Wilayah Adat

Dusun Semende Banding Agung

 Teregistrasi

Nama Komunitas Semende Banding Agung
Propinsi Bengkulu
Kabupaten/Kota KAUR
Kecamatan Nasal
Desa --
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 3.462 Ha
Satuan Dusun Semende Banding Agung
Kondisi Fisik Pegunungan
Batas Barat Provinsi Lampung
Batas Selatan Merge Ulu Nasal
Batas Timur Merge Ulu Nasal
Batas Utara Provinsi Sulawesi Selatan

Kependudukan

Jumlah KK 447
Jumlah Laki-laki 780
Jumlah Perempuan 540
Mata Pencaharian utama Bertani

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Zaman Jajahan Ingris
Pada zaman jajahan Ingris, beberapa warga Semende LEmbak yang berasal dari Pulau Beringin yang berjumlah 8 (delapan) beserta keluarganyamengungsi dari ancaman akan adanya jajahan Belanda ditempat asalnya menuju ke suatu tempat dan membuat pemukiman. Daerah pemukiman ini dikenal dengan kampung Tumbu'an (daerah ulu air Nasal kiri). Delapan orang tersebut adala : 1) Raja Mekute 2) Tadin Guruh 3) Pati Alam 4) Singa di Bukit 5) Mas PAndan 6) Melile 7) Dirahman 8) MUrrahmid (Ninik di Pulau) sebagai ketua rombongan.
Sebagaimana layaknya sebuah perkampungan, bahasa sehari-hari yang mereka gunakan adalah bahasa Semende. Mereka membuat rumah dengan bentuk panggung yang dindingnya berupah pelupuh bambu dan atapnya terbuat dari ijuk enau, belahan bambu (gelumpai) atau kepingan kayu (sirap) serta tiang rumah berupa potongan kayu bulat. Semua bahan-bahan untuk membuat rumah mereka ambil dari sumber daya hutan yang ada disekeliling pemukiman mereka. Sedangkan untuk penerangan mereka menggunakan obor yang terbuat dari bambu dengan bahan bakar getah damar yang disebut Jehangkang.
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah penduduk kampung semakin bertambah oleh adanya kelahiran dari masing-masing keluarga mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, warga kampng mengerjakan cocok tanam padi dan palawija baik didarat maupun disawah sambil memelihara ayam. Selain itu juga warga menanam tanamankearas seprti petal, durian dan pohon damar mata kucing

Zaman Kolonial Belanda
Hingga suatu saat ketika bangsa Belanda yang saat iu seang menjajah Indonesia umumnya dan Bengkulu khususnya d eilayah Kaur, prajurit Belanda menemukan adanya hasil pertanian berupa sayur mayur dan buah-buahan yang hanyut di aliran air Nasal yang memberikan prasangka bahwa kemungkinan adanya kampung di hulu air Nasal tersebut. Maka pemerintah Belanda yang ada di Kaur mengutus 10 orang utusannya yang dilengkapi senjata untuk menyisir aliran air Nasal ke arah hulu guna memastika adany kampung warga di dalam hutan belantara sekitar air Nasal.
Sepuluh orang utusan pemerintah Belanda tersebut akhirnya menemukan adanya perkampungan warga. Utusan-utusan Belanda tersebut berniat untuk menguasi hasil hasil pertanian warga Tumbuan dana memeriahkan untuk tunduk kepada kekuaaan pemerintahan Belanda. Namun warga Semende kampung Tumbuan menolak untuk mengikuti kemauan mereka dan melakukan perlawanan dengan menahan semua utusan yang dikirim pemerintahan Belanda.
Pemerintahan Belanda yang menantikan laporan dari utusan yang dikirimnya tak kunjung datang, maka di utus lagi sebanyak 30 orang utusan bersenjata. Utusan kedua tersebut juga melakukan perlawanan dan menahan semua utusan pemerintahan Belanda. Namun berkat kejelian politik bujuk rayu bangsa Belanda, utusan utusan tersebut menawarkan tanah untuk perkampungan baru, dibuatkan jalan serta membentuk pemerintahan sendiri asal mereka dibebaskan dan semua penduduk Tumbuan harus tunduk kepada pemerintaha Belanda.
Minyikapi tawaran dari utusan pemerintahan Belanda tersebut warga Semende kampung Tumbuan mengadakan rembuk dan sebagian besar dari warga kampung menyepakati untuk pindah ke perkampungan baru mengikuti tawaran pemerintahan Belanda, walaupun ada juga beberapa warga yang tidak ikut serta pindah ke Rantau Kenidai tetapi mereka juga meninggalkan kampung Tambuan. Beberapa keluarga yang tidak ikut serta pindah ke Rantau Kanidal mengikuti tawaran pemerintahan Belada akhirnya berpencar mencari tempat baru. Salah satu lokasi yang dituju warga adalah sekitar ulu air Manula yang kemudian dikenal dengan nama Dusun BAnding Agung.
Sekelompok warga pertama yang pindah dari kampung Tumbuan ke wilayah sekitar air Manula ini berjumlah 7 bersaudara berserta keluarganya yang dipimpin oleh Tegosh. Mereka membuat keluarganya yang dipimpin oleh Tegoeh. Mereka membuat pemukiman sendiri yang kemudian pemukiman tersebut disebut dengan sebutan Talang Tegoeh atau sekarang disebut dengan Talang Keramat.MEreka membuat benteng pertahanan dari kemungkinan adanya jajahan BElanda, hal ini dapat diketahui dengan adanya suatu tempat yang disebut dengan Genting Sedepe.
Beberapa tahun kemudian, kampung Manula semakin ramai baik oleh adanya pendatang susulan maupun oleh penambahan kelahiran. Diangkatlah seorang Depati pertama dengan gelar Depati Lingga Negara di perkampungan Ulu Manula. Dusun Banding Agung dalam pembagian kewilayahannya termasuk kedalam Marga Muara Nasal.
Depati Linggga Negara mengangkat 7 orang bersaudara yang datang ke Manula tersebut sebagai Hulu Balang yang kemudian dikenal dengan Hulu Balang Tujuh yang dipimpin oleh Togoeh.
Beberapa tahun kemudian, pemerintahan Belanda melalui Akte yang ditandatangai oelh Door Mij Controluer van Kaoer (Vanhile) tertanggal 22 Agustus 1891 mengangkat warga dusun Banding Agung bernama Amat sebagai Depatidusun BAnding Agung Marga Muara NAsal dengan gelar Depati Matjan Negara. Depati Matjan Negara memimpin dusun Banding Agung selama 2 periode dan setelah itu dilanjutkan oleh Depati Djagoek (anak dari Nagaran, Pesurah Marga Ulu Nasal yang bergelar Rstu Semong).
Pada kemimpinan Depati Djagoek, warga Semende dusun BAnding Agung didatangi 4 orang utusan pemerintahan Belanda yang memerintahakan agar warga Banding Agung pindahke suatu wilayah pesisir pantai dengan maksud agar mudah dikoordinir oleh pemerintahan Belanda saat itu, namun warga menolak untuk pindah atau meninggalkan dusun Banding Agung. Sehubungan dengan itu 4 orang utusan Belanda ytersebut mengalami nasib dibunuh oleh warga Banding Agung.
Mengetahui kejadian itu pemerintah Belanda merasa ditantang dan mengutus lagi beberapa orang utusan untuk menemui warga Banding Agung dengan membawa beberapa peruntah kepada warga dusun Banding Agung agar : 1) mengganti/menebus kematian 4 orang utusan yang dibunuh itu dengan ketentuan 40 orang untuk mengganti 1 jiwa yang terbunuh (40 x 4 = 160). 2) warga harus membayar upeti serta tunduk dan penuh kepada pemerintahan Belanda. 3) jika warga tidak mengindahkan peritah tersebut, maka seluruh wilayah dusun BAnding Agung beserta isinya akan dibumi hanguskan oleh pemerintahan Belanda.
Walau demikian, warag Banding Agung tidak ada yang mengindahkan perintah itu walaupun keseluruhan warga terus dihantui kecemasan dan ketakutan akan serangan dari penjajah Belanda. Oleh sebab itulah dalam waktu yang tidak terlalu lama, seluruh warga Banding Agung secara berangsung-angsur meninggalkan wilayah adatnya dan pindah menuju ke beberapa tempat/dusun seperti : Pulau Duku, Air Pisang Kalianda, Prau Dipo, Semong (Lampung Selatan), dan Muara Dua.
Seperti halnya Tragal Rimban dan Depati Djagoek bukanlah penduduk asli Marga Ulu Nasal melainkan berasal dari Marga Muara Nasal. Depati Djagoek akhirnya pindah dan meninggalkan desa Muara Dua menuju ke Semong.
Sehingga pada waktu itu dusun Banding Agung tidak lagi dihuni oleh warganya, namu dalam kurun waktu tertentu seperti ketika sedang musim panen pada setiap tahunnya masih banyak keturunan dari warga Banding Agung yangd atang ke wilayah adat Semende Banding Agung untuk melihat dan membersihkan serta mengambil hasil kebun tanaman keras yang telah diwariskan pendahulunya

Zaman Kemerdekaan RI
Demikian dari tahun ke tahun berjalan, dusun Banding Agung tidak lagi dihuni seperti layaknya sebuah perkampungan namun pada prinsipnya wilayah adat suku Smende ini tidak pernah ditinggalkan oleh warganya.
Pada tahun 1950, anak Depati Djagoek yang bernama Zulkarnain menuliskan surat wasiat yang berisi tentang kepemilikan lahan kebun dan tanaman di wilayah dusun Banding Agung.
Tahun 1998, beberapa warga suku Semende mulai membuka kembali lahan pada wilayah adat mereka untuk berladang dan berkebun serta membuat pemukiman yang disebut dengan Talang. Warga yang pertama memulai kembali mengelola tanah adat suku Semende dusun lama Banding Agung adalah Jupran, Nasirwan dan Marpu'i.
Tahun 1999 hingga sekarang dusun Banding Agung sudah mulai banyak warganya. mereka membuat pemukiman dalam bentuk talang. Hingga saat ini dusun Banding Agung terdiri dari 5 Talang yaitu : 1) tTalang tengah 2) Talang Sinar Semende 3) Talang Kepayang 4) Talang Batu Betiang 5) Talang Cemara

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

- Hutan Lindung Adat
- KAwasan Cagar Budaya
- KAwasan Kelola Rakyat 
-Diwilayah Komunitas Dusun Banding Agung 

Kelembagaan Adat

Nama Semende Banding Agung
Struktur Ketua Adat, Ulu Balang, MAlim, Baje Bujang, Baje GAdis, Rebia, Kamum LIme
1) Ketua Adat = orang yang dipilih oleh masyarakat untuk menjadi pemimpin adat yang berwenang untuk menjadi pemimpin adat yang berwenang untuk melegalkan setiap keputusan yang diambil melalui musyawarah adat
2) Ulu Balang = orang yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah adat
3) Malim = orang yang ditunjuk sebagai dukun pria
4) Rebia = orang yang ditunjuk sebagai dukun perempuan
5) Raje Bujang = orang yang ditunjuk sebagai Ketua kaum pemuda
6) Raje Gadis = orang yang ditunjuk sebagai ketua kaum pemudi
7) Kaum Lime = pengurus masjid 
musyawarah adat 

Hukum Adat

1) Dilarang jual beli lahan, kecuali ganti rugi tanam tumbuh dengan seizin atau sepengetahuan perangkat adat dusun Banding Agung,
2) Dilarang menelantarkan kebun 
1) Dilarang mencuri atau mengabil hak milik orang lain
2) Peanggaran ketentuan ini akan dikenakan sanksi berupa :
- Denda adat berupa serabi 40 buah dan lemang 10 batang
- Mengganti 10 kali lipat jumlah/nilai benda yang dicuri
3) Jika tidak mematuhi aturan adat ini makan akan diusir dari wilayah Semende Banding Agung
 
-- 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan --
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur --
Sumber Sandang --
Sumber Rempah-rempah & Bumbu --
Sumber Pendapatan Ekonomi --