Wilayah Adat

Polak Muntogat/ Matobe'

 Teregistrasi

Nama Komunitas Matobe'/Berikopek
Propinsi Sumatera Barat
Kabupaten/Kota KEPULAUAN MENTAWAI
Kecamatan Sikakap
Desa -
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 1.016 Ha
Satuan Polak Muntogat/ Matobe'
Kondisi Fisik Pegunungan,Dataran,Pesisir
Batas Barat Teitei Leleu sabeu ( Katoktuk ), Leleu Tikai hingga ke hulu sitak monga, Bagat Masu’su’
Batas Selatan Dari Muara Bat Simalulua hingga ke hulu, Simalatcou, Makeru Monga, Maosap
Batas Timur Tepi pantai : Baruk Parukpuk, Muara Mabola
Batas Utara Bagat Simabola teret Leleu Katokali

Kependudukan

Jumlah KK 0
Jumlah Laki-laki 0
Jumlah Perempuan 0
Mata Pencaharian utama Petani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Komunitas masyarakat adat Matobe’ berada di Pulau Pagai Utara, Kecamatan Sikakap Kepulauan Mentawai. Awalnya komunitas masyarakat adat Matobe’ berasal dari Simatalu ( Pulau Siberut Pantai Barat ). Suku pertama yang datang ke wilayah ini adalah suku Sakoikoi dengan naik perahu besar ( Kalabbak ). Suku Sakoikoi sabeu bernama Silatu dan suku Sakoikoi Bulasat namanya Sitakboiboet dan Sitakrouroget. Mereka adalah bersaudara. Mereka juga membawa serta family / kerabatnya dari suku Saleleubaja. Oleh karena perkawinan anak – anak mereka dari suku lainnya maka saat ini dikomunitas masyarakat adat Matobe’ telah ada suku Sakerebau, Salamanang, Sakeru, Saogo dan lainnya. Pulaggaijat( perkampungan ) Matobe’ awalnya diberi nama Beri Kopek oleh nenek moyang.
Berikopek berarti banyak lokan/kerang. Nama ini diberi karena saat mene mukan wilayah Matobe’ , nenek moyang banyak menemukan kopek/lokan di muara sungai. Dari aktivitas membuka perladangan mereka memasuki sungai rimbun ditumbuhi pohon tobe’ yang bisa digunakan untuk pengikat tali oorek/ova ( keranjang yang disandang yang terbuat dari pelage/rotan ). Oleh karena rimbunnya pohon tobe’, mereka sangat disibukkan dengan memotong ranting pohon tobe’ yang menghalangi Kalabbak masuk. Beliung mereka juga ada yang jatuh kedalam sungai saat menebang. Akhirnya mereka member nama kampung menjadi Matobe’ yang berarti banyak pohon tobe’. Kata “ma” berarti banyak. Mereka tinggal pertama kali dipinggiran sungai yang mereka beri nama Taikaguruk.
Komunitas masyarakat adat Matobe adalah penganut arat Sabulungan ( agama nenek moyang ) yang semuanya diatur tata kehidupan pengelolaan dan pemanfaatansumber daya alam. Mereka
membangun rumah besar dengan menggunakan kayu ugla yang keras dengan atap rumbia dan menggunakan rotan sebagai pengikat. Taiang ditancap ketanah dan seluruh konstruksi tidak menggunakan paku. Pengunci tiang dengan perkayuan lain disebut dengan kose ( elam ) yang terbuat dari aribuk atau ugla Uma yang ada dikomunitas adat Matobe’ adalah uma Sarere untuk suku Sakoikoi Sabeu, Uma Bulasat untuk suku Sitaklaiboet dan Sitakrourouget sedangkan suku Saleleubaja tinggal di Uma Saleleubaja. Setiap Uma ditinggali oleh seluruh muntogat ( anggota uma ). Disamping itu setiap keluarga juga membangun tempat tinggal yang mereka sebut
lalep.
Pulaggaijat/perkampungan Taikaguruk yang berada di Bagat Oinan Kaliou ( pinggir sungai Kaliou ) rentan dengan banjir karena berada di pinggir sungai. Jika hujan lebat dan berdurasi lama maka air akan meluap dan menggenangi perkampungan. Oleh karena banjir, maka penduduk dikomunitas Matobe’ yang mendiami Taikaguruk pun berpencar dan mendiami masing-masing perladangan mereka yang sudah diberi nama antara lain: Mangau-ngau, Bubuakat, Polaga dan Mabola. Tahun 1950 – 1963 mereka menempati perladangan mereka dan menjadai perkampungan baru.

NAmun semua berasal dari Matobe’. Arat Sabulungan dihapuskan oleh karena adanya larangan dari pemerintah setelah Indonesia merdeka. Missionaris Kristen juga masuk, sehingga komunitas masyarakat adat Matobe’ menganut agama untuk pertama kalinya.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

a. Onaja adalah rawa yang ada di wilayah
adat, digunakan
keladi,sagu dan diperuntukkan bagi seluruh
anggota komunitas.
b. Suksuk adalah dataran rendah yang
biasanya digunakan untuk tanaman pisang,
buah – buahan
c. Leleu adalah gunung yang diguanakan
untuk tanaman tua seperti : cengkeh, pala.
Ada beberapa temapat yang mesti dijaga
yang diberi nama boleleu,potingan, dan
lain – lain
d. Baruk adalah dataran ditepi pantai yang
biasanya ditanami kelapa.
e. Wilayah adat yang berada dipinggir sungai
umumnya tidak boleh diganggu, kalau
dikelolah maka kearifan local wajib
menanami dengan pohon yang cepat
tumbuh untuk menjaga agar tidak longsor (
pohon tobe’
f. Hulu sungai umumnya tidak boleh digarap
apalagi dikotori
 
Muntogat 

Kelembagaan Adat

Nama Uma / muntogat
Struktur Rimata Sikautet Lulak Sikerei Sikebbukat
1. Rimata

Merupakan pempinan dalam sebuah


uma/muntogat dan berperan memimpin
seluruh acara atau kegaiatan yang diadakan
didalam uma seperti yang menyangkut dalam
pengelolaan wilayah adat, acara pernikahan,
dan lain – lain
2. Sikerei
Merupakan seorang tabib didala uma. Berperan
membuat ramuan obat untuk orang yang sakit,
memimpin acara ritual adat seperti pesta
sebelum berburu, mendirikan uma yang baru,
membuka lahan baru dan lain –lain. Sikerei juga
berperan dalam membuat pagar wilayah agar
terhindar dari bahaya yang mengancam
3. Sikautet lulak
Berperan dalam membantu rimata dalam
menjalankan tugas didalam uma, sebagai
mediasi antara suku yang lain, member tahu
masalah kepada rimata, dan ikut dalam
pengambilan keputusan terhadap suatu
masalah yang terjadi didalam uma
4. Sikebbukat
Berperan sebagai tetua adat yang membimbing
para anak muda didalam uma sekaligus
membantu seorang rimata dalam mendapatkan
informasi – informasi didalam uma. Berperan
juga dalam musyawarah adat didalam uma
 

Hukum Adat

a. Leleu yang berada dihulu sungai tidak
boleh digarap ataupun digunduli karena
menjadi sumber air bersih serta sarana
transportasi.
b. Pinggir sungai wajib ditanami pepohonan
yang berakar kuat untuk menjaga longsor
c. Boleleu adalah tempat keramat, tempat
roh leluhur yang tidak bisa dikelolah
d. Leleu tempat sikerei mengambil ramuan
obat tidak boleh sembarangan dimasuki
 
a. Jika pendatang ( sitoi ) ingin mengelolah
wilayah adat, dia wajib meminta kepada
sibakkat laggai ( penghuni pertama wilayah
adat )
b. Sitoi tidak boleh menjual tanah yang
diberikan dan harus menghormati aturan
adat yang berlaku
c. Setiap laki – laki dewasa ( setelah eneget )
harus tinggal di uma
d. Jika ada punen ( pesta ) seluruh suami (

kaum bapak ) tidur diuma karena semua
harus berpantang ( mutangoan )
e. Pelamaran seorang gadis harus dilakukan
oleh pihak orang tua laki – laki ke pihak
orangtua perempuan ( pasangan yang mau
menikah ) tidak boleh saling bertemu.
f. Seorang laki – laki yang akan menikah
harus sudah memiliki kebun , pandai
memanah, pandai menggunakan beliung
dan kampak.
 
a. Jika salah seorang terbukti mengguna –
gunai warga maka ia diusir dari kampung
atau bahkan dibunuh
b. Jika ada terjadi perselingkuhan maka laki –
laki akan didenda oleh pihak perempuan
denga sebutan tulu. Tanaman dan
sebidang tabah akan menjadi milik pihak
perempuan setelah dipertimabangkan oleh
rimata dan pembantunya sikautet lulak
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan - Keladi - Pisang - Sagu - ubi kayu - ubi jalar - Kelapa - daun ubi - Talas - daun pakis
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Kesehatan - Aileppet - Kiniu - Kainau - Boblo - Surak - Siruabua - Sibulagat - Sikopuk - Pelekak 2. Kecantikan - Takkuku - Simanda - Pandan - kainau
Papan dan Bahan Infrastruktur - Karai - Manggeak - Rotan - Katuka - Tumung - Mancemi - Aribuk - Ugla - Koka - Elagat - Panese
Sumber Sandang - Kulit baiko - Kulit tobe - Kulit bake - Pelage - Rangou - Sasa - bebeget
Sumber Rempah-rempah & Bumbu - Cengkeh - Pala - Cabe - Simanda - Kiniu - Baglai - Laigak - sikopuk
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten 11 PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN UMA SEBAGAI KESATUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DI KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen