. Anak keempat,Tau Kadatili Simbolenna, dipercaya setelah menghilang bersama ibunya, kemudian turun di Tukku Bassi-Gowa. Di sana dia dinobatkan menjadi raja oleh Bate Salapang (sembilan wilayah kekuasaan) dibawah pimpinan Paccalaya.

Sejak dahulu kala masyarakat adat Ammatoa Kajang hidup dalam kelompok-kelompok yang menyebar di berbagai tempat. Sejarah wilayah adat Kajang dibuktikan dengan adanya warga masyarakat yang berpakaian hitam yang menyebar dalam“Sulapa Appa”, segi empat batas wilayah adat. Batas batas tersebut melintasi Batu nilamung, Batu Kincing, Tana Illi, Tukasi, Batu Lapisi, Bukia, Pallangisang, Tanuntung, Pulau Sembilan, Laha Laha, Tallu Limpoa dan Rarang Ejayya (data Tim terpadu penyusun Ranperda Pengakuan Masyarakat adat Ammatoa Kajang).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Masyarakat adat Ammatoa Kajang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ‘Rilalang Embayya’ (Tanah Kamase-masea) lebih dikenal dengan nama Kajang Dalam yang dikenal sebagai Kawasan Adat Ammatoa dan ‘Ipantarang Embayya’ (Tanah Kausayya) atau lebih dikenal dengan nama Kajang Luar. Meskipun terbagi menjadi dua wilayah, tidak ada perbedaan mendasar diantara keduanya. Sejak dulu hingga sekarang, mereka selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur. Berdasarkan ajaran leluhur, masyarakat adat Ammatoa Kajang harus selalu menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur.

Perbedaan antara kedua wilayah ini adalah kehidupan di Ilalang Embaya, kehidupan di pantarang embayya, atau rambang luara merupakan wilayah adat dimana sebagian besar warga masyarakat yang tinggal di wilayah ini tidak secara utuh melaksanakan Pasang ri Kajang. Sebagai tempat orang-orang berkuasa (butta kuasaiyya), hanya beberapa upacara adat yang masih dilaksanakan, antara lain upacara akkalomba (upacara ritrual bagi anak), akkattere (upacara ritual haji), dan andingingi (upacara minta keselamatan). Berbeda dengan warga di ilalang embayyayang masih berpegang teguh pada tradisi hidup kamase-mase dan kebudayaannya yang masih tradisional, sebagian besar warga di ipantarang embayya tidak lagi mengamalkan hidup kamase-mase. Mereka telah berada dalam lingkungan kehidupan modern menggunakan berbagai produk teknologi informasi dan transportasi, membangun berbagai tipe rumah modern, dan membuka kebun dan sawah secara intensif.
 
1. Bagi masyarakat adat Kajang bentuk kepemilikan tanah terdiri dari :
- Tanah milik rumpun keturunan dimana tanah dikelolah secara bergiliran dari keturunan rumpun masyarakat adat
- Tanah Kalompoan (Kebesaran)di mana tanah tersebut dikelolah oleh yang menjabat sebagai pemangku adat (Tanah minoritas) bagi setiap pemangku adat yang terpilih
- Tanah adat adalah tanah yang berhak dikelolah oleh masyarakat adat selama dia mampu mengelolanya kecuali dia tinggalkan selama 3 (tiga Tahun)
- Tanah individu (pribadi) adalaj jenis tanah yangdiserahkan dari rumpun keluarga berdasarkan kebutuhan atas kesepakatan rumpun keluarga yang bersangkutan.

2. Bentuk kepemilikan tanah yang atur oleh lembaga adat adalah :
- Tanah giliran atas kesepakatan pada rumpun yang bersangkutan
- Tanah kalompoan
- Tanah adat
 

Kelembagaan Adat

Nama AMMATOA KAJANG
Struktur Struktur kelembagaan adat Ammatoa Kajang disebut dengan “Pangngadakkang” (struktur adat). Dalam struktur kelembagaan adat, mengenai peran dan fungsi lembaga adat bersumber dari Pasang Ri Kajang. Dalam susunan kelembagaan Adat Ammatoa Kajang, Ammatoa ditempatkan sebagai puncak pimpinan dalam adat dan pemerintahan, yang dibawahnya ada yang disebut Anrong yang terdiri dari dua pejabat, yakni Anrong ta ri Pangi dan Anrong ta ri Bongkina. Kelembagaan adat masyarakat Ammatoa Kajang memiliki struktur cukup besar. kelembagaan adat Ammatoa Kajang terdiri dari: 1. Ammatoa 2. Anrongta Baku’ Toayya (Anrongta Ri Pangi) dan Anrongta Baku’ Loloa (Anrongta Ri Bongkina) 3. Ada’ Lima ri Tana Kekea : (Galla Pantama, Galla Lombo’, Galla Malleleng, Galla Kajang, Galla Puto) 4. Ada’ Lima ri Tanah Lohea : (Galla Ganta’, Galla Sangkala, Galla Sapa, Galla Bantalang, Galla Anjuru’, Tu Toa Sangkala) 5. Karaeng Tallua : (Labbiria, Sullehatang, Anak Karaeng) 6. Tutoa : (Tutoa Sangkala, Tutoa Ganta) 7. Ada’ Bali Butta : (Galla Jo’jjolo’, Galla Pattongko’) 8. Kali Kajang 9. Kadaha’ 10. Lompo Karaeng 11. Lompo Ada’ : (Sandro Kajang, Androng Guru)
Ammatoa
 Orang yang dituakan, pelindung, pengayom dan suri teladan bagi seluruh warga Masyarakat.
 Penghubung antar warga dan penyelaras harapan warga dan gagasan keIlahian melalui pa'nganroang
 Menjadi katup pengaman ketegangan-ketegangan sosial antar komunitas.
 Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kelestarian Pasang ri Kajang

Anrong ta’ R Pangi dan Anrong ta’ Ri Bongkina : Mengurus perlengkapan2 dalam upacara adat.

Galla’ Pantama : Menentukan waktu mulai menanam dengan melihat tanda-tanda (tanra), seperti berbunganyapohon dande sebagai pertanda dimulainyaabborong (musyawarah) dalam menentukan waktu menanam padi.

Galla’ Lombo’ : Mengurus masalah pemerintahan di wilayah adat dan urusan keluar masuk kawasan adat.

Galla’ Malleleleng : Bertugas dalam bidang pekerjaan yang berhubungan dengan nelayan (perikanan), menentukan waktu yang baik untuk turun ke laut dan menangkap ikan.

Galla’ Kajang : Mengurus pesta2 adat dan yang berhubungan dengan Pasang dan tindak pidana
Galla’ Puto : Juru bicara Ammatoa dan sebagai pengawas langsung pelaksanaan Pasang ri Kajang.

Karaeng Tallua: (Karaeng Kajang /labbiriyah dijabat oleh Camat Kajang; Sullehatang, dijabat oleh kepala kelurahan Tana Jaya; Moncong Buloa, dijabat oleh Kepala Desa Tambangan). Tugas utama mendampingi Galla’ Pantama pada setiap pesta adat.

Lompo Ada' (Ada' Buttaya) Ada' ri Tana Lohea, terdiri dari lima orang berasal dari Ada' Limaya
1) Galla’Pantama : Sebagai penghulu adat atau adat utama
2) Galla’Lombo : Mengurus perbelanjaan.
3) Galla’Kajang : Mengurus perkara pelanggaran hukum dan persoalan kriminal.
4) Galla’Puto : Bertugas sebagai juru bicara Ammatoa.
5) Galla’Anjuru: Mengurus bagian perlengkapan

Ada’ pelaksana pemerintahan, terdiri dari tujuh anggota
1) Guru : Pembaca doa dan mantera-mantera
2) Kadahangnga : Bertugas dalam bidang pertanian.
3) Lompo Karaeng : Membantu Ada' ri Tana Lohea dalam pelaksanaan pesta dan upacara adat.
4) Sanro Kajang: Menjaga dan memelihara kesehatan warga
5) Anrong Guru : Bertugas dalam urusan pertahanan dan keamanan
6) Lompo Ada' : Sebagai pendamping adat jika berlangsung pesta adat.
7) Galla’ Malleleng : Bertugas dalam urusan perbelanjaan dan keuangan.

Ada' Akkeke Butta
(Galla’ Ganta, Galla’ Sangkala, Galla’ Sapa, Galla’ Bantalang, &Galla;’ Batu Pajjara).
Tugas pokok mengatur, memelihara dan memperbaiki saluran air dan pengairan, penggalian tanah khususnya menyangkut soal saluran air dan pengairan.

Ada' Patambai cidong panroakki bicara pallabbui rurun.
(adat pelengkap, turut meramaikan pembicaraan dan memperpanjang barisan.
Mereka tidak mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam pemerintahan dan susunan adat. Terdiri dari delapan jenis profesi dan keahlian.

1. Laha Karaeng (Mantan kepala distrik atau mantan Karaeng Kajang)
2. Laha Ada' (Mantan Gallarang)
3. Pattola Karaeng (Keluarga dekat pemerintahan yang sedang memerintah)
4. Tau Toa Pa’rasangeng (Orang-orang terpandang dalam masyarakat.
5. Panrea (Orang-orang yang memiliki keahlian dan keterampilan khusus, seperti tukang kayu dan pandai besi)
6. Puahang (Ketua kelompok nelayan yang disebut sero).
7. Uragi (Ahli pertukangan kayu, khususnya dalam pembuatan rumah).
 
Pengambilan keputusan adat di wilayah adat Ammatoa Kajang dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat yang dikenal dengan istilah A’Borong. pengambilan keputusan dalam hukum adat Kajang selalu harus mengacu pada Pasang 

Hukum Adat

Disamping itu, Pemahaman masyarakat Ammatoa terhadap sumberdaya hutan sendiri dilandasi oleh prinsip hidup tallasa kamase - masea (kesederhanaan) dan ajaran pasang sebagai suatu nilai yang dipegang erat. Masyarakat Ammatoa meyakini, merawat hutan merupakan bagian dari ajaran pasang, karena hutan memiliki kekuatan gaib yang dapat mensejahterakan, sekaligus mendatangkan bencana manakala tidak dijaga kelestariannya. Untuk itu mereka senantiasa memelihara hutan agar terhindar dari mara bahaya yang dapat mengancam kehidupan mereka.
Selain ajaran Pasang, masyarakat yang kesehariannya serba berpakiaian hitam ini, juga memiliki aturan adat yang disebut Patuntung. Patuntung adalah sebuah aturan adat yang berhubungan dengan upaya - upaya untuk mempertahankan pengelolaan hutan yang lestari. Hal tersebut tidak terlepas dari keyakinan masyarakat adat Kajang bahwa hutan adalah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam melangsungkan kehidupan mereka. Terbukanya akses dengan masyarakat luar, Patuntung menjadi sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem dan mempertahankan fungsi - fungsi hutan adat Kajang karena disamping pengaturannya yang terkait dengan pengelolaan hutan, Patuntung juga memiliki nilai ritual. “Oleh karena itu, perlakuan masyarakat adat Kajang terhadap hutan tidak semata - mata hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari, tapi untuk kepentingan menjaga keseimbangan ekosistem dan kepentingan ritualnya. (Andi Buyung Saputra 2014)
Masyarakat Adat Kajang memegang teguh prinsip hidup “anjariya tau pare sanua hajikna, mingka labbipaya porena punna jiriki tau hajik” (menjadi orang penting sangat baik, tapi lebih penting kalau kita menjadi orang baik).
 
Sistem Tata Nilai dan pranata adat Masyarakat Adat Ammatoa Kajang bersumber Pada kepercayaan dan ketaatan pada Pasang Ri Kajang
 Pasanga ri Kajang adalah pesan-pesan suci dari Tau Rie A’ra’na yang disampaikan kepada manusia pertama (Ammatoa) dan diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam sejarah panjang kehidupan mereka yang telah melintasi berbagai perkembangan jaman, sistem kepercayaan tersebut dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Kajang hingga kini. Sistem kepercayaan Pasanga ri Kajang mencakup kepercayaan kepada adanya Tuhan (Tau Rie A’ra’na), kepercayaan kepada Pasang ri Kajang, kepercayaan kepada allo riboko (hari kemudian), dan kepercayaan kepada nasib.

 Kepercayaan kepada Tau Rie A’ra’na, Percaya akan keberadaanTau Rie A’ra’na (zat yang maha kuasa), adalah keyakinan yang paling mendasar bagi Masyarakat Adat Kajang. Tau Rie A’ra’nadi percaya sebagai Sang Pencipta segala sesuatu, zat yang Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Perkasa lagi Maha Kuasa yang bertahta di atas kehendak-Nya (ammantang ripangga’ rakkanna). Demikian menghormati dan hati-hatinya mereka dalam memanggilnya. Sehingga Dia tidak boleh disebut langsung dan dipanggil dengan nama-nama sembarangan.
 Kepercayaan Kepada Pasanga ri Kajang, Pasanga ri Kajang adalah pesan-pesan suci dari Tau Rie A’ra’na yang disampaikan kepada manusia pertama (Ammatoa) dan diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikian tingginya kedudukan Pasang dalam kepercayaan Masyarakat Adat Kajang, sehingga Pasang wajib ditaati, dipatuhi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar mendapat berkah dan terhindar dari kutukan dan malapetaka dari To Rie Akrana. Pasanga ri Kajangberisi nilai-nilai, prinsip-prinsip, hukum dan aturan dalam merajut hubunganmanusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
 Kepercayaan Kepada Pasanga ri Kajang, Pasanga ri Kajang adalah pesan-pesan suci dari Tau Rie A’ra’na yang disampaikan kepada manusia pertama (Ammatoa) dan diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikian tingginya kedudukan Pasang dalam kepercayaan Masyarakat Adat Kajang, sehingga Pasang wajib ditaati, dipatuhi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar mendapat berkah dan terhindar dari kutukan dan malapetaka dari To Rie Akrana.
 
Masyarakat Adat Ammatoa Kajang memiliki Hukum Adat tidak tertulis yang masih dijalankan sampai hari ini, hukum adat tersebut disebut sebagai “Pasang” yang berarti pesan yang disampaikan secara turun temurun dalam komunitas (Pasang Ri Kajang), Pasang berisi nilai-nilai, prinsip-prinsip, hukum dan aturan dalam merajut hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Selain ajaran Pasang, masyarakat yang kesehariannya serba berpakaian hitam ini, juga memiliki aturan adat yang disebut Patuntung. Patuntung adalah sebuah aturan adat yang berhubungan dengan upaya - upaya untuk mempertahankan pengelolaan hutan yang lestari. Hal tersebut tidak terlepas dari keyakinan masyarakat adat Kajang bahwa hutan adalah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam melangsungkan kehidupan mereka. Terbukanya akses dengan masyarakat luar, Patuntung menjadi sangat penting dalam menjaga kelestarian ekosistem dan mempertahankan fungsi - fungsi hutan adat Kajang karena disamping pengaturannya yang terkait dengan pengelolaan hutan, Patuntung juga memiliki nilai ritual. “Oleh karena itu, perlakuan masyarakat adat Kajang terhadap hutan tidak semata - mata hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari, tapi untuk kepentingan menjaga keseimbangan ekosistem dan kepentingan ritualnya
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Sumber  
Sumber Pangan Padi Jagung Ubi
Sumber Kesehatan & Kecantikan - Tammu (Temulawak) untuk pengobatan sakit perut (diare) - Jammu Bo’dong (Jambu Biji) untuk pengobatan penyakit perut (diare) - Pohon kuma-kuma untuk pengobatan luka (menghentikan pendarahan) - Pohon Biccoro’ untuk menghilangkan bau mulut - Daun tangeng-tangeng (jarak) untuk pengobatan penyakit Demam - Daun pisang untuk pengobatan perempuan yang telah bersalin
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu, Bambu
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu -
Sumber Pendapatan Ekonomi Gula Aren