Wilayah Adat

Adat Besar Bahau Hulu

 Tersertifikasi

Nama Komunitas Lep0’ Ma’ut, Lepo’ Ke, Oma’ Long, Sa’ban, Lep0’ Ndang, Nyibun, Punan
Propinsi Kalimantan Utara
Kabupaten/Kota MALINAU
Kecamatan Bahau Hulu
Desa Apau Ping, Long Berini, Long Kemuat, Long Alango, Long Tebulo, Long Uli
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 329.228 Ha
Satuan Adat Besar Bahau Hulu
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Perairan
Batas Barat Malaysia (Serawak), yaitu di Apau Lut Bahau, Batu Kalong dan Apau Lantang
Batas Selatan Kec.Pujungann, yaitu Lalut Moeng, Lalut Bila, Apau Paya’, Apau Enggang, Apau Beraha, dan Apau Bahau.
Batas Timur Wilayah Adat Besar Tubu, yaitu di Pe’ Awen, Apau Ngiam, Apau Bawang Tanam, Apau Sungai Leka’, Sawa’ Ranau, Lepau Dok, dan Apau Apalan. Berbatasan dengan Wilayah Adat Malinau Selatan Hulu, yaitu Apau Tana’, Kua’ dan Gunung Aran Lutung
Batas Utara Kec.Krayan Selatan (Kab. Nunukan), yaitu Punggung Gunung Pe’ Bulo’ dan Sungai Mangau, La’an Bulo’ dan Apau Paya’

Kependudukan

Jumlah KK 343
Jumlah Laki-laki 835
Jumlah Perempuan 751
Mata Pencaharian utama Mata Pencaharian Utama Petani, dan Pengerajin, Pengusaha, PNS, pertanian

Sejarah Singkat Masyarakat adat

AAsal usul Hulu bahau mulai dari sungai iwan, Peluju, lora, long abang di sungai ngiam,

Menurut tradisi lisan bahwa semua suku Dayak Kenyah pada awalnya tinggal bersama di dataran tinggi Apo Da’a antara sungai Iwan dan Lurah. Setelah jumlah penduduk berkembang oleh karena keterbatasa lahan pertanian maka suku Kenyah mulai berpencar ke arah yang berbeda, Kenyah Leppo Ke’ pindah dari hulu sungai Lurah (Long Bena, Long Apan) melalui pergunungan ke sungai Beraha. Dari sana mereka pindah ke sungai Ngiam (Long Pengayan, Long Lat) dan bagian hulu sungai Bahau (Ka Buang, Apau Ping). Kalau pemukiman suku Nyibun dulu biasanya tidak jauh dari pemukiman Leppo Ke,’ dan jika ada ancaman musuh maka mereka bergabung menjadi satu pemukiman. Kenyah Leppo Maut pindah ke hulu Bahau dari sungai Lurah melalui hulu sungia Nggeng dan sungai Beraha

Selama masa penjajaan Belanda daerah Hulu Bahau dikenal sebagai “Tanah Leppo Maut”. Ekspedisi Belanda pertama kali ke Hulu Bahau di awal abad 20th Pada saat itu Nyibun merupakan subsuku yang kuat sedangkan sekarang sudah sedikit dan tercampur dengan kelompok lainnya.

Dulu, arus perdagangan dari Hulu Bahau cenderung ke wilayah Sarawak yang waktu itu dijaja oleh Inggris. Suku Sa’ban yang tinggal di DAS sungai Berau, cabang kanan mudik sungai Bahau, mengira bahwa wilayah Hulu Bahau bagian dari Sarawak karena binatang peliharaan mereka semua mereka bawa dari sungia Baram di Sarawak. Suku Sa’ban mengakui berasal dari daerah ini di antara Bahau Hulu dan Krayan Hulu.

Di wilayah Hulu Bahau, terdapat banyak peninggalan dari suku Ngorek berupa kuburan batu yang kiranya didirikan anatara 400 s/d 300 tahun yang lalu. Sejak jaman itu, suku Ngorek sudah meninggalkan Hulu Bahau ke sungai Kayan. Pada tahun 1957-1958, sebagian besar mayarakat Lepo Maut di Long Kemuat pindah dan mendirikan kampong Long Alango. Pada tahun 19060-1970, banyak masyarakat pindah dari Hulu Bahau ke sungai Malinau dan sungai Kayan untuk mencari kehidupan yang lebih baik (sekolah, pasar, akses kesehatan).

Setelah pemekaran wilayah kecamatan Pujungan menjadi 2 Kecamayan Pujungan dan Bahau Hulu, maka masyarakat desa Long Uli (suku Kenya Uma Long dan Lepo Ndang) yang berasal dari hulu sungai Lurah dan sungai Sa’an dan dizinkan mendirikan kampong di kawasan masyarakat Badeng di sungai Bahau sekarang sudah bergabung dengan wilayah adat Hulu Bahau dan menaati peraturan adat Wilayah Adat besar Hulu Bahau

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

• Apau dan Modong kawasan dataran tinggi dan gunung
• Pulung Bua sebagai kebun buah-buahan yang biasanya terdapat di lepu’un atau bekas kampong dan kebun;
• Mba’ lawen kawasan hutan rimba dan terletak jauh dari kampung sehinnga jarang dikunjungi terkecuali ekspedisi cari gaharu;
• Jekkau, kawasan hutan bekas ladang sekitar 10-15 tahun
• Bekan, bekas ladang 1-5 tahun,
• Peng/mbeng, kawasan persawahan
• Pulung lungun/ondan sebagai kawasan kuburan lama
• Tana’ Ulen sebagai kawasan hutan yang dikelola oleh adat secara khusus (perlindungan dan pemanfaatan bersama untuk acara kampong) 
Sistim penguasaan tanah dan hutan secara komunal

Pulung Bua sebagai kebun buah-buahan yang biasanya terdapat di lepu’un atau bekas kampong lama dan kebun; Mba’ lawen kawasan hutan rimba dan terletak jauh dari kampung sehinnga jarang dikunjungi terkecuali ekspedisi cari gaharu;

Mba’ sebagai kawasan hutan tempat pergi cari hasil hutan (rotan, sang, berburu,dll); Jekkau kawasan hutan bekas ladang sekitar 1020 tahun, kawasan pertanian sistim gilir balik Bekan bekas ladang 15 tahun,

Pulung lungun/ondan sebagai kawasan kuburan lama

Tana’ Ulen sebagai kawasan hutan yang dikelola oleh adat secara khusus (perlindungan dan pemanfaatan bersama untuk acara kampung). Lokasi buka ladang dan alokasi areal kepada setiap keluarga diputusakan secara bersama pada pesta panen (damai ajau). Pentingnya areal; perladangan di satu lokasi agar mengurangi risiko hama binatanag ataupun burung. Batas alam seperti batu, lalut dll dipakai sebagai batas di antar ladang. Sistim berladangan mengikuti sistim gilir-balik di mana ada rotasi areal pertanian setiap tahun sementara lahan pertanian tahun sebelumnya hutan bertumbuh kembali selama 10-20 tahun dan mengkembalikan kesuburan tanah. Areal hutan yang pernah dibuka untuk menjadi areal perladangan dikenal sebagai hutan jekkau. Tana ulen merupakan kawasan hutan kaya sumber daya alam (ikan, binantang buruan, rotan dll) yang pada umumnya tidak boleh dibuka untuk ladang atau areal pertanian, atau untuk pemanfaatan yang eksploitatif/intensif. Tana Ulen dikuasai oleh keluarga aristocrat sebagai areal untuk keperluan pesta kampung dan dikelola berdasarkan sistim ‘buka ulen dan tutup ulen’ masa di mana pemanfaatan SDA di Tana Ulen dibukan kepada semua untuk keperluan bersama komunitas. Pada umumnya, pengelolan Tana Ulen sekarang dibawah Lembaga Adat desa atau Badan Pengurus Tana Ulen.

Sistim pengelolaan/pemanfaatan lahan pertanian secara individu/keluarga

Wilayah adat Besar terbagi dalam wilayah adat desa. Sebagaimana tradisi orang Dayak, siapa yang pertama buka Hutan untuk bikin lading maka areal iti menjadi hak dia dan diwariskan kepada keturunannya. Sejauh mana mereka masih tinggal di wilayah Hulu Bahau. Jika ada yang pindah dari Hulu Bahau maka haknya dialihkan kepada anggota keluarga yang masih tinggal di Hulu Bahau. Bekan atau bekas ladang baru 1-5 thn. Bekan ini bisa di gunakan tempat berkebun dengan tidak menanam tanaman keras, terutama orang yang meminjam bekan tersebut. Jekau bekas ladang dari 10-20 tahun, kawasan ini tempat masyarakat buat lading sejak turun-temurun. Jekau ini telah di bagi setiap kk sesuai kesepakatan antar kk yang berdampingan sesuai aturan adat yg berlaku di wilayah adat besar Pujungan. Peng adalah ( sawah) adalah kawasan untuk menanam padi sawah dan kepemilikan oleh keluarga. 

Kelembagaan Adat

Nama Lembaga Adat Besar Bahau Hulu
Struktur Kepala, Wakil Kepala Adat, Sekretaris, Bendahara; Ketua Adat Desa
1.Fungsi Kepala Adat Besar untuk mengkoordinir Ketua Adat setiap Desa; mengatur musyawarah adat untuk mengambil keputusan dan membuat peraturan adat baru; mengambil keputusan akhir jika masalah tidak bisa diselesaikan oleh Ketua Adat Desa. 2.Fungsi Ketua Adat Desa Untuk menyelesaikan masalah2 dan mengamankan kondisi di Desa Masing2 sesuai peraturan adat (PERDAT)  
Melalui Musyawarah Adat di tingkat desa dan wilayah adat yang dihadiri oleh ketua desa dan kepala desa; keputusan Kepala Adat Besar  

Hukum Adat

1. Kolam Ikan
Pemakaian kolam ikan yang ada di desa Long Alango hanya terbatas bagi orang yang punya. Tidak dibenarkan mengambil ikan di kolam ikan orang lain secara sembarangan. Jika ada pihak lain yang ingin memanfaatkan kolam ikan orang lain harus minta ijin dengan orang yang punya.

2. Sawah baru
Sawah baru, hak milik adalah milik orang yang pertama kali membuka sawah tersebut. Bagi pihak lain yang ingin memanfaatkan sawah tersebut, harus minta ijin dengan orang yang punya.

3. Sawah lama/bekas sawah
Bekas sawah/sawah lama pemiliknya adalah milik orang yang pertama kali membuka sawah tersebut, kalau itu merupakan sawah warisan, merupakan hak milik orang yang mewarisinya. Bagi pihak lain yang ingin memanfaatkan bekas sawah, harus minta persetujuan dari orang yang punya, atau orang yang mewarisi sawah tersebut. Jika ada pihak yang ingin menjual bekas sawah, harus ada surat persetujuan dari kepala desa.

• Kalau mencari gaharu di wilayah desa tetangga tanpa seizin desa tersebut maka akan dikenakan sangsi sesuai keputusan adat yang sudah ditetapkan
•Jika ketahuan menyetrum ikan atau menggunakan racun maka mesin jenset akan disita oleh masyarakat setempat dan akan didenda sesuai keputusan Adat setempat.
• Apabila masyarakat tetangga memasuki wilayah desa tetangga melalui izin akan menyetor ke kas desa/adat. 
• Pencurian
• Selingkuh dikenakan sangsi adat (misalnya tempayan; gong dan parang diserahkan kepada pihak yang menuntut)
 Nindau, mengunjungi warga yang terkena musibah (melayat) 
Mbi sendeng Nepeng Laran Sada Bai (tidak boleh tebang pohon Laran di pinggir sungai Bahau), mbi sendeng noba (tidak boleh menubah ikan/pakai racun), Ngelasit ca bayeng, dua lewai tobet sua’ a (mencuri sesuatu/parang, harus kembalikan dengan nilainya 2x lipat nilai/harga barang yang dicuri)  

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan • sumber karbohidrat (Padai, Ubi, Opa’ Ubi wak, Jelai) • sumber protein (Kacang Tana,’ Atok, babi/payau/oca) • sumber vitamin (Tung Ubi, Ambi e, tung timun, Ojau) dan buah-buahan
Sumber Kesehatan & Kecantikan a. Tumbuhan obat: Lia Endet, Long Bala, Bawang Lemba’ Pakat Lembang b. Tumbuhan kosmetik: Onga kalong, Lemau, Lembem
Papan dan Bahan Infrastruktur kayu Tenak, Bele’en, Lemelai Kapun, Pelong dll.
Sumber Sandang Talun, Kiyan
Sumber Rempah-rempah & Bumbu kayu Me, cengkeh, lada, Payang Kuri, Lia Bonat,Lia Salu’ lia Endet dll
Sumber Pendapatan Ekonomi Pertanian: kopi, lada, kayu manis Produk hutan non kayu: gaharu; rotan; damar sang; talun; bekai; ubut wai; dll Kerajinan: anyaman rotan, topi saong seling